
Manda mengikuti Moetia ke dalam kamarnya,
"Moetia," lirih Manda
Moetia mengajak Manda duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya.
"Kenapa kamu terlihat kacau begini?" tanya Moetia sedih.
"Aku takut sekali kamu dan om Aries memasukkan Bagas ke dalam penjara! Kami tahu kan Moetia, aku sangat mencintai nya!" kelas Manda
Moetia menghela nafasnya panjang,
"Apa kamu pernah bertanya apakah dia mencintai mu?" tanya Moetia lembut
Manda menggeleng kan kepalanya berkali-kali,
"Tidak, dia bahkan selalu menolak ku!" jawab Manda kecewa
Moetia memeluk Manda,
"Jangan menyakiti dirimu sendiri Manda" ucap nya lembut.
Manda hanya diam tak menjawab ucapan Moetia.
Sementara itu di tempat lain, Theo dan Austin sudah menyiapkan dokumen apartemen atas nama Moetia.
Mereka bahkan sudah memberitahu pada media tentang hal itu.
"Sudah beres!" seru Theo
"Hei kakak ipar ku, bagaimana pekerjaan ku? aku rasa aku akan dapatkan pujian dari Bagas dan calon istri ku Yanga akan tiba sebentar lagi!" seru Theo lagi
Austin menoleh pada Theo,
"Apa katamu? Audrey akan pulang?" tanya Austin
Theo bukannya cepat menjawab pertanyaan Austin, malah dia tertawa.
"Ha ha ha, sekarang aku yakin bahwa Audrey lebih mencintai ku dari pada kamu!" kekeh Theo
Austin kesal mendengar jawaban Theo lalu memukul kepalanya dengan dokumen yang dia bawa.
Plak!
"Pasti kamu kan yang meminta Audrey tidak mengabari ku, dasar pacar posesif!" seru Austin.
"Ha ha ha, aku pacar posesif?" tanya Theo menunjuk dirinya sendiri
"Kamulah kakak posesif, jahat sekali. Bahkan sampai bertunangan aku baru dua kali mencium adikmu itu!" cetus Theo
Austin lagi-lagi memukul lengan Theo sekuat tenaganya,
"Kurang ajar, pantaskah kamu bicara seperti itu pada kakak ipar mu?" tanya Austin.
"Hei, kamu bukan saja kakak ipar ku. Kamu kan teman ku!" bantah Theo
Austin kesal dan memilih pergi meninggalkan Theo.
Sementara itu, Bagas masih di rumah sakit ditemani Roni.
"Kak, kanapa akhir-akhir ini kondisi ibu semakin tidak baik begini ya?" tanya Roni
Bagas merangkul pundak Roni,
__ADS_1
"Jangan cemas, ibu akan baik-baik saja." ucap Bagas menenangkan Roni.
"Aku juga berharap begitu kak, tapi dalam seminggu ibu sudah dua kali terkena serangan jantung. Sebenarnya apa yang kakak lakukan sampai ibu dan ayah harus pergi ke kantor pengacara?" tanya Roni polos.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Bagas
Roni mengangguk dengan cepat,
"Iya," jawabnya.
"Aku mencium Moetia di depan umum, bahkan di depan media!" seru Bagas tanpa rasa bersalah
Roni menutup mulutnya sendiri tak percaya,
"Kakak, mencium kak Moetia. Apa kakak tidak waras? kak Moetia itu kan temannya kak Manda!" seru Roni sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali tak percaya dengan apa yang sudah kakak kebanggaannya itu perbuat.
Bagas malah terkekeh melihat ekspresi yang di tunjukan oleh Roni,
"Jangan senang seperti itu!" ejek Bagas mengacak rambut Roni.
Roni menepis tangan Bagas,
"Aku rasa kakak sudah terpengaruh sifat abnormal kak Theo" seru Roni jujur sambil masih menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Bagas makin terkekeh,
"Apa katamu? Theo abnormal?" kekeh Bagas.
"Iya, kak Theo selalu melakukan hal-hal aneh yang aku selalu merasa itu hal diluar nalar manusia biasa. Dan hasil perbuatannya selalu jadi pro kontra antara kakak dan kak Austin!" jelas Roni panjang lebar.
Bagas sempat terpana mendengar penjelasan dari Roni,
"Kamu sungguh memperhatikan kami?" tanya Bagas.
"Coba katakan, bagaimana menurut mu tentang Theo, selain dia abnormal?" tanya Bagas.
"Kak Theo meskipun sangat nakal, dia adalah teman yang sangat baik. Bukankah dia selalu membantu kakak dan kak Austin!" seru Roni.
Bagas mengangguk paham,
"Lalu bagaimana dengan Austin?" tanya Bagas
"Aku rasa dari kalian bertiga, kak Austin lah yang berada di jalur yang benar. Dia tidak pernah berbuat ulah dan kekonyolan seperti yang kalian berdua lakukan. Dan meskipun usia kalian sama tapi dia lebih dewasa dari kakak!" tutur Roni berterus terang.
"Begitu ya, jadi menurut mu Austin itu lebih baik dariku?" tanya Bagas
Roni bingung menjawabnya, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu bagaimana menurut mu tentang Moetia?" tanya Bagas pada Roni
"Kenapa bertanya tentang kak Moetia?" tanya Roni balik.
"Sudah jawab saja." sela Bagas
Roni berfikir sejenak,
"Kak Moetia itu cantik dan kelihatan nya dia juga baik. Aku tidak tahu, aku baru bertemu dengannya sekali. Kalau kakak tanya tentang kak Manda.."
"Jangan bicarakan dia!" sela Bagas
Roni terdiam, dia agak bingung dengan Bagas hari ini. Tiba-tiba pikiran aneh muncul di benaknya,
"Apa kakak menyukai kak Moetia?" tanya Roni penasaran
__ADS_1
Bagas tersenyum,
"Apa kamu bisa menjaga rahasia ini hanya untuk kita berdua?" tanya Bagas.
Roni langsung mengangguk dengan cepat
"Percayalah kak, aku sangat bisa menjaga rahasia!" sahut Roni.
"Sejujurnya aku sangat menyukai Moetia!" sahut Bagas.
Roni lagi-lagi menutup mulutnya sendiri tak percaya.
"Apa!" serunya
Bagas meletakkan telunjuknya di bibir Roni,
"Ssstt... diam kan sudah aku bilang ini rahasia!" seru Bagas.
"Tapi kak, bagaimana mungkin. Kakak bertunangan dengan kak Manda tapi kakak mencintai kak Moetia?" tanya Roni bingung.
"Sudahlah, itu urusanku. Kamu tidak perlu memusingkan hal itu. Janji ya, hanya kita berdua yang tahu hal ini!" seru Bagas.
Roni mengangguk dengan cepat, tiba-tiba Chairul datang dan menegur mereka,
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Chairul ingin tahu.
Bagas merangkul Roni,
"Apa yang kita bicarakan Ron?" tanya Bagas mengetes Roni
Roni dengan cepat menggelengkan kepalanya,
"Tidak yah, tidak ada!" seru Roni dengan cepat.
Chairul memandang ke dua putranya itu bergantian,
"Benarkah?" tanya Chairul tak percaya
"Benar ayah" sahut Roni lagi.
"Baiklah, sekarang ibu kalian sudah boleh pulang. Kalian temani ibu kalian dulu. Ayah akan menemui dokter!" seru Chairul
Kedua putranya itu menurut dan masuk ke ruang rawat ibu mereka.
Keesokan harinya,
Moetia sangat malas saat melangkahkan kakinya memasuki Wiguna grup.
Semalam bahkan dia sudah meminta bantuan Austin agar menariknya kembali ke perusahaan nya tapi Austin hanya meminta Moetia bersabar lagi.
Saat berada di depan pintu lift, Moetia menghela nafasnya panjang.
Saat pintu lift terbuka dan beberapa karyawan Wiguna grup masuk ke dalam, Moetia masih berdiri diluar dengan malas.
"Moetia, apa kamu tidak akan ikut?" tanya Vivian sekertaris Reno.
Moetia tersadar dari lamunannya dan segera masuk ke dalam, baru akan melangkah masuk, tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan membawanya ke lift khusus yang ada di sebelah kanan.
"Eh, lepaskan.." ucapan Moetia terputus ketika melihat siapa yang sedang menggenggam pergelangan tangan nya itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🙏🙏🙏...
__ADS_1
...Think u ❤️...