
Moetia dan Bagas menuju lantai tiga, dimana mereka dulu makan malam bersama dan Bagas menyatakan perasaannya pada Moetia.
Moetia masuk ke dalam ruangan itu dan dia kembali dibuat terpana, karena ruangan itu dihias lagi sama seperti saat Bagas dan dirinya makan malam waktu itu.
Moetia terharu, sangat terharu. Moetia menoleh ke arah Bagas yang berdiri di belakangnya.
"Ini semua..."
Bagas menyela Moetia
"Untuk mu!" sahutnya lembut sambil meraih tangan kanan Moetia lalu mengecup punggung tangannya.
Moetia kembali berkaca-kaca,
"Terimakasih," jawab nya lembut.
Bagas menuntunnya ke arah balkon dan meminta Moetia melihat ke arah kanan, disana ada taman yang masih gelap.
Kemudian ada tiga orang yang menyalakan lilin yang membentuk kata ' I Love U ' .
Air mata Moetia menetes begitu saja, dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
Moetia menoleh ke arah Bagas lalu memeluknya.
"I love you Moetia, aku sangat mencintai mu!" bisik Bagas di telinga Moetia.
Moetia menarik dirinya lalu menatap Bagas,
"I love you too, terimakasih!" jawab Moetia.
Dan setelah lima menit kemudian, lampu di area taman dinyalakan.
Moetia terkejut bahwa ternyata yang menyalakan lilin-lilin itu adalah Reno, Theo dan Austin.
Moetia tertawa melihat Theo berkacak pinggang dan kelihatan kesal. Sementara Austin hanya tersenyum dan merangkul pundak Reno yang terlihat lelah.
"Ternyata mereka bertiga!" seru Moetia tidak percaya.
Bagas mengangguk lalu merangkul Moetia dan melambaikan tangannya pada ketiga teman yang sudah membantunya tadi.
"Kamu senang?" tanya Bagas
Moetia mengangguk cepat,
"Iya, tapi aku rasa kamu harus membayar cukup mahal untuk meminta dua orang CEO perusahaan besar itu menyalakan lilin untukku!" ucap Moetia
"Lumayan, tapi sebanding dengan kebahagian mu!" seru Bagas kembali memeluk Moetia.
"Hei, hentikan kemesraan kalian. Bisakah kami ke atas sekarang!!" teriak Theo dari bawah.
Bagas melambaikan tangan nya,
"Naiklah!" seru Bagas.
Bagas lalu mengajak Moetia naik ke lantai empat untuk makan malam bersama Theo, Austin dan Reno.
Moetia sedikit sedih harus keluar dari ruangan tadi,
"Ada apa?" tanya Bagas yang melihat Moetia sudah tidak tersenyum lagi.
"Sayang sekali, kamu sudah menghabiskan banyak uang untuk mempersiapkan semuanya. Tapi kenapa kita tidak makan malam disana saja?" tanya Moetia
Bagas tersenyum,
__ADS_1
"Sayang, sejak kamu menjadi kekasihku, ruangan itu sudah ku sewa selamanya!" jelas Bagas.
Moetia sampai membulatkan matanya
"Selamanya?" tanya Moetia tak percaya
Bagas mengangguk yakin,
"Jadi, tidak akan ada yang memakai ruangan itu selain kita berdua. Termasuk Austin dan yang lain!" jelas Bagas lagi.
"So sweet!" ucap Moetia spontan.
Bagas berdecak kesal,
"Pakailah kata lain, aku tidak suka kata so sweet itu!" sahut Bagas berjalan mendahului Moetia.
Moetia hanya tersenyum dan mengikuti Bagas dari belakang.
Bagas berhenti di sebuah ruangan bertuliskan VVIP.
Bagas menggandeng Moetia dan masuk ke dalam.
Di dalam sudah ada tiga orang sahabat Bagas. Ruangan itu lebih besar bahkan ada meja biliard dan pingpong.
Bagas mengajak Moetia duduk di tempat dia biasa duduk kalau berada di ruangan itu.
"Hei nona, apa kamu tidak mau mengucapkan terimakasih padaku!" seru Theo terus terang.
Bagas melempar Theo dengan bungkus rokok milik Reno.
Plak!
"Dia kakak ipar mu! perhitungan sekali kamu!" protes Bagas.
Moetia ingin tertawa tapi dia tahan, sementara Austin dan Bagas sudah tertawa puas melihat Theo kesal.
"Terimakasih Theo!" seru Moetia sambil menahan tawanya.
"Aku bingung, kakak ipar satu lagi yang mana?" tanya Reno.
Austin makin tergelak, lalu dia merangkul pundak Reno.
"Sudah jangan dipikirkan, nanti kamu stress Reno!" seru Austin.
Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan datang.
Bagas terlihat sibuk memilihkan makanan untuk Moetia ke piring Moetia.
Ketiga orang di hadapan mereka yang sudah lebih dari 25 tahun mengenal Bagas pun terheran-heran melihat kelakuan Bagas.
Mereka juga ikut makan, tapi mata Theo terus saja memandang ke arah Moetia dan Bagas yang membuatnya iri.
"Wah, kelihatan banget. Bagas bentar lagi jadi anggota SSTI nih!" seru Theo menyindir Bagas.
Austin menghentikan kegiatan makannya dan menoleh pada Theo,
"SSTI apaan Theo?" tanya Austin.
"Itu bos, Suami Suami Takut Istri. Iya kan bos Theo?" tanya Reno.
Dan Theo mengangguk dengan cepat,
"Enak aja, kalaupun aku jadi anggota SSTI, bukan seperti yang Reno katakan tadi. Tapi Suami Sayang To Istri," bantah Bagas.
__ADS_1
Austin sampai tersedak,
"Uhuk, Moetia. Virus apa yang kamu berikan pada Bagas? seperti nya dia sudah tidak tertolong!" goda Austin.
Dan perkataan Austin membuat yang lain tergelak, bahkan Bagas.
"Virus Cinta," jawab Bagas bangga
Theo sampai menggeleng kan kepalanya melihat perubahan sikap Bagas yang menurut nya fantastis.
Bagas yang satu setengah tahun lalu dia kenal sangat depresi. Kini menjadi Bagas yang luar biasa berbeda.
Bagas sahabatnya itu menjadi orang yang begitu narsis di hadapan Moetia.
Theo memandang Moetia dengan seksama, ingin tahu apa yang istimewa dari wanita di hadapannya itu.
'Dia cantik, tapi menurutku lebih cantik Manda. Dia manis postur tubuhnya, dia tidak langsing badannya bahkan sedikit berisi. Lalu cara bicaranya, biasa saja. Apa yang membuat Bagas begitu mencintai nya?' Theo terus bertanya-tanya dalam hati tanpa melepas pandangannya pada Moetia.
Bagas melihat tingkah konyol Theo itu dan melemparkan garpu nya ke piring Theo.
"Jaga matamu tuan muda!" seru Bagas memperingatkan Theo.
Theo berdecak kesal,
"Mengganggu saja, aku sedang membandingkan dua kakak ipar ku." jawab Theo.
Moetia memang selalu dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Theo.
"Jangan membandingkan kami, Manda pasti jauh lebih baik dariku." sahut Moetia yang mulai jengah pada Theo.
Bagas menggenggam tangan Moetia,
"Jangan dengarkan dia, mungkin dia masih jet lag." balas Bagas melirik tajam Theo.
"Benar Moetia, aku juga heran. Bagaimana adikku bisa jatuh cinta pada pria tidak waras seperti dia!" sambung Austin.
Moetia tersenyum,
"Seperti itulah cinta, kita tidak akan pernah tahu kapan dan pada siapa kita akan jatuh cinta." Ucap Moetia lembut sambil menatap mata Bagas yang juga sedang menatapnya.
"Benarkah? aku jadi penasaran! Bagas pacarmu yang ke berapa?" tanya Theo menatap Moetia.
"Yang pertama dan yang terakhir!" jawab Bagas dengan yakin dan bangga.
Theo sedikit terkejut,
"Benarkah? tahun milenial begini. Kamu baru pertama kali pacaran! mustahil!" ucap Theo tak percaya.
"Bagas benar, Moetia adalah karyawan ku. Dia sudah bekerja selama dua tahun lebih di perusahaan ku, dan dia tidak pernah dekat dengan siapapun sebelum Bagas!" terang Austin.
Theo makin terkejut lagi,
"Tanya kan saja pada Manda jika kamu tidak percaya!" seru Reno ikut membela Moetia.
Theo melirik lagi ke arah Moetia, makin memandangnya Theo makin ingin terus memandangnya.
'Astaga, apakah ini yang membuat Bagas jatuh hati dan begitu mencintai nya!' batin Theo segera memalingkan pandangannya ke arah lain.
...💕💕💕💕💕...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...
...Think u ❤️❤️❤️...
__ADS_1