Dilema

Dilema
Part 15 Kondangan


__ADS_3

Ibu mertua dan adik Ipar selalu saja membuat sakit hati ini.


Semoga saja mereka berubah dan menjadi lebih baik, aku juga tak menganggap diriku baik mungkin juga banyak salah.


Aku mencoba berdamai dengan diri ini, lebih baik diam, begitupun dengan suamiku lebih baik aku diam saja, dari pada berdebat dan bermasalah, ujung-ujungnya membuat bertengkar.


*


"Tok..tok.. tok.."


"Tok..tok.. tok.."


Setelah azan subuh ku dengar ketukan pintu.


"siapa?" aku setengah berteriak dari kamar, aku baru saja dari dapur mengambil air wudhu.


"Aku" sahut suara dari luar, itu adalah suara Ibu mertua.


Bergegas ku buka pintu.


"Ada apa bu" ucapku setelah ku buka pintu.


"Minta roti" ucapnya.


"Roti apa bu?" sahutku lagi.


"Roti palang merah, Ibu lagi datang tamu, punya ibu habis". berkata Ibu sambil tersenyum.


" Oh.., sebentar kuambilkan"ku langkahkan kaki menuju kamar dan kubuka lemari kuambil sebanyak 3 buah, dan kembali ke depan dan ku serahkan padanya.


"Satu saja" kata Ibu.


"gak apa-apa bu, pakai aja" sahutku lagi.

__ADS_1


"Ya" ucapnya.


"Nanti ikut kondangan ya" ucap ibu mertua.


Aku diam saja dan senyum.


Setelah itu Ibu pergi dan ku tutup pintu kembali kulanjutkan aktifitasku yang sedikit tertunda tadi, sholat dan membangunkan suamiku.


Menyebalkan memang dibangunkan sangat susah saat terbangun marah-marah tak jelas, geregetan, rasanya ingin ku siram saja dengan air seember biar tahu aku membangunkannya.


Lumayan santai hari ini karena Hari minggu, aku pun malas- malasan sedikit rebahan di kasur kembali.


Apabila hari libur aku pun diajak ke kondangan, biasanya pergi dengan aku dan anakku serta dan Ibu mertua, dan sekarang aku malas untuk ikut, berbagai alasan aku buat agar tak pergi, malas dan benci aku diperlakukan bukan seperti istri.


Aku dimarahi di depan Ibu mertua aku dimarahi alasannya adalah aku tak menggesar kursi belakang saja.


Aku di bentak, rasanya aku ingin menangis , tapi aku tahan saja dan diam karena di dalam ada Ibu mertua dan anakku, bukan main aku seperti penumpang yang tak di inginkan.


*


"Kemana Mas? Apa jaraknya dekat".ucapku


"Tidak juga cuma setengah Jam sudah sampai" kata suamiku.


Akupun bersiap.


"Duduk di depan ma" kata anakku


"Nenek aja biar sama ayah"sahutku


"Gak mau" rengek anakku.


"Ya " duduk lah aku di depan dengan memangku anakku.

__ADS_1


Kemudian Ibu mertua masuk bersama Ria dan Rika, mereka duduk di tengah, dan suamiku menyetir mobil.


Awalnya bercanda tawa dengan asyik, setelahnya Faira berpindah kebelakang, mendatangi Ria dan Rika, mereka bernyayi dan bercanda, bahkan berpindah di kursi paling belakang.


Tak sampai lima belas menit suamiku mengomel dan marah-marah, aku tak tau apa yang di marahkan, aku hanya diam, kemudian bertanya padaku, ya ku jawab saja, lah ..dia berargumen tak jelas.


"kursinya ke belakang kan, jangan terlalu mepet kayak gitu" ucapnya.


"Gak Mas ini cukup aja buat aku" sahutku.


"Ini di bilangi ngeye!" katanya sengit.


"Gak apa-apa Mas"lagian tarikannya keras".sahutku


"Cepat ke belakangkan, gitu aja lambat!"Gitu aja gak bisa" katanya bertambah sengit.


Aku diam saja, malas meladeni.


Sedangkan dia memngomel, memaki dan mencaci, sakit hati ini, terasa tak berharga, aku seorang istri.


Rasanya ingin menangis tapi ku tahan, bukan main sesak dada ini, rasanya aku ingin melompat keluar, tak jadi ikut, lebih baik dirumah saja.ku lihat kebelakang anakku Ria dan Rika asyik bernyanyi.


Alhamdulillah bathinku, walau hati ini sakit, setidaknya anakku tak terlalu memperhatikan Ayahnya.


Ibu mertua diam saja, tak tau jua kenapa.


Seolah tak menggubris perkataan maupun perbuatan putranya.


Aku benci!


Begitulah aku selalu diomeli dan dimaki.


Pulangnya aku tak mau di depan, ku suruh Ria , tapi tidak mau, dan tak ada yang duduk di sampingnya, ku bujuk ibu mertua dan dia mau.

__ADS_1


Pulangnya aku diam seribu bahasa,suamiku diam,Ibu tertidur, anak-anak juga tertidur, Faira dalam pangkuannku kembali.


__ADS_2