Dilema

Dilema
Kalian Kena Prank!


__ADS_3

Moetia tidak menyangka jika Marvin bisa senekat itu.


Moetia makin takut saat Marvin menahan tengkuk Moetia, hingga dia tidak bisa menghindari Marvin.


Moetia tidak ingin Marvin menciumnya, dengan keras Moetia membentur kan dahinya ke dahi Marvin.


Dugh!


"Augh!" pekik Marvin menyentuh jidatnya.


Moetia juga merasa sangat pusing dan dahinya sangat sakit karena tindakannya barusan.


Marvin melihat Moetia yang meski kesakitan dia tidak merintih bahkan tidak bersuara sama sekali.


"Hei, wanita. Apa yang membuat mu begitu mencintai pria bodoh itu?" tanya Marvin sangat penasaran.


Marvin berjongkok di depan Moetia sambil memegang dahinya yang masih terasa sakit, dia mencoba menyentuh dahi Moetia yang sedikit benjol dan membiru tapi Moetia menghindarinya.


Sebenarnya Moetia merasa sangat pusing, tapi dia tidak mau menunjukkan nya pada Marvin.


"Kamu yang bodoh!" sahut Moetia sangat kesal.


Marvin malah tersenyum sinis, dia tidak menyangka wanita ini bertahan sampai seperti ini agar orang lain tidak menyentuhnya.


"Bukan kah kekasihmu itu tidak lebih tampan dariku? kenapa kamu begitu menyukainya?" tanya Marvin lagi.


"Dasar narsis!" protes Moetia.


Marvin makin di buat penasaran oleh Moetia, dia mulai tertarik pada pendirian wanita dihadapannya itu.


"Apa yang sudah Bagas berikan padamu? aku punya tawaran menarik untuk mu! Tinggalkan Bagas dan datang lah kepadaku! aku akan memberikan apa yang Bagas berikan dua bahkan tiga kali lipat!" seru Marvin dengan penuh kesombongan.


Moetia malah terkekeh,


"Kalau kamu begitu kaya, kenapa hanya sebuah tender kamu sampai melakukan hal kriminal seperti ini?" tanya Moetia.


"Ini bukan hanya masalah uang, tidak ada yang pernah menang bersaing dengan ku! aku tidak akan melepaskan dia!" seru Marvin.


Moetia mulai sangat pusing, pandangannya bahkan buram.


Marvin mendekatinya lagi lalu menyentuh pipi Moetia perlahan, Moetia mencoba menghindar tapi kepalanya benar-benar terasa berat.


"Jangan sentuh aku, pria sejati tidak akan menyentuh wanita yang tidak ber.. da... ya"


Moetia sudah tidak kuat lagi menahan sakit kepalanya, dan dia pun pingsan.


Saat Moetia pingsan, Marvin malah tersenyum menyeringai lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Moetia,


"Tuan!!" panggil Syarif dari depan pintu.


Marvin mundur dan mengurungkan niatnya untuk mencium Moetia, dia menyentuh wajahnya.


"Kurasa aku tahu kenapa seorang Bagas Chairul Wiguna bisa mencintai mu!" ucap Marvin lalu membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Marvin pada Syarif.


Syarif melirik sekilas pada Moetia,

__ADS_1


"Tuan, pihak kedutaan sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari wanita itu, dan yang lebih buruk nya adalah seperti nya mereka sudah mengetahui posisi kita. Barusan anak buah kita yang mengawasi Bagas mengikutinya keluar dari hotel dan sepertinya dia menuju ke arah tempat ini!" terang Syarif cemas.


Marvin berdecak kesal,


"Kenapa mereka bisa menemukan posisi kita?" tanya Marvin.


"Apa tuan sudah memeriksa wanita itu, mungkin dia memakai alat pelacak atau semacamnya?" tanya Syarif.


"Siapkan mobil dan siapkan tempat lain, yang jauh dari sini!" seru Marvin.


"Baik tuan, tapi tuan dahi anda memar! apa terjadi sesuatu?" tanya Syarif yang melihat dahi Marvin lebam dan sedikit membiru.


Marvin menyentuh dahinya yang masih terasa ngilu,


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berusaha menjinakkan kucing liar!" kekeh nya.


"Tuan, sebaiknya jangan melukainya. Atau kita akan berurusan dengan pihak berwajib nantinya!" nasehat Syarif pada Marvin.


Marvin menepuk bahu Syarif,


"Pak Syarif, tenanglah! ayah ku akan menyelesaikan semua masalah ku nantinya!" seru Marvin santai.


Marvin lalu memanggil Seruni dan meminta nya memeriksa Moetia.


Marvin berdiri membelakangi Moetia yang sedang di periksa oleh Seruni.


"Tidak ada tuan, dia tidak memakai benda yang mencurigakan. Tapi kalung ini.."


Marvin berbalik lalu menggenggam kalung Moetia,


"Edisi terbatas dari Audrey William Collection. Lepas kalung ini Seruni, lalu kamu pakai pergilah ke arah selatan. Ini akan semakin menarik!" seru Marvin.


"Ren, dia bergerak. Lihatlah sangat cepat!" ucap Bagas menunjukkan tanda merah posisi Moetia bergerak cepat meninggalkan lokasi awal.


"Apakah kita ketahuan? sepertinya ada yang mengawasi kita?" tanya Reno.


"Lalu bagaimana?" tanya Bagas.


Reno menghentikan mobil, dan berfikir sejenak.


"Bagas, apa menurut mu Moetia benar-benar sudah pergi dari sana?" tanya Reno yang ragu pada hal itu.


Bagas melihat Reno,


"Kita minta Theo kesana dulu, posisi mereka lebih dekat!" ucap Bagas.


Bagas meminta Theo dan anak buah Benjamin mengejar ke posisi yang ditunjukkan oleh Maps.


Sementara Reno dan Bagas menyusul kesana.


Marvin membawa Moetia yang sedang pingsan ke arah bukit berbatu dan hutan belantara yang cukup jauh dari keramaian.


Disana ada sebuah rumah yang biasa Marvin dan keluarga nya datangi jika ingin berburu.


Kondisi di perjalanan sedikit berbahaya, hujan lebat dan petir yang menggelegar terus menerus membuat Syarif menjadi khawatir.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita berhenti dulu. Cuacanya sangat buruk, jalanan juga sangat licin tuan. Perjalanan ini akan berbahaya jika kita teruskan!" ucap Syarif menasehati Marvin.

__ADS_1


"Lanjutkan pak Syarif, aku tidak akan membiarkan mereka menemukan wanita ini!" seru Marvin sambil merangkul Moetia yang belum sadarkan diri.


Mendengar ucapan Marvin, Syarif semakin tidak tenang. Tapi sebagai bawahan, dia hanya bisa mengikuti perintah dari atasan nya.


Dan benar saja, jalanan semakin licin karena hujan deras. Derasnya hujan juga menghalangi pandangan supir saat mengendalikan kendaraan yang dia kemudikan.


Karena sikap keras kepala dari Marvin, hal buruk pun tidak terelakkan. Sampai di sebuah tikungan, mobil kehilangan kendalinya.


"Apa yang terjadi?" teriak Marvin


"Tuan, pegangan yang kuat!" seru Syarif.


Mobil pun tergelincir ke tepi jurang, karena Marvin tidak berpegangan dengan kuat dan merangkul Moetia.


Mereka berdua pun akhirnya jatuh terperosok ke jurang,


"Tuan!!!" teriak Syarif yang masih berpegangan pada pintu mobil yang sudah terbuka.


Posisi mobil mereka sudah separuh keluar dari jalanan dan berada di atas jurang.


Supir yang selamat, menolong Syarif. Di tengah hujan lebat Syarif terus memperhatikan ke arah jurang dan mencari jalan agar bisa turun menyelamatkan tuannya.


"Pak Syarif, berbahaya!" seru supir menarik tangan Syarif yang hampir terperosok ke bawah.


Syarif duduk bersimpuh di tengah guyuran hujan.


"Tuan!" lirih Syarif menyesal karena tidak bisa menyelamatkan tuannya.


Di tempat lain, Bagas dan Reno sudah tiba di posisi yang di tunjukkan oleh alat pelacak mereka.


Theo dan benjamin juga sudah lebih dulu sampai disana.


Di sebuah gudang tua, Benjamin sudah mengepung tempat itu.


Ketika Bagas dan Reno masuk terdengar suara tawa seorang wanita.


"Ha ha ha, kalian kena prank!" jawab Seruni santai.


Dia bertepuk tangan saat melihat Bagas dan yang lain saling melihat satu sama lain.


Dia kembali tertawa saat Bagas mengusap kepalanya gusar.


"Sial, kenapa kita bisa tertipu!" gerutu Bagas.


Bagas mendekati seruni dan mencengkram bajunya,


"Katakan dimana Moetia?" teriak Bagas.


Seruni malah tersenyum menyeringai,


"Kalian tidak akan menemukannya, karena kita akan sama-sama hancur di sini!" ucapnya lalu melirik ke arah lantai dua gudang.


Bagas dan yang lain mengikuti arah pandangan Seruni, ternyata Haiden sedang memegang sebuah bom.


...💖💖💖💖💖💖💖💖...


Terimakasih atas Like kalian 👍, Komentar dan Favoritnya ya 😘😘😘

__ADS_1


Love u all ❤️❤️❤️


__ADS_2