
Moetia tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Bagaimanapun, di lihat dari sudut pandang siapa pun, Moetia tetap bersalah.
Bagas memberikan sebuah gelas berisi air untuk Moetia.
"Sayang, minumlah dulu!" ucap Bagas lembut dan membantu Moetia untuk minum.
Tangisnya sudah berhenti, tapi mata Moetia justru sayu dengan tatapan kosong dan raut wajah yang sendu.
Bagas meletakkan gelas tadi di kursi lain, dan kembali merangkul Moetia.
"Semua akan baik-baik saja, kita bisa melewatinya. Percayalah!" tegas Bagas meyakinkan Moetia.
Moetia masih terdiam, dan tidak tahu harus berbuat apa. Jika saat ini dia menemui mamanya, Soraya pasti akan marah lagi padanya. Dan hal itu akan menimbulkan keributan.
Tapi jika dia diam saja, mereka mungkin akan semakin salah paham. Moetia sungguh dilema.
Chairul tiba-tiba menghampiri Bagas dan Moetia. Chairul memperhatikan menantunya yang terlihat begitu terpukul.
"Bagaimana ibumu?" tanya Chairul.
Moetia menoleh ke bagas.
"Ibu mu?" tanya Moetia pelan.
Bagas mengelus lengan Moetia, dia lalu berdiri mendekati Chairul.
"Kata dokter kondisinya sudah stabil, dia hanya sedikit terkejut." jawab Bagas.
Chairul menepuk lengan Bagas.
"Syukurlah, lalu kenapa Moetia terlihat sangat sedih?" tanya Chairul lagi.
"Ayah, Tante Soraya sudah tahu kalau aku dan Moetia sudah menikah!" jelas Bagas.
Chairul mengangguk paham.
"Jaga lah Moetia, ini pasti saat saat tersulit baginya, aku akan mengurus ibumu!" seru Chairul.
Bagas mengangguk sambil menoleh sekilas ke arah Moetia yang masih tertunduk sedih.
Bagas memberi tahukan kepada ayahnya dimana ruangan Belinda.
Bagas lalu kembali duduk di samping Moetia.
"Aku akan menemanimu menemui papa dan mama mu, aku yang akan menjelaskan kebenarannya pada mereka!" seru Bagas.
Moetia masih tidak merespon. Pikirannya di penuhi dengan kemarahan Soraya tadi. Selama dua puluh lima tahun, Soraya belum pernah se marah itu pada Moetia.
Hati Moetia terasa sangat sakit, hatinya di penuhi rasa penyesalan. Dia sempat berfikir seandainya saja dirinya tidak bertemu Bagas, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Seandainya saat Manda mengecewakan nya, dia tidak ke pantai. Bagas pasti tidak akan jatuh hati dan mengejarnya.
Seandainya saja saat Bagas marah dan kesal padanya dulu dia justru menjauh semua ini tidak akan terjadi.
Seandainya dia tidak setuju untuk menikah dengan Bagas saat di Singapura, Soraya tidak akan memarahinya. Soraya tidak akan marah padanya.
__ADS_1
Moetia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
"Seandainya saja... seandainya saja begitu!" gumam Moetia dan tangisnya kembali pecah.
Bagas samar-samar mendengar gumaman Moetia.
"Apa maksudmu seandainya?" tanya Bagas.
Moetia menyeka tangisnya dan menoleh ke arah Bagas.
"Seandainya kita tidak bertemu di pantai malam itu, kamu tidak akan jatuh cinta padaku kan?" tanya Moetia mulai ngawur.
Bagas menggelengkan kepalanya dan mengusap kepala Moetia lembut.
"Sayang, tenangkan pikiranmu! jangan berfikir yang tidak-tidak ya. Aku akan selalu berada di sisi mu, kita akan menghadapi masalah ini bersama!" Bagas berusaha untuk membuat Moetia mengalihkan pikiran nya.
Bagas menggenggam dan mengecup tangan Moetia. Bagas mengerti saat ini pikiran Moetia pasti sangat kacau.
Di tempat lain, Aries sudah tiba dan segera menghampiri Soraya dan Malika yang masih menunggu operasi Manda.
"Soraya!" panggil Aries.
Soraya segera berdiri dan ketika Aries menghampirinya Soraya segera memeluknya lalu menangis.
"Sayang, tenanglah. Sudah berapa lama operasi nya?" tanya Aries sambil menyeka tangis Soraya.
Malika menghampiri dan menepuk bahu Soraya.
"Sudah setengah jam." jawab Malika.
Sebenarnya Soraya bukan menangis tentang itu, Soraya ingin sekali mengatakan tentang pernikahan Moetia dan Bagas.
Tapi dia ragu karena ada Malika disana.
Aries melihat ke sekeliling,
"Dimana Moetia?" tanya Aries.
Malika juga memandang Soraya dengan pertanyaan yang sama. Sejak tadi dia juga bertanya pada Soraya tapi Soraya tidak menjawabnya dengan jelas.
"Soraya, dimana Moetia?" tanya Aries.
Soraya masih ragu harus mengatakan nya atau tidak. Tapi dari kejauhan Bagas terlihat menggandeng Moetia melangkah mendekati Aries dan Soraya.
Moetia berkali-kali menoleh ke arah Bagas yang sudah mantap melangkah ingin menjelaskan semuanya pada kedua mertua nya itu.
Langkah moetia terasa berat, nafasnya pun seperti tercekat. Bagas bisa merasakan telapak tangan Moetia sangat dingin. Dan Bagas pun menggenggamnya erat.
Aries menoleh kearah dimana Soraya dan Malika memandang.
Pandangan Aries tertuju pada kedua tangan pasangan yang saling bertaut itu.
Mata Aries berubah merah, namun ketika Aries akan melangkah ke arah Bagas Soraya menahannya.
"Pa, ini di rumah sakit." seru Soraya.
__ADS_1
Malika juga memandang ke arah kedua tangan pasangan yang makin mendekati mereka itu.
"Kalian.." lirih Malika.
Bagas dan Moetia sudah berdiri di hadapan Aries.
"Om, aku ingin mengakui sesuatu." ucap Bagas dengan berani dan menatap Aries secara langsung.
Soraya merasa tubuhnya sangat lemas, dia hampir terhuyung ke belakang. Untung saja Malika menahannya.
"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Malika mulai panik.
Aries sudah mengepalkan tangannya.
"Lepaskan tangan mu Moetia!" seru Aries.
Moetia gemetar mendengar suara tinggi Aries. Dia berusaha melepaskan tangannya dari Bagas, tapi Bagas makin menggenggamnya kuat.
Moetia sudah ketakutan melihat amarah yang tergambar jelas di wajah papa nya itu.
Aries sangat emosi, dia mencengkeram kerah baju Bagas dan menatapnya garang.
"Lepaskan tangan putri ku!!!!" teriak Aries.
"Dia juga istriku!" jawab Bagas tak bergeming.
Soraya sudah tidak kuat lagi dia sampai terkulai lemas di lantai dan tangisnya pecah. Begitupun dengan Malika, kakinya sangat lemas ketika mendengar Bagas mengatakan bahwa Moetia adalah istrinya.
Malika melangkah mundur dan menutup mulutnya, ternyata dugaannya selama ini benar. Ada sesuatu antara Bagas dan Moetia.
Bugh!
Sebuah bogem mentah di daratkan oleh Aries di wajah Bagas. Hingga Bagas mundur beberapa langkah.
Aries menarik Moetia ke sisi nya.
"Dasar laki-laki brengs** jangan libatkan putri ku dalam ke konyolan mu! Jauhi Moetia, atau aku tidak segan lagi padamu!" teriak Aries.
Bagas kembali menarik Moetia ke sisi nya.
"Kami sungguh sudah menikah, Moetia adalah istri ku. Kami sudah menikah satu bulan yang lalu!" tegas Bagas.
Aries masih tidak percaya, dia kembali memukul Bagas. Bahkan kali ini pukulannya bertubi-tubi karena Aries merasa sangat kesal dan emosi pada Bagas.
Bagas tidak membalas sedikit pun, Bagas bahkan tidak menghindarinya. Dia sengaja, ingin tahu apakah Moetia akan diam saja atau akan membelanya.
Moetia meremas kedua tangannya, Moetia akhirnya dengan cepat menghadang pukulan yang akan mendarat lagi pada Bagas.
"Papa!" teriak Moetia sambil memejamkan matanya.
Hati Aries terasa sangat sakit ketika melihat putrinya menghadang pukulan demi pria yang sangat tidak disukainya itu.
Nyaris, lima centimeter lagi pukulan Aries akan mengenai wajah Moetia.
"Moetia!" lirih Aries dengan mata berkaca-kaca dan melepaskan kepalan tangan nya.
__ADS_1