Dilema

Dilema
Kebenaran yang Menyedihkan


__ADS_3

Hai semuanya...


Jaga selalu kesehatan kalian ya, nah.. buat yang pengen hubungan BAMOeT go public nih. Bab ini bakal jadi awal terbongkarnya, cie terbongkar nya ✌️.


Bab ini bakal jadi awal terkuaknya hubungan pernikahan BAMOeT.


Happy reading...


❤️❤️❤️


Begitu sampai di depan rumah sakit, Moetia segera turun dari mobilnya dan berlari ke dalam. Moetia sudah seperti tidak perduli lagi ketika dengan tidak sengaja menabrak beberapa orang hingga sampai ke meja resepsionis rumah sakit.


"Suster, tolong cepat ini darurat. Tolong suster...!" teriak Moetia.


Para perawat rumah sakit segera mengambilkan sebuah brankar lalu mendorongnya mengikuti langkah cepat Moetia.


Para perawat membantu Manda turun dari mobil lalu merebahkannya di atas brankar dan segera mendorong nya ke ruang ICU.


Lampu ruangan itu menyala, dua orang dokter masuk kedalam lalu menutup pintunya.


Moetia sudah bermandi peluh, sesekali dia menyeka wajahnya dengan cemas.


Malika terduduk lemas di kursi, dan Soraya merangkulnya sambil menenangkannya.


Moetia berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan ICU.


' Oh Tuhan, aku mohon selamatkan Manda, selamatkan dia. Aku mohon!' Moetia terus berdoa di dalam hatinya.


Air matanya tak berhenti mengalir.


'Apa yang harus aku lakukan, dia seperti itu karena aku. Apa yang harus aku lakukan?' tanya Moetia dalam hatinya.


Seorang suster membuka pintu dan Moetia segera berlari mendekatinya.


Moetia menggenggam tangan suster itu.


"Bagaimana Manda sus, dia akan baik-baik saja kan, iya kan?" tanya Moetia panik.


"Begini, pasien kritis dia menelan banyak sekali pil jenis triazo, kami sudah berhasil mengeluarkan beberapa dan para dokter sedang berusaha mengeluarkan semua obat itu!" jelas si perawat.


Soraya dan Malika mendekati suster itu.


"Maksudnya bagaimana sus, Manda minum racun?" tanya Soraya cemas.


"Bukan racun Bu, tapi itu sejenis obat untuk orang yang mengalami kesulitan tidur, semacam obat insomnia. Tapi dia mengkonsumsi lebih dari tiga butir sepertinya dan itu juga bisa berakibat fatal!" jelas suster itu.


Malika dan Soraya sangat terkejut, Moetia menutup mulutnya tak percaya.


"Baiklah, silahkan salah satu keluarga pasien untuk mengurus administrasi nya. Mari ikut saya!" seru suster itu ramah.

__ADS_1


"Saya, saya akan ikut..." sahut Moetia.


Moetia mengikuti langkah suster itu kebagian administrasi, dia begitu fokus berjalan ke depan dan pandangan matanya hanya melihat langkah kaki suster itu saja.


Tanpa dia sadari seorang telah menarik pergelangan tangannya.


Moetia menabrak orang yang menarik tangannya itu.


"Sayang, kenapa menangis? apa yang kamu lakukan disini?" tanya Bagas sambil menangkup wajah Moetia dan menyeka tangisnya.


"Bagas!" lirih Moetia lalu memeluk Bagas.


Moetia menumpahkan seluruh kesedihan nya di pelukan suaminya. Bagas mengelus lembut punggung Moetia dan sesekali mencium puncak kepala istrinya itu.


Moetia menarik dirinya.


"Manda, Manda dia sudah tahu kalau.." ucap Moetia terbata-bata.


Bagas menggenggam kedua tangan Moetia dan mengecupnya lembut.


"Bicaralah perlahan sayang!" ucap Bagas pelan.


"Manda kritis... Manda.." Moetia sangat sulit menjelaskannya pada Bagas.


Sampai si suster tadi mendekati Moetia dan memberikan formulir yang harus Moetia isi.


"Silahkan diisi formulirnya, dan di tandatangani ya. Terimakasih!" serunya lalu kembali ke meja resepsionis.


Tangan Moetia masih gemetar, sulit baginya untuk menulis dengan benar.


Bagas meraih pulpen itu dan membantu Moetia mengisi formulir bahkan Bagas juga yang menandatangani formulir itu.


Setelah menyerahkan nya pada pihak administrasi, Bagas mengajak Moetia duduk di kursi tunggu di samping meja administrasi.


"Apa yang terjadi?" tanya Bagas sambil merapikan rambut Moetia yang berantakan.


"Manda menemui ku di kamar, dia bertanya apa hubungan ku dengan mu! Manda menyadarinya Bagas, kita... dia..." Moetia kembali bingung dan cemas.


Bagas meraih Moetia dan membawanya ke dekapannya.


"Mungkin sudah saatnya kita memberi tahu semua orang hubungan kita yang sebenarnya sayang. Ibuku juga sudah menyadarinya, aku justru lega, kita tidak perlu lagi menanggung beban karena terus menyembunyikan pernikahan kita!" jelas Bagas.


Moetia menarik dirinya menjauh dari Bagas.


"Bagaimana mungkin, Manda kritis Bagas. Bagaimana mungkin memberitahukan hubungan kita. Mama dan papa ku bahkan tidak mengetahui jika kita telah menikah!" sahut Moetia.


"Apa???" pekik Soraya yang kebetulan menyusul Moetia karena merasa cemas Moetia lama belum kembali.


Moetia terkejut dia segera berdiri dan menghampiri mamanya.

__ADS_1


"Mama..." lirih Moetia.


Soraya menutup mulutnya sangat terkejut, matanya sudah memerah.


"Tega kalian melakukan ini, tega kamu menikah dengan tunangan sahabat mu Moetia. Kenapa kamu mengkhianatinya Moetia, apa yang salah dari ajaran ku!" teriak Soraya tak percaya putri tunggalnya itu sudah menikah tanpa memberitahunya.


"Ma..!"


Tangis Moetia pecah, Moetia mencoba meraih tangan Soraya tapi Soraya menepisnya.


"Mama kecewa padamu Moetia, Manda seperti ini pasti karena kamu kan? kenapa nak? kenapa kamu begitu tega mengecewakan kami." sesal Soraya.


Bagas tidak tahan melihat Moetia di salahkan. Bagas berdiri di samping Moetia dan menggenggam tangan nya.


"Kami saling mencintai Tante, semua ini bukan kesalahan Moetia, aku yang memaksanya menikah dengan ku!" sela Bagas


Plak!


"Mama.."


Soraya menampar Bagas dengan kuat.


"Aku sudah menduganya, kamu memang laki-laki brengs** seharusnya aku juga tidak menyetujui Manda bertunangan denganmu! apa kamu tahu kamu telah menghancurkan persahabatan Manda dan Moetia. Kalian benar-benar..." Soraya sangat kesal dia memilih pergi meninggalkan Moetia dan Bagas lalu kembali menemui Malika.


Moetia menangis terkulai lemas sampai bersimpuh di lantai.


"Mama, maafkan Moetia ma!" lirih Moetia di sela Isak tangisnya.


Bagas merangkul Moetia dan berusaha menuntunnya untuk kembali duduk di kursi. Bagas memeluknya dan menyeka tangis Moetia.


Soraya berjalan pelan menuju ke ruang ICU, tangannya memegang tembok karena langkahnya gontai. Dia bersandar di dinding dan mengeluarkan ponselnya.


Soraya menghubungi Aries dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit. Soraya tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Dia tidak menyangka putri yang dia lahir kan, dia besarkan dengan penuh kasih sayang tega menghancurkan hatinya.


Bagaimana bisa Moetia menikah tanpa memberitahukannya pada mamanya, dan yang lebih membuat Soraya sedih adalah kenapa Moetia menikah dengan tunangan Manda.


'Apa yang salah dengan cara ku membesarkan mu Moetia, apa yang salah dari cara ku mendidik mu' sesal Soraya dalam hati.


Soraya menghampiri Malika yang masih sangat khawatir. Ketika melihat Soraya datang, Malika berdiri dan meraih tangan Soraya.


"Bagaimana? Moetia baik-baik saja kan? kenapa lama sekali?" tanya Malika cemas.


Melihat dan mendengar Malika mencemaskan Moetia, menambah rasa sedih dan bersalah bagi Soraya.


"Maafkan aku dan anakku Malika, maafkan aku dan Moetia.." seru Soraya sambil menangis dan memeluk Malika.


❤️❤️❤️


Jangan lupa tinggalkan jejak Like Komentar dan Favoritnya ya 🌹

__ADS_1


Terimakasih 😘


__ADS_2