
Bagas merebahkan dirinya di samping Moetia, setelah membuat Moetia menjerit berkali-kali, Bagas akhirnya menyerah juga.
Moetia sudah sangat lelah, meskipun ruangan itu memakai pendingin ruangan. Tapi peluh tetap saja mengalir di sekujur tubuh Bagas dan Moetia.
Moetia melihat ke arah jam di dinding kamar, dan menunjukkan pukul satu dini hari.
Moetia benar-benar sudah sangat lelah, dia sudah tidak memperdulikan lagi dirinya belum memakai pakaiannya. Dia menarik selimut hingga menutupi lehernya dan memejamkan matanya lalu tidur.
Bagas yang tidur di samping Moetia hanya melihat tingkah Moetia yang dianggapnya sangat lucu. Wajahnya tak berhenti tersenyum sambil terus mengelus kepala Moetia yang sudah lelap tertidur.
Puas memandangi wajah istrinya lama-kelamaan Bagas pun tertidur.
Keesokan harinya, Moetia terbangun karena cahaya matahari yang menyilaukan tidurnya. Moetia membuka matanya perlahan, dia berusaha untuk bangun tapi sekujur tubuhnya terasa remuk.
Dia duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur, Moetia lalu menyibak selimutnya, Moetia terkejut ternyata dia tidak mengenakan apapun. Moetia kembali meraih selimut yang tadi lalu menutupi tubuhnya. Saat dia menarik selimutnya, Bagas menggeliat dan selimut itu tertimpa tubuh Bagas.
Moetia berdecak kesal, dia menarik selimut itu sekuat tenaga. Setelah itu dia berusaha untuk turun dari tempat tidurnya meskipun rasa tidak nyaman masih sangat terasa di seluruh tubuhnya, terutama di area pribadinya.
Moetia berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintu kamar mandi agar hal yang tidak dia inginkan terjadi.
Moetia mengisi bathub dengan air hangat, setelah itu dia masuk ke dalam bathtub lalu membuat dirinya nyaman senyaman mungkin.
Bagas terbangun karena terasa begitu dingin, Moetia tadi kan mengambil selimutnya.
Bagas membuka mata dan meraba sisi tempat tidur Moetia, Bagas segera bangun karena Moetia tidak ada.
Bagas turun dari ranjang lalu mengambil celana pendek dan memakai nya. Bagas mengetuk pintu kamar mandi.
Tok! tok! tok!
"Sayang, apa kamu ada di dalam?" tanya Bagas.
"Iya, aku sedang mandi" jawab Moetia.
Bagas pun bergegas ke dapur untuk menyiapkan segelas susu untuk Moetia.
Bagas mengambil susu dari lemari pendingin dan menuangkannya ke dalam panci untuk di hangatkan.
Sambil menunggu Bagas mengecek ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari nomer Manda, banyak juga panggilan dari ibunya.
Beberapa pesan masuk agar Bagas segera menghubungi mereka jika sudah membaca pesan yang mereka kirim.
Bagas kembali meletakkan ponselnya diatas meja ketika melihat tidak ada pesan atau telepon penting menyangkut perusahaan.
Tentu saja tidak ada, karena Chairul sudah menangani semuanya.
Setelah merasa cukup hangat, Bagas mematikan kompor dan menuangkan susu itu kedalam gelas.
Bagas meletakkan nya diatas meja makan.
Moetia keluar dari kamar mandi dan berjalan pelan, menuju meja rias. Dia mencari hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
"Cari apa sayang?" tanya Bagas mendekatinya.
"Hairdryer," jawab Moetia lalu menepuk jidatnya sendiri.
"Tidak ada sayang, apa kamu ingin aku meminta pelayan penginapan mencarikan nya untukmu?" tanya Bagas lagi.
Moetia kembali berdecak kesal,
"Tidak perlu," sahutnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Bagas meraih handuk yang dipegang Moetia dan membantu Moetia mengeringkan rambutnya, Bagas melihat pantulan wajah pucat Moetia dari arah cermin.
Beberapa tanda merah ada di sekitar leher dan dada istrinya itu.
"Hasil karya ku sungguh sempurna ya!" seru Bagas melihat ke arah dada Moetia.
Moetia menoleh ke arah Bagas dari pantulan cermin lalu segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lihat?" protes Moetia.
Bagas meletakkan handuk itu lalu mencium pipi Moetia sekilas.
"Sayang pakailah pakaian tertutup mulai sekarang ya!" seru Bagas.
"Bukannya pakaian ku memang seperti itu!" bantah Moetia.
"Sudahlah, jangan membantah suamimu. Lebih tertutup lagi ya, kalau perlu berhentilah bekerja!dan keluar rumah hanya jika aku menemanimu!" seru Bagas sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Moetia mengerutkan keningnya, sepertinya suaminya itu akan bertambah posesif lagi.
"Sayang, aku buatkan kamu susu dia tas meja makan! minumlah selagi hangat!" serunya lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
Moetia yang tadinya sangat kesal karena semua tanda merah yang Bagas tinggalkan di tubuhnya tersenyum seketika mendengar Bagas membuatkannya segelas susu hangat.
Tadi waktu di kamar mandi, Moetia bahkan harus terus meringis menahan perih pada setiap bekas gigitan yang Bagas tinggalkan di tubuhnya. Tanda merah bertebaran dimana-mana.
Moetia harus menahan perih saat menyapukan sabun ke seluruh tubuhnya. Karena itu tadi dia sempat sangat kesal pada Bagas.
Moetia berjalan ke arah meja makan dan meraih gelas susunya, dia meminumnya perlahan. Moetia kembali tersenyum, Bagas sungguh tahu bagaimana cara menyenangkan wanita yang dicintainya.
Sementara itu di bandara, Soraya terus menoleh kebelakang saat mereka akan naik ke pesawat pribadi milik Chairul.
"Ayo ma!" ajak Aries.
"Apakah Moetia benar-benar tidak akan pulang bersama kita?" tanya Soraya.
"Dia masih ada pekerjaan, besok dia pasti sudah kembali ke Bandung!" sahut Chairul yang berada di depan mereka.
Belinda pun mengajak Soraya untuk segera masuk ke dalam pesawat.
"Ayo Soraya, Moetia dan Bagas akan kembali besok! jangan cemaskan mereka. Marvin itu sudah di penjara kok!" seru Belinda.
__ADS_1
Soraya pun patuh dan masuk ke dalam pesawat. Mereka akan pulang ke Bandung.
Sementara itu di penjara. Eduardo V. Payage sedang menjenguk Marvin.
Edo biasa dia dipanggil, melihat dengan seksama putranya yang duduk di hadapannya dengan memakai seragam tahanan.
Marvin hanya tertunduk diam, karena semenjak datang Edo juga tidak bicara sepatah kata pun.
Edo menghela nafas lalu meletakkan tangannya di atas meja di depan Marvin.
"Siapa nama wanita itu?" tanya Edo
Marvin mengangkat kepalanya dan melihat tatapan tajam dari Ayah nya itu.
"Aku lihat rekaman CCTV di area parkir rumah sakit, kamu terus menggenggam tangan wanita itu. Jika dia tidak bersikeras melarikan diri darimu kamu tidak akan mengeluarkan senjata itu kan?" tanya Edo dengan tegas wajahnya sangat serius.
Marvin masih diam,
"Apa yang sudah dia lakukan padamu? bukankah dia hanya tawanan?" tanya Edo lagi.
"Dia menyelamatkan aku saat jatuh ke jurang!" jawab Marvin pelan.
"Balas Budi?" tanya Edo singkat.
Marvin menggelengkan kepalanya,
"Ayah, aku menyukainya!" ucap Marvin menatap ayahnya dengan wajah yang terlihat sedih.
Edi belum pernah melihat anak kesayangan nya itu seperti itu.
"Terbawa suasana?" tanya Edo singkat lagi.
"Tidak ayah, aku menyukainya. Aku mencintai Moetia." jawab Marvin cepat.
Edo terkekeh,
"Dua hari bersamanya lalu kamu bilang kamu mencintai nya? anak bodoh. Kamu hanya ingin memilikinya karena dia adalah kekasih saingan mu!" jelas Edo menyadarkan Marvin tentang perasaan nya.
"Bukan ayah, aku mencintai nya, dia berbeda. Wanita itu punya prinsip dan dia sangat baik, meskipun aku menculik dan memperlakukan nya kasar, saat aku celaka dia bahkan menolong juga merawat ku, dia bersusah payah membawaku ke dalam gua agar aku tidak terkena hujan! dia bahkan mencarikan makanan untukku! dia membuat api sampai tangannya lecet agar kami tidak kedinginan!" bantah Marvin.
Edo kembali terkekeh,
"Itu semua dia lakukan untuk dirinya sendiri, untuk bertahan hidup. Sudah cukup Marvin, kembalilah bersama ayah ke Filipina, kasihan ibu mu sangat merindukan mu!" seru Edo.
"Lupakan obsesi mu pada wanita itu!" perintah Edo.
"Ayah, aku ingin menikahi Moetia!" seru Marvin.
"Apa!" tanya Edo dengan nada meninggi.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Terimakasih 😘😘😘...