Dilema

Dilema
Belinda Menerima Moetia


__ADS_3

Setelah Aries dan Soraya menjelaskan pada Moetia bahwa Belinda di rawat di rumah sakit. Moetia bersikeras untuk menjenguk Belinda.


"Sebaiknya tidak nak, kamu bahkan belum sehat benar!" nasehat Soraya.


"Aku ingin bertemu dengan Tante Belinda, bukankah mama bilang kondisinya tidak stabil. Tolong lah ma, pa, boleh ya!" pinta Moetia.


Aries menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujui permintaan Moetia.


Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke rumah sakit untuk menemui Belinda.


Di tempat lain, Manda baru saja selesai sarapan. Dia mengambil ponselnya dan memeriksa pesan dan telepon masuk.


Karena banyak sekali panggilan tak terjawab dari Malika. Manda pun menghubungi ibunya itu.


"Halo Bu!" sapa Manda santai.


"Astaga Manda, kemana saja kamu? kenapa tidak mengangkat telepon! kamu sudah membuat keributan besar, sekarang cepat pulihkan nama baik Moetia dan Bagas." seru Malika.


Manda makin kesal, dia mengira ibunya sampai ratusan kali menghubungi nya karena mencemaskan nya. Ternyata dia hanya perduli dengan Moetia dan Bagas.


"Ibu apa-apaan sih, harusnya ibu tanyakan bagaimana keadaan ku. Lebih baik aku tutup saja teleponnya..."


"Manda, karena ulah mu mbak Belinda sekarang sedang sekarat di rumah sakit. Keterlaluan kamu!!!" kesal Malika.


"Hah, Tante Belinda sekarat?" tanya Manda meyakinkan dirinya.


"Iya, sekarang dia di rumah sakit. Manda sebaiknya berhentilah membuat keributan, ibu sungguh tak punya muka lagi, kelakuanmu..."


Manda memutus panggilan teleponnya karena tidak ingin mendengarkan ceramah dari Malika.


Manda terlihat cemas, dia berjalan mondar mandir memikirkan masalah ini. Bukan karena menyesali perbuatannya tapi dia memikirkan hal lain.


"Jika Tante Belinda sekarat, tidak ada yang akan membelaku dan berada di pihak ku! tidak bisa! aku harus menemui Tante Belinda!" gumam Manda.


Manda meraih tasnya lalu segera keluar dari apartemen nya. Dia menghentikan sebuah taksi dan segera menuju ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Chairul terlihat sangat lelah. Dia bahkan tidur sambil terduduk di samping Belinda.


Bagas bahkan belum tidur sejak semalam, dia terus mengawasi perkembangan ibunya.


Reno sudah kembali ke kantor untuk menangani semua pekerjaan yang tidak bisa di handle oleh Chairul.


Mata Bagas menoleh ke arah pintu saat dia mendengar pintu di buka.


Lebih terkejut lagi dia melihat Moetia datang bersama kedua orang tuanya.


Bagas segera menghampiri Moetia.


"Sayang, kenapa kemari?" tanya Bagas.


Moetia tersenyum.

__ADS_1


"Aku membawakan sarapan untuk mu, om Chairul dan Roni." ucap nya pelan karena melihat Chairul dan Roni masih tertidur.


Mendengar suara Moetia, Chairul terbangun. Dia menoleh ke arah suara itu.


"Kalian datang!" sapanya.


Aries mendekati Chairul.


"Bagaimana keadaan mbak Belinda, mas?" tanya Aries dengan wajah simpatik.


Chairul berdiri.


"Masih belum ada perkembangan!" jawab Chairul lemah.


Soraya segera menghampiri mereka.


"Mas, sarapan dulu ya. Aku dan Moetia membawakan sarapan untuk kita bersama. Ayo!" ajak Soraya mencoba untuk mencairkan suasana hening dan putus asa ini.


Soraya meletakkan makanan di meja dan membangunkan Roni. Soraya meminta Roni agar mencuci mukanya terlebih dahulu. Dan Roni pun menuruti Soraya.


Bagas dari tadi terus menggenggam tangan Moetia. Moetia bisa melihat rasa khawatir di mata Bagas.


Moetia menoleh ke arah Belinda, dia juga sangat sedih melihat keadaan Belinda.


Selagi Aries menemani Chairul dan Roni sarapan. Bagas mengajak Moetia untuk mendekati ranjang pasien ibunya.


"Bu, Moetia datang menantu ibu sudah datang. Bukankah dulu ibu sangat ingin punya menantu seperti Moetia." Bisik Bagas di telinga Belinda.


Moetia sebenarnya sangat sedih, tapi ketika dia mendengar ucapan Bagas yang terakhir dia jadi agak kesal. Moetia mencubit kecil lengan Bagas.


"Kamu bilang apa?" protes Moetia berbisik pada Bagas.


"Ibu, cepatlah bangun dan aku janji akan segera memberikan ibu cucu!" bisik Bagas lagi.


Moetia menoleh ke arah kedua orang tuanya yang tentu saja tidak mendengar bisikkan Bagas pada Belinda. Moetia memegang pelipisnya dan mengusapnya gusar.


Perkataan Bagas membuat Moetia jadi salah tingkah sendiri.


Tapi di luar dugaan, ketika Moetia menoleh ke arah jari tangan Belinda yang lain, Moetia melihat jari-jari tangan Belinda bergerak.


Moetia menepuk bahu Bagas.


"Bagas lihat!" seru Moetia meminta Bagas melihat ke arah dia melihat.


Bagas terkejut, dia segera berdiri.


"Roni panggil dokter, tangan ibu bergerak!" teriak Bagas.


Roni yang masih mengunyah segera meletakkan piringnya ke atas meja dan melompat dari kursi. Dia segera keluar dan memanggil dokter.


Bagas juga sudah menelan tombol emergency yang ada di dinding.

__ADS_1


Chairul segera menyudahi sarapannya dan menghampiri Belinda. Dia mengusap kepala belinda dengan lembut.


"Belinda, Bu... bertahanlah Bu!" ucap Chairul yang terlihat cemas.


Aries dan Soraya saling memandang, Soraya menggandeng lengan Aries kuat-kuat. Mereka juga sangat mencemaskan kondisi Belinda.


Moetia mundur ke belakang dan menghampiri kedua orang tuanya saat dokter dan tim medis datang.


Dokter meminta Bagas dan Chairul menjauh, tapi Chairul bersikeras menggenggam tangan Belinda dan tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya semula.


Dokter hanya bisa mengikuti kemauan Chairul. Bagas dan Roni ikut memperhatikan para medis yang menangani Belinda.


Beberapa saat kemudian terdengar suara batuk Belinda.


"Bu," ucap Chairul terharu melihat Belinda membuka matanya.


Para dokter bisa bernapas lega, mereka pun memeriksa kembali kondisi Belinda. setelah selesai satu orang dokter menghampiri Chairul dan yang lainnya keluar dari ruangan.


"Syukurlah, nyonya Belinda sudah melewati masa kritisnya!" seru sang dokter lega.


Chairul tersenyum dan mengusap lembut kepala Belinda.


Bagas dan Roni segera mendekat ke Belinda dan memeluk ibu mereka itu bergantian.


Aries, Soraya dan Moetia saling pandang dan tersenyum senang. Mereka juga sangat bersyukur Belinda sudah melewati masa kritis nya.


Belinda tersenyum melihat Bagas dan Roni, mata nya juga menoleh ke Chairul yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Suami cengeng ku!" ucap Belinda lemah.


Chairul hanya tersenyum mendengar ucapan Belinda. Dia selalu menerima apapun sebutan yang diberikan Belinda padanya.


Mata Belinda kemudian menuju ke arah Moetia.


"Moetia!" panggil Belinda pelan.


Soraya mengantarkan Moetia mendekat ke Belinda.


"Tante!" jawab Moetia pelan dan hati-hati.


Belinda tersenyum.


"Kenapa masih panggil Tante, panggil ibu sayang..."ucap Belinda lemah.


Semua yang mendengar ucapan Belinda sangat terharu. Apalagi saat Belinda merentangkan tangannya pada Moetia.


Air mata Soraya menetes begitu saja. Dia bahagia dan haru ternyata Belinda berbesar hati menerima putrinya sebagai menantunya.


Moetia menghampiri Belinda dan memeluknya perlahan, sangat hati-hati. Moetia tidak ingin menyakiti Belinda.


"Anak baik!" ucap Belinda yang masih terbata.

__ADS_1


__ADS_2