Dilema

Dilema
Foto Berdua


__ADS_3

Bagas melayangkan tendangannya ke kursi Theo,


"Hei, tuan besar jangan menakuti kekasih mu! jaga image mu bos!" seru Theo yang masih tak kehabisan ide.


Bagas menoleh ke Moetia yang melihatnya dengan sedikit merasa takut.


Bagas menahan emosinya lalu meraih Moetia ke pelukannya.


"Maafkan aku, mereka berdua itu memang berandalan!" seru Bagas melihat ke arah Theo dan Reno bergantian.


Reno terlihat sangat menyesal karena reaksi keterkejutan nya juga berlebihan.


"Maaf ya Moetia, aku sungguh tidak sengaja!" seru Reno.


Moetia menarik dirinya dari pelukan Bagas dan tersenyum pada Reno,


"Tidak apa-apa Ren, hal seperti tadi memang bisa saja terjadi. Jangan di pikirkan, maafkan karena Bagas tadi sudah memukul mu!" seru Moetia lembut.


"Sayang, tapi..." protes Bagas tidak bisa dilanjutkan karena Moetia sudah memberikannya isyarat dengan menggelengkan kepalanya sambil menatap tajam Bagas.


Theo yang melihat Bagas lagi-lagi tidak berkutik di depan Moetia, tertawa lagi sangat puas.


"Ha ha ha, lihat kan Reno. Aku sudah pernah mengatakan bahwa teman kita ini sudah pasti akan masuk persatuan para suami takut istri!" seru Theo lagi.


Moetia sungguh jengah mendengarkan omong kosong Theo.


"Theo, tutup mulut mu atau ku turunkan kamu disini!" seru Bagas.


Theo segera mengunci rapat mulutnya, karena dia tentu saja tidak ingin diturunkan di tengah jalan.


"Jalan Ren!" perintah Bagas.


Reno pun kembali menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil menuju ke Gardent by the Bay.


Sedikit info ya, Garden by the bay Flower Dome adalah sebuah konsevatori dalam ruangan yang memiliki berbagai macam jenis bunga yang pada musimnya akan bermekaran dengan indah.


Taman yang memiliki luas 1,2 hektar ini akan sangat nyaman untuk dijelajahi, terlebih dengan penyesuaian suhu yang selalu dijaga dan teknologi canggih yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.


Umumnya di sini sering berlangsung banyak event, seperti event fotografi, pameran bunga orchid dan masih banyak lagi.


Hal menarik lainnya adalah di dalam Flower Dome ini dekorasinya akan berubah-rubah menyesuaikan event besar yang sedang berlangsung, contohnya, Perayaan hari raya imlek, tahun baru, lebaran dan juga hari besar lainnya.


Beberapa menit kemudian mereka berempat tiba disana, tiket masuk sekitar dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah per orang.


Selama mereka berkeliling Bagas terus saja menggandeng Moetia, sementara Theo yang memang sudah sangat bosan dari awal malah sibuk berselfi ria sambil memposting di akun media sosial nya.


Theo terkejut saat Manda menghubungi nya, Theo menyenggol Reno.


"Ren, Manda telepon. Bagaimana ini?" tanya Theo.


"Angkat saja, menjauh lah dari Bagas dan Moetia!" jawab Reno.


Theo berjalan menjauhi Bagas dan Moetia lalu menerima panggilan masuk dari Manda.


"Hai cantik, kenapa meneleponku? apa kamu merindukan aku?" tanya Theo mengawali percakapan nya dengan Manda.


"Hentikan Casanova, tunangan mu akan mencakar wajahmu jika mendengar kamu merayu wanita lain!" jawab Manda.


Theo terkekeh,

__ADS_1


"Tunangan ku tidak bar-bar seperti dirimu cantik!" sahut Theo.


"Oh ya, kenapa menelpon ku? jika tidak merindukan aku?" tanya Theo lagi.


"Eh Theo, kamu di Singapura?" tanya Manda.


"Iya, aku tadinya ingin menemui tunangan ku. Tapi dia ada kepentingan lain. Jadi aku jalan-jalan saja. Sudah disini juga kan!" jawab Theo.


"Apa kamu tahu, Moetia juga di Singapura bersama Bagas dan karyawan lainnya?" tanya Manda.


"Aish, cantik. Mereka itu bekerja. Dan aku berlibur. Aku tidak mungkin mengganggu mereka." jawab Theo pura-pura tidak tahu Bagas dan Moetia ada di sini.


Reno yang mendengar Theo berbohong hanya menggeleng kan kepalanya, Reno berfikir kadang kala Theo yang konyol bisa juga jadi sahabat yang baik dan pengertian.


"Bawakan aku oleh-oleh ya!" seru Manda.


"Tenang saja, saat aku kembali nanti. Orang pertama yang akan aku beri oleh-oleh adalah kamu. Sudah dulu ya, bye cantik!" seru Theo.


"Bye Theo," sahut Manda.


Setelah selesai menelpon Theo mendekati Reno.


"Ren, kita pergi saja dari sini. Dari dulu aku tidak suka pelajaran sejarah dan seni." seru Theo.


Reno mengangguk paham,


"Baiklah, kita bisa menunggu Moetia dan Bagas di coffe shop di depan tadi!" sahut Reno.


Theo mengangguk,


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? let's go!" serunya merangkul Reno.


"Ada apa?" tanya Theo.


"Ck, aku masih normal. Jangan dekat-dekat!" seru Reno.


Theo terkekeh,


"Astaga Reno, apa maksudmu? aku bahkan lebih normal darimu!" kekeh Theo berjalan menyusul Reno yang sudah lumayan jauh meninggalkannya di depan.


Bagas masih terus memandangi Moetia yang terlihat sangat takjub dengan pemandangan di tempat yang mereka datangi ini.


"Bukankah semua ini sangat sempurna?" tanya Moetia.


Bagas mengangguk paham,


"Inilah jika tangan dan otak manusia di gunakan di jalan yang benar, hasilnya sungguh menakjubkan!" seru Moetia lagi sangat antusias.


"Kamu mau ber fhoto dengan ku?" tanya Bagas


Moetia mengangguk dan mendekat pada Bagas, mereka mengambil beberapa gambar yang sangat bagus.


Ide jahil muncul di kepala Bagas, saat mereka akan berselfi lagi, Bagas mencuri ciuman di pipi Moetia dan memotret nya.


"Bagas!" protes Moetia sambil memukul lengan Bagas.


"Cepat hapus!" seru Moetia sambil mencoba meraih ponsel Bagas yang sengaja Bagas jauhkan agar Moetia tidak bisa meraihnya.


Bagas malah menjauh dari Moetia dan menyimpan ponselnya di kantong celananya.

__ADS_1


Moetia kesal dan menghentikan langkahnya ketika ponsel Bagas sudah masuk ke kantong celana Bagas.


"Ambil, kalau berani!" seru Bagas.


Moetia memicingkan matanya,


"Sudahlah!" kesal Moetia lalu berjalan meninggalkan Bagas.


Bagas mengejar Moetia dan mensejajarkan langkahnya dengan Moetia,


"Hei, kenapa memang kalau kita berfoto berdua?" tanya Bagas.


Moetia menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya,


"Bukan masalah foto berdua nya, masalahnya adalah pose dalam foto itu!" seru Moetia menghentikan langkahnya lalu berdiri di depan Bagas.


"Memangnya kamu tidak takut, foto itu akan menyebar lalu kita kembali viral?" tanya Moetia.


Bagas menggeleng kan kepalanya,


"Tidak, memangnya kenapa? semakin banyak yang tahu hubungan kita semakin bagus." sahut Bagas.


"Hei, kemarin saja kamu memberikan aku apartemen mu sebagai kompensasi, lalu jika ini viral lagi kamu akan berikan apalagi sebagai kompensasi?" tanya Moetia menggertak Bagas.


Bagas tersenyum lalu menarik tangan kanan Moetia, dia meletakkan telapak tangan Moetia di dadanya sebelah kiri.


"Nyawa ku!" ucap Bagas lembut.


Moetia segera menarik tangannya dari dada Bagas lalu dengan cepat menutup mulut Bagas dengan tangannya itu.


Moetia menggeleng kan kepalanya perlahan,


"Diam, jangan berkata seperti itu. Jangan bicara sembarangan seperti itu!" seru Moetia sedih bercampur kesal.


Bagas meraih tangan Moetia yang tadi menutup mulutnya dan mengecupnya lembut,


"Aku hanya menjawab pertanyaan mu, kamu lebih berharga dari apapun yang aku miliki, bahkan nyawa..."


Moetia tidak ingin Bagas melanjutkan kalimatnya, refleks Moetia memeluk Bagas dengan erat hingga membuat Bagas terdiam.


Bagas merasa jantungnya berdetak dengan kencang, Bagas mengulas senyum indah di bibirnya.


Baru kali ini Moetia berinisiatif memeluknya, rasanya Bagas sangat bahagia.


Moetia menarik dirinya dan menangkup pipi kanan Bagas dengan tangan kanannya,


"Berjanjilah, kamu tidak akan bicara seperti itu lagi. Untuk apa kamu mengorbankan nyawa mu demi aku, kalau kamu tidak ada. Aku pun tak mau hidup lagi!" lirih Moetia.


Bagas sangat terharu mendengar pernyataan Moetia, dia pun refleks meraih Moetia kembali ke dalam pelukannya.


...😘😘😘😘😘😘😘😘...


Hai semuanya....


Terimakasih atas dukungan kalian semua...


I love u all ❤️❤️❤️


Tetap berikan Like, Komentar dan Favorit kalian ya. Karena semua itu bisa bikin author ini tambah semangat 💪💪💪

__ADS_1


Think u ❤️❤️❤️


__ADS_2