
Gio masih sibuk mencari ponselnya saat Diana sudah memintanya bergegas untuk tampil menyanyi.
"Gio, cepat lah. Jika tidak manager cafe tua dan menyebalkan itu akan mengomel lagi!" seru Diana.
"Kak, aku lupa meletakkan ponsel ku! bagaimana ini?" tanya Gio cemas.
Diana menepuk jidatnya sendiri,
"Kenapa tidak bilang dari tadi." keluh Diana
Diana mendekati Gio dan menghubungi nomer Gio, terdengar dering ponsel dekat tumpukan pakaian ganti.
Diana menghampiri bunyi itu dan menemukan ponsel Gio di bawah tumpukan topi.
"Ini!" seru Diana menyerahkan ponselnya pada Gio.
"Terimakasih kak!" sahut Gio.
"Sebenarnya ada apa dengan mu? apa tidak terpikir untuk misscall nomer mu sendiri? dengarkan aku Gio, fokus lah! besok adalah acara pernikahan Gina. Jangan mengecewakan nya!" titah Diana.
Gio mengangguk paham,
"Iya kak, aku mengerti!" jawab Gio yakin.
Lalu di rumah Moetia.
Aries, Soraya, Malika dan Manda sedang makan malam.
"Bagaimana pekerjaan mu hari ini Manda?" tanya Aries.
Manda menoleh dan tersenyum pada Aries lalu menjawab,
"Sangat menyenangkan om, hari ini pemotretan nya di indoor, jadi tidak terlalu panas dan melelahkan!" jawab Manda senang.
"Baguslah, tapi sebagai model profesional mau dimana pun lokasi pemotretan nya kamu harus melakukan nya sebaik mungkin!" seru Aries menasehati Manda.
"Siap om!" seru Manda tersenyum lebar.
"Oh ya Tante, apa Moetia sudah menelpon?" tanya Manda.
"Sudah, saat pesawat nya transit sekitar jam tiga sore tadi. Semua berjalan lancar. Dia bilang harus rapat begitu tiba jadi dia akan menelpon besok pagi saja, begitu katanya!" jelas Soraya.
Manda mengangguk paham,
"Begitu ya!" sahut Manda.
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam bersama mereka.
Sebenarnya Malika dan Manda sudah berencana menyewa apartemen tapi Aries melarangnya.
Setelah selesai makan malam, Manda kembali ke kamarnya, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Belinda.
"Malam Tante," sapa Manda sopan.
"Malam sayang, apa kabar?" tanya Belinda.
"Baik Tante, bagaimana kondisi Tante, maaf Manda belum menjenguk Tante lagi!" seru Manda.
"Tidak apa-apa sayang, Tante mengerti. Kamu sedang sibuk dengan kontrak kerja baru mu kan?" tanya Belinda.
"Iya Tante, oh ya Tante. Apa Bagas mengganti nomer ponselnya lagi?" tanya Manda.
__ADS_1
"Tidak sayang, nomernya yang waktu itu Tante kasih ke kamu!" jawab Belinda.
Manda menghela nafasnya panjang, dia menyadari jika Bagas tidak mengganti nomernya, tapi jika Manda tidak bisa menghubunginya jawabannya hanya satu. Bagas telah memblokir nomer Manda.
Manda terlihat sedih,
"Begitu ya Tante," ucap Manda sedih.
"Sayang, ada apa? apa kamu tidak bisa menghubunginya?" tanya Belinda.
"Iya Tante, sepertinya nomer Manda di blokir." sahut Manda.
"Ya ampun, Bagas ini benar-benar deh. Ya sudah nanti jika Bagas menghubungi Tante, Tante akan minta dia segera menghubungi kami ya!" ucap Belinda menghibur hati Manda.
Manda langsung tersenyum senang,
"Benarkah Tante? terimakasih kalau begitu!" seru Manda.
"iya sayang" jawab Belinda.
Dengan senang Manda menutup panggilan teleponnya nya dan berharap Bagas akan segera menghubunginya.
Di waktu yang sama, di apartemen Austin. Theo sedang membuat keributan dengan Austin karena mengira Austin melarang Audrey pulang ke Indonesia menemuinya.
"Diam lah, jika hanya ingin mengganggu ku. Pergilah Theo! atau aku akan panggil keamanan!" seru Austin mulai jengah.
"Hei, jawab dulu kenapa Audrey belum datang juga?" protes Theo ketika Austin mulai mendorong nya menuju pintu keluar.
"Mana ku tahu!" bantah Austin.
"Kamu punya ponsel, telepon saja dia." seru Austin.
Austin mengangkat bahunya sekilas,
"Mungkin saja dia sedang bosan padamu dan tidak ingin kamu ganggu. Kamu tahu Audrey kan! dia selalu bertindak di luar dugaan kita semua. Atau mungkin saja, dia sudah mendengar tingkah konyol mu dan mulai illfeel padamu!" ucap Austin makin membuat Theo panik.
Theo menangkupkan kedua tangannya yang saling bertautan di atas kepalanya lalu berjongkok.
"Ya Tuhan, Audrey. Jangan sampai apa yang kakak mu katakan itu terjadi!" ucap Theo
Austin makin terkekeh,
"Percuma saja berdoa, jika Audrey sudah mengambil keputusan. Kamu tahu kan tidak akan ada orang yang bisa merubahnya!" tambah Austin memperkeruh pikiran Theo.
Theo bergegas bangkit, lalu mengambil jaket nya yang tadi dia letakkan di atas sandaran sofa milik Austin.
Theo memakai jaket nya dan menghubungi seseorang sambil berjalan ke arah pintu keluar,
"Mau kemana?" tanya Austin.
"Kemana lagi? tentu saja menyusul adikmu ke Singapura!" jawabnya lalu menutup pintu kamar apartemen Austin dengan keras.
Bam!
Austin hanya menggeleng kan kepalanya,
"Dasar adik ipar tidak sopan!" gumam Austin lalu masuk ke kamarnya.
Theo keluar dari apartemen Austin menuju ke bandara. Dia menghubungi asistennya untuk memesankan tiket pesawat secepatnya.
Setengah jam kemudian, Theo tiba di bandara.
__ADS_1
Seorang pria paruh baya yang memakai kemeja kotak-kotak warna coklat menghampiri nya,
"Bos, ini tiket anda! Lima belas menit lagi pesawat nya berangkat!" serunya sambil menyerahkan tiket pesawat pada Theo.
"Terimakasih pak Darwin, apa aku mengganggu istirahat mu?" tanya Theo berbasa-basi.
Darwin menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat,
"Tentu saja tidak bos, aku bahkan belum pulang!" jawab Darwin.
"Belum pulang?" tanya Theo kepo.
"Itu, pak Reno pergi ke Singapura bersama pak Bagas. Jadi pekerjaan yang seharusnya di kerjakan pak Reno sedikit tertunda, dan..."
"Bagas ke Singapura?" tanya Theo menyela penjelasan Darwin.
"Iya bos, tadi pagi. Dengan Bu Moetia juga pak Reno!" jelas Darwin.
Theo membulatkan matanya, setelah itu dia tersenyum menyeringai.
"Jadi mereka bersenang-senang tanpa memberitahu aku ya!" gumam Theo.
"Bos, apa ada masalah?" tanya Darwin penasaran melihat ekspresi Theo yang berubah-ubah.
"Tidak ada pak Darwin, kamu bisa pulang sekarang. Dan tolong urus pekerjaan disini dengan baik ya!" seru Theo.
"Baik bos!" jawab Darwin lalu meninggalkan Theo.
Sementara itu di Singapura. Bagas dan Reno sedang menghadiri rapat umum perusahaan.
Tapi dari tadi Bagas sama sekali tidak fokus pada rapat itu.
Reno mulai cemas, dia menyenggol lengan Bagas.
"Bos, fokus. Apa kamu mau om Chairul mengirim para penjaga dan menyeret mu pulang ke Bandung?" tanya Reno sedikit menggertak Bagas.
Bagas segera membenarkan posisi duduknya dan menyimak dengan baik apa yang semua orang bicarakan.
Satu jam kemudian, Rapat pun usai. Bagas dan Reno kembali ke hotel.
Saat melewati kamar Moetia Bagas menghentikan langkahnya, Reno yang tadinya sudah mau masuk ke dalam kamarnya pun menghampiri Bagas lagi.
"Bos, ini sudah malam. Sudah jam dua belas. Biarkan Moetia istirahat. Besok masih ada banyak waktu untuk kalian!" seru Reno menasehati Bagas.
Bagas menghela nafasnya dan menepuk pundak Reno,
"Berapa usia mu Ren?" tanya Bagas.
"Lebih muda satu tahun darimu bos!" jawab Reno dengan cepat.
"Kata-kata mu tidak sesuai dengan usiamu. Atau aku panggil saja kamu, om Reno?" tanya Bagas menyindir Reno.
Reno berdecak kesal,
"Terserah lah!" sahut Reno melangkah menuju ke dalam kamarnya.
...💛💛💛💛💛💛💛💛...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 💛💛💛💛💛...
...Terimakasih 💛💛💛...
__ADS_1