
Sore harinya, Bagas dan Reno harus menghadiri sebuah pertemuan penting. Dan yang dilakukan Moetia hanyalah menonton drama Korea di laptopnya.
Theo yang juga sedang bosan, akhirnya memutuskan untuk mengajak Moetia jalan-jalan.
Theo mengetik pintu kamar Moetia dan masuk ke dalam kamar Moetia,
"Hei wanita, sedang apa?" tanya Theo lalu menghampiri Moetia.
"Yang kamu lihat aku sedang apa?" tanya Moetia balik.
Theo mendengus kesal lalu duduk di sofa di sebelah Moetia.
Theo melirik sekilas apa yang Moetia tonton,
"Hei wanita, bagaimana kalau kamu ikut aku jalan-jalan saja. Bukankah kamu suka makan cemilan? disini ada suatu tempat yang banyak jajanannya kalau sore menjelang malam begini!" kata Theo.
Moetia menoleh sekilas pada Theo,
"Kamu yang traktir ya!" sahut Moetia.
"Tentu saja, cepat ganti pakaian mu!" seru Theo.
Moetia menutup laptopnya lalu mengambil kemeja di lemarinya,
"Hei, apa kamu tidak punya mini dress atau semacamnya? kenapa pakaian mu hanya kaos dan kemeja Moetia?" tanya Theo memprotes gaya berpakaian Moetia.
"Jadi atau tidak?" tanya Moetia tegas.
"Baiklah, baiklah. Pakai apapun yang kamu suka!" sahut Theo dengan cepat.
Moetia masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian Moetia keluar dengan riasan tipis dan menjepit setengah rambut nya dengan jepitan rambut kecil.
Theo sempat terpana melihat Moetia yang keluar kamar mandi sambil tersenyum padanya.
Melihat Theo bengong dan pipinya yang putih mulus sedikit memerah, Moetia tidak sabar untuk mengejeknya.
"Hei, jangan pandang aku begitu, jika tidak penanam modal lima puluh lima persen di perusahaan mu itu akan segera menarik sahamnya dari perusahaan mu!" sindir Moetia.
Theo segera memalingkan pandangannya ke tempat lain,
"Siapa yang sedang memandang mu, jangan terlalu percaya diri." bantah Theo.
Moetia berdecak kesal,
"Sudahlah, ayo kita pergi. Oh ya, kirim pesan pada Bagas. Jika saat dia kembali tidak melihatku disini, dia akan cemas!" seru Moetia.
Theo memperhatikan kata-kata Moetia, dia sudah seperti sangat mengenal Bagas. Sedangkan dirinya tidak pernah bisa mengerti Audrey, begitupun sebaliknya. Meskipun mereka saling mencintai.
"Aku harus tulis apa?" tanya Theo.
"Apa aku harus mengajari mu? ayolah tuan Theodore Denisovich, kemana perginya semua bualan dan mulut mu yang pandai bicara itu?" tanya Moetia kesal.
"Kamu cerewet sekali Moetia, aku kan bertanya satu kalimat kenapa kamu membalasnya tiga puluh kalimat?" kesal Theo.
Moetia menghela nafasnya dan meletakkan kembali tasnya di atas kursi.
"Mau pergi atau tidak?" tanya Moetia.
Theo membulatkan matanya,
__ADS_1
"Oke, oke! kita berangkat. Aku akan tulis pesannya sekarang!" seru Theo sambil keluar dari kamar Moetia.
Moetia dan Theo pergi menaiki mobil sewaan mereka menuju ke tempat jajanan kaki lima yang biasa berjualan saat malam hari.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di area China town food street.
Moetia turun dari mobil dan berjalan bersama Theo berkeliling,
"Wah, Theo ini seperti festival jajanan! ramai sekali!" seru Moetia sangat senang.
"Pilihlah apapun yang kamu suka, aku akan membelikannya untukmu!" sahut Theo sombong.
Moetia tersenyum senang,
"Baiklah, aku tidak akan malu-malu!" balas Moetia.
Moetia terlihat menghampiri sebuah kios penjual martabak yang aromanya sangat lezat tercium oleh indera penciuman Moetia.
Theo mendekati Moetia,
"Kamu alergi makanan laut tidak, itu martabak kerang!" seru Theo mengingatkan Moetia.
Moetia menggeleng dengan cepat,
"Tidak, aku tidak alergi kerang. Aku mau itu Theo!" ucap Moetia sambil tersenyum.
Theo benar-benar dibuat sedikit heran dengan wanita di hadapannya ini. Tadi di jalan dia mengajak Moetia ke Clarke quay. Pusat hiburan malam yang menyenangkan, mereka bisa makan makanan mahal dan minum lychee Martini tapi Moetia menolaknya.
Dia ingin pergi ke tempat yang biasa saja, akhirnya Theo mengajak Moetia ke tempat ini.
Wanita lain tentu saja memilih pilihan pertama, termasuk Calista dan Audrey mereka lebih suka menikmati malam di Clarke quay.
Dia dengan cepat membukanya dan mencium aroma martabak kerang yang sangat lezat.
"Em, ayo cari minumannya. Aku mau mencicipi ini!" seru Moetia menarik tangan Theo ke sebuah kios penjual jus buah.
"Theo, kamu mau jus apa?" tanya Moetia.
"Kamu saja, aku akan beli kopi di sebelah sana!" jawab Theo sambil menunjuk sebuah kios yang menjual kopi.
Moetia mengangguk setuju,
"Baiklah, kita bertemu di tempat duduk disana itu ya!" serunya tanpa menunggu jawaban Theo dan langsung memesan jus semangka yang kelihatan nya sangat manis dan segar.
Setelah pesanannya jadi, Moetia menghampiri Theo yang sudah lebih dulu duduk di deretan bangku panjang yang memang tersedia disana.
"Em, enak sekali. Cobalah!" seru Moetia dengan mulut yang penuh dengan makanan yang baru saja dia lahap.
Theo sedikit ragu, tapi karena Moetia terlihat sangat menyukai nya Theo pun ingin mencobanya.
Theo mengambil sedikit dan memakannya,
"Lumayan!" kata Theo.
Moetia tersenyum,
"Menurut ku ini sangat enak Theo, aku belum pernah memakan ini sebelumnya. Ayo coba lagi!" ucap Moetia menyodorkan sepotong lagi ke arah mulut Theo.
Theo terkejut, tapi dia membuka mulutnya dan memakan makanan yang itu.
'Dia menyuapi ku? apa wanita ini menganggap menyuapi seorang pria itu tidak apa-apa?' batin Theo merasa kurang nyaman.
__ADS_1
Theo mulai sedikit salah tingkah, tapi kemudian ponsel nya berdering.
Theo sedikit menjauh dari Moetia. Melihat Theo menjauh ketika mengangkat telepon Moetia mengira Audrey lah yang sedang menghubunginya.
Setelah beberapa saat Theo kembali dan meminum kopinya,
"Tidak penasaran siapa yang menelepon ku?" tanya Theo.
Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya,
"Tidak, bukan urusan ku!" sahut Moetia santai.
Theo sedikit gemas mendengarkan jawaban Moetia,
"Sudah kenyang atau ingin makan yang lain?" tanya Theo lagi.
"Sudah cukup, tapi kita bisa membelikan makanan lain lalu kita bawa ke hotel untuk Bagas dan kak Reno!" seru Moetia bersemangat.
Theo menaikkan alis nya mendengar Moetia menyebut kata kak, di depan nama Reno.
"Kak Reno?" tanya Theo kepo.
"Iya, ada masalah? dia lebih tua dariku jadi aku panggil kak! tidak mungkin kan jika aku memanggilnya adik!" jelas Moetia.
"Lalu kenapa tidak memanggilku kak, juga? aku juga kan lebih tua darimu!" protes Theo.
"Tidak tertarik! Aku tidak ingin punya kakak seperti mu!" ucap Moetia cuek.
Theo ingin sekali mencubit pipi Moetia yang mengembung karena makanan yang penuh di mulutnya. Tapi dia urungkan karena ada yang lebih penting.
Theo terus membawa Moetia berkeliling hingga pukul sebelas malam, Moetia sudah sangat lelah.
Moetia berjongkok dan mengeluh pada Theo,
"Theo, aku lelah. Kenapa kita harus jalan kaki sih. Bukannya tadi kita perginya naik mobil?" keluh Moetia.
"Kamu tidak sadar kita ada dimana sekarang?" tanya Theo.
Moetia melihat ke sekitar, banyak sekali pasangan dan orang-orang yang berkumpul sambil mengobrol seperti menunggu sesuatu.
"Sangat ramai, tapi kenapa kita kemari?" tanya Moetia.
"Bagas dan Reno rapat di tempat itu!" ucap Theo sambil menunjuk sebuah bangunan mewah seperti restauran bintang lima atau semacamnya.
Moetia berbalik dan ingin pergi,
"Lebih baik kita kembali ke hotel saja!" seru Moetia yang masih tidak ingin bertemu dengan Bagas.
Theo menghalangi Moetia,
"Tadi yang menghubungiku adalah Bagas, kamu tahu demi kamu dia sudah menyiapkan segala nya disini, jadi Moetia aku mohon padamu jangan membuat kerja keras Bagas di sela kesibukkan nya ini sia-sia!" jelas Theo.
Moetia berbalik,
"Baiklah, dimana dia?" tanya Moetia
...😘😘😘😘😘😘😘😘😘...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...
...Terimakasih ❤️❤️❤️...
__ADS_1