Dilema

Dilema
Akan kah Moetia Menyerah?


__ADS_3

Reno yang berada di ruangannya di kantor Wiguna grup, segera menyimpan ponselnya di saku celananya.


Dia berlari keluar dari ruangannya.


"Pak Reno..." panggil Vivian.


Reno sudah tidak lagi memperhatikan orang-orang yang menyapanya atau pun yang memperhatikan nya.


Di dalam pikirannya hanya harus cepat membawa dokter ke apartemen Bagas yanga alamat nya sudah di ingat dengan jelas di kepala Reno.


Reno segera pergi ke klinik perusahaan dan bergegas menemui dokter yang sedang jaga disana.


"Dok, ayo ikut aku! cepat bawa beberapa obat untuk seseorang yang sedang sangat kedinginan!" jelas Reno.


"Kedinginan?" tanya dokter itu terkejut.


"Cepat, dok obat apa saja kedinginan demam, pereda rasa sakit. Apa saja yang ada disini bawa saja cepat!" perintah Reno terburu-buru.


Si Dokter pria yang awalnya bingung, akhirnya mengikuti instruksi dari Reno dan membawa beberapa obat ke dalam tas nya.


Reno segera meminta dokter itu mengikuti langkah kakinya yang sangat cepat.


Mereka sampai ke mobil Reno, dan Reno meminta si dokter untuk cepat masuk dan mengenakan sabuk pengaman.


"Pegangan yang kuat dok!" seru Reno.


Benar saja si dokter yang sudah menduga Reno akan mengebut menjadi sedikit berkeringat.


"Apakah tidak bisa kurangi sedikit kecepatan menyetir mu!" usul si dokter.


"Maaf dok, kita harus tiba disana secepat mungkin. Ini menyangkut kehidupan ku, maksudku kehidupan adikku." jawab Reno.


Reno kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


Sementara itu setelah hampir lima jam paska operasi, Manda pun tersadar.


Dia menoleh ke sekeliling nya, dia melihat Malika sedang duduk dan menundukkan kepalanya beralaskan tangannya yang terlipat di sisi sebelah kiri Manda.


"Ibu.." panggil Manda lemah.


Soraya yang baru saja datang, setelah membelikan beberapa makanan untuk nya dan Malika bergegas mendekati Manda yang terlihat memegangi kepalanya.


"Sayang, kamu sudah sadar? yang mana yang terasa sakit?" tanya Soraya perhatian.


Malika yang mendengar suara Soraya terbangun dan ikut memeriksa Manda.


"Nak, syukurlah kamu sudah sadar!" seru ya senang.


Manda tersenyum senang, dan me ngerjap kan matanya perlahan. Pandangannya masih agak kabur, belum terlihat jelas apa yang dia lihat.


Kepala nya juga masih sangat nyeri, sakit sekali. Perutnya mual dan tangan serta kakinya terasa lemas dan lunglai.

__ADS_1


"Tante, kepala Manda sakit sekali!" jawab Manda terbata-bata.


Soraya memandang ke arah Malika. Lalu mengelus kepala Manda perlahan.


"Sebentar ya sayang, Tante akan panggilkan dokter!" sahut Soraya lalu meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja dan keluar memanggil dokter.


"Apa yang sudah kamu lakukan Manda? kamu membuat keadaan semakin rumit, kamu sudah membuat semua orang panik!" kesal Malika.


Manda memandang tidak suka pada Malika.


"Jika ibu hanya ingin memarahiku, sebaiknya lakukan itu lain kali, kepala ku benar-benar sangat sakit saat ini!" bantah Manda.


Malika menghela nafas nya panjang, dia hanya bisa mengelus dada. Sedari awal dia memang sudah salah mendidik putri sulungnya itu, dari awal dia selalu membela dan menuruti semua keinginan nya.


Soraya datang bersama seorang dokter dan seorang perawat. Mereka memeriksa kondisi Manda, dari mulai detak jantung, nadinya, mata Manda dan tenggorokan nya.


"Tidak ada masalah serius, sakit kepala yang dia rasakan yang seperti nyonya Soraya katakan tadi, adalah efek dari sisa obat yang sudah dia konsumsi, kami akan membersihkannya dengan obat khusus yang sudah disuntikan kedalam infus pasien. Jangan cemas!" jelas si dokter.


Soraya menghela nafas lega.


"Terimakasih dokter!" serunya.


Si dokter dan si perawat akhirnya keluar dari ruangan itu.


Malika terlihat mengelus kepala Manda pelan untuk meringankan sakit kepalanya.


"Malika, makan lah dulu. Dari siang tadi kamu belum makan!" seru Soraya sambil menyiapkan makanan di meja.


Manda menggeleng kan kepalanya perlahan.


"Tidak Tante.." sahutnya lemah.


Reno sudah sampai di apartemen yang di katakan Bagas. Baru pertama kali Reno ke apartemen Bagas ini.


Dia segera menekan bel, ketika sudah sampai di unit apartemen Bagas.


Mendengar bel, di tekan berkali-kali. Bagas tahu itu pasti Reno. Dia bergegas keluar dari kamar lalu membukakan pintu apartemen nya.


"Dimana Moetia?" tanya Reno begitu Bagas sudah membuka pintu.


"Di dalam kamar, ayo!" jawab Bagas lalu mengajak Reno dan dokter Ivan mengikutinya.


Melihat keadaan Moetia, Reno sungguh sangat terluka. Wajahnya benar-benar pucat bahkan bibirnya sudah sedikit membiru.


Dokter Ivan segera memeriksa temperatur tubuh Moetia.


"Syukurlah suhu tubuhnya masih aman 32⁰ Celcius. Untung saja anda tidak berinisiatif mengompres nya!. Bisa tolong panaskan handuk kering dan kompres kan ke area lehernya." seru si dokter.


Bagas bertindak dengan cepat, dia tidak meminta Reno melakukannya karena dia yang lebih tahu tata letak barang nya.


Si dokter yang kebetulan membawa perlengkapan untuk memasang infus segera menyuntikan selang infus ke tangan Moetia.

__ADS_1


Sebelumnya dia sudah menyuntikan obat ke dalam cairan infus itu.


"Bisa bantu saja, cari cara meletakkan botol infus ini!" kata dokter Ivan melihat ke Reno.


Reno segera memindahkan sebuah pajangan dinding dan mengaitkan infus itu disana.


Bagas sudah kembali dan membawakan handuk kering yang sudah di panas kan. Lalu meminta dokter Ivan menunjukkan cara yang benar mengompresnya.


Setelah menunjukkan cara yang benar mengompres Moetia, juga memberikan obat yang harus Moetia minum saat sadar. Dokter Ivan berpamitan pada Reno yang sudah mengantarkannya sampai di depan pintu.


"Apakah kondisinya parah dok?" tanya Reno cemas.


"Untung nya tidak, untungnya tuan Bagas dengan cepat memberikan pertolongan pertama sebelum pertolongan medis. Aku rasa dia sangat mencintai nona Moetia, bukankah dia sekertaris tuan Bagas?" tanya dokter Ivan.


"Dia bukan hanya sekertaris Bagas, dia adalah istrinya!" jawab Reno.


"Apa, istrinya. Tapi..."


Dokter Ivan yang awalnya penasaran akhirnya memilih untuk tidak membahas masalah pribadi Bagas.


"Baiklah, semoga nona Moetia lekas sadar. Berikan dia air hangat saat sadar nanti. Dan jangan yang mengandung caffein!" jelas Ivan.


"Baiklah, terimakasih!" sahut Reno.


Reno lalu masuk kedalam kamar Moetia, dan melihat Bagas yang masih dengan setia mengompres leher dan ketiak Moetia.


Reno duduk di sisi lain dan mengusap tangan Moetia berkali-kali.


"Jauhkan tangan mu dari istriku!" seru Bagas sambil melirik tajam Reno.


'Astaga, singa ini. Aku hanya ingin membantunya' batin Reno yang dengan cepat menarik tangannya menjauh.


"Apa yang terjadi?" tanya Reno.


"Papa dan mama Moetia sudah tahu tentang pernikahan kami!" jawab Bagas singkat.


Reno melihat ke arah Bagas. Dia terkejut dengan kabar itu. Tapi bukankah ini lebih baik daripada terus menyembunyikan kebenaran nya.


"Mereka mengusir ku dan Moetia, Moetia bahkan bersujud di kaki papa nya..." Bagas tidak dapat melanjutkan kata-katanya.


Reno berpindah ke sisi Bagas dan menepuk bahunya perlahan.


"Kamu harus kuat Bagas! Dengan begitu Moetia juga pasti akan kuat!" seru Reno.


"Manda kembali berbuat nekat, dia mencoba melenyapkan dirinya lagi. Manda dan sikap kedua orang tua Moetia telah membuat Moetia lemah dan menyerah..."


"Moetia tidak akan menyerah!" sela Reno.


"Dia bahkan mengatakan ingin bercerai dengan ku!" bantah Bagas.


Reno tak percaya mendengar hal itu. Moetia menyerah, akan kah Moetia menyerah?Pertanyaan itulah yang ada di benak Reno.

__ADS_1


__ADS_2