
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Reno dan Bagas sudah harus pergi karena urusan pekerjaan mereka.
Moetia pun memilih untuk menghabiskan waktunya berkeliling hotel, dari lantai paling atas Moetia bisa melihat seluruh pemandangan kota Singapura bagian selatan.
Setelah puas menikmati pemandangan Moetia ingin kembali ke kamarnya tapi sebelum dia masuk ke dalam lift seorang wanita paruh baya tidak sengaja menabraknya.
"Aduh!" pekik wanita seumuran mamanya itu karena jatuh ke lantai.
Moetia pun segera membantunya berdiri,
"Maaf nyonya, aku tidak sengaja!" ucap Moetia
"Aku yang menabrak mu, nak. Seharusnya aku yang minta maaf!" sahut wanita itu.
Moetia hanya tersenyum merespon ucapan wanita itu, tapi tiba-tiba wanita itu memegang kepalanya dan memejamkan matanya seperti akan jatuh pingsan.
Moetia sedikit panik, dia berusaha mencari bantuan dengan berteriak memanggil seseorang,
"Apa ada orang, tolong! kami butuh bantuan!" teriak Moetia.
Tapi wanita itu segera membuka matanya,
"Nak, tolong bawa ibu ke rumah sakit ya. Kepala ibu pusing sekali." pinta wanita itu dengan lemah.
Moetia sedikit merasa ragu,
"Tapi Bu, aku bukan orang sini, aku akan panggilkan temanku dulu. Dia tahu banyak tentang kota ini, dia bisa mengantar kita ke rumah sakit!" jelas Moetia.
Tapi saat Moetia akan memanggil Theo, si ibu malah menarik tangannya.
"Nak, supir ibu ada di bawah. Tolong bawa ibu ke sana, setelah kita ke rumah sakit. Supir ibu akan mengantarkan kamu kembali kemari!" kata si wanita yang terlihat semakin kesakitan karena terus memijat kepalanya.
Moetia menjadi sangat kasihan pada si ibu,
"Baiklah! mari aku papah ibu masuk ke dalam lift!" kata Moetia ramah.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam lift, menuju lantai paling bawah.
Setelah sampai di area parkir, Moetia memapah si wanita itu ke dalam mobilnya. Dan benar saja so supir ternyata menunggu di dalam mobil.
Dengan cepat supir itu turun dari mobil ketika melihat Moetia dan nyonya itu mendekat ke arah mobil.
"Nyonya! ada apa?" tanya si supir yang terlihat cemas.
"Nyonya kamu tadi terjatuh dan sekarang kepalanya sangat sakit katanya, kita harus bawa nyonya kamu ke rumah sakit!" sahut Moetia menjawab pertanyaan si supir karena nyonya nya terlihat sangat lemah.
Si supir membantu nyonya masuk ke dalam mobil, ketika Moetia akan keluar tangannya di tarik oleh si wanita itu.
"Nak, temani ibu ya! ibu tidak bisa masuk ke rumah sakit sendirian nanti!" pinta wanita itu.
"Benar nona, tolong temani lah nyonya ku, nanti aku akan mengantarkan anda kembali kemari!" sambung si supir dengan wajah memelas.
Moetia pun kembali masuk ke dalam mobil, dan mereka pun pergi dari area hotel.
Di tengah perjalanan, si nyonya terlihat merintih kesakitan.
__ADS_1
"Nyonya, bagaimana ini? pak supir apakah masih jauh rumah sakit nya?" tanya Moetia panik.
"Masih nona, di jok belakang ada kotak obat nona. Ada minyak gosok disana! tolong ambilkan dan gosokkan si kepala nyonya!" kata si supir.
Moetia mengangguk paham, dia berbalik memutar posisi duduknya dan berusaha mengambil sebuah kotak di jok belakang. Tapi tiba-tiba Moetia terkejut karena ada yang membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan yang berbau sangat aneh.
Moetia berusaha melepas bekapan itu tapi kepalanya terasa berat dan pusing lalu dia tak sadarkan diri.
Ternyata si nyonya tua itu hanya berpura-pura kesakitan agar bisa membawa Moetia keluar dari hotel.
Si nyonya tadi memeriksa apakah Moetia benar-benar sudah pingsan atau belum. Setelah yakin Moetia pingsan dia menyandarkan Moetia di sebelahnya, wanita itu menghapus riasan wajahnya dan mengelupas topeng kulit palsu yang dia pakai.
"Topeng ini panas sekali, sial!" keluh wanita yang ternyata terlihat lebih muda dari penyamaran nya itu.
Wanita itu melemparkan alat penyamaran nya lalu menelepon seseorang.
"Tuan, pekerjaan ku sukses. Wanita nya Bagas Chairul Wiguna sudah berada di tangan ku!" seru wanita itu sambil tersenyum puas karena berhasil menculik Moetia.
Terdengar tawa keras dari ujung telepon,
"Ha ha ha, bagus! segera bawa wanita itu kemari! kerja bagus Seruni!" kata si pria di ujung telepon.
Seruni kembali menyimpan ponselnya lalu melihat ke arah supir nya,
"Kita bawa wanita ini pada tuan!" seru nya.
Si supir hanya mengangguk paham dan segera melajukan mobilnya ke tempat tuan mereka.
Di hotel, di kamar Theo. Dia baru saja membuka matanya. Dia sangat lelah kemarin, apalagi dia harus berjalan bersama Moetia selama setengah jam.
Ada pesan dari Bagas, agar menjaga Moetia karena Bagas dan Reno harus rapat sampai jam satu siang nanti.
Theo melihat ke arah atas layar ponselnya,
"Sudah jam sebelas! apa yang sedang wanita itu lakukan ya?" gumam Theo memikirkan Moetia sedang apa.
Theo segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah ganti pakaian, Theo bermaksud mengajak Moetia untuk sarapan, atau lebih tepatnya sarapan siang.
Theo masuk ke dalam kamar Moetia, tapi terlihat sangat sunyi.
Theo mencoba mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban.
Theo pun membukanya dan kamar mandinya kosong, Moetia tidak ada disana.
Theo mulai sedikit cemas, dia kemudian memutuskan untuk menunggu di dalam kamar, kalau-kalau Moetia sedang keluar mencari makanan.
Beberapa menit, Theo mulai gelisah. Dia memutuskan untuk mencari Moetia di sekitar hotel. Dia mencarinya di area kolam renang, dan Moetia tidak ada disana.
Theo mencari di area restoran juga tidak ada, Theo mulai panik karena tak bisa menemukan Moetia.
Theo memutuskan untuk bertanya pada resepsionis hotel,
"Nona, apa kamu melihat wanita yang lumayan cantik yang tubuhnya sedikit berisi keluar dari hotel ini" tanya Theo.
Si resepsionis cantik malah tersenyum,
__ADS_1
"Maaf tuan, ada banyak sekali wanita yang menjadi tamu hotel ini. Bisakah tuan memperlihatkan fotonya?" tanya resepsionis cantik itu.
Theo memegang kepalanya gusar,
"Aku tidak punya fotonya!" sahut Theo.
Theo menjauh dari meja resepsionis, dia bingung harus bagaimana? dia tidak bisa menghubungi Moetia.
"Apa aku telpon Bagas saja! astaga aku punya firasat buruk tentang ini, jika Moetia hilang dia pasti akan menghabisi ku!" keluh Theo.
Theo masih terlihat gusar, dia kembali menghampiri resepsionis hotel,
"Nona, aku ingin bertemu manager hotel kalian, tolong hubungi dia dan katakan Theodore Denisovich ingin bertemu dengannya, cepat lah nona!" seru Theo serius.
Resepsionis hotel itu segera menelpon manager nya, beberapa menit kemudian si manager hotel menghampiri Theo.
Sepertinya manager itu mengenal Theo, dia terlihat tersenyum ramah dan membungkuk sedikit saat menyapa Theo.
"Tuan Theodore, apa kabar?" sapa si manager sambil mengulurkan tangannya.
Theo menjabat tangannya,
"Tidak baik, pak..."
"Agustinus," jawab si manager.
"Pak Agustinus, aku butuh bantuan mu! teman ku menghilang dari hotel ini, aku perlu memeriksa rekaman CCTV hotel ini!" seru Theo.
Agustinus terlihat sangat terkejut,
"Hilang? bagaimana mungkin tuan Theo, keamanan di hotel kami sangat ketat?" tanya Agustinus memastikan.
"Karena itu aku harus memeriksa rekaman CCTV hotel, bisa kan?" tanya Theo tegas.
"Tapi tuan, rekaman CCTV hotel adalah sesuatu yang sangat rahasia dan hanya pihak berwajib dan..."
"Aku ingin melihat rekaman itu, sekarang!" sela Theo yang mulai emosi.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Author :Hai para readers, like nya dong 👍
Readers :Terus apalagi?😀
Author :Favoritin juga ya ❤️
Readers : Sip! 😄
Author : Terus Komentar nya ya😘
Readers : Udah!🤦🏼♀️
Author :Hadiah juga dong 🥳
Readers : 😡😡😡😡
__ADS_1
Author : ✌️✌️✌️✌️✌️