
Hatiku seperti kosong, aku tak ingin merasa seperti ini, terasa hampa sekali rasanya,hati ini sakit.
Perlakuan suami yang kadang marah dan kadang membuat senang, sebentar sekali berubah, tangis seolah tak bisa keluar lagi pada pelupuk mata ini.
Hanya renungan yang selalu menatap ke luar jendela rumah, aku tak mampu lagi mengeluarkan air mata, rasa sakit yang selalu ditorehkan.
Membuat itu menjadi terbiasa dan rasa sakit di dalam hati ini enggan untuk pergi .
Bangun tengah malam, kemudian sholat 2 rakaat, tak ada yang mampu menenangkan jiwa, hanya kepada Sang Maha Pencipta ku lantunkan doa agar hati ini tenang.
Apakah benar kutipan yang pernah ku baca pada sebuah notifikasi.
Bila hatimu terasa hampa dan tak ad rasa, ada doa seseorang yang begitu kuat, yang menginkan dirimu.
Apa itu hanya sebuah kutipan atau memang sebuah ungkapan yang mengandung kebenaran.
Rasa sakit ini membuatku mengingat masa lalu, aku juga tak tau, hatiku sedih dan aku teringat seseorang.
Bila kamu bersedih dan kamu teringat seseorang bearati orang tersebut mencintaimu, dan apabila kamu bahagia dan kamu ingat seseorang berarti kamu mencintai orang itu. Ali Bin Abi Tholib.
Dan aku sekarang merasakan sedih , apa aku teringat seseorang, aku tak bisa menterjemahkan hatiku sendiri.
Apa ini salah, aku sudah memiliki suami , tapi sungguh aku merasakan hampa.
Ya Allah rencana Apa yang kausiapkan , tolonglah aku agar aku sanggup menjalaninya dengan segenap jiwa , sanggup menghadapinya dan lindungi Hambamu ini.
Tak henti dalam hati berdoa.
Setelah berdoa hatiku sedikit tenang, tiada hal di dunia ini yang mampu membuat tenang dan sejuk selain bersujud padaNya.
Sekuat hati aku menahan rasa sakit ini, aku hanya seorang makhluk, bantulah aku Ya Allah.
__ADS_1
Ku lanjutkan berzikir hingga pagi tiba menjelang , mataku tak merasakan kantuk sama sekali kulanjutkan sholat subuh dan kulantunkan lagi doa-doa.
Selanjutnya aku melakukan aktifitas di pagi hari seperti biasanya.
Ku ingin menghadapi hari ini dengan rasa ceria, mengantar anakku sekolah dengan penuh semangat, aku tak langsung beranjak kulihat anak-anak PAUD itu , keceriaan mereka membuat hatiku terasa senang.
Tiba di kantor aku mulai bersemangat lagi, aku harus tidak boleh cengeng , karena hidup terus berjalan, ada anakku yang membutuhkanku, dan karenanya aku kuat dan mampu menghadapi hidup ini.
Aku ingin bahagia tanpa ada rasa sakit lagi, aku ingin tenang dan merasakan hidup tentram tanpa ada rasa beban.
Aku ingin dekat bersama keluargaku kembali, disini tak ada tempatku untuk mengadu.
Tak ada rasa menghargai padaku, sikap suamiku di dalam rumah tangga, sikap keluarganya yang toxic.
Mereka hanya mementingkan kepentingan mereka dan hanya memanfaatkanku, hubungan keluarga yang tidak sehat lambat laun akan membuat jiwa ini sakit.
Aku harus bangkit dan mengingatkan diri ini,dan bersiap saat rasa sakit itu datang dan aku sudah mempunyai jalan dari rasa sakit itu sendiri.
"Woy!Bu melamun aja" ucap Bu Sri.
"Astagfirullahaladzim" aku berucap saking kagetnya
"Ngelamunin apa?"ucapnya lagi
"Kaget tau, jangan gitu lah" sahutku
"Lagian pagi-pagi udah melamun, kayak gak ada kerjaan aja" kata ibu sri sewot.
"Ngelamunin apa sih" sambungnya
"Kepo"
__ADS_1
"Biarin"
"Mau tau"
"Ya"
"Ngelamun jadi orang kaya , nanti menang lotre, kubeli dah rumah dan mandi sama uang bejibun" candaku pada Bu sri.
"Hahahaha" tertawalah Bu Sri
"Ikutan dong kalo ngelamun kayak gitu.." katanya lagi sambil masih tertawa.
"Mana ada orang ngelamun ngajak-ngajak" ucapku jutek.
"Hahaha"
"Ih.. ibu tertawanya jangan besar- besar kali" ucapku .
"Memang tertawa besar, nyaring. ibu Nadia cantik" sahutnya lagi
Aku hanya cengengesan sendiri dibuatnya
"Ih ..ibu nyebelin banget.." gerutuku
"Masa iya aku nyebelin., kalau aku traktir ke kantin masih bilang aku nyebelin gak..? Tanyanya lagi
"Iya masih nyebelin" kataku
"Ayok ke kantin aku laper nih! tadi belum sarapan" ajaknya.
Di gandenglah tangannku dan kami menuju kantin sekolah.
__ADS_1