Dilema

Dilema
Perbedaan Cara Mendidik


__ADS_3

Reno yang baru saja keluar dari rumah sakit ikut membantu Bagas mencari Moetia ketika dia sudah mendengar bahwa Moetia hilang.


Bagas yang sangat kesal meminta Reno menemaninya ke rumah Moetia.


Sementara itu di rumah Moetia, Malika juga dari tadi sangat cemas karena Manda belum juga sadarkan diri. Sudah lebih dari satu jam sejak mang Kus menemukannya di depan Gerbang.


Bagas dan Reno datang dan mengejutkan Soraya, Aries dan Malika karena dia tiba-tiba masuk ke dalam kamar Manda bersama Reno.


"Bagas!" ucap Malika senang.


"Kamu datang nak, terimakasih karena masih perduli pada Manda." sambung Malika.


Tapi Bagas dan Reno malah menghampiri Soraya dan Aries.


"Tante, Om bagaimana Moetia bisa menghilang?" tanya Bagas panik.


Melihat kepanikan di wajah Bagas, Malika merasa hatinya sangat pilu. Dugaannya selama ini benar, Bagas dan Moetia memang sangat dekat. Malika duduk di sisi tempat tidur Manda dan menggenggam erat tangannya.


Meskipun Aries tidak menyukai Bagas, tapi dia harus mengesampingkan perasaan itu agar Moetia bisa di temukan. Aries tahu Bagas dan Chairul pasti bisa membantunya menemukan Moetia.


"Setelah mencari Manda selama Dua hari ini, kami belum bisa menemukan hasil. Rekaman CCTV di studio bahkan sudah di hapus. Tiba-tiba saja pagi tadi mang Kus menemukan Manda tergeletak di depan pintu gerbang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dan saat mamanya Moetia akan memanggil Moetia ternyata mang Kus bilang dia pergi terburu-buru ke area pergudangan xxx." jelas Aries yang mulai jelas terlihat cemas.


Aries duduk di sofa dan melepaskan kaca matanya lalu mengucek matanya perlahan. Sedangkan Bagas dan Reno masih berdiri tegak berkonsentrasi mendengarkan penjelasan dari Aries.


"Kami sudah memeriksa area pergudangan dan menemukan gelang Moetia disana, tapi sudah tidak ada siapapun lagi disana!" jelas Aries makin lemah.


Reno mendekati Aries dan menepuk punggungnya perlahan.


"Kami akan membantu mencari Moetia Om!" ucap Reno pelan.


Aries memakai kaca matanya lagi menatap Reno juga Bagas bergantian.


Aries menepuk lengan Reno.


"Terimakasih kalian mau membantu!" sahut Aries.


Bagas melihat kondisi Manda sekilas, tidak ada luka di wajah dan tangannya, hanya bekas ikatan di pergelangan tangannya.


Bagas mengingat apa yang di katakan oleh Moetia tadi pagi.


Moetia mengatakan bahwa dia punya firasat pelaku di balik penculikan Manda adalah Marvin.


Mengingat ucapan Moetia itu Bagas mengepalkan kedua tangannya.


Reno yang melihat hal itu, menepuk bahunya perlahan.


"Ada apa?" bisik Reno.


Bagas sudah mengeraskan rahangnya. Dia menoleh,


"Aku tahu siapa dalang di balik semua ini! kita harus pergi Ren!" jawab Bagas pelan tapi kesal.


Reno mengangguk, dia berpamitan pada kedua orang tua Moetia dan Malika. Sementara Bagas hanya menganggukkan kepalanya sekilas pada Aries.

__ADS_1


Di perjalanan, Bagas melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


"Astaga, bos. Aku baru keluar dari rumah sakit, apa kau akan membuat aku kembali ke bangsal itu?" tanya Reno.


"Diam lah, dan pegangan yang kuat!" sahut Bagas.


Bagas melajukan mobil dengan sangat kencang menuju ke hotel tempat ayah nya dan Eduardo V Payage bertemu.


Setelah memarkirkan mobilnya Bagas bergegas turun dan menuju ke ruangan khusus yang sudah dipesan.


Reno sampai harus setengah berlari mengikuti langkah cepat Bagas.


Bagas membuka pintu, dan membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh padanya.


Bagas mendekati Eduardo Payage,


"Dimana Marvin?" tanya nya pada Eduardo.


Chairul segera menarik lengan Bagas agar sejajar dengannya.


"Bagas! bukan begitu cara bicara pada orang yang lebih tua!" tegur Chairul.


"Ayah, Marvin sudah membawa Moetia pergi!" jawab Bagas.


Eduardo menghela nafas nya berat dan berdiri lalu menepuk bahu Bagas.


"Ayah mu sudah mengatakan nya padaku, wanita itu adalah istrimu. Aku mewakili putraku meminta maaf pada kalian..."


Eduardo mengangkat tangannya mengisyaratkan kepada asisten nya agar tidak ikut campur.


"Aku sudah gagal mendidik putra ku dengan baik. Tapi saat ini aku pun belum tahu dia ada dimana! Tapi yang bisa aku pastikan adalah menantu anda akan baik-baik saja tuan Chairul. Putraku belum pernah mengejar wanita sampai seperti ini, wanita itu juga pasti sangat berarti baginya!" jelas Eduardo.


Bagas kembali mengepalkan tangannya.


"Dia istriku!" seru Bagas.


Eduardo hanya mengangguk pelan, tanda dia paham dengan ucapan Bagas.


Chairul berusaha membuat Bagas tenang. Chairul maju dan berdiri di depan Bagas. Chairul mengulurkan tangannya pada Eduardo.


"Kau adalah pengusaha dan pria yang sangat baik, aku percaya kau bisa mengurus masalah putramu ini dengan baik. Karena aku tidak ingin sampai melukainya!" tutur Chairul.


Eduardo menjabat tangan Chairul dan meninggalkan ruangan itu bersama asisten dan beberapa pengawal pribadinya.


Bagas membanting dirinya duduk di sofa, dia memijat pelipisnya sendiri.


"Tidak ada jejak sama sekali, Marvin ini sungguh membuatku sangat kesal!" keluh Bagas.


Chairul mendekati Reno dan memeluknya.


"Selamat datang kembali nak, bagaimana kondisi mu?" tanya Chairul.


Reno mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sudah sangat baik Om!" jawab Reno.


Chairul menepuk pundak Reno,


"Kapan kamu akan memanggilku ayah, Reno?" tanya Chairul penuh harap.


Reno hanya diam, dan tidak menjawab pertanyaan Chairul. Chairul mengajak Reno untuk duduk dan menjelaskan tentang apa saja yang baru dia bicarakan dengan Eduardo.


"Apakah ayah yakin, Eduardo itu akan bertindak tegas pada anaknya?" tanya Bagas tidak yakin.


"Ayah tidak meragukan caranya mendidik anak, Eduardo adalah orang yang tahu membedakan mana yang baik dan tidak, bagi bisnisnya dan bagi keluarganya. Tapi untuk berjaga-jaga, ayah juga telah meminta beberapa orang mengawasi mereka!". jelas Chairul.


Bagas dan Reno hanya saling pandang.


"Aku harap ayah benar!" sahut Bagas.


Sementara di luar hotel, Eduardo menoleh sekilas ke arah ruangan pertemuan nya dengan Chairul tadi.


Lalu dia masuk ke dalam mobilnya.


"Kita langsung mencari tuan muda, tuan?" tanya asisten pribadi Eduardo yang bernama Carlos.


"Iya, cari tahu dimana dia. Hubungi Syarif." Eduardo memijit pelipisnya sendiri.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Carlos.


"Aku tidak percaya ini Carlos, putra ku sudah membuat orang mempertanyakan tentang didikan ku padanya! Hah..." keluh Eduardo.


"Anda sangat kecewa pada tuan muda?" tanya Carlos lagi.


"Sebenarnya tidak juga, dia sedang mengejar cintanya. Itu yang dikatakan Syarif padaku. Astaga Syarif kenapa dia bisa mendukung tingkah konyol Marvin?" keluh Eduardo lagi.


Setelah beberapa menit perjalanan menuju ke hotel tempat mereka menginap. Carlos mendapatkan lokasi Marvin.


"Tuan, lokasi tuan muda sudah di temukan!" seru Carlos.


"Kita kesana sekarang!" jawab Eduardo.


Mereka pun menuju ke tempat Marvin membawa Moetia.


Disebuah penginapan kecil di pinggiran kota, Marvin dan anak buahnya menghentikan mobil mereka. Marvin menarik Moetia turun dari mobil dan mengajaknya masuk ke penginapan.


Marvin menarik Moetia masuk ke dalam sebuah kamar lalu mengunci pintunya. Merasa kesal Moetia terus memberontak, Marvin menghempaskan tubuh Moetia dengan kuat ke atas kasur.


Brukk!


"Dasar tidak waras!" maki Moetia pada Marvin.


Marvin mendekati Moetia dan kembali menekan kuat rahang Moetia.


"Jangan menguji kesabaran ku. Jangan sampai aku menyentuh mu sebelum aku menikah dengan mu!" gertak Marvin.


Moetia merasa sangat takut. Mulutnya terkunci seketika. Matanya yang tadinya melotot pada Marvin berubah berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2