
Moetia masih terus menangis melihat banyaknya darah yang keluar dari tangan Bagas.
Gio datang membawa es batu dan kain, sementara itu Sisilia sudah membawa kotak obat.
Moetia membersihkan luka Bagas, tapi setelah di tekan dengan es pun darahnya masih terus mengalir.
Moetia segera menarik Bagas agar berdiri, dan menggandeng lengannya serta masih menekan telapak tangannya.
"Moetia.." panggil Sisilia belum mengerti apa yang akan di lakukan Moetia.
"Aku akan membawanya ke klinik dekat sekali sini kak!" ucap nya sambil berlalu dan terus menggandeng lengan Bagas.
"Kamu bawa mobil kan?" tanya Moetia.
"Iya! disana!" jawab Bagas menunjukkan ke arah dia memarkir mobilnya.
Ditengah guyuran hujan, Moetia membawa Bagas ke mobil Bagas yang terparkir tidak jauh dari rumah Sisilia.
Gio dan Sisilia hanya bisa melihat pemandangan mengharukan itu. Dalam hati Gio masih merasa sakit, tapi dia Tus mencintai Moetia. Melihat Moetia bahagia adalah keinginan terbesar nya.
Sementara Sisilia yang baru pertama kali melihat sepupunya itu begitu mencemaskan seorang pria juga merasa terharu. Tapi dia juga mengkhawatirkan hubungan Manda dan Moetia ke depannya.
Moetia meminta Bagas agar menekan sendiri telapak tangannya dengan kompres es itu.
"Tekan ya, jangan banyak bergerak!" seru Moetia.
Moetia lalu melajukan mobilnya menuju sebuah klinik yang tidak jauh dari sana.
Moetia sesekali melihat ke luka Bagas, Moetia sangat takut karena lukanya cukup lebar.
Bagas malah dari tadi tersenyum, dia senang Moetia masih perduli padanya.
Tidak sampai lima belas menit mereka sampai. Moetia langsung melepaskan sabuk pengaman dan berlari kearah Bagas yang sudah keluar dari mobil.
Hujan masih belum berhenti, hingga harus masuk ke klinik dalam kondisi basah kuyup.
"Dokter tolong, cepat!" seru Moetia ketika melihat seorang dokter jaga sedang duduk di meja kerjanya.
Dokter itu segera bangun dan menghampiri Bagas.
"Apa yang terjadi? ini kenapa?" tanya si Dokter memeriksa luka Bagas.
"Sudah, cepat obati saja!" sahut Bagas.
Dokter itu segera membersihkan luka Bagas, memberinya suntikan dan menjahit punggung tangan Bagas yang robek. Tiga jahitan bersarang di punggung tangan Bagas.
Dokter itu juga membalut luka Bagas.
"Usahakan jangan terkena air dulu ya!" seru Dokter itu.
"Kamu pasti sangat mencemaskan dia ya, apakah kalian suami istri?" tanya dokter itu sambil menuliskan resep obat.
"Benar!" sahut Bagas.
"Baiklah, ini beberapa obat dan salep yang harus diberikan pada luka itu, ingat untuk menjauhkannya dari air sementara waktu. Tidak apa-apa, luka di tangan suami mu akan segera pulih!" seru si Dokter berkata pada Moetia sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan resep.
Moetia meraih kertas itu.
"Terimakasih Dokter!" seru Moetia.
Mereka berdua lalu keluar dari ruangan si Dokter, Moetia meminta Bagas menunggu nya sebentar untuk menebus obat.
Tapi ketika Moetia berjalan beberapa langkah. Dia berbalik.
"Mana dompet mu!" seru Moetia menengadahkan tangannya di depan Bagas.
Bagas tersenyum lalu berusaha meraih dompet yang ada di saku celana sebelah kanannya dengan tangan kiri.
"Kamu bisa ambil sendiri?" tanya Bagas.
Moetia berdecak kesal, tapi dia melakukannya.
Setelah mendapatkan dompet Bagas, dia membukanya. Sedikit merasa terkejut ketika melihat ada fhoto pernikahan mereka tersimpan di dompet Bagas.
__ADS_1
Moetia mengambil tiga lembar uang pecahan seratus ribuan, lalu menutup kembali dompet itu.
"Ini!" serunya sambil mengulurkan dompet Bagas.
"Letakkan di tempat semula, lihat kan! aku tidak bisa melakukannya!" seru Bagas.
Moetia menghela nafas panjang, lalu memasukkan barang itu kembali ke tempat semula.
"Duduk saja, aku akan segera kembali!" seru Moetia.
Bagas menuruti perintah nyonya nya itu, dia melihat ke arah balutan luka di tangan kanannya. Tidak ada penyesalan di hatinya, dia merasa sangat pantas mendapatkan luka itu karena sudah membuat istrinya menangis dan sakit hati.
Beberapa menit kemudian Moetia kembali, mereka pun pulang ke rumah Sisilia.
Sampai di rumah Sisilia, Moetia membantu Bagas mengganti pakaiannya.
Saat Moetia melepas kemeja Bagas, pandangan Bagas padanya membuatnya merasa tidak nyaman.
"Berhenti melihat ku seperti itu!" protes Moetia.
"Terimakasih!" sahut Bagas.
"Sudah diam, setelah ini cepat pergilah dari sini!" seru Moetia cuek.
"Kamu akan ikut dengan ku kan?" tanya Bagas lembut.
"Tidak akan!" seru Moetia tegas.
"Lalu bagaimana aku menyetir dengan tanganku seperti ini?" tanya Bagas memperlihatkan tangannya di depan Moetia.
Moetia hanya melirik sekilas, dia segera menyelesaikan membantu Bagas berganti pakaian.
Saat Moetia akan membantu melepas celana Bagas, dia agak ragu.
"Bisakah, kamu lepas celanaku sendiri?" tanya Moetia.
"Akan kucoba!" jawab Bagas.
Setelah selesai, Moetia juga mengganti pakaiannya di kamar mandi. Setelah itu Moetia mengajak Bagas ke ruang makan.
Moetia tidak melihat Gio dimana-mana, dia juga tidak melihat motornya lagi di luar seperti nya.
"Kak, Gio dimana?" tanya Moetia sambil menyiapkan piring dan mengambilkan nasi serta lauk pauknya untuk Bagas.
Sisilia yang sedang membereskan buku di samping meja makan, menoleh ke Moetia.
"Dia sudah pergi!" jawab Sisilia pelan.
"Hujan-hujan begini?" tanya Moetia cemas.
"Sudahlah, dia bilang ada pekerjaan dan tidak bisa menundanya lagi. Sebaiknya urusi saja suami mu itu, lihat dia terlihat sulit makan dengan tangan kirinya itu!" seru Sisilia lalu pergi ke kamarnya membawa beberapa buku.
Moetia melihat Bagas, dia memang sepertinya kesulitan makan dengan tangan kiri.
Moetia duduk di sebelah Bagas, dan meraih sendok yang Bagas pegang.
"Aku bantu!" seru Moetia pelan.
Bagas tersenyum dan membuka lebar mulutnya.
Moetia dengan telaten menyuapi suaminya itu, hingga makanan di piring Bagas habis tak bersisa.
Sementara itu dijalan, Gio terlihat melajukan motornya dengan kencang di tengah guyuran hujan.
Gio memang sangat melankolis, dia lelaki yang tidak pandai menyembunyikan perasaan nya saat sedih.
Gio mengingat kembali saat-saat pertama dia bertemu dengan Moetia.
Saat itu Moetia baru pertama kali datang ke cafe, bersama dua orang teman kerjanya.
Saat itu Moetia, terlihat bingung ketika dua orang teman kerjanya itu memintanya naik panggung dan bernyanyi. Saat itulah Gio menghampiri Moetia dan mengajaknya berduet.
Lagu itu kembali terdengar di telinga Gio, semakin mengingatnya! semakin terluka hatinya.
__ADS_1
🎶Ku ingin kau tahu
Ku ingin kau selalu
Dekat denganmu setiap hariku
Sudahkah kau yakin
Untuk mencintaiku
Ku ingin hanya satu tuk selamanya
Ku tak melihat dari sisi sempurna mu
Tak perduli kelemahan mu
Yang ada aku jatuh cinta
Karena hatimu
🎶Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu
🎶Cintaku terasa sempurna karena hatimu
Selalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku
🎶Sudahkah kau yakin
Untuk mencintaiku
Ku ingin hanya satu tuk selamanya
Ku tak melihat dari sisi sempurna mu
Tak perduli kelemahan mu
Yang ada aku jatuh cinta
Karena hatimu
🎶Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu
🎶Cintaku terasa sempurna karena hatimu
Selalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku (na)
🎶Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu
🎶Cintaku Terasa sempurna karena hatimu
Selalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku (oh)
Sungguh indah cintaku
Indah cintaku...
__ADS_1