
Hai semuanya...
Terimakasih banyak atas dukungan kalian sampai di bab ini.
Stay healthy dan selalu semangat ya...
Happy reading...
💕💕💕
Malika masih diam dan terus menundukkan wajahnya saat mereka berada di dalam taksi. Ahmad pun sudah dihubungi dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kediaman Mahendra.
Manda juga masih terduduk dan tertunduk lemas, air matanya terus mengalir. Entah itu air mata penyesalan atau air mata ketakutan karena Aries akan membawanya langsung ke penjara.
Dia bahkan sudah tidak fokus lagi dengan ucapan Sisilia, sejak tadi dia memang sudah tidak fokus.
Manda memandangi kedua tangannya yang masih berbekas lumuran darah Reno.
Air matanya kembali lolos, yang ada di bayangannya adalah ketika Reno mendorongnya ke pinggir jalan hingga mobil Owen tidak menabraknya dan justru menabrak Reno.
Bayangan Reno yang tidak sadar dan berlumuran darah kembali membuatnya gemetaran. Dia juga mengingat rasa sakit saat Bagas menamparnya di rumah sakit tadi.
Manda menyentuh pipinya yang membekas cap lima jari dari Bagas karena tamparan Bagas yang begitu kuat tadi.
Kepanikan jelas terlihat di wajah semua orang yang ada di ruangan itu. Semua orang sontak berdiri lalu mendekati dokter yang sedang bicara dengan Bagas.
Dokter yang menjadi pusat perhatian semua orang itu masih diam setelah menggelengkan kepalanya tadi.
Bagas yang mulai panik memegang kedua lengan dokter itu.
"Cepat katakan dok! bagaimana Reno??" tanya Bagas dengan penuh penekanan.
Moetia yang melihat Bagas begitu emosional, meraih lengannya dan berusaha menenangkannya.
"Bagas, biarkan dokter ini bicara dulu." ucap Moetia lembut meskipun sebenarnya dia juga sudah ingin kembali menangis.
Bagas melepaskan dokter itu, dia mengusap wajahnya kasar. Seperti nya kabar buruk lah yang akan dia dengar.
__ADS_1
Belinda memeluk lengan Chairul erat, air matanya juga sudah lolos begitu saja.
Soraya juga sama memeluk tangan Aries dengan erat, sementara Theo malah memeluk lengan Audrey yang dari tadi masih kesal karena tidak bisa mencabik-cabik Manda.
"Pasien mengalami luka yang sangat serius, tulang bahunya patah, belum lagi luka dalamnya. Pasien masih sangat membutuhkan penanganan lebih lanjut, kami belum bisa memastikan bagaimana keadaan pasien. Tapi kami yakin pasien benar-benar memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan jika tidak bagaimana mungkin dengan luka separah itu..." dokter itu menghentikan ucapannya ketika Bagas menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Bagas!!" teriak semua orang hampir bersamaan.
Para perawat berusaha menghalangi Bagas untuk masuk. Tapi Bagas terus menerobos mereka.
"Bagas! hentikan!" teriak Moetia yang ikut berlari menyusulnya dan menghadang Bagas di hadapan nya.
"Jangan seperti ini, biarkan dokter melakukan pekerjaan mereka, kita harus menunggu Bagas!" ucap Moetia berusaha berfikir selogis mungkin.
Bagas bisa melihat Reno dari tempatnya berdiri. Bagas melihat hampir semua bagaian tubuh Reno terpasang alat medis.
Batin Bagas terasa sangat terluka, dia sudah dua kali melihat Reno seperti ini. Demi melindunginya dan Moetia.
Bagas yang kuat pun tak bisa menahan lagi air mata nya yang ingin mengalir keluar.
Chairul harus ikut masuk dan menarik Bagas keluar. Chairul melihat Bagas menangis, hatinya juga sangat terluka.
Theo bahkan berkali-kali mengusap wajahnya berusaha menyembunyikan kegusaran nya terhadap kondisi Reno.
"Kenapa?" tanya Audrey.
Theo hanya menatap Audrey tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Takut tidak ada lagi orang yang bisa kamu tindas dan kamu perlakukan semena-mena?" tanya Audrey yang sebenarnya bertujuan menghibur Theo.
Audrey tahu meskipun Theo sering mengejek Reno dan memperlakukannya tidak adil. Tapi sebenarnya Theo juga menganggap Reno seperti sahabat sama seperti Austin dan Bagas.
Theo benar-benar tidak bisa berpura-pura lagi, air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya.
Audrey dengan cepat menyeka tangis Theo dan memeluknya. Hatinya juga sangat sedih, meskipun kebersamaannya dengan Reno tidak selama yang lain. Tapi dia sangat menghormati pria berusia tiga tahun lebih tua darinya itu.
Audrey tahu benar, saat Bagas, Theo ataupun kakaknya Austin mengalami masalah. Orang yang pertama yang akan siap pasang badan adalah Reno.
__ADS_1
Saudara pun tak akan sebaik manusia berhati malaikat itu. Itulah yang Audrey pikirkan.
Bagas dan Moetia masih saling menyandar, sedari tadi Moetia berusaha untuk menenangkan Bagas. Meski hatinya sendiri juga sangat sakit melihat keadaan Reno sekilas di dalam tadi.
Pikiran Moetia juga terbang mengingat kembali saat pertama dirinya bertemu dengan Reno, saat Reno begitu menjaga jarak dengannya karena takut di potong gaji oleh Bagas.
Saat Reno menyelesaikan semua masalah akibat ulah Bagas dan Theo padanya. Saat Reno menjadi satu-satunya orang yang bisa dia genggam tangannya ketika berada di tempat asing dan menganggapnya sebagai adik.
Saat Moetia memikirkan semua itu, air matanya juga kembali lolos.
Belinda pun tak kalah sedih, dia kembali mengingat saat pertama kali bertemu Reno. Anak yang duduk sendirian di luar sebuah panti asuhan dengan memegang sebuah buku dan pakaian yang lusuh.
Belinda ingat ketika dia mengulurkan tangan nya pada Reno, dia malah menjauh. Anak berusia sepuluh tahun itu tersenyum tapi tidak ingin disentuh.
Melihat senyum Reno, Belinda menjadi luluh. Saat dia ingin memeluk Reno, lagi-lagi dia menghindar.
Belinda terisak lagi mengingat bahwa anak yang tak ingin di peluk karena takut akan menularkan kesialannya pada orang lain itu sedang terbaring tak berdaya di dalam sana.
Reno yang tidak pernah menolak setiap perintah Belinda dan Chairul.
Belinda kembali mengingat bagaimana Reno kecil tertawa senang saat Belinda membawa Roni yang masih bayi ke panti asuhan sengaja menjenguknya.
Senyuman tulus Reno, cara Reno memangku Roni. Bahkan Belinda menamai Roni berdasarkan nama Reno. Anak yang selama lima belas tahun lebih ia tunggu untuk memanggilnya ibu.
Air mata Belinda kembali mengucur deras. Chairul mengerti benar apa yang Belinda rasakan karena Chairul juga merasakan hal yang sama.
Jika saja Chairul tidak memandang keluarga Aries dan Ahmad, ingin rasanya Chairul segera menarik Manda dan menjebloskannya ke dalam penjara.
Chairul benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita itu. Jika benar ada peribahasa air susu dibalas dengan air tuba, maka Manda lah orangnya.
Kebaikan keluarga Mahendra dan Wiguna benar-benar disia-siakan oleh nya begitu saja.
Tapi Chairul juga bersyukur, Belinda bisa melihat wajah asli dari perempuan yang selalu dia bangga-banggakan itu.
💕💕💕
Terimakasih yang sudah setia membaca bab demi bab. Aunty berderai nulis part ini...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya..
Think u ❤️