
Aries masih memandang putri kesayangannya yang berdiri di hadapannya sambil menundukkan kepala.
Tangan Aries ingin meraih putrinya itu kembali ke sisinya. Tapi Bagas lebih dulu merangkul Moetia.
"Om, aku tulus menyayangi dan mencintai Moetia. Kami saling mencintai!" tegas Bagas.
Aries masih diam dan tak berpaling dari putrinya itu. Rasa tak percaya putri kecilnya yang selalu jujur selama ini tega membohonginya, hal sebesar ini.
Kecewa sudah pasti, sedih dan sakit di hati apalagi. Di tambah lelaki yang menjadi suaminya adalah lelaki yang sudah mendapat nilai minus dari Aries.
Aries tidak dapat berkata-kata lagi.
"Pergilah!" ucap nya lemah.
Moetia mengangkat kepalanya, dengan derai an air mata dia bersimpuh di kaki Aries.
"Papa! maaf. Maafkan Moetia pa!" isak nya memeluk kaki Aries.
Aries bahkan tidak bergeming, hatinya terlanjur sakit. Putri yang sudah dia besarkan, dia rawat dengan penuh kasih sayang, putri yang dahulu selalu meminta di gendong di pundaknya ketika masih kecil, selalu merengek meminta di temani tidur saat mati lampu.
Selalu menarik tangannya ketika dia akan berangkat pergi bekerja. Putrinya yang tumbuh dewasa, putri yang selalu di lindungi nya, bahkan berangkat dan pulang sekolah dia sendiri yang mengantar dan menjemputnya.
Bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini. Bagas! kenapa harus Bagas?.
Soraya makin terisak, dia melihat Moetia yang bersimpuh seperti itu sebenarnya ikut sedih juga, tapi dia sendiri sudah lemas tak berdaya.
"Pergi !" teriak Aries.
Moetia, Bagas, Soraya bahkan Malika sangat terkejut. Aries belum pernah berteriak seperti sebelumnya.
Bagas membantu Moetia untuk berdiri, dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Bagas masih berusaha sementara Moetia terus menolaknya, dia menggelengkan kepalanya dan masih bersimpuh dan memeluk kaki Aries.
"Pergi atau aku tidak akan menganggap mu sebagai putri ku lagi!" tegas Aries.
Moetia mendongakkan kepalanya ke atas, dia melepas pegangannya pada kaki Aries. Moetia terduduk lemah ke belakang.
Bagas menahan Moetia agar tidak jatuh.
"Moetia, kita pergi saja dulu. Ayolah!" ajak Bagas dengan berbisik di telinga Moetia.
Moetia menoleh ke arah Bagas.
__ADS_1
"Tidak Bagas, aku tidak akan meninggalkan. papa dan mama ku!" bantah Moetia.
"Sejak kamu memilih pria ini sebagai suami mu, sejak itu kamu telah meninggalkan kami!" balas Aries dengan wajah muram.
"Jangan sampai aku mengulanginya!" gertak Aries.
"Moetia, kita pergi dulu." ajak Bagas menuntun Moetia untuk berdiri.
Moetia masih menolak untuk pergi, dia menoleh ke mamanya tapi begitu Soraya bertemu pandang dengan nya Soraya malah memalingkan wajahnya dengan cepat. Sementara Aries juga enggan melihatnya.
"Pergi!!!!!" teriak Aries dan matanya sudah merah dan nyaris meneteskan air mata karena sangat emosinya.
Moetia tersentak, Bagas segera menuntunnya untuk meninggalkan tempat itu. Moetia terus menoleh ke belakang ke arah ke dua orang tuanya berada.
Mereka benar-benar sudah tidak ingin melihat Moetia lagi untuk saat ini. Ditambah Malika yang masih syock berdiri bersandar di dinding membuat rasa bersalah Moetia makin menyiksanya.
Bagas sudah berhasil membawa Moetia keluar dari rumah sakit, Bagas menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Bagas menggenggam tangan Moetia dengan lembut.
"Saat ini pasti sulit untuk menjelaskannya pada mereka, aku harap kamu bisa bertahan ya. Kita akan hadapi semua ini bersama." seru Bagas.
Moetia tidak menjawab pernyataan Bagas, dia hanya terus menatap nanar ke depan dan matanya pun tak berhenti menangis.
"Menangis lah, aku akan selalu ada di sisimu!" ucap Bagas lembut dan meraih Moetia kembali ke pelukannya.
Setelah beberapa saat memastikan Moetia tenang, Bagas baru melajukan mobilnya menuju apartemen mereka.
Sementara itu di dalam rumah sakit, Aries membantu Soraya berdiri dan mengajaknya untuk duduk di kursi tunggu.
Aries mengambilkan air minum untuk Soraya, kemudian Aries mendekati Malika.
"Malika, aku tahu..."
Malika mengangkat tangannya dan melihat ke arah Aries.
"Semua ini bukan sepenuhnya salah Moetia, kita semua tahu Bagas memang tidak pernah mencintai Manda. Kalian jangan memperlakukan Moetia seperti itu.." Isak Malika sambil menundukkan kepalanya.
Situasi ini sangatlah rumit bagi Malika, di satu sisi dia dari awal sudah tahu Bagas tidak pernah mencintai Manda. Dan beberapa waktu ini dia juga menyadari perhatian berbeda dari Bagas untuk Moetia, tapi di sisi lain ada putri sulungnya Manda, yang bahkan nekat mengakhiri hidupnya demi lelaki yang bahkan tidak pernah menganggapnya.
Malika tidak mungkin menyalahkan Moetia, karena Moetia dan Bagas saling mencintai. Tapi dia juga tidak berhak menentukan bagaimana Aries dan Soraya harus bersikap.
__ADS_1
Kekecewaan yang mendalam di hati Aries dan Soraya juga dia rasakan. Malika hanya menekan dadanya dengan kuat. Hatinya benar-benar sakit.
Lampu ruang Operasi telah padam. Seorang dokter keluar dan menghampiri Aries yang berdiri tidak jauh dari pintu ruang operasi.
"Keluarga pasien!" panggil si dokter berkacamata.
Aries mendekat.
"Iya, bagaimana dokter? bagaimana keadaan Manda?" tanya Aries.
Malika dan Soraya pun ikut mendekati dokter itu dan Aries.
Dokter itu melepaskan masker operasi nya.
"Pasien selamat, operasi untuk mengeluarkan semua pil tidur itu sudah berhasil, hanya tinggal pemulihan saja. Sebentar lagi, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat." jelas si dokter.
Malika dan Soraya terlihat saling berpegangan dan menarik nafas lega bersamaan.
"Kondisi mental pasien sepertinya tidak stabil ya, hingga dia menelan begitu banyak pil tidur. Hal itu bisa berakibat fatal, sepuluh menit saja terlambat, mungkin pasien tidak akan bisa tertolong. Jadi usahakan agar kondisi mentalnya tetap tenang! jangan sampai pasien tertekan, atau emosi berlebihan!" jelas si dokter.
Malika dan Soraya kembali saling pandang. Sementara Aries berterimakasih pada si dokter.
Si dokter dan beberapa perawat lain meninggalkan ruang itu, hanya dua orang perawat sedang mengurus Manda dan kepindahan nya ke ruang rawat.
Aries, Soraya dan Malika pun mengikuti dua perawat yang membawa Manda itu keruangan nya.
Malika mengusap lembut kepala Manda yang masih belum sadarkan diri.
Setelah sampai di apartemen, Moetia melangkahkan kakinya ke arah balkon dan menggeser pintunya perlahan.
Bagas mengambilkan air dari lemari pendingin untuk Moetia. Bagas menghampiri Moetia dan memberikannya minuman yang sudah dia bawa.
Moetia menerimanya dan meneguknya perlahan, matanya masih menatap nanar ke depan. Tiba-tiba muncul pikiran yang entah darimana datangnya.
Moetia mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakan hal yang terlintas di pikiran nya pada Bagas.
Moetia menatap dalam mata Bagas.
"Bagaimana kalau kita bercerai saja?" tanya Moetia.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
...Terimakasih ❤️❤️❤️...