Dilema

Dilema
Chairul's Mission Completed


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Moetia Tamara binti Aries Mahendra dengan mas kawin tersebut tunai!" seru Bagas dalam sekali helaan nafas.


Penghulu yang menjabat tangan Bagas bertanya pada para saksi, Theo sebagai saksi dari pihak Moetia dan Benjamin saksi dari pihak Bagas.


"Sah.." seru mereka serempak.


Moetia meneteskan air mata nya saat itu juga, perasaan campur aduk memenuhi hati dan pikirannya.


Moetia mencium punggung tangan Suaminya, lalu Bagas pun mencium mesra kening istrinya itu.


Dengan mahar seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan Bagas telah mempersunting Moetia menjadi pendamping hidupnya.


Sementara di ruangan berbeda, Aries terlihat gelisah.


Aries merasa hatinya merasakan suatu perasaan yang aneh, dia memegang dadanya kuat.


"Ada apa?" tanya Chairul.


"Tidak tahu, aku merasa perasaan ku! huh... jika tidak ada yang kita tunggu lagi sebaiknya kita pulang saja. Aku mencemaskan Soraya!" jawab Aries.


Chairul yang tadinya ingin menunggu Bagas dan Moetia terpaksa mengikuti kemauan Aries


Mereka pun segera menuju ke hotel.


Sementara itu Soraya yang sedang bersama Belinda pun sejak tadi tak berhenti tersenyum.


Bahkan saat mereka berbincang sesuatu yang sedikit lucu saja, Soraya dengan mudah tertawa.


"Apa hari ini sangat spesial?" tanya Belinda.


"Apa?" tanya Soraya.


"Kamu terlihat bahagia sekali!" sahut Belinda.


Soraya kembali tersenyum,


"Oh, itu mungkin karena aku sangat senang bertemu dengan Moetia, dan mengetahui bahwa dia baik-baik saja!" jawab Soraya.


"Tentu saja! jika suami ku membuat Moetia dalam kesulitan lagi, aku yang akan menjewer telinganya!" ucap Belinda membuat Soraya lagi-lagi tertawa.


"Alhamdulillah" seru penghulu itu setelah membacakan beberapa doa untuk Bagas dan Moetia.


Setelah acara ijab kabul, Nurlaila membawa Moetia dan Bagas ke sebuah bungalao di tepi pantai.


Setelah itu Nurlaila meninggalkan mereka berdua bersama Theo dan Benjamin.


"Selamat untuk kalian berdua, aku sungguh terharu. Kalian harus berterima kasih pada om Chairul, aku ingin sekali Daddy ku bisa sebaik dia. Apa kalian tahu aku bahkan sudah membujuknya ratusan kali agar melamar Audrey..."


"Tuan Theo, mari kita pergi!" ucap Benjamin menyela curhat colongan Theo pada Bagas dan Moetia.


Moetia hanya tersenyum tipis melihat ekspresi kesal Theo.


"Baiklah, pengantin baru aku pergi dulu. Marvin sudah tertangkap, kalian bisa tenang karena kalian akan aman. Kalau ada apa-apa kalian bisa hubungi Benjamin!" ucap Theo mendahului Benjamin dan meninggalkan bungalao.


"Tuan muda, nona. Saya permisi!" seru Benjamin lalu menyusul Theo.


Setelah mobil Theo dan benjamin pergi, Bagas mulai menggoda wanita cantik yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya itu.

__ADS_1


Bagas meraba perut istrinya dari belakang dan berbisik pada Moetia.


"Istriku, sekarang hanya tinggal kita berdua." bisik Bagas di telinga Moetia.


Moetia merasa perasaan nya masih campur aduk.


Dia menepis tangan Bagas lalu masuk ke dalam bungalao.


Moetia memasuki kamar mandi dan berganti pakaian.


Bagas mengerti jika Moetia masih merasa dilema dengan semua yang terjadi, mereka menikah secara diam-diam meskipun sah secar agama dan hukum. Tapi semua itu karena rencana dari ayahnya Bagas.


Moetia keluar dari kamar mandi dan menyisir rambutnya yang tadinya tersanggul sederhana. Moetia memang meminta agar penata rambutnya tadi tidak memakaikan hair spray di rambutnya. Karena Moetia tidak suka dengan aromanya yang menyengat.


Bagas juga mengambil pakaiannya dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai dia memperhatikan Moetia yang sedang berdiri di balkon dan memandang ke arah lautan luas.


Bagas tahu jika Moetia sangat sedih karena pernikahannya tidak di saksikan oleh mama dan papanya.


Bagas memesankan makanan untuk mereka lewat telepon. Bagas pun tidak mengganggu Moetia ketika dia sedang ingin sendiri.


Bagas malah sibuk melihat kamera yang tadi di tinggalkan oleh Theo. Beberapa fhoto pernikahan mereka tersimpan di memori card di dalam kamera.


Sesekali Bagas tersenyum melihat video saat dia mengucapkan ijab kabul nya sendiri.


Setelah makanan nya datang, Bagas menghampiri Moetia yang masih berdiri di balkon kamar mereka.


"Sayang, makanannya sudah datang, ayo kita makan!" ajak Bagas tersenyum di dekat pintu.


Moetia menoleh sekilas.


Bagas mendekatkan dirinya ke Moetia lalu memeluknya dari belakang.


"Aku mencintaimu!" seru Bagas.


Moetia memejamkan matanya mendengar pengakuan cinta dari Bagas.


Bagas membalikkan posisi Moetia agar menghadap dirinya.


"Apa aku tidak akan mendengar balasan dari ungkapan cintaku barusan?" tanya Bagas lembut.


Moetia memeluk Bagas,


"Aku mencintaimu, maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengacuhkan mu seperti tadi. Maaf ya!" lirih Moetia menyesali sikapnya tadi.


Bagas tersenyum senang,


"Baiklah nyonya Bagas, bolehkah aku mendapat kehormatan untuk bisa makan siang bersama mu?" tanya Bagas sambil membungkuk dengan satu tangan di dada dan tangan satu lagi di belakang.


Moetia tersenyum,


"With pleasure!" jawab Moetia


Bagas menggandeng tangan Moetia lalu mereka menuju ke meja makan dan makan siang bersama.


Sementara itu, sesuai janji Chairul setelah mereka menghadiri acara pernikahan. Chairul dan Aries akan mengajak istri mereka untuk berbelanja.


Belinda dan Soraya punya selera yang tidak jauh berbeda.

__ADS_1


Hingga tak jarang Chairul dan Aries malah terkekeh pelan melihat tingkah kedua wanita paruh baya itu.


"Apa mereka tidak ingat umur, mereka lincah sekali kesana kemari. Aku lelah Aries, sebaiknya kita menunggu mereka di restoran saja. Ini juga sudah waktunya makan siang!" seru Chairul.


"Kamu benar mas Chairul, sebaiknya kita menunggu mereka sambil minum teh hangat." sahut Aries.


Sementara kedua suami mereka sudah lelah mengikuti mereka berbelanja.


Soraya dan Belinda masih sibuk mencari oleh-oleh untuk Malika dan Manda.


"Apa tas ini bagus?" tanya Belinda.


"Untuk Manda?" tanya Soraya.


Belinda mengangguk,


"Tas itu bagus, tapi Manda lebih suka yang limited edition!" seru Soraya.


"Begitu ya, kamu sungguh sangat mengerti Manda, Soraya." puji Belinda.


"Bagaimana tidak mbak, dia tumbuh besar bersama Moetia, aku bahkan tahu apa kebiasaan dan semua yang dia suka!" seru Soraya.


"Begitu ya!" sahut Belinda.


Belinda kemudian melihat sekeliling, dia sadar bahwa Chairul dan Aries sudah tidak lagi ada di belakang mereka dan hanya ada dua anak buah Benjamin.


"Aih, dimana suami-suami kita Soraya?" tanya Belinda masih terus melihat ke sekeliling.


Soraya juga menoleh ke belakang,


"Dimana mereka, bukankah tadi ada di belakang kita!" sahut Soraya.


Belinda menghampiri anak buah suaminya,


"Dimana tuan besar?" tanya Belinda.


"Tuan besar menunggu di restoran bersama tuan Aries, nyonya!" jawab si penjaga 1.


Belinda menggelengkan kepalanya,


"Astaga, sejak kapan?" tanya Belinda lagi.


"Sudah setengah jam yang lalu, nyonya!" jawab penjaga 2.


Soraya mendekati Belinda dan terkekeh pelan.


"Kita sangat asik berbelanja, hingga tidak menyadari kalau suami-suami kita sudah menghilang sejak setengah jam yang lalu, mbak!" sahut Soraya.


Belinda juga terkekeh,


"Benar, ayo kita susul mereka!" ajak Belinda.


...💗💗💗💗💗...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹...


...Terimakasih 😘...

__ADS_1


__ADS_2