Dilema

Dilema
Ke Singapura


__ADS_3

Bagas menarik Moetia masuk ke dalam lift khusus.


"Kenapa selalu memberontak? takut apa? apa wajah ku terlihat seperti penjahat?" tanya Bagas kesal.


Moetia memanyunkan bibirnya kesal,


"Aku terkejut, kamu menarik ku begitu saja!" sahut Moetia tak kalah kesal.


Bagas melepaskan tangan Moetia lalu mendekatinya, Moetia mundur selangkah saat Bagas maju selangkah mendekat padanya.


Duk!


Moetia sudah tidak bisa mundur lagi, punggung nya sudah menyentuh dinding lift.


"Bagas, jangan begini!" pinta Moetia


"Katakan, apa aku seperti penjahat?" tanya Bagas lagi


Moetia mengangguk tanpa sadar,


"Apa!" teriak Bagas


Moetia menggeleng dengan cepat,


"Tidak, maksudku tidak. Bagas kamu sangat tampan bagaimana mungkin kamu terlihat seperti penjahat!" jelas Moetia.


"Bagus" seru Bagas sambil mengangkat tangannya dan menyentuh lembut pipi Moetia,


"Aku merindukan mu!" bisik Bagas di telinga Moetia.


"Em, aku..."


Bagas menempelkan pipinya ke pipi Moetia,


"Sayang, katakan kamu juga merindukan aku!" ucap Bagas makin membuat bulu kuduk Moetia meremang.


Moetia jadi merinding, dia tidak bisa mengucapkan kata yang diminta Bagas.


Saat Bagas makin dekat dan ingin mencium Moetia, pintu lift nya terbuka,


Ting!


"Bos, Moetia!" tegur Reno yang kebetulan berada di depan pintu lift karena akan turun ke lantai bawah


Moetia dengan cepat mendorong Bagas, Lalau keluar dari lift menuju ke ruangan nya.


Sementara Bagas menarik dasi Reno agar mengikutinya,


"Bos, aku mau ke lantai bawah!" seru Reno


Bagas tidak memperdulikan ucapan Reno,


"Diam, dasar pengganggu. Sekarang ikut denganku!" seru Bagas menarik Reno masuk ke ruangannya.


"Bagaimana semua sudah di bereskan oleh, Theo dan Austin?" tanya Bagas melepaskan dasi Reno lalu duduk di kursi kebesaran nya.


"Sudah bos, Theo akan memberikan surat-suratnya pada Moetia siang ini!" jawab Reno


"Suruh Theo berikan padaku!" seru Bagas


"Bos, tapi siang ini Theo akan membawa media!" sela Reno


"Hei, bos mu itu aku atau Theo. Sudah katakan saja pada Theo agar memberikan surat-suratnya padaku saja!" seru Bagas


Reno hanya menghela nafasnya panjang dan mengangguk paham sebelum keluar dari ruangan Bagas.


Setelah Reno keluar dia membuka tirai dinding yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan Moetia.

__ADS_1


Bagas memperhatikan Moetia yang sedang memeriksa beberapa dokumen yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.


Bagas juga merasa sangat heran pada dirinya sendiri. Teduh selalu dia rasakan saat memandang wajah Moetia yang sederhana dan penuh ketenangan.


Bagi Bagas, Moetia tidak seperti wanita kebanyakan yang pernah dekat dengannya.


Saat Bagas sedang asik memperhatikan Moetia dia tidak menyadari bahwa Chairul sudah masuk ke dalam ruangannya dan sedang berdiri di samping nya,


Chairul memukul kepala Bagas dengan dokumen yang dia bawa,


Plak!


"Diam Reno, apa kamu mau aku pec..."


Bagas menoleh hendak memaki Reno, tapi begitu dia lihat Chairul yang berdiri disana Bagas bergegas berdiri,


"Ayah," ucap Bagas merasa bersalah


Chairul melorot pada Bagas,


"Apa? kamu mau memecat ku?" tanya Chairul


"Tidak ayah, aku kira tadi Reno!" alasan Bagas.


Chairul menoleh ke arah dinding, Chairul menggelengkan kepalanya berkali-kali,


"Bagaimana pekerjaan mu tidak terbengkalai, kerjamu hanya memandangi Moetia saja!" sindir Chairul.


Chairul menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Ada apa ayah kemari?" tanya Bagas.


Chairul meletakkan dokumen yang dia bawa ke hadapan Bagas.


"Apa ini ayah?" tanya Bagas sambil membuka dokumen itu.


Bagas terlihat kaget melihat isi dokumen itu,


"Iya, besok pagi kamu harus berangkat!" tegas Chairul.


"Ayah, tapi ini satu Minggu!" protes Bagas.


"Lalu?" tanya Chairul kesal.


Bagas kembali menoleh ke arah Moetia, lalu melihat ayahnya.


"Ayah, bolehkah aku membawa Moetia?" tanya Bagas hati-hati.


"Apa?" teriak Chairul


"Bagaimana aku akan konsentrasi bekerja ayah, aku mohon ijinkan Moetia pergi bersamaku. Aku janji pertemuan dengan klien Singapura itu akan sukses!" ucap Bagas meyakinkan Chairul.


Chairul tampak berfikir,


"Apa Moetia akan setuju?" tanya Chairul ragu.


"Ayah harus memberikan surat tugas padanya, dia pasti tidak akan menolak!" bujuk Bagas pada Chairul.


"Baiklah, ayah akan meminta Irene mengurus surat tugas untuk Moetia, tapi kamu harus janji pertemuan nya harus berjalan sukses!" seru Chairul.


Bagas tersenyum senang,


"Aku janji ayah!" seru Bagas


Chairul terlihat mengulas senyum dan kembali melihat ke dinding yang memperlihatkan Moetia yang sedang memeriksa pekerjaan nya.


"Kali ini ayah mendukung pilihanmu!" seru Chairul sebelum keluar dari ruangan Bagas.

__ADS_1


Bagas terlihat kaget, tapi dia sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh ayah nya itu.


Beberapa jam kemudian, Moetia sudah bersiap untuk pergi makan siang, dia sedang membereskan tas nya.


Moetia menoleh ke arah pintu melihat ada yang masuk ke ruangannya,


"Bagas, ada apa?" tanya Moetia sambil meraih tasnya dan berjalan mendekati Bagas.


"Aku mau mengajak mu makan siang!" jawab Bagas.


"Aku sudah ada janji makan siang hari ini!" bantah Moetia


"Jangan katakan dengan penyanyi cafe itu?" tanya Bagas kesal.


Moetia menggeleng dengan cepat,


"Bukan dengan Gio, tadi kak Irene asisten ayahmu memintaku makan siang dengannya di restauran dekat kantor ini. Aku sudah bilang iya padanya!" jelas Moetia.


"Begitu ya, baiklah! aku akan makan siang sendiri saja." ucap Bagas sambil keluar dari ruangan Moetia.


Moetia malah berdiri mematung di tempatnya, dia tidak percaya Bagas kali ini tidak keras kepala bahkan pergi dengan mudah.


"Hah, ada apa dengannya?" gumam Moetia


Moetia lalu keluar dari ruangan nya dan menuju ke tempat parkir.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Moetia mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang memanggil karena dia juga sedang membuka pintu mobilnya.


"Halo" sapa Moetia


"Halo Moetia, bisakah kita bertemu!" tanya Gio


"Gio!" seru Moetia


"Aku merindukan mu Moetia," seru Gio


"Ayolah, kita baru sebentar tidak bertemu! bagaimana kalau pulang kerja nanti aku ke cafe melihat pertunjukan mu!" seru Moetia


"Kalau sekarang? apa tidak bisa?" tanya Gio


"Maafkan aku Gio, aku sudah ada janji makan siang!" jelas Moetia.


"Dengan Bagas?" tanya Gio


"Bukan, dengan kak Irene. Gio sudah dulu ya! nanti malam aku akan datang ke cafe!" jelas Moetia.


"Janji!" seru Gio


"Iya, bye Gio!" seru Moetia lalu menutup panggilan teleponnya lalu menyalakan mesin mobil dan pergi menuju restoran.


Sampai di restoran, Irene berdiri dan memanggil Moetia.


"Moetia!" panggil Irene sambil melambaikan tangan nya.


Moetia menghampiri Irene dan duduk disebelahnya, Moetia terlihat terkejut karena makanan di atas meja begitu banyak.


"Wah, kak Irene siapa lagi yang akan bergabung dengan kita?" tanya Moetia


"Tunggu sebentar ya, kamu akan segera tahu!" jawab Irene sambil tersenyum.


"Moetia!" seru Chairul lalu duduk di hadapan Moetia


Moetia terkejut melihat Chairul lah yang sedang di bicarakan oleh Irene.


'Ada apa ini? kenapa Om Chairul mengajak ku makan siang bersama!' batin Moetia cemas


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🙏🙏🙏...


...Think u ❤️...


__ADS_2