Dilema

Dilema
Part 48 Menenangkan diri


__ADS_3

Semenjak kejadian itu aku beberapa hari tinggal di rumah Bu Sri, untuk sementara, aku juga tak mau bertemu dengan Andre, aku malas sekali melihat wajahnya, hati ini masih sakit.


Pak Riki setiap hari ke rumah Bu Sri.


Dia juga tak pernah absen untuk menayakan kabarku, entah dari pesan chat sampai menelpon, kalau gak diangkat dan di balas , jadi lah Bu sri yg disuruh menanyakan padaku.


Dia selalu membawakan empek-empek kesukaan Bu Sri.


"Aduh pa, masa empek-empek terus sih" kata Bu Sri.


" Ibu kan suka itu" ucap Pak Riki.


"Lah gak tiap hari juga kali" Ucap Bu Sri lagi.


"Terus gimana ?" Pak Riki bertanya.


Aku hanya tertawa.


"Ya ganti-ganti lah.." Kata Bu Sri lagi


"Ya saya gak tau" Sahut Pak Riki


"Masa kesukaan saya terus" ujar Bu Sri lagi


"Bu Nadia Bagaimana! bawakan lah apa juga kesukaan Bu Nadia" Saran Bu Sri


"Memamgnya Bu Nadia mau apa" Kata Pak Riki


"Loe Bapak ini, suka sama Bu Nadia malah ga tau kesukaannya apa" Sahut Bu Sri sambil mencebik.


Pak Riki hanya tertawa, .


Kemudian dia pamit pergi


*

__ADS_1


Tak berapa lama


"Ya ampun pak! Ini apa banyak banget" Kata Bu Sri kaget.


"Kesukaan nadia kan ?" Sahut Pak Riki


"Ini semua? buat apa pak? " penuh tanya Bu Sri


"Makan-makan sama semua" Sahut Pak Riki santai


Kami hanya tertawa.


"Bu ajak anak ibu kesini semuanyanya sama suami ibu juga" Kata Pak Riki.


"Iya, Pak Riki ini ko!" Kata Bu Sri lagi


"Gimana lagi ini, bingung saya" Pa Riki mengangkat bahu dan ber ekspresi lucu.


akhirnya hanya tertwa saja jasinya melihat kelakuan Pak Riki.


*


"Saya besok ingin pulang, tolong izinkan saya di sekolah" Kata ku


"Bu pulang kemana, saya jangan di tinggal" Kata Pak Riki.


"hahaa" Bu sri tertawa.


"Saya ingin menenenangkan diri" Ucapku


"Baiklah Bu, jangan lama-lama"


"Saya tunggu disini"


"Jangan sama laki laki lain"

__ADS_1


"Bisa stres saya"


Lagi-lagi Bu Sri tertawa, aku hanya nyengir saja.


Pak Riki itu Selalu seperti itu, kadang membuat hati ini terasa gimana gitu dengan sikapnya.


*


Sampai rumah Ibu, aku sangat senang sekali


Anakku langsung berlari ke pelukan ayah, akupun menciun tangan kedua orang tuaku , dan aku segera masuk lalu mandi serta istirahat di kamarku.


Kamarku masih terawat masih rapi dan bersih, kuambil seprei baru di lemari dan ku ganti, kemudian ku rapikan dan membaringkan tubuh ini.


Teringat kenamgan di kamar ini, serasa seperti dulu pada waktu aku menempati kamar ini.


Tak berapa lama ibu masuk ke kamar dan menanyakan kenapa aku pulang hanya bersama Faira.


Tapi aku hanya memeluk ibu, ibu pun mengelus rambutku, nanti saja cerita nya kalau sudah tenang katanya, sebaiknya makan dulu itu saja yang dikatakan ibu, aku hanya menurut.


*


Setelah anakku tidur akupun bermaksud mengatakan dan menceritakan semuanya, ku tunghu anakku tidur dan akan becerita di ruang keluarga di rumah Ibu.


Akupun menceritakan semuanya pada orang tuaku dan mereka awalnya terkejut, Ibu marah, yah memang aku disalahkan.


Karena Andre memang adalah pilihanku, dan dulu Ibu dan Ayah tak menyetujuinya, tapi setelah aku ceritatakan masalah kami,mereka mau mengerti dan menerima.


Apabila memungkinkan, mereka akan datang saat sidang perceraian ku nanti.


Keputusanku ingin memperlihatkan Foto sidang atau memperlihatkan bukti yang lain tak kulakukan.


aku sangat benci Andre setelah penghianatan ini, dan aku tak ingin terlalu dalam menyakiti orang tuaku.


Cukup aku bercerita , itupun aku tak tega membuat kecewa dan sakit di hati mereka.

__ADS_1


__ADS_2