Dilema

Dilema
Kemarahan Semua Orang


__ADS_3

Sudah dua jam Reno berada di dalam ruangan operasi, derap langkah terdengar mendekati ruangan itu.


Aries, Soraya dan Malika datang dengan terburu-buru setelah Sisilia menghubungi dan mengabarkan kepada mereka tentang apa yang terjadi.


Malika berlari saat melihat Manda yang sedang memeluk lututnya yang telah dia tekuk dan bersandar di dinding sambil menangis ketakutan.


"Manda!" teriak Malika.


Manda menoleh, Malika ikut bersimpuh di depan Manda dan memeluknya.


"Sayang, kenapa kamu seperti ini?" tanya Malika yang sangat sedih melihat keadaan putrinya yang mengenaskan.


Manda memeluk ibunya dengan erat dan menangis di pelukan Malika.


Dia sungguh sangat ketakutan, tangannya gemetaran dan tidak berani melihat Bagas yang masih di penuhi dengan amarah.


Aries menghampiri Moetia dan Bagas. Soraya segera memeluk Moetia.


"Jelaskan apa yang terjadi, Sisilia hanya mengatakan kami harus segera ke rumah sakit karena kondisi yang sangat mendesak!" kata Aries menghadap ke arah bagas yang langsung berdiri saat melihat Aries datang tadi.


Moetia dan Soraya duduk di kursi, Sisilia sesekali melirik ke arah Manda yang terlihat sangat takut dan frustasi.


Bagas menghela nafasnya panjang.


"Semalam, Manda mengirimkan pesan pada Moetia untuk menemuinya di persimpangan jalan sepi. Aku sengaja tidak memberitahukan hal itu pada Moetia. Aku yang meminta Reno pergi menemui wanita jahat itu, tapi ternyata dia sudah merencanakan untuk mencelakai Moetia. Orang yang menabrak Reno sekarang sudah berada di kantor polisi, dan dia mengaku Manda yang membayarnya untuk mencelakai pemilik mobil itu yang seharusnya adalah Moetia." jelas Bagas.


Aries sangat terpukul, dia melihat ke arah Moetia yang sedang di peluk oleh Soraya. Mata nya berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika benar-benar Moetia yang ada di dalam.


Aries lalu melihat ke arah Manda yang juga sedang di peluk oleh Malika.


Anak orang lain ternyata tetap akan menjadi anak orang lain. Benar kata orang darah memang lebih kental dari air.


Meskipun selama lebih dari dua puluh lima tahun Aries mengurus dan merawat Manda sama seperti putrinya sendiri. Tetap saja Manda tidak bisa mengerti itu semua.


Aries terluka, benar-benar terluka. Matanya menatap kesal dan penuh amarah pada Manda. Manda yang sekilas melirik ke arah Aries jadi merinding melihat tatapan Aries itu padanya.


Tidak ada tatapan penuh kasih sayang dari orang yang telah mengurus semua kebutuhan dan keinginannya. Tatapan seorang om yang bahkan melebihi ayahnya sendiri ketika memenuhi semua kebutuhan Manda.


Ada penyesalan di hati Manda, air matanya kembali menetes. Dia ingin mendapatkan Bagas, tapi justru hal itu membuatnya kehilangan segalanya.


Aries masih berdiri di tempatnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


Malika yang juga mendengarkan apa yang di katakan Bagas merasa sangat kecewa pada Manda.

__ADS_1


Tapi sebagai seorang ibu, hati nurani nya tidak tega membiarkan Manda sendirian menghadapi konsekuensi dari masalah yang dia buat.


Derap kaki lainnya kembali mendekati ruangan itu. Terlihat tiga orang sedang berjalan dengan langkah kaki cepat mendekati Bagas dan Moetia.


Theo, Austin dan Audrey lah yang datang. Theo dan Austin terlihat sangat cemas, bahkan Audrey si wanita tegar itu sudah menangis dan segera mendekati Moetia.


Audrey meluk Moetia yang kembali menangis melihat Audrey menangis.


"Bagaimana Reno, apa yang terjadi itu semuanya benar? hah? kenapa Reno harus menyelamatkan wanita jahat itu!" seru Audrey sangat emosional.


Audrey melirik ke arah Manda, Audrey ingi. sekali mencabik-cabik perempuan itu.


"Dasar perempuan tidak tahu diri!" ucap kasar Audrey melangkah menuju ke arah Manda.


"Audrey.." panggil Austin


Theo juga meraih tangan Audrey mencegahnya berbuat kasar dan membuat keributan.


"Audrey, jangan. Ini rumah sakit!" seru Austin.


"Sial! awas kamu perempuan jahat, aku akan buat perhitungan dengan mu!" gumam Audrey yang harus mundur kembali sambil mengepalkan kedua tangannya.


Tak berselang lama, rombongan ketiga juga hadir.


"Bagas!" panggil Belinda sambil terisak.


"Bagaimana Reno?" tanya Belinda dengan suara bergetar karena sangat sedih.


Bagas mengusap lembut lengan Belinda dan mengajaknya duduk.


"Sudah dua jam, dan dokter belum mengatakan apapun!" jawab Bagas.


Belinda memegang dadanya dengan erat. Belinda juga melirik kesal pada Manda.


"Apakah Tante selama ini kurang baik padamu?" tanya Belinda menatap ke arah Manda.


Manda tidak berani menoleh apalagi menjawab. Dia malah memeluk ibunya kuat-kuat, hanya ibunya sekarang yang bisa melindunginya.


Chairul mengelus punggung Belinda agar dia tetap tenang.


Aries memahami situasi yang semakin crowded ini. Dia mengatakan kepada chairul.


"Kalian semua sudah tahu apa yang terjadi, aku sendiri yang akan mengantarkan Manda ke kantor polisi agar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya!" seru Aries mantap.

__ADS_1


Manda makin terisak, dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dan memeluk Malika semakin erat.


Sisilia berdiri dan menyela ucapan om nya itu.


"Om, maaf. Tapi saat di mobil tadi, Reno sempat sadar dan mengatakan agar Manda jangan di laporkan ke polisi!" ucap Sisilia mengatakan apa yang Reno ucapkan saat sadar sebentar di mobil tadi.


Belinda menatap Sisilia tak percaya. Tapi Moetia tahu benar Sisilia tidak mungkin berbohong.


Moetia mendekati Sisilia.


"Katakan kak! apa saja yang kak Reno katakan!" ucap Moetia yang kembali berkaca-kaca.


Sisilia menelan saliva nya dengan susah payah, semua mata benar-benar tertuju padanya.


"Reno bilang 'Dengar Manda, aku telah membayar hutang nyawa keluarga Bagas padamu. Menjauh lah dari Moetia dan Bagas dan jika sesuatu terjadi padaku, kamu tidak perlu mempertanggungjawabkan nya' itu yang Reno katakan sebelum dia pingsan lagi!" jelas Sisilia yang gemetaran mengatakan semua hal itu.


Tatapan semua orang memang menunjukkan ketidak percayaan mereka. Tapi Aries, Soraya dan Moetia yang memang sudah mengenal baik Sisilia tidak akan meragukan kejujurannya.


"Melepaskan dia begitu saja!" gerutu Audrey yang sudah kesal level maksimal.


Malika benar-benar malu sekaligus sedih pada perbuatan Manda ini.


Aries meminta agar Malika membawa Manda pulang sebelum menjadi sasaran kemarahan semua orang.


Manda berjalan tertatih karena dia sudah sangat lelah dan lemah.


Malika pun tidak mengucapkan sepatah katapun. Kekecewaan nya pada Manda benar-benar sudah tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata lagi.


Setelah kepergian Manda, benar saja tidak ada lagi suasana tegang dan amarah semua orang perlahan menurun berganti rasa cemas pada keberhasilan operasi Reno.


Setidaknya sudah 10 kantong darah yang dibawa masuk oleh suster ke ruangan operasi.


Saat semua orang cemas. Seorang dokter keluar dan membuka maskernya.


Bagas, Theo dan yang lain segera menghampiri dokter itu.


"Dokter bagaimana Reno?" tanya Bagas cepat dan sangat cemas.


Dokter itu menggelengkan kepalanya perlahan.


...❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2