
Mata Bagas makin merah, tapi penyebab nya bukan lagi amarahnya pada Marvin.
Moetia tidak menyadari bahwa dia sudah menempatkan dirinya pada posisi seperti domba yang sedang memancing serigala yang kelaparan.
Bagas perlahan mendekati Moetia, tapi bukannya meraih krim yang di sodorkan Moetia. Tangan Bagas malah mencengkram kedua lengan Moetia.
Moetia terkejut hingga krim yang dia pegang terjatuh.
Bagas menyibakkan rambut Moetia dan makin menarik bathrobe yang menutupi bahu Moetia makin kebawah.
Bagas mengecup perlahan bahu Moetia yang lebam sampai berwarna kebiruan itu.
Moetia kembali memejamkan matanya saat bibir Bagas menyentuh kulit bahunya.
Merinding dan merasa aneh, itulah yang dirasakan Moetia.
Moetia menggigit bibir nya sendiri ketika Bagas merubah kecupan di bahunya itu menjadi gigitan kecil.
"Ssstt!" lirih Moetia.
Lirih kecil yang keluar dari mulut Moetia justru membuat keinginan Bagas semakin besar.
Bagas makin terbawa suasana, dia mulai bergerilya dari bahu ke tengkuk Moetia.
Moetia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, perlakuan lembut Bagas membuatnya merasa ada jutaan kupu-kupu yang sedang menari-nari di perutnya.
Bagas hampir saja membuka bathrobe Moetia, sampai terdengar teriakan dari luar kamar Moetia.
"Moetia, buka pintunya!" teriak seseorang sambil menggedor pintu kamar Moetia.
Moetia tersadar dari buaian yang diberikan oleh Bagas. Dengan cepat dia menjauh dari Bagas lalu merapikan bathrobe yang tadinya sudah berantakan di tubuhnya.
"Bagas, ada yang menggedor pintu!" seru Moetia menyadarkan Bagas.
Bagas mengepalkan tangannya, dia sangat kesal bahkan dia merasa keadaan tubuhnya sangat tidak nyaman.
Moetia segera keluar dari kamar mandi, tapi Bagas menahan tangannya.
"Pakai pakaian mu, sepertinya aku tahu siapa itu!" seru Bagas.
Moetia mengangguk paham dan kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Bagas dengan kesal bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Moetia.
Dan dengan cepat dia membuka pintu, setelah pintu terbuka tatapan Bagas sudah seperti seekor singa ingin menelan seekor kambing gemuk dihadapannya.
"Hai, Bagas!" sapa Theo lalu berjalan masuk ke dalam kamar Moetia melewati Bagas.
Bagas berdecak kesal,
"Kenapa menggedor pintu seperti itu?" tanya Bagas kesal.
Jika tidak mengingat bantuannya selama beberapa hari ini dalam usaha mencari Moetia, Bagas pasti sudah melayangkan tinjunya ke wajah mulus Theo.
Theo terlihat mengambil air minum di lemari pendingin.
"Bagas, dimana Moetia?" tanya Theo.
Bagas duduk di sofa dan menghela nafasnya panjang.
"Dia di kamar mandi, sedang ganti pakaian!" jawab Bagas.
Mendengar jawaban Bagas, Theo sangat terkejut sampai dia menyemburkan air yang baru saja dia minum.
__ADS_1
Theo mengelap mulutnya lalu duduk di samping Bagas.
"Apa kalian sudah?" tanya Theo sambil mengetuk-ngetuk kan kedua jari telunjuknya.
Bagas malah berdecak kesal,
"Jika kamu tidak mengganggu, mungkin itu akan terjadi!" jawab Bagas kesal.
Theo menekan dadanya dengan kuat,
"Astaga, apa salahku! kenapa dalam sehari aku di beri syock terapi oleh kedua temanku begini?" keluh Theo.
"Bagas, jangan lakukan itu. Moetia itu gadis baik. Jangan lakukan itu sebelum kalian menikah!" seru Theo dengan cepat.
Bagas memukul lengan Theo,
"Bicara apa kamu!" bantah Bagas.
"Aku juga tahu itu, aku mencintai Moetia dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Aku tidak akan pernah menyulitkan nya!" jelas Bagas.
"Lalu apa maksud perkataan mu tadi?" tanya Theo.
"Sudah lah! katakan kenapa kamu mencari Moetia?" tanya Bagas.
Theo mendekat ke arah Bagas, tapi Bagas malah mendorong nya agar menjauh.
"Hei, jauh-jauh. Kamu belum mandi kan dari kemarin!" ejek Bagas.
Theo kesal lalu berdiri dan berkacak pinggang.
"Memang karena apa aku Theodore Denisovich yang sangat tampan ini sampai tidak mandi seharian, hah?" tanya Theo kesal.
Moetia keluar dari kamar mandi dan menyapa Theo.
Melihat Moetia memakai kemeja dan celana panjang lagi, Theo sedikit kecewa.
"Hei wanita, kenapa tidak pakai pakaian seperti kemarin saja! kamu lebih terlihat manis..."
Sebelum selesai dengan ucapannya tendangan manis dari Bagas sudah mendarat di area tulang kering Theo.
"Augh!" pekik Theo kesakitan lalu duduk dan mengelus area tulang keringnya.
"Bagas, kamu kejam sekali!" protes Theo.
"Hei, kamu yang kurang ajar. Awas sampai kamu memperhatikan Moetia seperti itu lagi!" ucap Bagas memperingatkan Theo.
"Aku kan hanya ingin membantunya terlihat lebih manis, itu saja!" bantah Theo.
Sementara melihat pertengkaran Theo dan Bagas Moetia hanya bisa memijit pelipisnya sendiri.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Bagas.
"Moetia, aku punya berita buruk untuk mu!" jawab Theo yang masih terus mengelus kakinya yang masih terasa nyeri.
Wajah Moetia mendadak berubah serius
"Ada apa? apa terjadi sesuatu pada kak Reno?" tanya Moetia cemas.
Belum juga Theo menjawab, Moetia sudah menggandeng tangan Bagas dan mengajaknya untuk segera pergi ke rumah sakit melihat keadaan Reno.
"Bagas, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Moetia.
Bagas merasa tidak suka dengan sikap panik Moetia yang dia tunjukkan untuk pria lain, meskipun itu Reno.
__ADS_1
"Sayang, tunggu dulu kita dengarkan dulu si biang rusuh ini!" seru Bagas menenangkan Moetia dan meminta Moetia kembali duduk.
"Katakan!" perintah Bagas sambil melihat Theo dengan tatapan tidak bersahabat.
Theo sedikit bergidik,
"Aku tadi keruangan Reno, dan aku senang sekali melihat dia sudah sadar. Tapi apa kalian tahu apa yang dia katakan saat melihatku?" tanya Theo memandang ke arah Moetia dan Bagas bergantian.
"Apa?" tanya Bagas sedikit penasaran.
"Dia tidak mengenaliku!" jawab Theo bingung.
Moetia dan Bagas saling pandang, karena sebelum mereka tinggalkan Reno tadi baik-baik saja. Dan kata dokter saat Bagas menemuinya tadi, kondisi Reno sudah sangat stabil. Dan tidak ada efek samping saat operasi ataupun setelah operasi.
Theo terlihat mengusap kepalanya gusar,
"Kasihan sekali dia, dia bahkan tidak tahu apa itu amnesia!" lanjut Theo.
Bagas mulai mengerti, pasti Reno sengaja mengerjai Theo.
Bagas mengelus punggung Moetia perlahan, Moetia menatap Bagas karena bingung apa yang sedang kekasihnya itu lakukan.
"Sayang, seperti nya kakak mu itu amnesia! kamu harus bersabar ya! mungkin setelah ini dia akan berubah menjadi sosok yang berbeda. Mungkin Reno tidak akan jadi Reno yang penurut lagi, mungkin setelah ini dia akan menjadi Reno yang kasar dan membalas setiap orang yang dulu selalu menindas nya!" seru Bagas sambil mengedipkan sebelah matanya pada Moetia dibelakang Theo.
Theo jadi makin panik,
"Bagas, apa kamu bercanda. Apa dokter mengatakan itu?" tanya Theo serius.
Bagas menganggukan kepalanya,
"Iya, tadi dokter bilang begitu!" jawab Bagas.
"Astaga! aku harus segera pulang ke Indonesia, atau dia akan membalas ku!" seru Theo sambil berlalu keluar dari kamar Moetia.
Theo masih terus menggerutu sambil berjalan kearah kamarnya. Bagaimana tidak khawatir, selama ini dia selalu menindas Reno.
Tapi sebelum dia masuk ke dalam kamar, Roni melihatnya dan menegurnya.
"Kak Theo!" panggil Roni.
Theo terkejut melihat Roni lalu menghampiri nya.
"Kamu disini? dengan siapa?" tanya Theo.
"Ayah dan ibu. Juga papa dan mama nya kak Moetia." jawab Reno.
"Kenapa mereka semua datang? untuk apa?" tanya Theo.
Tapi sebelum Roni menjawab, Theo sudah punya asumsi sendiri.
"Apa Moetia dan Bagas akan segera menikah? disini?" tanya Theo.
Roni sengaja ingin mengerjai Theo jadi dia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Benar, apa kak Bagas tidak memberitahu kak Theo?" tanya Roni.
Theo sangat terkejut, dia kembali menekan dadanya kuat-kuat.
"Astaga, teman macam apa mereka! aku akan buat perhitungan dengan mereka!" serunya lalu kembali berjalan menuju kamar Moetia.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
__ADS_1
...Terimakasih ❤️❤️❤️...