
Tanpa pikir panjang Moetia menghentikan sebuah taksi di depan rumahnya.
Seorang tukang kebun di rumah Moetia memanggil Moetia karena merasa Moetia sangat terburu-buru.
"Non, kenapa? kelihatannya buru-buru. Mau mamang anterin non?" tanya mang Kus.
Moetia menggeleng dengan cepat.
"Gak usah mang, Moetia naik taksi aja." jawab Moetia.
Tapi Moetia sengaja mengatakan dengan keras tempat yang akan dia tuju sebelum menutup pintu taksi.
"Ke pergudangan xxx ya pak!" seru Moetia pada si supir taksi sambil melirik mang Kus dan menutup pintu taksi.
Taksi pun segera melaju. Sementara mang Kus masih terheran-heran kenapa Moetia pergi ke pergudangan.
Mang Kus masuk kembali ke dalam gerbang karena taksi yang di tumpangi Moetia sudah tidak terlihat.
Di dalam taksi Moetia makin cemas, karena sudah hampir dua hari Manda di culik. Pasti sekarang dia merasa sangat ketakutan dan tidak nyaman.
Di tempat Manda di tahan, seperti biasanya dia selalu membuat keributan. Manda bersikeras tidak mau menyentuh makanan nya. Para penjaga harus sedikit keras padanya dan mengancamnya hanya untuk memberinya makan.
"Dia benar-benar menyusahkan!" keluh seorang pengawal Marvin.
"Diam lah, tugas kita hanya memastikan dia tetap hidup saat tuan Marvin kembali." sahut temannya yang satu lagi.
Sementara itu di luar Marvin dan Syarif sedang membahas sesuatu.
"Tuan besar sudah tiba tuan, dia sekarang ada di hotel. Tuan Chairul Wiguna sedang bersama dengannya!" jelas Syarif.
Marvin hanya berdecak kesal sambil berkacak pinggang di depan Syarif.
"Kenapa Chairul Wiguna ikut campur? ayah tidak akan membiarkan aku membawa Moetia!" kesal Marvin.
"Kenapa tuan tidak katakan saja sebenarnya pada tuan besar, bahwa anda serius menyukai Moetia!" kata Syarif.
"Sudah ku katakan pak Syarif, dan Daddy tidak percaya padaku. Dia berfikir aku hanya terobsesi karena Moetia kekasih Bagas! dan aku ingin semua yang dimiliki Bagas menjadi milikku!" jelas Marvin.
"Bagaimana kalau tuan muda menikahi Moetia!" seru Syarif.
Marvin terkejut tapi kemudian dia tersenyum dan menepuk bahu Syarif.
"Kamu yang terbaik pak Syarif, apa kamu bisa membantu aku melakukan itu?" tanya Marvin.
"Siap tuan muda!" jawab Syarif dengan cepat sambil sedikit membungkuk.
Setelah menunggu beberapa menit, taksi yang di tumpangi Moetia sampai di depan area pergudangan.
Moetia turun dan membayar, setelah taksi itu pergi Moetia melihat ke sekeliling tempat itu. Sangat sepi, hanya ada beberapa mobil tua terbengkalai dan gudang kosong.
Bahkan tidak ada suara orang, Moetia melangkah makin ke dalam are tempat itu. Disana dia mulai melihat beberapa orang berpakaian serba hitam.
Moetia tahu mereka adalah anak buah dan para pengawal Marvin.
Seorang dengan kaca mata hitam mendekatinya dan menunjukkan kemana dia harus pergi.
Moetia berjalan mengikuti si pengawal tadi, ke sebuah tempat yang berbeda dari tempat lainnya disana.
Sepertinya tempat itu adalah bekas kontainer yang sudah tak terpakai. Bahkan saat Moetia masuk ke dalamnya, ada pendingin udara disana juga sebuah sofa panjang.
__ADS_1
Setelah Moetia masuk, pengawal itu pun keluar.
Moetia terkejut kenapa dia menutup pintunya dan seperti nya menguncinya dari luar.
Moetia mendekat ke pintu dan menggedor nya kuat.
Brakk! brakk! brakk!
"Hei, kenapa mengunci pintunya?" teriak Moetia .
Moetia berteriak beberapa kali tetapi tidak ada jawaban. Dia bersandar di dinding ruangan itu, dan mengusap kepalanya.
"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku mengikutinya begitu saja! aku bahkan tidak tahu dimana Manda!" gerutu Moetia.
Moetia menyisir ruangan itu dan mencari jalan keluar, tapi percuma, ruangan itu sangat tertutup.
"Masa iya, aku harus keluar dari lubang AC itu?" gumam Moetia melihat ke arah lubang AC.
Moetia mulai kesal dengan kuat dia melemparkan sebuah botol minuman ke arah pintu.
Prang!
Suara itu terdengar begitu keras, akhirnya pengawal yang berjaga di luar pun membuka pintu ruangan itu.
"Nona, tidak apa-apa?" tanya si pengawal cemas.
"Bawa aku ke tempat Manda!" teriak Moetia.
"Ck, kenapa kamu suka sekali berteriak Moetia?" tanya Marvin yang tiba-tiba muncul dari arah belakang si pengawal.
Marvin mengisyaratkan kepada pengawalnya agar keluar. Si pengawal pun keluar dan menutup kembali pintu nya.
Moetia menatap Marvin dengan kesal.
"Kenapa aku harus terkejut? aku sudah tahu ini semua ulah mu! dengarkan aku Marvin, Manda tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah antara dirimu dan Bagas! lepaskan dia!" seru Moetia tegas.
"Aku akan melepaskan nya!" seru Marvin.
Moetia masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Oh, benarkah? mudah sekali? lalu untuk apa kamu menculik nya?" tanya Moetia kesal.
"Jawabannya mudah, aku hanya ingin kamu datang sendiri padaku!" sahut Marvin.
Moetia malah tersenyum kecut dan sesekali memijit pelipisnya sendiri.
"Kamu sudah tidak waras!" gerutu Moetia.
"Aku ingin menikah dengan mu!" ucap Marvin.
Moetia membulatkan mata dan mulutnya sempurna.
"Apa kamu bilang? benar-benar tidak waras!" keluh Moetia.
"Kita permudah saja, jika kamu menikah dengan ku maka aku akan lepaskan wanita itu. Tapi jika kamu tidak bersedia maka wanita itu akan jadi makanan buaya di danau dekat pergudangan ini!" tegas Marvin.
Moetia memicingkan matanya pada Marvin.
"Jangan harap!" tegas Moetia.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi apa kamu sudah tidak perduli lagi pada sahabatmu yang sekarang sedang berada di samping kandang ular." ucap Marvin.
"Apa!" pekik Moetia.
Marvin mengajak Moetia menemui Manda, dan benar saja. Manda saat ini sudah berada di depan kandang beberapa ular yang masih terkunci di kandang kaca.
Moetia melihat ke sekeliling tempat Manda di sekap, sangat pengap, gelap dan Manda hanya di dudukkan di lantai tanpa alas apapun.
"Manda!" panggil Moetia.
Mendengar suara Moetia, Manda yang matanya masih di tutup dengan kain mencari asal suara itu.
"Moetia, apakah itu kamu? Moetia tolong aku Moetia! tolong aku!" teriak Manda sambil menangis.
Ketika Moetia ingin mendekati Manda, Marvin dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya.
Moetia ikut menangis mendengar Manda memanggilnya, Manda terlihat sangat ketakutan.
"Marvin tolong lepaskan Manda!" pinta Moetia sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Marvin di pergelangan tangannya.
"Tidak akan, sebelum kamu setuju menikah dengan ku!" jawab Marvin.
Moetia terus menggelengkan kepalanya.
"Yakin tidak mau?" tanya Marvin santai.
"Marvin, lepaskan Manda..." Moetia tidak meneruskan kalimatnya karena pengawal Marvin sudah membawa kandang ular itu ke dekat Manda.
"Marvin jangan!" teriak Moetia.
Manda semakin panik mendengar Moetia berteriak.
"Moetia, ada apa? Moetia..." teriak Manda panik dan ketakutan.
Si pengawal sudah membuka kunci kandang itu dan mengambil seekor ular dan di letakkan di pangkuan Manda.
"Akh! apa ini!" teriak Manda ketakutan.
"Marvin, jangan. Ambil kembali ular itu! pinta Moetia sudah menangis.
"Ular! tidak! tolong Moetia!" teriak Manda sambil berusaha agar ular itu jatuh dari pangkuannya.
"Moetia tolong aku!" teriak Manda pilu.
Moetia menangis hingga terduduk lemas di lantai. Marvin ikut berjongkok di depannya.
"Pilihannya ada tanganmu! apa menurutmu satu ular belum cukup menakutinya?" tanya Marvin.
Moetia membulatkan matanya,
"Jangan.." lirihnya sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Marvin malah mengisyaratkan kepada pengawalnya agar melepaskan ular yang kedua.
"Jangan Marvin, aku mohon!" pinta Moetia.
"Kamu mau menikah denganku?" tanya Marvin.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
...Terimakasih ❤️❤️❤️...