Dilema

Dilema
Mencari Moetia


__ADS_3

Bagas merasa sangat kesal, dia harus mencari Moetia di apartemen Gio.


Bagas melajukan mobilnya dengan sangat cepat, sampai di area parkir apartemen Gio Bagas menghentikan mobilnya dan berusaha untuk tenang.


Sebenarnya dia sangat cemburu, dia merasa akan sangat sedih jika benar menemukan Moetia di tempat Gio.


Bagas turun dari mobilnya lalu menuju unit apartemen Gio yang diberitahukan oleh Reno tadi.


Mendengar bel apartemen nya berbunyi, Gio segera membuka pintu apartemen nya.


"Bagas!" ucap Gio sedikit terkejut.


Bagas tidak ingin bertele-tele, dia langsung masuk ke dalam melewati Gio dan melihat ke sekeliling apartemen itu.


"Moetia datang kemari?" tanya Bagas datar.


Gio malah kaget mendengar pertanyaan Bagas itu.


"Ada apa dengan Moetia?" tanya Gio cemas.


Bagas berbalik dan menoleh pada Gio.


"Katakan saja, Moetia tadi kemari atau tidak?" tanya Bagas.


Gio kesal dengan sikap arogan Bagas.


"Tidak, dia tidak kemari!" jawab Gio acuh.


Bagas merasa tidak yakin, tapi sepertinya memang tidak ada tanda-tanda Moetia datang ke apartemen Gio.


"Baiklah, kalau begitu." ucap Bagas lalu ke luar dari apartemen Gio.


Gio menutup pintu apartemen nya.


"Apa-apaan orang itu, apakah terjadi sesuatu pada Moetia?" gumam Gio.


Gio merasa cemas, dia segera mengambil kunci moge nya lalu keluar dari apartemen nya.


Bagas sengaja menunggu Gio keluar, dia tahu Pria itu sangat perduli pada Moetia. Jika Moetia tidak datang ke apartemen nya, mungkin Gio tahu kemana Moetia saat tidak ingin ada yang mengganggunya.


Bagas membuntuti moge yang dikendarai Gio.


Bagas terus mengikutinya.


"Mau kemana dia!" gerutu Bagas.


"Aku benar-benar tidak berguna, bahkan kemana istriku sendiri aku tidak tahu!" gumam Bagas lagi menyesali kesalahannya.


Sementara itu di rumah sakit, Theo, Austin dan Audrey datang mengunjungi Reno.


Theo meletakkan sebuah bingkisan buah untuk Reno di atas meja.

__ADS_1


"Tumben sekali bos Theo, memberikan bingkisan seperti itu!" kata Reno terkekeh.


"Diam, kalau bukan nyonya bos mu yang memintanya, aku malas berbaik hati padamu seperti ini!" sahut Theo.


Audrey memeluk Reno,


"Bagaimana kondisi mu, apa lebih baik?" tanya Audrey.


Reno mengangguk cepat,


"Sangat baik, tapi Tante Belinda melarang ku untuk datang ke acara ulang tahu perusahaan bis Theo nanti malam!" kata Reno.


Audrey menepuk bahu Reno pelan.


"Tak apa! kami sudah menangani semuanya!" sahut Audrey.


Austin duduk di disisi sebelah kiri Reno.


"Kamu sungguh luar biasa Reno, demi melindungi Bagas kamu bahkan menghadang sebuah tembakan!" puji Austin.


"Itu sudah tugasku, keluarga Bagas sudah merawat ku sejak aku berusia sepuluh tahun. Jika bukan karena mereka aku mungkin sudah hidup terlunta-lunta di jalanan." ucap Reno tulus.


"Mereka memang sangat baik, tapi kenapa mereka harus berhutang budi pada foto model abal-abal itu!" kesal Audrey.


"Maksud mu Manda?" tanya Reno.


Theo terkekeh dan mendekati Audrey.


"Kamu tahu tidak apa yang sudah di katakan nyonya bos mu ini pada Manda?" tanya Theo.


"Dia mengungkapkan alasanku mendekatinya selama ini, wanita yang sedang cemburu memang sangat kejam ya?" seru Theo.


Audrey mencubit keras perut Theo.


"Aduh!" pekik Theo.


"Rasakan! jangan terlalu percaya diri ya. Aku bukan cemburu karena mu, aku mengatakan semua itu karena dia duluan yang mulai. Memangnya dia pikir dia siapa? bukankah semua yang dia miliki itu adalah pemberian papanya Moetia, sombong sekali dia!" kesal Audrey.


"Darimana kamu tahu?" tanya Austin.


"Dia itu satu angkatan dengan ku, dan kamu tahu yang menjadi penanggung jawabnya di kampus dulu adalah Aries Mahendra, itu nama papanya Moetia. Wanita itu bahkan berlagak dan bilang kalau Theo si bodoh ini mengejar-ngejar nya sejak kuliah. Dia tidak tahu saja kalau si bodoh ini sudah mengejar ku sejak aku SMP!" ucap Audrey panjang lebar karena masih kesal pada Manda.


"Sudah lah! bukankah kemarin kamu sudah mengerjainya. Kamu bahkan membujuk Tante Belinda agar Bagas menemanimu dan tidak mengantarnya pulang!" sahut Austin.


"Sayang, bisakah jangan menyebutku si bodoh! setidaknya jangan di depan dua orang ini!" bisik Theo pada Audrey.


Audrey tidak menanggapi Theo, dia juga kesal pada Theo. Kenapa dulu dia harus bersimpati pada Manda itu.


"Apa Bagas sudah kemari?" tanya Austin pada Reno.


Reno mengangguk, karena wajah Reno berubah sedih. Audrey bertanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Audrey.


"Tadi pagi Bagas bilang bahwa Calista menemuinya!" jawab Reno pelan.


Audrey memukul lengan Theo dengan tas nya.


"Astaga, kenapa perempuan perempuan penyihir seperti itu masih diberi umur panjang. Menyebalkan!" kesal Audrey.


Theo mengusap lengannya yang baru saja di pukul dengan tas oleh Audrey.


"Mau apa wanita itu?" tanya Audrey sangat kesal.


"Bagas bilang dia ingin minta maaf, tapi saat Bagas dan Calista sedang berdua, kebetulan Moetia masuk kedalam ruangan itu.."


"Astaga!" seru Audrey menyela cerita Reno.


"Aku sudah bisa menebak kelanjutannya, Bagas pasti mengusir wanita ular itu kan?" tanya Audrey.


"Wanita itu dalam kondisi yang menyedihkan, Moetia keluar dari ruangan itu tapi saat Bagas akan mengejarnya Calista terjatuh. Jadi Bagas menolongnya dahulu. Sekarang malah dia tidak tahu dimana Moetia!" lanjut Reno.


Audrey memainkan bibir bawahnya karena kesal, matanya sudah memerah.


"Huh, untung saja Bagas tidak ada di depan ku sekarang ini. Jika tidak aku bersumpah akan mematahkan tangannya yang telah menyentuh wanita ular itu!" seru Audrey.


Theo mengelus lembut punggung Audrey.


"Sayang, tenanglah! ini masalah rumah tangga mereka. Sebaiknya kita tidak ikut campur!" jelas Theo.


"Diam! aku tidak bisa hanya diam saja melihat Moetia di perlakukan seperti itu. Seharusnya memang dia jadi kakak ipar ku saja. Jadi dia tidak harus terluka seperti ini!" ucap Audrey tanpa sadar.


"Sayang, kakak ku semua sudah menikah!" sahut Theo tidak mengerti maksud Audrey.


"Apa hubungannya?" tanya Audrey kesal.


"Sudah! sudah!" sela Austin.


"Reno, apa kamu tahu Moetia dimana?" tanya Austin.


"Bagas bilang dia tidak bersama Manda, itu artinya dia bersama sahabatnya yang satu lagi, Gio!" jawab Reno.


Theo baru menyadari apa yang terlewat.


"Pantas saja tadi dia meneleponku, dan menanyakan Moetia datang atau tidak ke lokasi syutingnya Manda!" ucap nya.


"Dasar bodoh! lambat sekali jalan pikiranmu!" seru Audrey kesal.


"Semoga Bagas tidak menemukan Moetia!" seru Audrey lagi.


"Kenapa kamu mendoakan hal tidak baik seperti itu?" tanya Theo.


"Biar lelaki lemah itu tahu rasa, seharusnya dia itu membuang mantan kekasihnya yang jahat itu jauh-jauh. Bukan malah mengasihaninya, aku kesal sekali. Theo, ayo temani aku makan eskrim!" seru Audrey.

__ADS_1


Audrey dan Theo pun akhirnya pergi membeli eskrim. Audrey memang punya kebiasaan makan eskrim untuk mendinginkan hati dan pikirannya yang sedang panas.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2