
Beberapa jam kemudian Chairul dan yang lain tiba di bandara internasional Changi Singapura.
Benjamin yang sudah lebih dahulu di hubungi Chairul menjemput mereka dan langsung membawa mereka ke rumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit, Soraya dan Belinda sama-sama panik.
"Kenapa kita kemari? siapa yang sakit?" tanya Soraya memeluk erat lengan Aries.
"Iya, kenapa kita kemari? Apa hal buruk sudah terjadi pada anak-anak?" tanya Belinda tak kalah cemas dari Soraya.
"Kita masuk dulu!" jawab Chairul.
Sementara itu saat Bagas dan Moetia menunggui Reno di kamar rawatnya. Seorang dokter datang meminta agar keluarga pasien menemui dokter kepala di ruangannya.
"Bagas! kenapa dokter kepala ingin bertemu?" lirih Moetia menahan tangan Bagas saat akan pergi keluar
Bagas menepuk punggung tangan Moetia perlahan,
"Tenanglah, mungkin hanya ingin memberitahukan tentang beberapa hal saja. Jangan cemas, tunggulah disini! aku akan segera kembali!" jawab Bagas dengan lembut.
Moetia mengangguk paham, Bagas bersama dokter itu pun pergi keluar dari ruangan.
Moetia kembali duduk di sisi kanan Reno, Moetia kembali menggenggam tangan Reno.
"Kak, apa kamu mendengar ku? bangun lah! atau seumur hidup ku hanya akan ada penyesalan karena telah mencelakai mu!" lirih Moetia dengan air mata berderai dan menundukkan wajahnya.
Beberapa detik kemudian, Moetia merasa tangan Reno menggenggam tangannya.
Moetia segera mengangkat kepalanya, dia sungguh sangat senang saat Reno membuka matanya perlahan.
"Kak Reno, syukurlah. Aku akan panggil dokter!" seru Moetia sangat bersemangat.
Tapi saat Moetia ingin pergi, tangannya yang masih menggenggam tangan Reno terasa tertarik.
Reno menahan Moetia, dia terlihat berusaha melepas alat bantu pernapasan yang menutupi wajahnya.
Moetia menghentikan Reno,
"Jangan kak, kamu masih membutuhkannya!" bantah Moetia.
Reno menggeleng pelan dan melepaskan alat bantu pernapasan itu.
Reno kemudian menatap Moetia dan menyeka air mata Moetia dengan tangan kirinya yang terpasang selang infus.
Reno tersenyum, dia berusaha untuk duduk. Tapi lagi-lagi Moetia menghentikan nya,
"Kak, jangan dulu. Berbaring saja!" bantah Moetia lagi.
Reno malah berdecak kesal,
"Apa menurutmu aku selemah itu!" protes Reno dengan suara lemah dan serak.
Moetia mengalah, dia mencari tombol otomatis untuk menyetel posisi ranjang.
Tapi Moetia tidak menemukan nya,
"Apa ranjang ini tidak bisa di setel?" tanya Moetia polos.
Reno terkekeh pelan,
"Biasanya mereka meletakkan remote nya di laci itu!" ucap Reno sambil menunjuk ke arah meja nakas kecil di samping ranjangnya.
Moetia segera mencari remote itu, setelah menemukannya dia menyerahkannya pada Reno.
"Kenapa kamu berikan padaku?" tanya Reno pelan.
"Aku takut salah menekan tombol, bukan membantu aku takut akan mencelakai mu!" jawab Moetia jujur.
__ADS_1
Reno kembali tersenyum, dia menyetel posisi ranjangnya agar dia bisa duduk dan menegakkan punggung nya.
Setelah itu Moetia kembali meraih remote dari tangan Reno dan memasukkan nya kembali ke tempat semula.
Reno kembali terkekeh,
"Kamu bisa letakkan di atas meja saja kan!" serunya pelan.
"Kak, maafkan aku! karena aku..."
Reno membelai lembut kepala Moetia,
"Jangan katakan itu lagi, saat aku tertidur tadi. Sepertinya kamu sudah mengatakan itu berulang-ulang. Aku bosan mendengar nya!" ucap Reno lembut.
"Jadi kamu mengenali suara ku?" tanya Moetia.
"Tentu saja, kakak macam apa aku tidak mengenali suara adik ku yang cempreng ini!" ejek Reno.
Moetia memanyunkan bibirnya, tapi dalam hati dia sangat senang karena Reno sudah mau bercanda dan tidak serius lagi seperti biasanya.
"Jadi suaraku cempreng ya?" tanya Moetia sambil memicingkan matanya.
Reno mengangguk cepat,
"Sangat..."
Moetia tidak bisa menahan diri untuk mencubit lengan Reno.
"Augh!" pekik Reno.
Moetia membulat kan matanya, karena terbawa suasana dia sampai lupa kalau Reno baru saja selesai operasi.
Moetia sangat menyesal, dengan cepat dia mengusap-usap lengan Reno yang tadi dia cubit.
"Kak, maaf. Aku tidak sengaja!" sesal Moetia.
"Kakak!" lirih Moetia.
"Baiklah, aku akan maafkan tapi ada syaratnya!" ucap Reno.
"Apa?" tanya Moetia dengan cepat.
"Sebuah pelukan darimu, dan jangan pernah minta maaf lagi!" seru Reno.
Moetia tersenyum senang, dia merentangkan tangannya lalu berdiri mendekati Reno.
Moetia memeluk Reno dari samping dengan perasaan bahagia.
Dia bersyukur, setelah tembakan itu. Reno bisa selamat dan baik-baik saja.
Belum Moetia melepaskan pelukannya dari Reno, tiba-tiba Belinda masuk ke dalam ruangan itu di susul oleh Soraya, Aries dan Chairul.
Chairul terlihat terkejut dengan apa yang dia lihat, dia memasang ekspresi tidak suka melihat Moetia memeluk Reno.
Sementara itu Belinda malah tersenyum sangat lebar.
"Moetia, Reno!" panggil Belinda lalu mendekati mereka.
Moetia segera melepaskan Reno dan tersenyum pada Belinda.
"Tante," sapanya.
Dia kemudian melihat ke arah papa dan mamanya.
"Mama!" seru Moetia lalu mendekati mamanya dan memeluknya.
"Sayang! apa yang terjadi? apa kamu baik-baik saja?" tanya Soraya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Moetia mengangguk dengan cepat, lalu memeluk papanya.
"Sayang, syukurlah kamu baik-baik saja!" seru Aries mengusap lembut kepala putrinya.
Belinda melihat ke arah Reno dan memperhatikannya dengan baik. Dia berfikir tidak ada luka di kepala, leher ataupun tangannya.
Belinda memukul paha Reno dengan kuat,
"Hei, anak nakal!"
"Augh!" pekik Reno kesakitan.
Pukulan Belinda yang kuat membuat dadanya ikut terasa nyeri.
Moetia segera berbalik ketika mendengar pekikan Reno.
"Tante, jangan pukul kak Reno. Dia baru saja selesai operasi!" jelas Moetia mendekati Reno dan mengelus lengan dan dadanya.
"Apa sangat sakit?" tanya Moetia pada Reno.
"Sedikit!" jawab Reno dengan cepat.
Melihat Moetia begitu perhatian pada Reno, Soraya dan Aries saling pandang.
"Kamu dengar tidak ma? Moetia memanggilnya kak Reno? dia terlihat sangat perhatian pada pemuda itu! bukankah dia asisten Bagas si kurang ajar itu!" seru Aries pelan.
Meskipun pelan, tetap saja suara Aries terdengar oleh Chairul yang sedang berdiri di belakang mereka.
Chairul pun berdehem, ketika mendengar Aries menyebut putra sulungnya itu si kurang ajar.
"Ehem, permisi!" ucap Chairul melewati Aries dan Soraya lalu mendekati Reno..
"Dia operasi?" tanya Belinda cemas.
"Reno, nak! katakan apa yang terjadi?" tanya Belinda panik.
Moetia mencoba menjelaskannya pada Belinda tapi dia bingung harus mulai dari mana.
"Tante, sebenarnya ini semua salahku!" sesal Moetia.
Belinda bingung,
"Bagaimana bisa semua ini salahmu! Moetia, Tante bingung?" tanya Belinda.
Reno memegang tangan Moetia yang sedikit gemetar karena merasa bersalah.
"Tidak Moetia, bukan salah mu!" seru Reno lemah.
Chairul yang baru datang mendekat, lagi-lagi harus di suguhi pemandangan tidak menyenangkan, saat Reno memegang tangan Moetia.
"Ehem, bagaimana keadaanmu nak?" tanya Chairul melirik ke arah Moetia sekilas lalu melihat ke arah Reno.
Moetia bingung, kenapa Chairul meliriknya setajam itu. Apakah dia marah pada Moetia?
"Aku sudah merasa baikan Om!" jawab Reno.
"Dan kamu Moetia?" tanya Chairul menatap Moetia.
Moetia makin gugup, karena tatapan Chairul bukan seperti sedang menanyakan keadaan padanya tapi lebih pada tatapan marah dan ingin menginterogasi nya.
...💕💕💕💕💕...
...Tidak bosan-bosan aunty minta dukungan dari kalian para readers ku tercinta dan terlove se Indonesia.......
...Terus tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Terimakasih ❤️...
__ADS_1