Dilema

Dilema
Interogasi Ala Chairul


__ADS_3

Anak buah Chairul sudah berhasil membawa Bagas pulang ke rumahnya.


Karena cemas Austin, Theo dan Reno juga ikut menemui Chairul dan Belinda.


Setelah Bagas sampai dihadapan Chairul,


Plak!


Chairul memukul Bagas dengan kuat, hingga Bagas terhuyung kebelakang dan hampir terjatuh.


Belinda yang ingin menolong Bagas, dihentikan oleh Chairul.


"Ayah, apa harus memukulnya! Kita dengarkan dulu penjelasan nya!" seru Belinda


Chairul hanya melirik Belinda, dan Belinda tidak ingin membuatnya semakin marah, akhirnya dia memilih diam.


Austin dengan cepat membantu Bagas,


"Om, sebenarnya semua ini..."


Ketika Austin coba menjelaskan, Chairul memberinya isyarat untuk diam dengan telapak tangannya.


"Kalian tidak perlu membelanya, Reno tolong antar Tante kamu keluar dari sini!" seru Chairul meminta agar Reno membawa Belinda keluar.


Belinda tidak setuju, dia sangat mencemaskan Bagas.


"Tidak yah, aku..."


"Keluarlah, ada yang harus aku katakan pada anak kurang ajar ini!" jelas Chairul.


Belinda menurut dan keluar bersama dengan Reno.


Setelah Belinda keluar, Chairul mendekati Bagas dan menampar nya untuk yang kedua kali.


Plak!


Bagas hanya diam sambil menahan rasa sakit dan perih karena di sudut bibirnya sudah sedikit robek dan mengeluarkan darah.


Austin sangat khawatir pada Bagas, Sementara Theo hanya diam karena menyesal. Semua ini adalah akibat dari kecerobohan nya.


"Apa kau tahu kesalahan mu?" tanya Chairul dengan tegas.


Diusianya yang sudah tak lagi muda, Chairul tetap terlihat sangat berkharisma. Bahkan badannya masih tegap dan tenaganya saat memukul Bagas pun masih sangat kuat.


"Aku tahu ayah, aku sudah membuat ayah dan keluarga ini malu!" jawab Bagas sambil memegang rahangnya yang sakit.


"Bukan hanya itu, kamu bahkan sudah mempermalukan seorang wanita di depan umum. Kita tidak hidup dimana masyarakat akan menganggap hal itu biasa. Kita hidup di masyarakat yang menganggap hal seperti itu sebagai pelecehan, apa kamu tahu trauma apa yang akan dialami Moetia. Apa hubungan mu dengannya hingga kamu bisa melakukan hal seperti itu?" tanya Chairul.


Chairul sebenarnya sudah menduga ada hal lain tentang Bagas dan Moetia.


Bagas masih menunduk, sedangkan Theo! bibirnya sudah gatal ingin mengatakan yang sebenarnya pada Chairul.


"Apa kamu menganggap Moetia itu wanita murahan, yang bisa dicium oleh siapapun seenaknya?" ucap Chairul sengaja memancing Bagas agar mengakui hubungannya dengan Moetia.


Bagas terlihat mengepalkan kedua tangannya, dia mulai emosi.


Tapi dia masih menundukkan kepalanya.


Sementara Austin terlihat mulai paham dengan apa yang dikatakan Chairul.

__ADS_1


Austin sepertinya sudah bisa membaca isi pikiran Chairul, hingga dia mulai tenang dan menjauh serta hanya memperhatikan saja.


"Jawab Bagas! apa kamu menganggap Moetia wanita seperti itu?" teriak Chairul.


"Om, Moetia dan Bagas empt.."


Theo hampir mengatakan yang sebenarnya tapi Austin buru-buru menutup mulutnya dan menariknya menjauh dari ayah dan anak itu.


"Bagas!" teriak Chairul lagi


"Aku mencintai Moetia ayah, dia kekasihku!" Seru Bagas


Chairul terlihat menghela nafasnya lega, Bagas mengakui hubungannya dengan Moetia pada Chairul.


Austin dan Theo saling pandang.


"Apa kita harus keluar?" bisik Theo pada Austin.


Austin melihat ekspresi Chairul yang sepertinya sudah sedikit meredakan emosinya.


Austin mengangguk pada Theo,


"Iya, sebaiknya kita juga keluar." ajak Theo pada Austin.


"Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Chairul serius.


"Sebelum aku bertunangan dengan Manda, bahkan sebelum Manda kecelakaan!" jawab Bagas masih sambil menundukkan kepalanya.


Ternyata dugaan Chairul selama ini benar, dia kembali menghela nafas nya panjang,


"Lalu kenapa kamu menerima pertunangan dengan Manda?" tanya Chairul.


"Apa Moetia marah saat itu?" tanya Chairul


Bagas menggeleng kan kepalanya


"Tidak, dia bahkan yang membujukku. Dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan Manda!" jelas Bagas sedih.


Chairul melihat wajah sedih anaknya itu,


"Apa itu artinya dia tidak benar-benar mencintai mu, iya kan?" tanya Chairul.


Bagas hanya diam.


"Angkat kepalamu Bagas! sebagai laki-laki kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu pada Moetia! terlepas dari apapun alasan kalian menutupi hubungan kalian, masalah ini tidak boleh sampai ke pengadilan. Apa kamu mengerti?" tanya Chairul.


Bagas mengangkat kepalanya,


"Aku akan bicara pada Moetia!" sahut Bagas


"Apa dia mau menemui mu, setelah yang kamu lakukan padanya?" tanya Chairul kesal.


"Aku akan kerumahnya!" ucap Bagas.


"Jika kamu lakukan itu sekarang, Aries pasti akan menghabisi mu!" seru Chairul.


"Aku pernah mendengar bahwa cinta bisa membuat orang bodoh menjadi pintar, tapi aku tidak mengira hal sebaliknya yang terjadi pada putra ku!" keluh Chairul.


"Besok pagi, kita akan ke kantor pengacara Aries, istirahat lah di kamarmu. Dan jangan keluar lagi!" seru Chairul.

__ADS_1


Sementara itu sejak Austin dan Theo keluar tadi, Belinda yang menunggu di ruang tengah terlihat sangat cemas.


"Kenapa kalian malah keluar? apa kalian tidak melihat bagaimana ayahnya Bagas memukulnya tadi?" tanya Belinda cemas.


"Setelah Tante keluar, Bagas bahkan dipukul lagi tadi," seru Theo


Austin menginjak kaki Theo,


"Aduh," pekik Theo.


Austin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Theo yang sudah berusia 28 tahun tapi masih sangat konyol.


"Apa!" seru Belinda


"Astaga, kenapa Bagas bisa seperti itu sih! bagaimana ini ayahnya pasti sangat marah dan kesal padanya!" keluh Belinda sambil memegangi dahinya dan berjalan mondar mandir.


Beberapa saat kemudian Bagas keluar dari ruangan kerja Chairul.


Belinda segera menghampiri putra kesayangannya itu,


"Bagas, astaga bibirmu terluka!" seru Belinda terkejut dan sudah berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa Bu, aku kamar dulu. Sebaliknya ibu juga istirahat!" sahutnya menghindari Belinda.


Setelah Belinda pergi ke kamarnya, Bagas menghampiri Theo dan Austin,


"Kalian mau menginap atau..."


"Kami akan pulang, apa semuanya sudah selesai?" tanya Austin.


"Bagas, aku minta maaf. Ini semua karena kebodohan ku!" seru Theo


Bagas menepuk bahu Theo,


"Sudahlah, lagipula karena mu Moetia akan tinggal bersamaku! harusnya aku berterimakasih padamu!" bisik Bagas di telinga Theo.


Austin terlihat kepo,


"Kenapa kalian berbisik-bisik?" tanya Austin penasaran.


"Tidak ada, terimakasih kalian sudah membantuku!" seru Bagas.


Kedua sahabatnya itu mengangguk lalu pergi dari rumah Bagas.


Bagas masuk ke dalam kamar nya, dia merebahkan dirinya di kasur nya.


Dia masih berusaha menghubungi dan mengirimkan pesan pada Moetia, tapi bahkan semua hanya centang satu saja.


Bagas melihat sekeliling kamarnya, kosong! seperti hati Bagas saat ini.


Bagas kembali melihat ke layar ponselnya yang sudah dia setting dengan wallpaper fhoto Moetia dan dirinya saat mereka kencan di danau.


"Aku benar-benar mencintaimu Moetia, aku hanya tidak ingin orang lain menyentuhmu!" gumam Bagas sambil mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan fhoto Moetia sedang tersenyum senang setelah menerima hadiah Bagas saat itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Komentar dan Favoritnya ya 👍❤️👍❤️...


...Think u ❤️...

__ADS_1


__ADS_2