
...ALEXA POV...
...🍂🍂🍂...
"Ternyata bapak bisa senyum juga?", kata gue tanpa sadar. Gue ngeliat pak Arkan natap gue datar, tapi gue bisa ngeliat keterkejutan nya atas kata kata gue barusan. Oke untuk sekarang gue benar-benar menyesali perkataan gue.
" Saya harap kamu tidak salah paham, saya memberikan kalung tersebut hanya sebagai permintaan maaf", katanya kembali datar. Oke, seharusnya dia tidak perlu terlalu berlebihan seperti ini dong.
" Baik pak, dan terimakasih banyak untuk kalungnya. Kalungnya bagus, dan saya menyukai nya", kata gue se dramatis mungkin.
" Baguslah kalau kamu suka", kata pak Arkan setengah tersenyum. Ahk, bukan dia bahkan tersenyum sekarang. Apa gue harus jadi dramatis untuk melihat senyuman setiap hari? Kenapa gue jadi terobsesi sama senyuman nya? Nggak nggak.
" Kamu sakit? Kenapa kamu terus menggelengkan kepala seperti itu?", tanya pak Arkan. Dia menyadari nya. Apa sekarang dia memperhatikan gue?. " Ahk, nggak kok pak", jawab gue dengan senyuman manis.
" Baiklah kamu boleh keluar sekarang", perintahnya kembali dingin. Oke dia kembali lagi seperti semula. Kenapa dia sangat sulit untuk ditebak?.
...🍂🍂🍂...
" Ngapain kamu lama banget diruangan pak Arkan?", tanya mbak Nana penasaran. Oke jika jiwa kepo mbak Nana sudah keluar, maka dia nggak akan bisa untuk gue bohongin.
" Pak Arkan ngasih aku kalung mbak", jujur gue sambil memegang kalung di leher gue. Gue udah bisa nebak reaksi mbak Nana, dia pasti seterkejut itu. Dan benar saja reaksi nya memang amat sangat terkejut.
" Ngapain pak Arkan ngasih kamu kalung? Kalian ada apa-apa ya? Atau atau jangan bilang kamu sama pak Arkan..", kata mbak Nana menggantung. " Enak aja, aku bukan perempuan kek gitu ya mbak", jawab gue langsung. Gue tau arah pikiran mbak Nana kemana. Hei lo pikir gue cabe cabean pasar?
" Ya, siapa tau kan? Lagian ngapain dia ngasih kalung coba?", tanya nya lagi.
" Sebenarnya, dia ngasih ini tuh sebagai tanda permintaan maafnya. Hmm, tadi pagi pak Arkan ngebentak aku gitu, dan barusan dia minta maaf setelah itu ngasih ini sebagai permintaan maaf", jelas gue ke mbak Nana.
" Bagus deh kalo gitu, gue kira lo udah gitu lagi", kata mbak Nana dengan lancar. Gue pun langsung melebarkan kedua mata gue, dan mbak Nana hanya cengingiran tanpa dosa.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Gue melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 18.20. Semua karyawan kantor termasuk mbak Nana pastinya udah pada pulang. Tinggal lah gue disini menunggu bos sombong itu. Gue terus mendengus kesal dan sesekali menarik napas panjang. Kenapa dia belum keluar juga sih? Apa dia nggak tau kalau gue udah amat sangat lapar. Gue kan tadi nggak keluar makan siang karena dia juga nggak keluar. Kenapa sih gue harus senurut itu sama dia. Gue pun menjatuhkan kepala gue di atas meja.
" Apa semembosankan itu menunggu saya?", tanya suara berat nan dingin. Siapa lagi kalo bukan pak Arkan. Gue mengangkat kepala gue kembali dan menatap pak Arkan. Tatapan nya selalu sama. Apa dia hanya memiliki tatapan dingin seperti itu?.
" Ayo, kita harus ke minimarket sekarang ", kata pak Arkan. Perkataan nya lebih ke memerintah sih. Sebelum dia mengeluarkan jurus andalannya gue pun memilih untuk mengiyakan ajakannya. Toh gue juga nggak bisa nolak.
...🍂🍂🍂...
" Semua kebutuhan dapur bapak, benar-benar kosong ", kata gue menjelaskan.
" Seperti nya ini sudah cukup, apa bapak butuh cemilan?", tanya gue sekaligus melihat lihat semua barang yang ada di troli belanjaan.
" Daripada makanan ringan, saya lebih butuh buah untuk di cemil", katanya menjelaskan. Saat hendak menarik troli belanjaan, tangan gue nggak sengaja memegang tangan pak Arkan yang terlebih dahulu berada di troli. Gue menatap pak Arkan yang ternyata telah menatap gue lebih dulu. Gue kembali memandang mata coklat tersebut. Sepersekian detik kemudian gue tersadar dan langsung membuang pandangan gue. Gue juga melepaskan tangan pak Arkan yang nggak sengaja gue genggam. Pak Arkan berdehem dan segera mengajak gue ke tempat buah buahan berada.
Setelah memilih buah buahan, gue kembali memperhatikan semua belanjaan yang telah dipilih. Setelah merasa cukup gue mengajak pak Arkan untuk ke kasir.
...🍂🍂🍂...
" Bapak mau makan apa malam ini? ", tanya gue seraya gue menyusun barang belanjaan tadi ketempat nya.
" Terserah kamu aja, saya mau mandi dulu", kata pak Arkan lalu meninggalkan gue. Gue pun hanya bisa menarik napas panjang.
Setelah pak Arkan kembali ke meja makan, gue pun menghidangkan makanan yang telah gue buat. Gue memilih untuk memasak ayam sambal dan sayur capcai.
" Masakan kamu ternyata enak juga", puji pak Arkan. Tunggu, apa barusan? Dia muji masakan gue. Kesambet apaan nih bos malam malam?.
" Makasih pak", kata gue tersenyum.
__ADS_1
" Kamu ikut kursus masak?", tanya pak Arkan.
" Nggak pak, mendiang ibu saya yang ngajarin saya masak", jawab gue pada pak Arkan.
" Mendiang? Berarti kamu sekarang?", tanya pak Arkan menggantung.
" Iya pak, saya yatim piatu. Ayah saya meninggal waktu saya masih berumur 14 tahun. 4 Tahun kemudian ibu menyusul bapak", curhat gue ke pak Arkan. Gue memandang wajah pak Arkan. Seperti biasa, ekspresi nya selalu sulit untuk dimengerti.
" Maaf pak, saya jadi curhat", kata gue merasa nggak enak.
" Nggak papa", kata pak Arkan lembut. Tunggu nada bicara nya berubah. Apa dia merasa kasihan sama gue? Gue pun hanya tersenyum.
...🍂🍂🍂...
Setelah semuanya selesai gue memutuskan untuk pamit ke pak Arkan. Ya kali gue tinggal disini, mustahil.
" Pak saya permisi mau pulang dulu ya", pamit gue. Pak Arkan menatap gue sebentar lalu Menggangguk kan kepalanya. Gue pun meninggalkan pak Arkan.
" ALEXA TUNGGU!! ", sebuah teriakan dari dalam rumah terdengar. Gue pun menghentikan langkah gue. " Saya antar kamu, sudah malam. Saya akan terlihat seperti pria bajingan jika membiarkan seorang wanita pulang sendirian", katanya. Gue lumayan terkejut. Ini kata kata lumayan panjang yang menyentuh hati gue yang pernah di ucapkan pak Arkan. Seketika gue terkesima. Gue terus menatap ke arah pak Arkan bahkan saat dia udah ninggalin gue buat ngambil kunci mobil. " Oke, ayo", ajak pak Arkan menyadarkan gue. Gue pun mengikuti pak Arkan dan naik kedalam mobil.
......🍂🍂🍂......
" Makasih banyak pak udah nganterin saya" kata gue ke pak Arkan.
" Hmm, besok saya nggak mau lihat kamu terlambat lagi", kata pak Arkan kembali. Gue pun hanya mengangguk.
" Bapak hati hati ya di jalan", kata gue lagi. Pak Arkan hanya mengangguk. Lalu gue segera keluar dari mobil. Pak Arkan membunyikan klakson mobil lalu segera pergi.
Saat gue mau masuk kerumah sebuah notif dari hp gue berbunyi.
__ADS_1
Gilang
Weekend ini kamu bisa keluar kan Sa?