
Moetia sudah sampai di kantor, beberapa orang yang baru datang melihatnya dengan tatapan sedikit aneh.
Moetia tersenyum pada mereka, ada beberapa yang membalas senyuman nya. Tapi ada juga yang malah berdecak kesal lalu pergi. Bahkan ada yang sengaja menghindari nya.
Merasa ada yang aneh, Moetia menuju ke ruangan sekertaris, dia ingin mencari Vivian. Tapi Moetia tidak menemukan Vivian disana.
Moetia menghampiri Septi teman Vivian.
"Pagi Septi, Vivian belum datang?" tanyanya pada Septi.
Septi menoleh lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Belum, rencananya hari ini beberapa karyawan akan menjenguk pak Reno di rumah sakit!" jawab Septi datar.
Moetia menarik kursi yang ada di dekatnya lalu duduk di sebelah Septi.
"Septi aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Moetia pelan.
Septi mengangguk lagi,
"Apa kamu mendengar sesuatu yang aneh tentang aku, maksudku apa ada gosip tentangku?" tanya Moetia hati-hati.
Septi diam sebentar, lalu dia meminta Moetia mendekat padanya.
"Kami mendengar bahwa kamu diangkat jadi sekertaris pribadi pak Bagas, apa itu benar?" tanya Septi.
Moetia malah terkejut, cepat sekali berita yang baru di bicarakan Bagas tadi sore, pagi ini sudah beredar di perusahaan.
"Apakah itu hal yang aneh? maksud ku! apa menjadi sekertaris pribadi pak Bagas itu adalah hal yang aneh?" tanya Moetia.
"Semua sekertaris pak Bagas itu biasanya adalah pria paruh baya, dan mereka tidak pernah bertahan lama. Baru kali ini ada sekertaris pribadi wanita apalagi kamu kan bukan karyawan tetap perusahaan ini, tentu saja akan terdengar aneh dan tidak wajar!" jelas Septi.
"Lalu apakah sebaiknya aku mengundurkan diri saja?" tanya Moetia pada Septi.
"Hei, kenapa memusingkan orang lain. Aku dan Vivian juga selalu jadi bahan gosip karyawati-karyawati yang tidak kompeten itu!" seru Septi.
"Maksudnya?" tanya Moetia.
"Iya, yang membicarakan kita di belakang itu sebenarnya karena mereka tidak punya keberanian bicara di depan kita, mereka mungkin hanya iri tanpa mengetahui kemampuan kita, enak saja mereka mengatai kita pakai cara licik lah, jalan belakang lah, padahal mereka sendiri yang tidak punya kemampuan. Hah... aku dan Vivian sudah kenyang dengan sikap acuh beberapa karyawan yang maha sirik itu!" keluh Septi.
Moetia malah mengulas senyum kecil di bibirnya melihat Septi yang justru seperti sedang curhat padanya.
Moetia menepuk bahu Septi perlahan.
"Sabar ya Septi !" seru Moetia.
"Jadi, apa itu benar?" tanya Septi.
__ADS_1
Moetia malah terkekeh karena ternyata Septi juga penasaran.
"Iya, tapi bukan pak Bagas yang memintaku jadi sekertaris pribadi nya. Semua itu bos besar yang mengatakan nya padaku, tapi mungkin hanya sementara sampai pak Reno bisa kembali bekerja lagi!" jelas Moetia.
"Begitu ya! jadi bos besar. Tenang saja Moetia, aku akan membantumu membersihkan namamu dari gosip-gosip tidak benar itu! aku juga kesal dengan mereka yang selalu berdandan menor dan bergosip, padahal kinerja mereka membuat pak Reno dan pak Edi geleng-geleng kepala!" seru Septi lagi.
"Baiklah, aku akan ke ruangan ku dulu. Sabar ya Septi!" ucap Moetia sambil menggeser kursi tadi ke tempatnya.
"Untuk mu juga Moetia!" sahut Septi.
Moetia lalu pergi ke ruangan nya, dia melewati ruangan Bagas yang sepertinya sangat sepi.
"Apa dia belum datang?" gumam Moetia berhenti sebentar di depan pintu ruangan Bagas.
Moetia kembali melanjutkan langkahnya lagi dan masuk ke dalam ruangannya.
Ketika dia membuka pintu, dia terkejut melihat ruangan nya yang sudah berubah.
Semua interiornya sangat berbeda. Moetia lebih terkejut lagi melihat Bagas berdiri di hadapan nya membawa setangkai bunga.
"Bagas!" ucap Moetia sambil menghela nafas.
"Selamat pagi sekertaris pribadiku yang paling cantik sedunia, i love you!" seru Bagas sambil memberikan setangkai bunga itu pada Moetia.
Moetia sangat terharu, dia meraih mawar itu dan berterima kasih pada Bagas.
Bagas menggandeng tangan Moetia lalu mengecupnya lembut.
"Bagaimana? apa kamu suka dengan dekorasi ruangan mu?" tanya Bagas.
"Aku tahu sekarang, kenapa para karyawan mu yang lain membicarakan masalah pengangkatan ku menjadi sekertaris pribadi mu! pasti karena perubahan pada ruangan ini!" seru Moetia.
"Apa yang mereka katakan? aku akan memecat mereka jika mereka mengatakan hal buruk tentang mu!" seru Bagas kesal.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Moetia.
"Semalam, aku hanya ingin istriku tercinta ini merasa nyaman saat dia bekerja!" jawab Bagas lalu memeluk Moetia dari belakang.
"Bagas, ini di kantor!" protes Moetia.
Bagas mengalah dan menjauh sedikit dari Moetia.
"Sayang, maaf ya tadi malam aku tidak jadi ke rumah mu!" sesal Bagas.
Mendengar kata Bagas itu, Moetia kembali ingat kejadian semalam saat Marvin datang menemuinya secara diam-diam.
Moetia ragu untuk mengatakannya pada Bagas.
__ADS_1
Bagas meraih dagu istrinya itu dan mengecup bibir Moetia dengan cepat.
"Bagas!" protes Moetia lagi sambil mendorong Bagas menjauh.
"Ini di kantor! tahan dirimu!" seru Moetia.
Bagas malah terkekeh geli melihat Moetia marah.
"Maaf sayang, habisnya kamu tadi melamun. Aku kira kamu kecewa aku tidak datang!' ucap Bagas memberi alasan.
"Tapi jangan begitu! bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masuk?" tanya Moetia.
"Sayang kita ini suami istri, kenapa aku harus takut ketahuan orang lain saat mencium istri ku sendiri!" bantah Bagas.
Moetia mengalah, dia segera mencoba kursi kerja barunya.
"Bagas, apa yang harus kulakukan. Apa aku harus mencatat dan menjadwalkan setiap janji temu untukmu seperti yang kak Reno lakukan?" tanya Moetia mengalihkan perhatian Bagas.
Bagas mendekati Moetia dan duduk di tepi meja.
"Boleh juga, tanyakan pada Vivian dan pak Edi tentang jadwalku hari ini!" jawab Bagas sambil memainkan rambut Moetia.
Bagas tiba-tiba ingat apa yang telah dia katakan pada Belinda. Bahwa Vivian adalah pacar Reno
"Sayang, aku kemarin bilang pada ibu kalau Reno dan Vivian berpacaran!" seru Bagas.
"Apa!" seru Moetia terkejut.
"Bagas, bagaimana bisa. Kak Reno pasti akan.."
"Hei, aku katakan itu karena aku tidak ingin ibu terus-menerus mendekatkan mu dengan Reno! meskipun kamu menganggapnya kakak, tapi aku cemburu!" jujur Bagas.
Moetia menatap wajah Bagas yang sepertinya memang sangat tidak nyaman.
"Maafkan aku, baiklah aku akan bicarakan itu dengan kak Reno nanti. Sekarang aku akan menemui pak Edi!" ucap Moetia lalu berdiri sambil meraih tablet yang berada di atas meja.
"Sayang, jangan pergi! telepon saja pak Edi!" seru Bagas menahan Moetia.
"Bagas, ayolah. Kita harus profesional saat di kantor. Aku adalah sekertaris mu dan kamu adalah bos ku!" tegas Moetia.
"Lalu jika di rumah?" tanya Bagas menggoda Moetia.
Moetia berdecak kesal dan mencubit kecil perut suaminya sebelum pergi menemui pak Edi.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terimakasih ❤️❤️❤️...