Dilema

Dilema
Permintaan Maaf Theo


__ADS_3

Gio menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang, Gio menoleh pada Moetia yang masih diam melamun dan belum menyadari bahwa mereka sudah sampai.


Gio menggenggam tangan Moetia,


"Moetia," panggil Gio lembut


Moetia menoleh sedikit terkejut,


"Iya, apa kita sudah sampai?" tanyanya


Gio mengangguk, dia membantu Moetia melepaskan sabuk pengaman nya.


"Tidak perlu Gio!" sela Moetia


"Tidak apa-apa," seru Gio


"Sudah!" ucap nya sambil tersenyum.


"Terimakasih Gio, aku turun. Sampai jumpa lagi!" ucap Moetia membuka pintu mobil Gio.


Tapi Gio juga ikut keluar dari mobilnya lalu dengan cepat menghampiri Moetia.


"Aku akan mengantar mu sampai ke dalam, aku rasa papa dan mama mu pasti sudah mendengar berita itu. Aku akan membantumu menjelaskannya pada mereka!" seru Gio yang masih mengkhawatirkan Moetia.


Moetia hanya mengangguk perlahan. Moetia dan Gio masuk ke dalam rumah bersama-sama.


Soraya yang melihat Moetia pulang, segera berlari menghampirinya,


"Sayang," Soraya memeluk Alia dan mengusap lembut kepalanya.


Soraya lalu mengajak Moetia duduk di sofa, Soraya juga menyapa Gio.


"Gio, ayo silahkan duduk dulu." seru Soraya.


"Begini Tante, sebenarnya kejadian tadi pagi itu..."


Aries menyela Gio,


"Sudahlah, Manda sudah menjelaskan semuanya." ucap Aries menyela perkataan Gio.


Moetia melihat ke papanya,


"Manda?" tanya Moetia.


Soraya menepuk telapak tangan Moetia,


"Iya sayang, semua ini salah kedua orang pria kaya itu kan! mereka sangat tidak sopan." kesal Soraya.


Moetia dan Gio saling pandang, Aries memperhatikan hal itu,


"Kalau begitu, saya permisi dulu Om, Tante!" pamit Gio dengan sopan


Soraya hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Aries mendekati Gio yang sudah berdiri dan menepuk bahunya,


"Gio, terimakasih karena sudah mengantarkan Moetia kembali pulang dengan aman!" ucap Aries.


Gio tersenyum dan mengangguk dengan cepat,


"Iya om, permisi !" seru Gio

__ADS_1


Gio menoleh ke Moetia yang masih bersandar di pundak mamanya. Lalu pergi meninggalkan rumah Moetia.


Aries kembali duduk di sebelah Moetia,


"Papa akan mengajukan tuntutan pada Bagas karena pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan, papa akan menghubungi Om Bram, pengacara keluarga kita," seru Aries kesal.


"Tapi pa, Bagas itu tunangan Manda!" seru Soraya.


Aries berdecak kesal dan memalingkan wajahnya karena kesal.


Moetia hanya diam tidak merespon, sebenarnya dia masih sangat kecewa terhadap apa yang Bagas lakukan padanya.


Rasa cinta Bagas justru membuatnya merasa takut.


"Sebaiknya kita lihat dulu perkembangannya pa, Manda bilang mereka akan mengadakan konferensi pers dan meminta maaf pada Moetia! mama juga yakin mbak Belinda dan mas Chairul juga tidak akan diam saja melihat semua yang terjadi ini!" terang Soraya.


Moetia bangkit dan berdiri,


"Ma, pa. Moetia ke kamar dulu ya!" ijin Moetia pada kedua orang tua nya lalu pergi ke kamarnya.


Moetia meletakkan tasnya dan melepaskan sepatunya sembarangan.


Dia mengambil remote televisi dan duduk dengan menekuk lututnya dan memeluknya dengan tangannya. Lalu Moetia menyalakan televisi yang sedang menayangkan siaran langsung konferensi pers, Wiguna Grup, Theo advertise, dan Williams Corp.


Mata Alia langsung tertuju pada pria berjas hitam yang sedang duduk dengan sangat elegan di samping Manda.


Di ruang konferensi pers. Semuanya sudah berkumpul, Austin duduk antara Theo dan Bagas. Sedangkan Manda duduk di sebelah Bagas.


"Baiklah, sekarang kita sudah bersama dengan empat orang yang tentu saja sudah sangat familiar bagi pemirsa sekalian." seru Pembawa acara bernama Cristy.


"Tuan muda Theodore Denisovich dari Theo advertise, tuan Austin Mahone Williams dari Williams Corp, tuan Bagas Chairul Wiguna dari Wiguna Grup, dan nona Muthia Amanda tunangan tuan Bagas." jelas Cristy pada semua yang hadir dan pemirsa yang menyaksikan siaran tersebut.


Theo tampak sedikit gugup, dia membenarkan jasnya lalu membenarkan posisi duduknya.


"Saya Theodore Denisovich ingin menyampaikan permintaan maaf saya, atas apa yang terjadi tadi pagi. Apa yang dilakukan Bagas pada Moetia adalah kesalahan saya yang memaksa Bagas melakukan itu. Saya juga minta maaf pada keluarga Bagas dan keluarga Moetia. Saya berjanji tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi!" jelas Theo.


"Lalu tuan Bagas, apakah ada yang ingin Anda sampaikan!" tanya Cristy mempersilahkan.


"Saya hanya ingin mengatakan ini pada Moetia, aku minta maaf atas apa yang kulakukan tadi padamu, tidak seharusnya aku menyakitimu. Moetia jika kamu mendengarkan aku, tolong jangan pergi..."


Austin menyenggol bahu Bagas lalu berbisik di telinganya,


"Hei, apa yang kamu katakan. Kamu hanya perlu meminta maaf, jangan menyatakan perasaan mu!" bisik Austin mengingatkan Bagas.


Bagas berdehem,


"Ekhm, sudah itu saja!" seru Bagas.


Manda dari tadi memperhatikan Bagas, dia sedikit merasa aneh dengan kata-kata Bagas.


"Nona Manda, ada yang ingin anda sampaikan?" tanya Cristy pada Manda.


Manda hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya berkali-kali.


"Tidak, tidak ada" ucap nya


"Baiklah, demikianlah para pemirsa dan rekan-rekan media permintaan maaf dari tuan Theodore Denisovich dan tuan Bagas Chairul Wiguna..."


"Lalu bagaimana dengan Moetia? bukankah dia sudah dirugikan?" seru seorang wartawan yang berambut blonde.

__ADS_1


"Iya, apa kompensasi yang akan kalian berikan?" tanya wartawan yang memakai topi berwarna merah bata.


Cristy mencoba menenangkan para wartawan yang terus bertanya,


"Mohon maaf semuanya, tapi.."


"Tidak apa-apa nona Cristy," sela Theo lalu berdiri.


"Saya memang harus memberikan Moetia kompensasi atas kesalahan yang saya lakukan! saya akan memberikan Moetia sebuah unit apartemen di Blue Tower lantai 10 unit 101." seru Austin.


Bagas dan Austin menoleh dengan cepat pada Theo.


Sementara di kamarnya, Moetia yang mendengarkan pernyataan Theo membulat kan matanya, bahkan remote televisi yang dia pegang sampai jatuh.


"Apa-apaan itu" gerutunya kesal.


Moetia mengambil remote televisi lalu mematikan televisi yang dia tonton. Moetia membanting remote itu di atas kasurnya.


"Apanya yang kompensasi! dasar manusia aneh!" kesal Moetia.


Sementara itu ekspresi Manda juga tak kalah terkejutnya dari Cristy.


"Waw, tuan Theodore. Blue Tower, aku tahu berapa harga hunian disana. Gaji ku sepuluh tahun bahkan tidak akan mampu membeli apartemen disana," ucap Cristy.


Theo hanya tersenyum, dan melihat ke arah Bagas yang masih menatapnya dengan tajam.


Melihat Bagas melotot, Theo memalingkan wajahnya pada Austin.


Tak berbeda dari Bagas, Austin bahkan sudah melipat kedua tangannya di depan dada.


"Anda tidak berbohong kan?" tanya wartawan lainnya.


"Tentu saja tidak, aku akan menyerahkan surat-surat nya atas nama Moetia, dan akan disaksikan notaris. Kalian akan dapatkan update nya!" seru Theo sesekali melirik Bagas.


Theo mendekat pada Cristy,


"Sudah bisa diakhiri kan nona Cristy?" bisik Theo pada Cristy.


"Terimakasih untuk kehadiran kalian semua. Selamat sore!" seru Cristy mengakhiri acara konferensi pers itu.


Mereka berempat keluar dari ruangan, dan para wartawan mengikuti mereka. Tapi Reno menahan para wartawan.


Sampai di kamar Theo, Bagas meminta Reno mengantarkan Manda pulang.


"Apa kamu tidak bisa mengantar ku Bagas?" tanya Manda.


Bagas hanya mengibaskan tangannya ke udara,


"Sudahlah Manda, jangan membuatku kesal. Reno cepat antarkan dia pulang!" seru Bagas.


"Silahkan!" ucap Reno sopan mempersilahkan Manda keluar dari kamar itu.


Dengan kesal Manda melangkahkan kakinya keluar.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍❤️👍❤️...


...Terimakasih 💕...

__ADS_1


__ADS_2