Dilema

Dilema
Night Kiss


__ADS_3

Gio masih menunggu jawaban Diana yang sejak tadi hanya melotot padanya.


Lama-lama Diana kesal dan memukul lengan Gio dengan tas nya.


Plak!


"Aku siapa?" tanya Diana


Gio bingung, tapi dia menjawabnya


"Kak Diana!" jawab Gio


"Aku kakak mu kan?" tanya Diana lagi.


Gio mengangguk dengan cepat.


"Lalu kenapa yang kamu pikirkan hanya tentang Moetia saja! Lihat aku, aku kehausan, aku datang ngos-ngosan demi kamu! dan kamu bahkan tidak memberiku minum! Keterlaluan kamu Giovanni Baskara!" seru Diana


Gio segera mengambilkan air mineral untuk Diana, dan menarik sebuah kursi untuk nya.


"Silahkan kak, minum dulu!" ucap Gio sambil memberikan botol air mineral pada Diana.


Diana duduk dan minum, setelah itu dia melirik tajam pada Gio.


"Ada apa lagi?" tanya Gio.


"Bagaimana penampilanmu yang pertama tadi?' tanya Diana penuh selidik.


"Aku rasa baik!" sahut Gio


"Awas kalau sampai ada komplain ya!" seru Diana memperingatkan Gio sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan memberikan nya pada Gio.


"Untuk apa?" tanya Gio belum mengerti.


Diana menghela nafas nya,


"Jadi begini! Moetia tidak mengabari mu dan tidak bisa di hubungi selama beberapa hari ini karena ponselnya diambil orang!"


"Di jambret? lalu bagaimana dengan Moetia? apa dia baik-baik saja!" sela Gio panik


Diana lagi-lagi memukul lengan Gio,


Plak!


"Dengarkan dulu, dia baik-baik saja. Dan saat aku kerumahnya tadi, dia sedang ada keperluan di luar! Aku bertemu dengan mamanya dan dia memberikan nomer ponsel Moetia yang baru ini!" jelas Diana.


Gio dengan cepat meraih ponsel Moetia dan menyimpan nomer Moetia ke ponselnya.


Gio mengembalikan ponsel Diana lalu segera menghubungi Moetia.


Ditempat lain, di waktu yang sama. Moetia sedang berada di perjalanan pulang bersama Bagas.


Ketika mendengar ponselnya berdering, Moetia segera mengangkatnya,


"Halo!" sapa Moetia


"Moetia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gio cemas.


"Gio" seru Moetia senang.


"Darimana kamu dapat nomer ponsel ku? aku baik-baik saja Gio, maaf sudah membuatmu cemas!" ucap Moetia dengan ekspresi terkejut karena Bagas tiba-tiba menepikan mobilnya.


Moetia menoleh ke arah Bagas dan men silent ponselnya.


"Ada apa?" tanya Moetia.

__ADS_1


Bagas menatap tajam dan berdecak kesal,


"Tutup telponnya," seru Bagas


"Tapi..."


"Tutup sekarang juga!" tegas Bagas.


Moetia kembali menyalakan panggilannya dan bicara pada Gio.


"Maaf Gio, aku tutup dulu. Selamat malam!" seru Moetia lalu menutup panggilan teleponnya.


Setelah menyimpan ponsel nya lagi, Moetia menghadap ke arah Bagas.


"Kamu kenapa? kenapa marah begitu?" tanya Moetia


"Jangan bicara dengan penyanyi cafe itu saat kamu sedang bersama ku. Kita punya kesepakatan Moetia, aku sudah muak dengan semua hal ini. Aku ingin memberitahukan pada dunia bahwa kamu itu adalah kekasihku. Aku melihat cara penyanyi cafe itu saat menatapmu! dia menyukaimu!" jelas Bagas


Moetia hanya diam. Sebenarnya lebih dari siapapun dia juga ingin semua orang dan seluruh dunia tahu bahwa Bagas adalah kekasihnya, dan mereka saling mencintai.


Tapi bagaimana dengan Manda, bayangan Manda mencelakai dirinya sendiri terus ada di pikiran Moetia.


"Aku terkadang tidak mengerti jalan pikiran mu, kenapa mempersulit segalanya!" protes Bagas


"Aku bahkan mulai merutuki diriku sendiri, kenapa juga aku tidak berdaya pada semua keinginan mu Moetia." keluh Bagas.


Moetia menggenggam erat tangan Moetia,


"Bukankah kamu percaya pada jodoh? kamu mengatakan saat kita bertemu di toko kue. Apa kamu ingat? saat itu aku ingin membeli fruit cake kesukaan Manda, tapi kamu lebih dulu membelinya. Dan saat itu kamu mengatakan kita berjodoh, karena dalam sehari kita bertemu tanpa sengaja di tempat yang berbeda sebanyak tiga kali.."


"Empat kali Moetia!" sela Bagas membenarkan ucapan Moetia.


Moetia tersenyum,


"Aku senang kamu mengingatnya! jadi bukankah seharusnya kita yakin pada cinta kita! apapun yang terjadi hatiku hanya milikmu!" ucap Moetia lembut meyakinkan Bagas.


"Kamu yakin tidak akan tertarik pada penyanyi cafe itu?" tanya Bagas


Moetia menggeleng kan kepalanya berkali-kali dengan cepat


"Aku yakin, seratus persen yakin. Gio adalah temanku. Bukan dia saja, managernya kak Diana juga teman ku!" seru Moetia


Bagas berdecak kesal,


"Huh, wanita ajaib itu? aku tidak suka dia!" seru Bagas jujur.


Moetia tersenyum,


"Dia waktu itu pasti hanya bercanda saja saat menggoda mu. Aku mengenalnya cukup lama dan dia memang seperti itu, suka bercanda." jelas Moetia


"Tetap saja, bagiku dia aneh. Dan aku memang tidak suka pada wanita yang terlalu frontal seperti dia, juga wanita manja seperti sahabatmu itu!" jelas Bagas.


Moetia terdiam,


'Jadi Bagas tidak suka Manda karena sikapnya yang manja!' batin Moetia


Moetia tiba-tiba merangkul lengan Bagas dan menyandarkan kepalanya,


"Sayang, sebaiknya cepat nyalakan mobil mu. Ini sudah malam!" ucap Moetia dengan gaya manja.


Bagas melirik Moetia sekilas dan menggeleng kan kepalanya.


"Kamu kenapa? aku bilang tidak suka wanita manja, dan kamu langsung menjadi wanita seperti itu?" tanya Bagas kesal.


Moetia menarik dirinya menjauh dari Bagas karena mata Bagas sudah melotot melihat ke arah nya.

__ADS_1


Bagas menghela nafas nya panjang,


"Apa kamu sangat ingin aku membencimu?" tanya Bagas pelan.


"Maaf," sahut Moetia pelan.


Bagas lalu tersenyum,


"Sudahlah Moetia, apapun yang kamu lakukan. Aku tidak akan bisa membencimu, aku sangat menyayangimu." ucap Bagas membelai lembut kepala Moetia.


Bagas kembali menyalakan mesin mobilnya lalu mengantarkan Moetia pulang.


Saat Moetia akan turun Bagas meraih tangannya,


"Sayang, besok kembalilah bekerja. Aku tidak bisa fokus dengan pekerjaan ku bila tidak melihatmu di kantor!" pinta Bagas pada Moetia.


Moetia mengangguk,


"Baiklah, selamat malam" ucap Moetia sambil membuka pintu.


Tapi sebelum Moetia keluar, Bagas lagi-lagi menariknya.


Moetia sampai terkejut, karena Bagas menahannya dengan mengungkungnya dengan kedua tangannya.


"Bagas, kamu mau apa?" tanya Moetia cemas.


"Kamu takut?" tanya Bagas dengan senyuman jahilnya.


"Bagas jangan bercanda!" protes Moetia.


Bagas mencium pipi Moetia lalu melonggarkan kungkungan nya pada Moetia.


"Selamat malam sayang," ucap Bagas lembut dan memajukan pipi kanannya pada Moetia.


'Oh Tuhan, aku rasa apa yang selama ini aku dengar itu hanya hoax, Bagas sama sekali tidak dingin dan kaku. Dia justru sangat manja dan mesum!' batin Moetia kesal


"Kenapa memajukan pipi mu seperti itu, ingin di tampar?" tanya Moetia


Bagas malah tersenyum mendengar ucapan Moetia,


"Iya, ingin di tampar tapi pakai ini. Aku ingin night kiss ku!" jawabnya sambil menyentuh bibir Moetia dengan telunjuknya.


Blush!


Wajah Moetia jadi merah merona, Moetia menelan saliva nya dengan susah payah.


Sebelum dia bisa bicara lagi, Bagas sudah ******* bibir Moetia.


Satu detik! dua detik! tiga detik!


Moetia mendorong Bagas,


"Cukup, Bagas ini sudah malam. Selamat malam!" serunya sambil membuka pintu mobil Bagas dan berlari masuk ke dalam pintu gerbang rumahnya.


Moetia masih kesal karena bibirnya masih terasa sakit, sepanjang jalan menuju pintu rumah dia terus mengomel.


"Menyebalkan, apa nya yang prince cool, dia itu prince mesum!" gerutu Moetia lalu masuk ke dalam rumahnya.


Bagas yang melihat Moetia terus mengomel hanya tersenyum.


"Itu hukuman, karena kamu sudah berusaha membuatku membencimu!" gumam Bagas lalu pergi.


...💕💕💕💕💕💕💕...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...

__ADS_1


...Think u ❤️...


__ADS_2