
Syarif dan anak buahnya menyelamatkan Marvin dan Moetia.
Ketika seorang anak buahnya menarik lengan Moetia dengan paksa, Marvin membentaknya.
"Jangan sentuh dia!" bentak Marvin pada anak buahnya itu.
Anak buah Marvin itu kaget dan melepaskan lengan Moetia dengan cepat, kemudian dia menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan!" ucap nya takut.
Moetia menoleh ke arah Marvin,
"Hei, wanita jangan berfikir untuk kabur. Kita harus ke rumah sakit sekarang! lihat kamu juga banyak luka!" seru Marvin.
Moetia tidak menjawab dan hanya berjalan mengikuti langkah Syarif dan yang lain yang sedang memapah Marvin.
'Memang nya aku bisa kabur?' tanya Moetia kesal dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Marvin dan yang lain sampai di rumah sakit.
Seorang dokter pria memeriksa dan membersihkan luka Marvin, dan seorang lagi datang ingin memeriksa luka-luka Moetia.
Tapi dengan cepat Marvin menghentikan dokter pria itu saat ingin menyentuh Moetia.
"Tunggu, biarkan dokter wanita yang memeriksanya!" perintah Marvin.
"Tapi tuan, dia sedang menangani pasien lain!" sahut dokter itu.
"Pak Syarif, minta dokter ini gantikan tugas dokter wanita itu!" tambah Marvin.
"Dimana dokter wanita itu?" tanya Syarif pada dokter.
"Di ruangan sebelah tuan!" jawab dokter itu dengan cepat.
Syarif ingin mengajak Moetia ke ruangan lain, tapi Marvin melarang nya.
"Jangan biarkan dia pergi dari sini, panggil saja dokter wanita nya kesini!" perintah Marvin.
Syarif segera mengikuti perintah Marvin, sementara Moetia hanya memutar bola matanya.
"Hei, kamu kemari!" teriak Marvin pada salah seorang anak buahnya.
Anak buahnya itu datang mendekat pada Marvin.
"Iya tuan!" ucap nya.
"Belikan beberapa pasang pakaian untuk wanita itu!" perintah Marvin.
"Baik tuan, tapi ukurannya?" tanya anak buah nya itu polos.
Wajah Moetia langsung memerah. Marvin menatap Moetia dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hei, jangan lihat aku seperti itu!" protes Moetia
Marvin menyadari tingkah konyolnya lalu memalingkan wajahnya ke arah anak buahnya.
"Apa ukuran pakaian mu?" tanya Marvin.
"Size L, katakan saja itu pada penjaganya!" jawab Moetia kesal.
Beberapa menit kemudian, Moetia dan Marvin selesai di periksa dan di obati oleh dokter.
Pakaian untuk Moetia juga sudah datang, dan dia juga sudah berganti pakaian.
Tapi Moetia terlihat tidak suka dengan selera anak buah Marvin. Bagaimana tidak, dia membelikan Moetia baju-baju tanpa lengan dan juga rok serta mini dress.
Moetia memakai sebuah mini dress tanpa lengan sepanjang lutut berwarna ungu.
Saat keluar dari toilet kamar rawat rumah sakit, Moetia terus menggerutu kesal.
__ADS_1
Marvin malah terkekeh mendengar Moetia mengomel.
"Jangan tertawa, aku rasa anak buah mu bermasalah dalam selera memilih pakaian, bagaimana bisa semua pakaian nya tanpa lengan!" protes Moetia.
"Dia sudah memperlihatkan semua foto pakaian itu padaku, aku yang memilihnya!" jawab Marvin bangga.
"Kalau begitu, selera mu yang bermasalah!" ketus Moetia.
Marvin terlihat tidak puas dengan apa yang diucapkan Moetia.
Marvin turun dari kasur nya dan berjalan mendekati Moetia yang sedang berdiri bersandar di pintu toilet.
"Eh, kamu sudah bisa berjalan?" tanya Moetia.
Marvin tidak menjawab malah makin mendekat, dia mengurung Moetia dengan kedua tangannya dia letakkan di sisi kanan dan kiri Moetia.
Moetia menahan dada Marvin dengan ke dua tangannya,
"Hei, menjauh lah!" protes Moetia.
"Kamu bilang selera ku bermasalah?" tanya Marvin dengan suara pelan tapi mengerikan terdengar di telinga Moetia.
Moetia mengerutkan keningnya, dia segera menyadari bahwa dirinya lah yang memprovokasi Marvin.
Moetia mencoba untuk tersenyum,
"Aku minta maaf, aku hanya bercanda! selera mu sangat bagus. Mundur lah sedikit!" ucap nya sambil mendorong pelan Marvin ke belakang.
Setelah dia lepas dari kungkungan tangan Marvin, dia segera bergerak ke sisi kanan Marvin.
"Lihat, pakaian ini sangat pas dengan ku. Iya kan! terimakasih!" seru Moetia sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Wajah Marvin belum merubah ekspresi nya, Moetia makin menjauh darinya dan duduk di sofa.
"Hei, tuan aku lapar. Apa kamu tidak akan memberi ku makan?" tanya Moetia mengalihkan perhatian Marvin.
Marvin berdecak kesal lalu meminta anak buahnya memesan makanan, dia pun duduk di sebelah Moetia.
"Ck, kenapa kamu selalu protes?" tanya Marvin.
Moetia tertegun, dia ingat ucapan itulah yang biasa Bagas katakan padanya.
Moetia menundukkan kepalanya, dia sangat merindukan Bagas.
Marvin meraih dagu Moetia agar melihatnya, tapi dengan cepat Moetia menepisnya.
"Hei, jaga tangan mu!" pekik Moetia.
Marvin kembali berdecak kesal karena terus mendapatkan penolakan dari Moetia.
"Apa bagusnya kekasih mu itu? aku dengar dia bahkan pernah depresi karena kehilangan mantan kekasihnya yang menikah dengan orang lain!" ejek Marvin.
Moetia tidak menjawab dan memalingkan wajahnya dari Marvin.
"Dengar, aku akan memberitahukan ini padamu. Saham yang dimiliki keluarga Wiguna tidak lebih besar dari Payage grup, apa kamu tahu?" ucap Marvin sombong.
"Jika aku mau, aku bisa saja mengakuisisi seluruh Wiguna grup! dan kekasih mu itu tidak akan punya apa-apa!" tambah Marvin.
"Untuk apa kamu katakan semua itu, hartamu bukan urusan ku!" sahut Moetia santai.
"Dengar ya, aku tidak mencintai Bagas karena dia adalah Bagas Chairul Wiguna pemilik Wiguna grup, aku mencintai nya karena dia Bagas!" tegas Moetia.
Marvin mulai kesal, dia menarik tangan Moetia hingga Moetia jatuh ke pelukannya. Marvin memeluk erat pinggang Moetia,
"Lepas!" teriak Moetia.
"Aku tidak pernah kalah! aku selalu mendapatkan apa yang aku mau!" tegas Marvin.
Moetia terus berusaha memberontak,
__ADS_1
"Lepaskan! atau aku tidak akan mau bicara padamu lagi!" gertak Moetia.
Marvin terdiam, entah kenapa dia merasa luluh pada gertakan Moetia itu.
Marvin melepaskan Moetia dan berdiri. Marvin memandang Moetia yang sedang cemberut sekilas lalu keluar dari ruangan itu.
Sampai di luar, Marvin melampiaskan kekesalannya dengan memukul dua anak buahnya.
Syarif yang baru datang, mencoba untuk menghentikan kebiasaan buruk Marvin itu.
"Tuan, hentikan!" seru Syarif.
Syarif lalu meminta kedua anak buahnya yang sudah babak belur itu pergi.
Syarif mengajak Marvin duduk dan memberinya segelas air.
"Tuan, tenanglah!" ucap Syarif.
"Siapa nama wanita itu Syarif, apa kamu sudah menyelidiki nya?" tanya Marvin.
"Namanya Moetia, tuan. Moetia Tamara!" jawab Syarif dengan cepat.
Marvin terlihat tersenyum puas setelah tahu siapa nama Moetia.
Di tempat lain, Diana yang tadi mengantar Gio pulang ke apartemen. Memutuskan untuk menginap saja di apartemen Gio.
Tengah malam lewat, dia tiba-tiba merasa haus. Diana pun keluar dari kamar.
Mata Diana terbelalak lebar melihat Gio masih sibuk dengan laptop dan ponselnya,
"Gioooo!!!" teriak Diana.
Gio menoleh dan tersenyum kikuk pada Diana.
"Kakak!" sahut nya pelan.
Diana duduk ke sebelah Gio,
"Matikan Gio, ini sudah malam!" teriak Diana.
"Sebentar lagi kak! aku sedang melihat postingan teman baruku. Lihatlah!" Gio memiringkan laptopnya ke hadapan Diana.
Diana penasaran siapa teman baru Gio, dia melihat ke arah laptop itu.
"Siapa dia?" tanya Diana bertanya pada Gio setelah melihat seorang wanita yang berada di rumah sakit dengan kaki di balut perban.
"Itu Elisa, dia liburan di Singapura dan tadi saat dia liburan sambil bersepeda di perbukitan, dia mengalami kecelakaan kecil dan kakinya patah!" jawab Gio.
"Hah, anak muda jaman sekarang. Patah kaki, kecelakaan masih saja buat video!" seru Diana.
Tiba-tiba mata Diana membulat sempurna lagi,
"Gio, itu bukannya Moetia!" seru Diana menunjukkan gambar di laptop Gio.
Gio memperbesar gambar itu, dan benar saja. Moetia terlihat ada di belakang Elisa dan sedang di obati oleh dokter.
Gio terlihat cemas.
"Kakak, ada apa dengan Moetia?" tanya Gio cemas.
Gio terlihat menghubungi seseorang, tapi sepertinya tidak diangkat.
"Kak, apa kamu punya nomer pak Theo?" tanya Gio.
Diana menggeleng,
"Aku akan coba tanya pada asistennya!" seru Diana.
...💗💗💗💗💗...
__ADS_1
...Terimakasih untuk Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Love u all 😘😘😘...