
Moetia menyeka air matanya, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya dia mengangkat kepalanya dan menatap Chairul.
"Aku memang mencintai Bagas Om, tapi aku tidak akan pernah menjauhkan Bagas dari kedua orang tuanya. Aku tidak akan memaksakan untuk bisa berada di sisi Bagas tanpa restu dari om dan tante. Meskipun begitu aku akan tetap mencintai nya selamanya." ucap Moetia terbata-bata karena tangisannya.
"Jadi kamu tidak akan mencintai pria lain, apa artinya kamu tidak akan pernah menikah?" tanya Chairul.
Moetia jadi teringat pada kakak sepupunya Sisilia, dia memilih untuk tidak menikah karena pria yang dia cintai tidak mendapatkan restu dari orang tuanya.
"Pernikahan tanpa cinta hanya akan menyakiti kedua pihak yang terlibat di dalamnya." ucap Moetia sedih dan kembali menundukkan wajahnya.
Chairul menganggukkan kepalanya paham.
"Jadi kamu akan menyerah?" tanya Chairul.
Moetia kembali melihat ke arah Chairul,
"Jika Bagas bahagia bersama Manda, aku akan menyerah!" tegas Moetia.
Bagas sudah tidak tahan lagi, melihat Moetia menangis begitu lama membuat dada nya sesak.
Bagas mendorong Theo lalu membuka pintu balkon.
"Ayah, apa yang ayah katakan pada Moetia? kenapa dia menangis?" tanya Bagas lalu mendekati Moetia.
Bagas merangkul Moetia dan membawanya ke pelukannya.
"Lihat Moetia, kamu sudah tahu jawabannya kan?" tanya Chairul.
Moetia bingung, apa maksud Chairul sebenar nya.
"Bagas hanya akan bahagia bersama mu! tapi masalahnya ada padamu. Tentukan pilihan mu Moetia, Bagas atau Manda?" tanya Chairul dengan tegas.
Theo sampai menganga ketika Chairul menanyakan hal itu.
Bagas sangat cemas, selama ini Moetia selalu lebih perduli pada Manda.
Bahkan ketika Manda koma dulu, demi membujuk Bagas agar menjenguk Manda. Moetia bahkan sampai berani berbuat nekat.
Dan saat hari pertunangan, Moetia bahkan menerima syarat yang tidak masuk akal dari Bagas.
Bagas berdiri dan melihat ke arah ayahnya.
"Jika pilihan itu yang ayah berikan pada Moetia, maka aku sudah tahu apa jawabannya! ayah aku akan kembali ke kamar ku!" seru Bagas lemah.
Theo tidak percaya Bagas menjadi selamat ini
"Bagas!" panggil Theo.
Bagas tidak menghiraukan panggilan Theo, dia tetap melangkah menuju keluar.
Moetia masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Bayangan kebersamaan nya dengan Manda sejak kecil sedang melintas dipikiran nya, tidak hanya Manda, segala kebaikan dari Ahmad dan Malika juga terus menerus terbayang di ingatan Moetia.
Moetia sungguh dilema, tapi saat yang bersamaan semua gambaran kebersamaan nya dengan Bagas juga melintas begitu saja.
Bagas sudah memegang handle pintu, dia menoleh sekilas ke arah Moetia yang masih terlihat berfikir.
Bagas menghela nafas nya panjang, dia berkata pada dirinya sendiri. Meski apapun yang terjadi Bagas akan tetap mencintai Moetia sampai kapanpun.
Bagas pun keluar dari kamar Moetia dengan sedih.
__ADS_1
"Huh" Chairul terlihat menghembuskan nafasnya berat.
"Sungguh malang nasib putra ku itu, dulu dia di tinggalkan orang yang sangat dia sayangi demi harta, dan sekarang dia di tinggalkan demi balas Budi dan persahabatan!" seru Chairul.
Moetia mengangkat kepalanya, dia menatap kepergian Bagas.
Dia ingat saat itu bahkan Bagas nyaris mengakhiri hidupnya.
Moetia segera berdiri dan mengejar Bagas, dia berlari mengejar Bagas yang belum jauh dari kamarnya.
Moetia menubruk Bagas dan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu Bagas, aku mencintaimu. Aku memilih mu!" ucap Moetia tergesa-gesa.
Bagas terkejut tapi dia senang, dia berbalik dan menangkup wajah Moetia yang sedang menangis.
Bagas mencium kening Moetia lalu memeluknya.
Theo tiba-tiba keluar dan menegur mereka.
"Hei Bagas, ingin papanya Moetia mematahkan kaki mu? cepat masuk. Om Chairul ingin bicara pada kalian!" seru Theo.
Sementara itu di waktu yang sam di Bandung, Manda baru saja pulang dari acara fashion show. Sejak menjadi brand ambassador Wiguna grup, Manda menjadi sangat sibuk.
"Malam Bu!" sapa Manda lalu menyalami ibunya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Sepi sekali, kemana semua orang?" tanya Manda lalu meminum jus ibunya dan duduk merebah di sofa.
"Pagi-pagi tadi, setelah kamu berangkat. Om Aries pulang dan mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu dengan anak-anak di Singapura. Om Aries dan Tante Soraya menyusul Moetia kesana. Tapi tadi sore Tante mu sudah menelpon Moetia baik-baik saja, tapi Reno terluka, dia tertembak karena melindungi Moetia dan Bagas." jelas Malika.
Manda sangat kaget,
"Tante mu tidak memberitahu detailnya, tapi ibu bersyukur Moetia baik-baik saja!" seru Malika.
"Lalu Bagas?" tanya Manda.
Malika menggelengkan kepalanya,
"Seharusnya kamu khawatir pada Moetia, dia kan sahabat mu!" sahut Malika.
"Tapi Bagas adalah tunangan ku Bu, bagaimana keadaan nya?" tanya Manda.
"Dia juga selamat, hany Reno yang terluka!" sahut Malika lagi.
Terkadang Malika merasa sangat tidak enak pada keluarga Aries Mahendra ini, mereka sudah sangat membantu Manda dari mulai kebutuhan hingga keinginan Manda selalu mereka penuhi.
Bahkan Aries dan Soraya tidak pernah membedakan antara Manda dan Moetia.
Tapi sepertinya karena kasih sayang mereka itu membuat Manda menjadi manja, bahkan lebih manja daripada Moetia, putri kandung mereka sendiri.
Malika terus menatap putrinya yang masih sibuk dengan ponselnya karena berusaha menghubungi Bagas.
Manda membanting ponselnya ke sofa, karena panggilannya tak juga di jawab oleh Bagas.
"Kenapa sih, Bagas selalu tidak mengangkat telepon ku, aku ini tunangan nya!" kesal Manda.
Malika hanya bisa menghela nafas nya panjang ketika Manda terus mengomel.
Lalu di tempat lain, masih di waktu yang sama.
Bagas dan Moetia masih duduk saling berpegangan tangan di hadapan Chairul.
__ADS_1
Chairul mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantong kemejanya.
"Besok pagi-pagi sekali, kalian harus datang ke tempat ini. Theo temani lah mereka!" seru Chairul.
Bagas melihat nama tempat yang tertera di tulisan itu,
"Ayah, ini pantai?" tanya Bagas.
"Besok kalian akan menikah!" seru Chairul.
Bagas dan Moetia sangat terkejut dan Theo bahkan sampai terduduk lemah di sofa.
Moetia sampai melepaskan genggaman tangan nya pada Bagas.
"Om, tapi..."
Chairul terlihat serius,
"Setelah kembali dari rumah sakit tadi, ibu nya Bagas baru saja merencanakan perjodohan Moetia dengan Reno. Aku sudah terlalu lelah berdebat masalah perjodohan anak-anak dengannya. Aku hanya bisa mengusahakan ini untuk kebahagiaan Bagas, Moetia semua terserah padamu!" seru Chairul.
Moetia terlihat gugup dan kebingungan. Bagas menggenggam tangan Moetia.
"Ayah, tapi tanpa restu om Aries, pernikahan sah menurut hukum tidak bisa dilakukan bukan?" tanya Bagas.
"Memang kamu pikir untuk apa ayah mengajak Aries kemari?" balas Chairul.
Moetia dan Bagas sangat terkejut, mereka saling pandang.
"Om Aries tidak akan setuju yah!" sela Bagas.
"Lalu kamu pikir ayahmu akan diam saja! Moetia jika kamu mengatakan setuju dan bersedia menikah dengan Bagas. Maka sisanya om yang akan mengurus segalanya!" seru Chairul tegas.
Moetia melihat ke arah Chairul dan mengangguk perlahan,
"Aku bersedia Om, aku setuju menikah dengan Bagas!" jawabnya tersipu.
Bagas sangat senang hingga langsung menarik Moetia dan memeluknya dengan erat.
Chairul tersenyum lega, setidaknya dia sudah melakukan sesuatu untuk kebahagiaan putra sulungnya itu.
Theo yang menyaksikan betapa om Chairul berusaha keras demi Bagas merasa sangat terharu sekaligus iri.
Theo mendekati Chairul,
"Om, sungguh luar biasa. Aku sungguh berharap Daddy ku bisa seperti Om suatu saat nanti!" harap Theo.
Chairul malah tersenyum lalu menepuk bahu Theo.
"Bersabarlah Theo, karena aku sangat mengenal Daddy mu. Jadi jangan terlalu berharap lebih padanya!" seru Chairul lalu pergi keluar dari kamar Moetia dengan mengajak Bagas bersamanya.
"Temui ibumu dulu, agar saat kamu menghilang besok. Dia tidak terlalu merindukan mu!" seru Chairul.
Moetia mengangguk paham dan melepaskan tangan Bagas.
"Sampai jumpa besok pagi, calon istriku!" seru Bagas mengecup pipi Moetia sambil mengejar ayahnya yang sudah lebih dulu keluar.
...💗💗💗💗💗💗...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Think u ❤️...
__ADS_1