Dilema

Dilema
Mencurahkan Isi Hati


__ADS_3

Moetia sampai bengong, Moetia tidak menyangka Gio akan menanyakan pertanyaan itu.


Moetia tidak ingin menyakiti Gio, dia memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gio yang menjebak itu.


Moetia menggerakkan tangannya perlahan dan memberanikan diri menggenggam tangan Gio,


"Kamu adalah sahabat terbaikku Gio, dan aku tahu kamu juga punya pikiran sama seperti ku, iya kan?" tanya Moetia lembut.


Gio terlihat kecewa, namun dia berusaha menahannya, dia masih memperhatikan apa lagi yang akan di katakan Moetia.


"Aku sangat sangat menyukaimu sebagai sahabat terbaikku!" jawab Moetia.


Gio menepis tangan Moetia, dan dia tersenyum getir,


"Kamu tahu bukan itu yang aku maksud Moetia!" seru Gio


"Gio, kamu tahu aku juga tidak sepintar kak Diana!" sahut Moetia berusaha menetralkan suasana.


"Apa karena aku lebih muda darimu?" tanya Gio lagi.


Moetia sangat terkejut, dia merasa Gio benar-benar sedang serius.


Moetia menepuk meja dengan tangannya,


"Hentikan Gio, jangan teruskan. Lelucon mu ini sudah tidak menyenangkan lagi. Aku, kamu dan kak Diana saling menyayangi sebagai sahabat. Aku rasa kamu hanya terlalu menghayati lagumu tadi" seru Moetia mengalihkan pembicaraan Gio yang mulai serius.


Gio berdecak kesal,


"Terserah padamu saja Moetia, aku akan pergi sekarang. Atau aku tidak akan membiarkan mu pergi ke Singapura!" cetus Gio.


Moetia memandang tak percaya, Gio yang dia kenal tidak akan senekat itu.


"Jangan pandang aku seperti itu, aku serius. Sweet mellow mu ini bisa berubah menjadi bad boy jika kamu terus memandang ku seperti itu!" tegas Gio.


Moetia bergidik ngeri, tapi lalu memutar bola matanya dan mengibaskan tangannya ke udara,


"Sudahlah, aku rasa aku harus pergi. Kamu semakin terbawa penjiwaan lagu yang kamu nyanyikan barusan. Sampaikan permohonan maaf ku pada Gina ya!" seru Moetia lalu meraih tasnya melewati Gio.


Baru beberapa langkah Moetia pergi, Gio mengejarnya dan menarik tangannya hingga Moetia menabrak dada Gio.


"Auh," pekik Moetia


"Ada apa lagi Gio?" tanya Moetia.


Gio masih memegang erat lengan Moetia dan tiba-tiba saja Gio melepas kan tangan Moetia lalu pergi.


Moetia masih terdiam mematung di posisi nya melihat kepergian Gio.


'Maafkan aku Gio, aku tidak mau kamu terluka, aku hanya menganggap mu sebagai sahabat ku tidak lebih' batin Moetia yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata nya.


Beberapa menit kemudian, Moetia tiba di rumahnya.


Ketika Moetia turun dari mobilnya, Soraya, Manda dan Malika sedang mengantar Ahmad menaiki taksi.


"Om, sudah mau pulang?" tanya Moetia sambil menyalami Ahmad.

__ADS_1


Ahmad mengelus lembut kepala Moetia,


"Iya nak, om harus pulang kasian adik nya Manda di rumah sendirian!" jawab Ahmad


Moetia mengangguk paham,


"Hati-hati di jalan om!" seru Moetia sambil melambaikan tangan nya ketika Ahmad masuk ke dalam taksi.


Moetia lalu mendekati Manda lalu menyenggol bahunya,


"Hai, bagaimana denganmu? mana yang lecet?" tanya Moetia sambil memutar badan Manda ke kanan dan ke kiri memeriksa dimana bagian tubuh Manda yang terluka.


"Moetia!" protes Manda.


"Apa?" tanya Moetia.


"Hentikan, kenapa memutar-mutar badanku, kepala ku pusing Moetia, lihat ini!" seru Manda menunjukkan lecet yang hanya sebesar biji strawberry di kening sebelah kirinya.


Moetia membulat kan matanya dia tidak menyangka Manda akan pergi ke rumah sakit hanya untuk setitik luka seperti itu, Moetia tertawa dan menghampiri Malika,


"Astaga, lihat Tante. Manda lecet! bagaimana ini? bagaimana karirnya selanjutnya. Oh tuhan apa yang sudah terjadi? apakah kita harus ke Korea? Tante Manda harus melakukan operasi plastik itu!" seru Moetia memasang ekspresi berlebihan.


Manda mendekati Moetia dan memukul bokong Moetia dengan keras.


Plak!


"Aduh!" pekik Moetia.


"Hei, apa yang kamu lakukan, apa salah bokong ku?" kesal Moetia.


Moetia malah lari ke belakang Soraya dan menjulurkan lidahnya meledek Manda.


"Tante, lihat putrimu itu!" keluh Manda.


Soraya dan Malika malah tertawa melihat putri putri mereka saling mengejek seperti itu.


"Sudah, sudah! sudah malam. Ayo kita masuk. Dan siapkan makan malam. Sebentar lagi papa kamu pulang Moetia!" seru Soraya.


Moetia berlari masuk ke dalam dan Manda mengejarnya. Soraya dan Malika hanya saling pandang dan menggeleng kan kepala mereka sambil mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.


Sementara itu keributan kecil sedang terjadi di rumah Bagas. Belinda tidak setuju jika Bagas harus melakukan perjalanan bisnis ke Singapura.


"Pokoknya aku tidak setuju, seperti tidak ada orang lain saja yang bisa di kirim kesana!" protes Belinda pada Chairul.


Chairul menghela nafas nya panjang,


"Katakan apa yang membuat mu tidak setuju? ini proyek besar, tidak bisa di berikan pada sembarang orang!" terang Chairul.


"Tapi yah, Bagas baru saja bertunangan. Yang benar saja dia harus meninggalkan Manda selama satu Minggu ke luar negeri!" keluh Belinda lagi.


"Kalau dia bertunangan lalu apa dia tidak harus bekerja lagi?" tanya Chairul.


"Yah, hubungan Bagas dan Manda itu sangat renggang. Jika mereka dipisahkan jarak lagi, mereka akan semakin renggang!" jelas Belinda.


"Jadi begitu, baiklah sekarang pilihannya ada padamu! Bagas atau ayah yang berangkat?" tanya Chairul dengan tegas.

__ADS_1


Belinda terkejut, dia membulatkan matanya menatap Chairul.


Bagaimana pun, dia lebih tidak ingin Chairul yang pergi.


Belinda berdecak kesal,


"Baiklah, biarkan Bagas saja yang berangkat. Ayah kan sangat dibutuhkan di perusahaan!" jawab Belinda mengalah.


"Perusahaan atau ibu yang membutuhkan ayah?" tanya Chairul menggoda Belinda.


Belinda tersipu lalu keluar dari kamarnya menuju ke kamar Bagas.


Bagas sedang merapikan kopernya saat Belinda masuk ke dalam.


"Bagas!" panggil Belinda lalu duduk di sebelah Bagas.


"Ya Bu," jawab Bagas.


"Apa tidak bisa kamu membawa Manda bersamamu?" tanya Belinda lembut.


"Ini perjalanan bisnis Bu, bukan jalan-jalan!" jawab Bagas tegas.


"Kasihan sekali dia jika harus kamu tinggalkan satu minggu, berjanjilah pada ibu kamu akan menghubungi nya dan mengabarkan tentang keadaan mu disana setiap hari ya!" pinta Belinda.


Bagas berdecak kesal,


"Bu, aku sudah mengatakan pada ibu sebelum nya. Aku bertunangan dengan Manda hanya memenuhi janji ibu pada om Ahmad dan Tante Malika. Bahkan sampai saat ini Bagas sama sekali tidak bisa menyukai apalagi mencintai Manda Bu!" seru Bagas


Belinda terlihat sedih dan hampir menangis. Bagas berjongkok di depan Belinda dan menggenggam tangan ibunya lalu mencium tangan Belinda.


"Bu, tolong biarkan saja semua seperti ini. Yang penting aku sudah membantu ibu memenuhi janji ibu untuk bertunangan dengan Manda kan?" tanya Bagas.


"Tapi nak, setiap wanita pasti menginginkan pernikahan setelah pertunangan!" bantah Belinda.


"Janji ibu hanya pertunangan kan, bukan pernikahan!" balas Bagas


"Tapi Bagas..."


"Sudah malam, sebaiknya ibu istirahat. Ingat kondisi ibu belum pulih. Apa ibu ingin aku menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai. Aku bukan tidak berusaha, tapi memang tidak bisa." ucap Bagas meyakinkan Belinda.


Bagas meletakkan kepalanya di pangkuan Belinda,


"Aku ingin seperti ayah dan ibu, saling mencintai karena itu yang akan menguatkan sebuah pernikahan, saling menyayangi sehingga setiap rintangan akan bisa di hadapi sambil bergandengan tangan. Boleh kan Bu?" tanya Bagas sambil mengangkat kepalanya dan menatap Belinda.


Belinda menyentuh kepala Bagas dan mengusapnya dengan lembut.


"Tapi nak, Manda sangat mencintai mu! tidak seperti wanita ular itu!" seru Belinda.


Bagas berdiri dan kembali merapikan tasnya,


"Aku akan istirahat dulu Bu, tolong tutup pintunya ya!" ucap Bagas meletakkan tasnya ke bawah lalu tidur dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


...💕💕💕💕💕💕💕...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 💕💕💕...

__ADS_1


...Think u 💕...


__ADS_2