
Kei mengayunkan langkahnya mendekati Mela yang berada di depannya. Masih dengan sorot matanya yang sayu.
"Kehendak Tuhan memang tidak bisa kita lawan, Mel. Tapi apakah kamu tetap tidak mau mencoba mencintaiku lagi? Setidaknya aku dan kamu berusaha menyatukan cinta kita"
Ia menyentuh kedua lengan Mela sambil tetap menatap kedua mata indah itu.
"Kei.. Tuhan sudah mempertemukan aku dengan sosokmu lagi di hari ini. Tapi aku tidak tahu apakah aku harus senang, atau aku malah merasa sakit atas pertemuan yang singkat ini." Mela membalikkan badannya membelakangi Kei.
Ada seberkas perasaan yang tidak bisa Mela cerna. Perasaan itu tiba-tiba menghantam hatinya. Perasaan ingin sekali berkata 'iya' dengan tawaran lelaki itu. Tetapi ada seberkas sakit yang ia rasakan.
"Menyatukan cinta? Setelah hampir 6 tahun cinta itu hanya terbawa angin tanpa tujuan"
Kei meraih pundak Mela. Dan memutar badan Mela untuk berhadapan dengannya.
"Aku akan kembali ke sini seminggu lagi. Kamu bisa memikirkan tawaranku itu."
Mela hanya tersenyum tipis. Ada ketakutan untuk memompa cintanya lagi.
"Hmmm.. Aku akan menunggu kedatanganmu seminggu lagi" dengan bimbang Mela menimpali tawaran Kei.
Kei tersenyum mendapati jawaban Mela. Ia melepaskan cengkramannya di pundak Mela. Dan mengelus-ngelus rambut wanita itu.
Beberapa menit kemudian ia ingat akan menelpon Sin untuk mengajak sahabatnya itu pulang. Sedari tadi Sin tidak kelihatan batang hidungnya. Beberapa kali ia menelepon, tapi Sin juga tidak mengangkatnya.
"HP mu berdering, tuh!" Tika menyadarkan Sin yang dari tadi hanya bercerita panjang lebar.
"Ah.. Ini si Kei.. Mungkin urusannya sudah selesai. Mmm.. Kamu... "
"Terima kasih sudah membantu kelancaran rencanaku ini" Sin mencodongkan badannya dan berbisik ke telinga Tika. Membuat Tika merasakan hawa panas.
"Isshh.. Pake bisik-bisik mesra segala!" Tika menarik badannya karena Sin mulai menggodanya.
"Hmmm.. Aku tidak menyangka. Kisah mereka seperti telenovela saja." Tika menghapus buliran air di sudut matanya.
"Kenapa kamu menangis? Padahal aku cuma bisik-bisik mesra dikit?" Sin terkekeh melihat kelakuan Tika.
Tika menipuk pundak Sin. Dan segera menyuruhnya menemui Kei. Mereka mengira urusan hari ini sudah membuahkan hasil. Setidaknya Kei dan Mela ada komunikasi setelah kejadian pertemuan mereka berdua di sebuah cafe saat itu.
Sin menurut. Ia akhirnya mencari Kei di tempat pajangan lukisan-lukisan yang memanjakan mata itu. Lukisan terbaik hasil karya para mahasiswa di kampus hijau ini. Ia menemukan Kei sedang mendekati Mela dan meraih tangan wanita yang selama ini menghantui hatinya.
__ADS_1
"Ehem..."
Kei dan Mela tersentak karena suara deheman Sin. Mereka menoleh pada sosok berkaus hitam itu. Kei langsung melepaskan tangan Mela. Baru saja dia akan berpamitan kepada Mela. Dan memberikan semangat untuk wanita itu. Tapi secepat itu gangguan datang tiba-tiba.
"Ups.. Sudah belum ?" Sin berlagak bodoh sambil menutup matanya dengan tangannya
Kei rasanya ingin melempar kepala Sin dengan lukisan-lukisan di sampingnya. Sin hanya menahan tawa melihat sahabatnya itu jadi salah tingkah dan kepotong aksinya karena kedatangannya.
"Oya, Mel.. Dia sahabatku Sin. Jaysin."
Sin tersenyum lebar mendekati Mela sambil mengulurkan tangannya.
"Sin"
Mela mengulurkan tangannya.
"Mela"
Sambil tersenyum dan menarik tangannya.
Senyuman Mela sepertinya menarik perhatian Sin. Manis.
Mela mengangguk dan menangkap Kei yang begitu hangat malam ini.
"Kamu yang hati-hati. Jarak sini dan Yogya jauh sekali. Kenapa tidak istirahat saja di rumahku? Daripada kalian kelelahan karena pulang pergi"
"Hmmm.. Jangan. Aku hanya ijin menginap di rumah Sin. Kalau besok tidak pulang, di rumah pasti ribut" Sin melemparkan senyumannya lagi. Agar tidak terkesan ingin segera pergi dari Mela.
"Hahaha.. Oke... Oke! Hati-hati di jalan!" gelak Mela sambil melambaikan tangannya.
Kei dan Sin berlalu setelah melambaikan tangan kepada sosok wanita di belakang mereka.
Kei melepas nafasnya yang berat. Sepertinya ia enggan meninggalkan Mela secepat ini. Tapi waktu mengharuskan ia kembali ke Yogya. Jika tidak, Papanya yang jarang tersenyum itu akan menceramahinya.
Dalam perjalanan pulang, Kei menanyakan tentang rencana ke Jakarta ini kepada Sin. Akhirnya sahabatnya itu bercerita kalau dia sebenarnya mencari info Mela di Handphone Kei. Tanpa sepengatahuan yang punya.
Di dalam foto yang di simpan Kei, terlihat Mela bersama seorang teman wanitanya. Dimana teman wanitanya itu tidak asing bagi Sin.
__ADS_1
Ya, dia adalah Tika. Seseorang yang pernah Sin kenal dengan baik. Mendapat petunjuk, Sin langsung mencari kontak Tika yang lama hilang. Akhirnya dia mengirim pesan kepada Tika lewat Instagramnya. Tika merespon baik rencana Kei. Akhirnya mereka sengaja mempertemukan Kei dan Mela di acara Seni itu.
"Gimana? Cocok nggak jadi detektif?" gelak Sin sambil bersandar di kursi mobil. Sekarang mereka bertukar mengemudi.
"Thanks, bro"
Kei menoleh ke arah Sin yang duduk di sampingnya. Ia menghadiahi sahabatnya itu sebuah senyuman.
"Haish... Jangan senyum-senyum begitu kepadaku! Gelay!" Sin begidik mendapati Kei yang tiba-tiba jadi menggelikan untuknya. Kei tertawa terbahak mendengarnya dan menipuk lengan Sin.
"Apapun yang kamu lakukan demi usahaku ini, aku tidak akan komen apa pun!"
"Masalahmu tinggal satu, man!"
"Masalah apa?"
"Pacarmu. Angel!"
Seketika raut muka Kei menjadi gelap. Tatapannya menjadi dingin lagi.
Dua hari setelah acara Gelar Seninya lancar dan sukses, Mela mengistirahatkan diri di rumah. Ia ijin tidak mengikuti kelas hari ini. Entah kenapa badannya terasa nyeri di pundak dan di kaki.
"Ahh... Pegel linu, nih! Uda seperti nenek-nenek saja!"
Gerutunya sambil bangun dari tempat tidur. Ia melemaskan otot-otot tangan dan kakinya. Tak lupa juga kebiasannya setiap pagi. Lehernya harus di hentakkan ke samping untuk tidak terasa kaku.
Sepertinya bias-bias cahaya matahari yang masuk melewati jendela kamarnya membuatnya semangat. Tapi tidak untuk kuliah. Melainkan semangat untuk bermalas-malasan.
Hari ini Mela sudah menolak ajakan Lexi untuk membawanya jalan-jalan ke sebuah taman dan juga acara menonton film. Tapi dia tidak menolak saat Tika akan datang ke rumahnya untuk mengiriminya makanan. Pasti makanan titipan dari mamanya Tika.
"Ahh.. sungguh menyenangkan"
sambil merentangkan tangan ke atas, Mela menjatuhkan bokongnya di kursi panjang ruang TV.
Tatapannya kosong melihat ke arah TV. Mungkin karena selama dua hari ini, pikirannya masih susah move on dari pertemuannya bersama Kei. Dan itu membuatnya seperti mati berfikir.
Mela masih merasakan rasa yang tak biasa. Dia sadar jika selama hampir 6 tahun ini dia mati-matian tersakiti karena hatinya mencintai sosok masa lalunya. Rasa cinta itu hampir setiap hari menghantuinya. Rasa cinta itu selalu membuatnya terpatri pada satu nama.
__ADS_1
Namun, saat sosok itu mengajaknya untuk menyatukan cinta mereka. Hatinya merasakan sakit. Dadanya tiba-tiba merasa sesak. Dan air matanya jatuh tanpa sadar.