Dilema

Dilema
Seperti Kacang Lupa Kulitnya


__ADS_3

Hai semuanya...


Selalu jaga kesehatan dan kebahagiaan kalian ya.


Happy reading...


❤️❤️❤️


Bagas mengajak Moetia yang sudah bangun sejak setengah jam yang lalu ke balkon untuk menghirup udara segar. Bagas sudah melepas selang infus di tangan Moetia dan menutupnya dengan plester.


Bagas membantu Moetia untuk duduk di sofa single di balkon dan Bagas ikut duduk di sofa yang satu lagi sambil terus menggenggam tangan Moetia.


Moetia tersenyum penuh kebahagiaan, memiliki Bagas adalah anugerah Tuhan yang terindah baginya.


Laki-laki yang begitu mencintai dengan tulus dan rela melakukan apapun yang Moetia minta dan Moetia inginkan.


Laki-laki yang telah mencuri ciuman pertama nya, laki-laki pertama yang memeluknya dan laki-laki pertama yang Moetia tanpa ragu sedikitpun saat menerima pernyataan cinta darinya.


Bagas ikut tersenyum saat melihat Moetia tidak kunjung menghentikan senyuman nya.


"Sangat bahagia ya?" tanya Bagas lembut sambil sesekali membenarkan helaian rambut Moetia yang menutupi wajahnya karena tersapu angin.


"Aku hanya sedang menikmati keberuntungan ku, aku baru menyadari hal terindah dari setiap yang terjadi beberapa waktu ini!" jawab Moetia sedikit berteka-teki membuat Bagas memiringkan kepalanya.


Moetia malah terkekeh kecil.


"Mau bagaimana pun, kamu ternyata tetap tampan ya!" puji Moetia.


Bagas sudah tidak tahan lagi, dia begitu gemas pada istrinya itu. Dia bangkit dari duduknya dan menarik Moetia berdiri perlahan, dia membawa Moetia ke pangkuannya.


"Bagas, aku bisa duduk sendiri!" protes Moetia.


Bagas merangkul perut Moetia dan memeluknya dengan erat.


"Diam lah sayang, sejak tadi aku sudah sangat gemas padamu! jika tidak mengingat kamu baru pulih, aku tidak hanya memangku mu di pangkuan ku. Tapi akan ku gendong ke tempat tidur." Goda Bagas membuat wajah Moetia memerah.


Moetia menyandarkan kepalanya ke bahu Bagas.


"Aku mencintaimu Bagas." ucap Moetia pelan.


Hati Bagas berbunga-bunga, Moetia benar-benar membuat dunianya sangat berwarna dan bercahaya.


"Aku juga mencintaimu istri ku!" balas Bagas.


Tentu saja seorang Bagas tidak hanya membalas dengan kata-kata saja. Dia mendaratkan ciuman mesra nya di bibir merah muda istrinya itu.

__ADS_1


Suasana romantis yang bisa mereka ciptakan kapanpun dan dimana pun. Dua insan yang sedang di mabuk cinta yang sudah melalui perjalanan cukup panjang dengan segala rintangan nya.


Sementara itu di dalam kamarnya, Manda sedang menangis sambil membereskan pakaian nya dan memasukkannya ke dalam koper besarnya.


"Manda, jangan begini nak. Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" bujuk Soraya yang juga bingung dengan situasi yang terjadi.


Sementara Aries masih duduk di sofa ruang tamu sambil memikirkan apa yang telah Chairul katakan padanya.


Moetia sudah menjalin hubungan dengan Bagas sebelum Moetia tahu bahwa orang yang disukai Manda adalah Bagas.


Lalu Moetia bahkan rela melakukan apapun demi kebahagiaan Manda. Putri tunggalnya itu sudah begitu banyak mengalah dan menderita demi kebahagiaan Manda yang bahkan cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Masalah pernikahan nya dengan Bagas masih sedikit mengganjal di hatinya. Tapi Aries kembali bimbang saat mendengar kondisi Moetia yang sedang tidak baik.


Aries mulai membuka hatinya untuk menerima penjelasan Moetia. Dia sudah memantapkan hatinya untuk bertemu dengan putrinya itu dan mendengarkan penjelasan nya.


Aries meraih ponselnya dan menghubungi Moetia. Beberapa kali dia mencoba tapi nomer Moetia tidak aktif.


Aries menghela nafasnya panjang dan memutuskan untuk bertanya dimana Moetia tinggal pada Chairul.


Aries memutuskan untuk pergi ke kantor Chairul. Sebelum Aries melangkah dia melihat Manda sudah membawa kopernya keluar dari dalam kamar nya.


Di iringi Malika dan Soraya di belakangnya yang berusaha mencegah Manda agar tidak pergi dari rumah itu.


Sementara Malika hanya bisa terisak melihat putrinya yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi itu.


"Kalian semua bermuka dua, kalian tidak benar-benar menyayangiku. Aku akan meninggalkan rumah ini. Kalian semua jahat padaku!" teriak Manda di depan Soraya dan Malika.


"Manda, kita bicara baik-baik ya nak. Jangan seperti ini, ibu mohon.." bujuk Malika.


Manda yang dikuasai amarah mendorong Malika dengan kuat sampai hampir terjatuh. Untung saja ada Soraya di belakang Malika yang menahannya.


Melihat perlakuan kasar Manda pada Malika membuat Aries ikut emosi.


"Manda!!" teriak Aries


Manda, Malika dan Soraya spontan menoleh kearah suara keras Aries.


Aries terlihat sangat marah, mata nya membulat sempurna, dengan langkah cepat dia menghampiri Manda.


"Minta maaf pada ibu dan Tante mu!" perintah Aries.


Manda makin kesal, dia merasa semua orang di rumah ini tidak ada lagi yang perduli padanya. Dia merasa semua orang hanya menyayangi Moetia. Mereka hanya membela Moetia.


Manda tidak ingin menuruti perintah Aries, dia berfikir kalau pun dia keluar dari rumah ini dia sudah punya pekerjaan dan tabungan yang cukup.

__ADS_1


"Tidak" jawab Manda yang bahkan berani melihat ke arah Aries.


" Om selalu menuruti kemauan dan keinginan mu kan, jangan membuat Om kesal padamu Manda! minta maaf pada ibu dan Tante mu sekarang!" bentak Aries.


Manda mengepalkan tangannya dan mengangkat kepalanya tegak.


"Tidak.. Tidak... Tidak ...!!!" teriak Manda.


Melihat Manda berani membantah Aries, tubuh Malika menjadi lemas tidak berdaya, dia sudah jatuh bersimpuh di lantai menangisi hasil didikan nya yang sudah gagal itu.


Mata Aries sudah memerah dia sudah mengangkat tangan nya hendak menampar Manda.


Namun kepalanya masih cukup dingin untuk berfikir bahwa dia tidak berhak memberi pelajaran pada Manda, meskipun dia sudah merawat dan membiayai semua keperluannya sampai saat ini tapi tetap saja Manda bukan anaknya.


Manda makin tersulut emosi ketika Aries mengangkat tangannya, matanya terpejam karena merasa takut. Tapi karena tak juga menerima pukulan, Manda membuka matanya dan melihat Aries kembali menurunkan tangannya.


"Om mau tampar aku, tampar saja om. Cepat tampar, jangan mentang-mentang Om sudah membantu membesarkan dan membiayai keluargaku om bisa seenaknya memukul ku!" bantah Manda.


Malika makin terisak, dia memegang dadanya erat.


"Manda jangan bicara seperti itu pada om kamu!" sela Soraya sambil memeluk lengan Aries agar Aries tidak terbawa emosi.


Malika berusaha untuk berdiri, dia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah kurang ajar Manda pada Aries dan Soraya.


Malika melangkah maju mendekati Manda.


"Pergilah!" seru Malika tanpa melihat ke arah Manda.


Soraya terkejut Malika bicara seperti itu. Soraya memegang lengan Malika.


"Malika..."


Malika menepuk tangan Soraya yang memegangnya pelan.


"Biarkan saja Soraya, anak ini sudah melewati batas. Biarkan saja dia pergi!" lirih Malika lalu melangkah perlahan menuju kamarnya.


Soraya dilema, dia harus menghentikan Manda atau membujuk Malika.


"Pa, bagaimana ini?" tanya Soraya pelan pada Aries yang masih memelototi Manda yang sama sekali tidak perduli pada ucapan dan nasehat dari ibu kandungnya sendiri itu.


❤️❤️❤️


Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️


Terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2