
✨ Happy reading ✨
Para readers ku tercinta 💕 apa kabarnya? mudah-mudahan kita semua tetap dalam kondisi sehat dan senantiasa happy.
Selamat membaca bab ini ya gaess, setelah itu tinggalkan Like 👍 buat author biar hati author berbunga-bunga, dan tulislah komentar kalian pada kolom komentar yang sudah tersedia 😘😘😘.
Terimakasih semuanya, love u all ❤️
...💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕...
Moetia sudah mulai tersadar, dia perlahan membuka matanya. Dia melihat sekeliling nya, dia merasa sangat asing dengan tempat ini.
Moetia segera bangun dan menjuntaikan kakinya ke pinggir ranjang berniat untuk pergi, tapi kepalanya masih terasa sangat berat.
Moetia memegangi kepalanya yang terasa begitu pegal,
"Auh, kepala ku. Kenapa ini?" ucap Moetia lemah.
Moetia kembali melihat sekeliling nya, dia mengingat kembali terakhir kali tadi dia merasa seseorang membekapnya hingga dia pingsan.
Moetia membulatkan matanya,
"Apa aku di culik?" seru Moetia.
Pikiran Moetia sudah menerawang jauh, jangan-jangan dia di culik oleh sindikat perdagangan manusia. Dia bergidik ngeri ketika memikirkan bagaimana jika dia akan di jual pada sindikat perdagangan organ dalam manusia.
Moetia berusaha berdiri meskipun masih sempoyongan, tapi baru selangkah dia kembali pusing dan terjatuh ke lantai.
Moetia merasa sangat putus asa,
"Bagaimana aku bisa keluar dari sini! berjalan pun kaki ku lemas sekali!" keluh Moetia sedih.
Tak lama kemudian Marvin masuk ke dalam kamar Moetia.
"Hai wanita!" seru Marvin.
Moetia menoleh ke arah Marvin, dia menatap Marvin dengan pandangan tidak suka.
Marvin mendekati Moetia dan mengulurkan tangannya pada Moetia,
"Biar aku bantu!" seru Marvin
Moetia menoleh ke arah Marvin sekilas, dia tidak menyentuh tangan Marvin. Dia justru memegang pinggiran tempat tidur untuk membantunya sebagai tumpuan saat bangun.
Marvin menarik tangannya dan berdecak kesal,
"Kamu cukup berani ya, apa kamu tahu kamu sedang berada dimana?" tanya Marvin berbasa-basi pada Moetia.
Moetia duduk di tepi ranjang,
"Dengar tuan, percuma saja kamu menculik ku, lihatlah aku. Kamu tidak akan untung jika menjual ku!" seru Moetia sedikit gugup tapi dia berusaha terlihat meyakinkan.
__ADS_1
Marvin terkejut tapi kemudian dia tertawa sangat puas.
"Ha ha ha, jadi kamu kira aku akan menjual mu? konyol sekali, apa aku terlihat tidak punya uang hingga harus menjual mu?" tanya Marvin terkekeh.
Moetia lebih terkejut, dia memikirkan hal lain lagi.
"Lalu kenapa kamu membawaku kemari, apa untuk merawat nyonya tua yang sakit itu tanpa bayaran?" tanya Moetia lagi.
Marvin makin dibuat terpingkal, dia tidak menyangka Moetia akan punya pikiran seperti itu.
"Untuk apa aku menjadikan nyonya Bagas Chairul Wiguna sebagai seorang perawat?" tanya Marvin sambil tersenyum menyeringai.
Moetia sangat tidak menyukai senyuman yang di tunjukkan Marvin. Moetia berfikir pasti orang di hadapannya ini punya niat jahat pada Bagas.
"Siapa Bagas? aku tidak kenal! tuan aku ini hanya seorang turis yang sedang berlibur disini, aku juga bukan orang kaya. Kamu juga tidak akan mendapatkan uang tebusan. Dan lagi makan ku sangat banyak, tuan! kamu sungguh hanya buang-buang waktu menahan ku disini!" seru Moetia panjang lebar agar Marvin percaya pada perkataan nya.
"Kamu tidak pandai berbohong! kamu tinggal di hotel yang sama dengan Bagas, dia ada di sebelah kamar mu kan?" tanya Marvin lagi.
"Tuan, mana ku tahu siapa yang akan tinggal di sebelah kamar ku!" sahut Moetia berusaha untuk tidak gugup.
Moetia memalingkan pandangannya ke arah lain karena tatapan Marvin padanya sangat mengganggunya.
"Benarkah? kamu benar-benar tidak mengenal Bagas Chairul Wiguna?" tanya Marvin.
Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya,
"Benar, aku tidak kenal dia. Sebaiknya biarkan aku pergi. Aku janji tidak akan memberitahu siapapun kamu sudah menculik ku!" seru Moetia.
"Oh lihatlah, kamu kira aku akan mempercayai mu! nona kamu sungguh pandai berbohong!" seru Marvin.
Moetia membulatkan matanya, seperti nya kebohongan yang dia katakan tidak bisa meyakinkan Marvin.
Marvin meraih dagu Moetia, tapi Moetia dengan cepat menepis tangan Marvin.
"Tuan, jaga tangan mu!" seru Moetia dengan mata membulat sempurna.
"Wah, galak sekali!" kekeh Marvin.
Marvin mengambil ponselnya dari saku celana lalu menunjukkan sebuah foto pada Moetia.
Moetia terkejut, dia menutup mulutnya dengan cepat,
"Bagaimana? apakah kamu masih mau mengelak?" tanya Marvin.
Moetia terdiam setelah melihat foto nya bersama Bagas sedang berciuman di atas balkon dan melihat kembang api.
"Tuan, kamu sudah melanggar privasi seseorang! asal kamu tahu!" kesal Moetia.
"Aku tidak perduli, aku tidak akan berbasa-basi lagi dengan mu nona...?"
Moetia tahu Marvin ingin tahu namanya, tapi dia tidak ingin memberitahukan namanya pada Marvin.
__ADS_1
"Tidak punya nama!" ketus Moetia.
Marvin berdecak kesal, dia mulai kehabisan kesabaran nya.
"Jangan main-main dengan ku, jika tidak ingin kekasih mu itu celaka!" gertak Marvin.
Moetia gemetar mendengar ancaman Marvin, tapi dia tidak ingin mengikuti permainan Marvin.
Moetia berdiri menghadap ke arah Marvin,
"Jika kamu sudah tahu bahwa Bagas itu kekasihku, seharusnya kamu tidak melakukan ini padaku. Karena saat Bagas menemukan mu nanti, dia tidak akan melepaskan mu!" ucap Moetia penuh keyakinan.
Marvin menatap tajam Moetia, dia makin tidak suka dengan sikap arogan wanita di hadapannya itu.
Marvin meraih lengan Moetia dan mencengkeramnya dengan kuat,
"Bermimpi lah, dia tidak akan menemukan tempat ini!" seru Marvin.
Moetia melepaskan tangan Marvin darinya,
"Sebenarnya siapa kamu? apa yang kamu inginkan?" tanya Moetia kesal.
"Bagus kamu bertanya seperti itu, tapi belum saatnya kamu mengetahui nya! lebih baik kamu diam dan jangan membuat ulah!" seru Marvin lalu keluar dari kamar Moetia.
Setelah Marvin keluar, Moetia terduduk lemas di tepi kasur.
Kakinya gemetaran, sesungguhnya dia sangat takut saat berhadapan dengan pria kasar seperti Marvin.
Moetia mulai cemas, mungkinkah Bagas menemukannya. Dia melirik ke arah kalung yang dia pakai, kalung pemberian Bagas saat mereka berkencan di danau.
"Aku takut Bagas, bisakah kamu menemukan aku!" gumam Moetia sambil menggenggam erat liontin kalungnya.
Di tempat lain, Reno masih terus mencari tahu siapa saja orang yang memiliki mobil yang mirip dengan mobil yang telah membawa Moetia.
Sementara Bagas terlihat sangat terguncang, dia menyesal kenapa tidak meninggalkan ponsel Moetia hingga jika terjadi hal seperti ini, dia bisa melacak keberadaan Moetia dari GPS di ponselnya.
Reno mendekati Bagas yang terlihat berantakan, Reno menepuk bahu Bagas berusaha menyemangatinya.
"Sebentar lagi semua anak buah ayah mu akan datang, mereka pasti bisa menemukan keberadaan Moetia!" seru Reno menghibur Bagas.
"Bagaimana caranya? mencarinya ke setiap sudut kota ini? bagaimana kalau Moetia sudah di bawa ke negara lain?" kesal Bagas.
"Seharusnya aku tidak mengambil ponselnya, sikap protektif ku padanya justru mencelakainya Ren, aku sungguh bodoh! seharusnya aku tidak membawanya kemari, semua ini salah ku!" sesal Bagas.
Reno hanya bisa menghela nafas nya panjang, dia sendiri sebenarnya sangat gusar.
Sepertinya penculikan ini direncanakan dengan sangat matang, bahkan penculiknya tahu dimana saja arah kamera CCTV.
Reno memandang keluar jendela, ada perasaan sakit di hatinya. Bahkan dia berfikir semua kesialan yang terjadi pada Moetia adalah karena Moetia sudah terlalu dekat dan menganggapnya sebagai kakak.
'Maafkan aku Moetia, seharusnya aku tidak terlalu dekat padamu' lirih Reno dalam hati.
__ADS_1
...💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕...