Dilema

Dilema
Bicara Dengan Theo


__ADS_3

Soraya membawakan makanan dan air jahe hangat untuk Manda ke kamar Manda.


Malika masih terus mengusap dan memijat tangan Manda dengan minyak kayu putih.


Lalu bi Yati juga memijat dan menghangatkan kakinya yang jika disentuh sangatlah dingin.


"Belum datang dokternya, Soraya?" tanya Malika cemas.


Soraya meletakkan makanan dan minuman yang dia bawa diatas meja di samping tempat tidur.


"Mobilnya sudah masuk gerbang tadi, sebentar lagi pasti sampai disini!" jawab Soraya.


Soraya menoleh ke pintu dan melihat Dokter Risma, dokter keluarga Soraya sudah masuk ke kamar Manda di antarkan oleh bi Irah.


"Dokter," sapa Soraya.


"Manda kenapa?" tanya dokter Risma lalu mendekati Manda dan memeriksanya.


Malika sedikit bergeser ketika dokter Risma memeriksa Manda.


Beberapa menit kemudian, dokter Risma terlihat menggelengkan kepalanya. Dia mengambil suntikan dan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna kuning pekat.


Risma terlihat menyuntikkan cairan itu pada lengan Manda. Setelah selesai dia membereskan perlengkapan nya dan menoleh ke Malika.


"Apa gadis ini diet lagi?" tanya dokter Risma pada Malika.


Malika terkejut,


"Diet?" tanya nya mengulang pertanyaan dokter Risma.


Risma mengangguk,


"Iya, asam lambung nya sangat tinggi, dia juga terindikasi kekurangan cairan dan asupan nutrisi. Kasus seperti ini sering terjadi saat pasien diet dan menahan untuk tidak makan dalam jangka waktu tertentu. Sudah berapa jam dia tidak makan?" tanya Risma menoleh pada Soraya.


Soraya memandang Malika,


"Kata bi Irah, semalam makanannya sama sekali tidak dia sentuh. Dan pagi ini saat sarapan dia juga tidak turun. Mungkin sudah lebih dari dua puluh jam! Astaga Manda!" kesal Soraya.


"Manda!" lirih Malika menatap putrinya yang belum sadarkan diri.


"Lalu bagaimana dokter?" tanya Soraya.


"Dia harus di beri infus, aku tidak membawa peralatan itu kemari. Sebaiknya bawa dia ke klinik ku saja, aku akan telepon perawat dan mengirim ambulance kemari!" saran Risma.


Soraya mengangguk setuju,


"Baiklah, seperti katamu saja." seru Soraya.


Malika membereskan keperluan Manda ke dalam tas lalu menunggu ambulance datang.


Sementara itu di Singapura. Waktu sudah menjelang petang.


Moetia sudah mandi dan berganti pakaian, sedangkan Bagas masih tertidur di ranjang Moetia.


Moetia kembali mengambil laptop nya, dan menonton drama Korea kesukaannya.


Terdengar suara ketukan pintu, Moetia berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya. Moetia membuka pintu,


"Hai wanita, dimana Bagas? aku mencarinya di kamarnya tidak ada!" seru Theo.


Moetia membuka lebar pintu dan menunjukkan dimana Bagas berada.


"Dia masih tidur!" jawab Moetia cuek.


Theo sangat terkejut,


"Benarkah sudah sejauh ini?" tanya Theo.


Moetia menginjak kaki Theo,


"Aduh, Moetia kamu ini punya masalah apa dengan kaki ku?" tanya Theo kesal.


"Yang bermasalah itu otak mu? apa yang kamu pikirkan. Kami hanya mengobrol dan dia tertidur disana, dasar Piktor!" kesal Moetia.

__ADS_1


"Hei, jangan salahkan pikiran ku. Kalian berdua di dalam kamar, dan Bagas tidur di ranjang mu, jika Reno yang melihatnya aku yakin dia akan memikirkan hal yang sama denganku!" ucap Theo panjang lebar membenarkan pemikiran nya.


Moetia memutar bola matanya,


"Sudah lah, katakan ada apa mencari Bagas?" tanya Moetia.


Theo berjalan menuju ke kasur dan membanting dirinya disana.


"Wah ternyata sangat nyaman, pantas saja Bagas suka disini!" seru Theo.


"Tempat tidur itu sama persis dengan yang ada di kamar mu!" sahut Moetia cuek.


"Berbeda Moetia, ada aroma yang menarik disini. Kamu pakai parfum merk apa? aku akan membelikannya untuk Audrey!" seru Theo.


Moetia kembali duduk dan kembali menatap layar laptop nya yang masih memutar drama Korea.


"Setiap orang punya selera berbeda, Theo!" bantah Moetia.


"Tapi kenapa selera mu dan Manda sama?" tanya Theo.


Moetia menatap Theo, kali ini bukan tatapan yang tidak suka tapi tatapan seseorang yang sangat menyesali sesuatu.


Sementara Bagas terbangun karena merasa terganggu,


"Hei, apa yang kamu lakukan disini!" tanya Bagas kesal sambil melemparkan bantalnya ke wajah Theo.


Moetia segera memalingkan wajahnya kembali ke laptopnya.


"Sabar bos, itu tadi Reno mendapat telepon penting dari pengatur acara malam ini. Dia harus kesana saat dia menghubungimu ponsel mu tidak bisa dihubungi. Jadi dia memintaku kemari dan memberitahu mu, bahwa acaranya dimajukan jadi jam tujuh malam. Kamu harus datang setengah jam sebelumnya. Sementara dia akan langsung dari sana." jelas Theo.


Bagas mengusap wajahnya,


"Sayang, berapa lama aku bisa bersiap?" tanya Bagas.


"Setengah jam lagi, sekarang sudah hampir jam enam!" sahut Moetia.


Bagas segera turun dari tempat tidur lalu menarik tangan Moetia agar berdiri.


"Sayang, ayo bantu aku bersiap!" seru Bagas


Sementara Theo masih bengong melihat Opera Romeo dan Juliet yang baru terjadi di hadapannya.


Theo mengusap kepalanya sendiri kesal,


"Astaga, Audrey kenapa kamu sibuk sekali. Lihat aku sudah seperti jomblo disini!" gerutu Theo.


Di dalam kamar Bagas, Moetia menyiapkan pakaian Bagas selagi Bagas mandi.


Setelah selesai Moetia menyiapkan sepatu dan kaos kaki Bagas, dia meletakkan nya di bawah kursi agar Bagas mudah memakainya.


Bagas keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


Moetia berdecak kesal dan membelakangi Bagas,


"Ada lagi yang kamu butuhkan? jika sudah aku akan keluar!" seru Moetia.


Bukannya lekas memakai pakaiannya, Bagas malah mendekati Moetia dan memeluknya.


Moetia terkejut,


"Bagas!" pekik nya


"Sayang, kamu sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Kamu sudah kompeten menjadi nyonya Bagas lho!" goda Bagas.


Moetia menepis tangan Bagas,


"Pakai pakaian mu!" seru Moetia lalu berlari keluar dan masuk ke dalam kamarnya.


Moetia terlihat menghela nafas lega saat sudah menutup pintu kamarnya,


"Cepat sekali!" tegur Theo.


Moetia berbalik, dia terkejut karena melihat Theo masih ada di dalam kamarnya dan sedang menonton film dari laptopnya.

__ADS_1


"Kamu masih disini?" tanya Moetia setengah berteriak.


Theo malah masih santai menonton,


"Selera wanita memang sangat menyedihkan!" seru Theo.


Moetia mendekati Theo dan duduk di kursi yang ada di depannya.


"Maksud mu?" tanya Moetia.


"Iya, kalian suka sekali menonton drama sedih seperti ini, lalu kalian akan menangis. Bukankah kalian sangat menyedihkan?" tanya Theo memandang Moetia.


Moetia menutup laptop nya,


"Kenapa di tutup, aku sedang menonton!" protes Theo.


"Theo, aku ingin menanyakan sesuatu?" sela Moetia.


Melihat Moetia serius, Theo memperhatikan nya dengan seksama.


"Apa?" tanya Theo.


"Saat Bagas memberitahukan tentang hubungan kami padamu, apa yang kamu pikirkan tentang aku?" tanya Moetia.


Theo heran kenapa tiba-tiba Moetia menanyakan hal itu.


Melihat Theo malah diam, Moetia bicara lagi,


"Katakan saja, tidak apa-apa. Aku tidak akan mengadukan apa yang kamu sampaikan pada Bagas!" seru Moetia.


"Sebenarnya saat itu aku sangat tidak menyukaimu!" ucap Theo jujur tapi dia segera menatap Moetia.


"Aku mengatakan ini karena kamu bertanya!" sambung Theo.


Moetia malah tersenyum,


"Tidak apa-apa, aku tahu jika tidak tahu yang sebenarnya semua orang pasti berfikir seperti itu!" sahut Moetia.


"Lalu kenapa setelah kamu tahu yang sebenarnya dan Bagas bertunangan dengan Manda kamu tidak melepaskan Bagas?" tanya Theo.


Moetia tersenyum getir,


"Aku sudah pernah melakukannya, aku bahkan membawa Gio masuk dalam masalah kami ini. Dan hasilnya, Bagas menjadi sangat dingin dan kasar, tidak hanya padaku tapi pada semua orang! Tapi bukan karena itu saja aku kembali padanya, aku menyadari bahwa aku sangat mencintai nya, saat dia bersama wanita lain aku tidak senang, saat dia marah dan mengacuhkan aku. Duniaku seperti berakhir, mungkin terdengar membual, saat orang tuaku menuntutnya, aku pikir itu adalah jalan terbaik mengakhiri hubungan ku dengannya, tapi aku salah. Bukan dia yang tidak bisa jauh dari aku, akulah yang tidak bisa menjauhinya." ucap tulus Moetia dengan mata yang berbinar-binar.


Theo yang mendengarkan penjelasan Moetia merasa Moetia benar-benar mencintai Bagas. Theo jadi menyadari bahwa Moetia bukan yang merebut cinta Manda, karena Bagas memang tidak pernah mencintai Manda.


Theo menepuk punggung tangan Moetia,


"Maafkan aku, karena telah berprasangka buruk padamu!" ucap Theo sambil tersenyum.


Moetia tersenyum,


"Kamu tidak perlu minta maaf, bolehkah aku bertanya satu hal lagi?" tanya Moetia.


Theo mengangguk,


"Apakah kamu masih mencintai Manda?" tanya Moetia.


Theo berdecak kesal,


"Ck, ini pertanyaan macam apa? tentu saja tidak. Aku sangat mencintai Audrey, tapi jangan katakan ini pada siapapun ya. Sebenarnya aku tidak pernah mencintai nya, aku menggodanya sebenarnya hanya untuk menghiburnya setiap kali Bagas menolaknya!" jujur Theo.


Moetia terlihat kaget dan sangat tidak senang.


"Apa!!" teriak Moetia sambil berdiri dan berkacak pinggang.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนโค๏ธโค๏ธ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Jangan lupa untuk memberikan Like ๐Ÿ‘...


...Favorit โค๏ธ...


...Dan Komentar kalian ya ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...

__ADS_1


...Think u โค๏ธ...


__ADS_2