
Moetia berlari keluar dari kamarnya dan bergegas menuruni anak tangga menuju ke kamar mamanya.
Setelah berada di depan kamar mamanya, Moetia mengetuknya dengan cepat.
Tok! tok! tok!
"Ma, tolong buka pintunya!" seru Moetia.
Soraya membuka pintu,
"Sayang, ada apa? kamu terlihat panik?" tanya Soraya lalu merangkul Moetia dan mengajaknya masuk ke kamarnya.
"Ma, Moetia pindah kamar ya? Moetia pindah ke sebelah kamar mama ya!" pinta Moetia.
"Ada apa?" tanya Soraya mencemaskan Moetia.
Moetia masih berusaha untuk tenang.
"Moetia takut mimpi buruk lagi!" jawabnya singkat.
Soraya mengerti apa yang di rasakan oleh putrinya. Soraya meminta para asisten rumah tangga nya untuk memindahkan semua barang-barang Moetia ke kamar sebelah.
Moetia merasa bosan menunggu kamar nya selesai di bereskan.
Moetia pun memutuskan untuk keluar dan menyiram tanaman di sore hari.
Sedang asik menyiram tanaman hias milik mamanya, Moetia seperti melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri di seberang jalan sambil bersandar di pagar tembok tetangga depan rumahnya.
"Bagas!" lirih Moetia.
Sementara di seberang jalan, Bagas sedang berdiri sambil memandangnya.
Moetia melihat penampilan Bagas yang menurut nya sangat berantakan, Bagas memakai kemeja yang sepertinya semalam dia pakai.
Hati Moetia merasa sedih ketika dia melihat tangan Bagas masih terbalut perban.
Moetia yakin, Bagas mungkin belum makan. Moetia meletakkan selang air yang tadinya dia gunakan untuk menyiram tanaman.
Entah sejak kapan Bagas berdiri disana, hanya itu yang ada di pikirannya.
Moetia bergegas keluar gerbang, dan berlari menghampiri Bagas.
Moetia melihat ke sekeliling dia berlari menyeberang jalan.
Bagas yang melihat Moetia berlari kearahnya pun membenarkan posisi berdirinya dan tidak lagi bersandar ke pagar tembok itu.
Moetia menubruk Bagas dan memeluknya. Air mata nya tak dapat lagi dia tahan. Moetia memeluk suaminya itu dengan erat.
Bagas pun makin mengeratkan pelukannya pada Moetia, hatinya terharu dan bahagia.
Moetia menarik dirinya menjauh sedikit,
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Moetia.
"Sebelum kamu dan sahabat mu tadi pergi menaiki taksi, aku sudah disini!" jawab Bagas.
'Itukan sudah lama sekali!' batin Moetia.
Moetia meraih tangan Bagas yang terluka.
"Belum di ganti perban?" tanya nya pelan.
Bagas menatapnya dan menggelengkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
Moetia menatap Bagas, tatapan mereka saling mengunci.
Mereka bisa melihat bahwa ada cinta yang sangat besar yang sama-sama mereka miliki untuk satu sama lain.
Bagas perlahan menyentuh lembut pipi Moetia dengan tangan kirinya, Moetia pun memejamkan matanya. Rasa cintanya pada pria di hadapannya ini mengalahkan. semua sedih serta sakit hati yang muncul belakangan ini.
"Kita pulang!" seru Bagas lembut di telinga Moetia.
Moetia membuka matanya perlahan dan menganggukkan kepalanya.
Bagas menggandeng Moetia menuju ke sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Kamu mengemudi sendiri?" tanya Moetia.
"Tidak, dia yang mengantarku tadi!" tunjuk Bagas pada seorang pria yang sedang duduk di bangku taman sambil membaca koran.
"Kamu yang menyetir ya!" pinta Bagas.
Moetia mengangguk paham.
Ketika Bagas akan masuk ke dalam mobil, dia dikejutkan dengan seorang pemotor yang melaju kencang dan hampir menabraknya.
Meskipun tidak sampai menyerempet Bagas, tapi orang itu berhasil mengejutkan Bagas hingga sedikit menabrak pintu. Di tambah kondisi Bagas yang memang terlihat lemah.
Brak!
"Bagas!" seru Moetia lalu berlari ke sisi Bagas.
Moetia membantu Bagas berdiri dengan benar dan membantunya masuk ke dalam mobil.
"Sejak kapan kamu tidak makan?" tanya Moetia cemas.
"Sejak istriku meninggalkan rumah!" jawabnya lemah.
"Apa mereka anak buah mu?" tanya Moetia.
Bagas mengangguk.
"Apa belakangan ini terjadi sesuatu saat kamu tidak bersama ku? tanya Bagas.
Moetia mengangguk.
"Iya, tapi akan ku ceritakan setelah kita sampai di apartemen!" jawab Moetia.
Mereka tiba di apartemen Bagas sekitar setengah jam kemudian.
Moetia dan Bagas turun dari mobil dan menuju ke unit apartemen mereka.
Setelah masuk ke dalamnya, Moetia membantu Bagas untuk membersihkan dirinya.
Moetia agak kikuk ketika harus melepaskan pakaian Bagas.
"Jika tidak nyaman untuk mu melakukan nya, biar aku sendiri!" sela Bagas.
Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak apa-apa!" jawab Moetia.
Setelah selesai membersihkan tubuh Bagas dan membantunya berganti pakaian, Moetia membantu Bagas mengganti perban di tangannya.
Moetia mengerjakan semua itu dengan hati-hati dan perlahan.
Bagas masih terus memandangi istrinya yang bahkan semalam masih sangat marah padanya itu.
__ADS_1
Bagas sangat bahagia Moetia bisa memaafkannya dan kembali padanya lagi.
Di dalam hatinya Bagas berjanji, untuk tidak akan pernah lagi menyakiti hati Moetia.
Perban di tangan Bagas sudah di ganti, Moetia meletakkan peralatan P3K nya di atas meja.
"Aku akan memasakkan makanan untuk mu! tunggu sebentar ya!" seru Moetia lalu keluar dari kamar.
Moetia menuju ke dapur, dan mencari bahan makanan yang bisa dia masak. Moetia menemukan dua bungkus pasta dan sausnya.
Moetia segera memasaknya, Bagas keluar dari kamar dan duduk di kursi yang ada di ruang makan.
"Terimakasih!" seru Bagas.
Moetia menoleh,
"Iya..."
"Terimakasih kamu mau kembali ke rumah kita Moetia!" ucap Bagas.
Moetia tersenyum sekilas. Dia menyiapkan piring dan menata makanan yang telah dia buat agar makin menarik. Dia menambahkan parutan keju diatas pasta pedas dan panas itu.
"Silahkan!" seru Moetia meletakkan piring berusia pasta itu di hadapan Bagas.
Bagas menghirup aroma masakan Moetia dan mencicipi nya.
"Sangat lezat!" puji Bagas.
"Benarkah?" tanya Moetia.
"Benar, cobalah!" seru Bagas mengulurkan pasta yang sudah dia ambil dengan garpu ke arah mulut Moetia.
"Lumayan!" sahut Moetia ketika mencicipi makanan yang dia buat barusan.
Moetia mengambil air minum dan meletakkan nya di dekat piring Bagas. Lalu dia duduk di sebelah Bagas.
"Oh ya, tadi kamu bilang akan mengatakan sesuatu?" tanya Bagas.
"Habiskan dulu makanan mu!" sahut Moetia.
Moetia tidak ingin membuat selera makan Bagas jadi hilang. Jika dia menyebutkan nama Marvin, pasti Bagas akan tersulut emosi.
Bagas dengan cepat menghabiskan makanan nya. Dia meminum segelas air yang disajikan Moetia sampai habis.
"Sudah, sekarang katakan!" seru Bagas.
Moetia menjauhkan piring dan gelas itu dari Bagas.
"Sebenarnya, Marvin datang menemui ku!" ucap Moetia hati-hati.
"Apa!" teriak Bagas menggebrak meja dengan tangan kirinya.
Moetia sudah mengira reaksi ini yang akan ditunjukkan Bagas.
"Apa yang dia lakukan? apa dia menyakitimu?" tanya Bagas memegang kedua tangan Moetia.
"Kapan dia datang?" tanya Bagas.
...❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
...Terimakasih ❤️❤️❤️...
__ADS_1