
"Mas antar ya ke sekolah" kata suamiku ketika aku sedang memakai jilbab di kamar dan menghadap cermin.
"Gak usah Mas" sahut ku.
"Ini mau hujan kayaknya, tuh liat mendung" katanya lagi.
"Ga usah mas, masih mendung kan belum turun hujan, lagian ini masih pagi belum terlalu macet di jalan, jadi cepat aja sampai" kata ku panjang lebar.
"Ya sudah aku duluan" ucap suamiku
Akupun menciun tangannya.
Anakku sudah di antar ke sekolah tadi pagi, kemudian suamiku itu pulang lagi, katanya ada yang ketinggalan.
**
aku tak mau diantar olehnya, selama masih bisa berangkat sendiri ke sekolah, lebih baik aku sendiri, aku malas berdebat dan kadang mengomel saja kerjanya.
Awalnya memang manis dengan mengantar atau mengajak, tak sampai sepuluh menit berjalan , jadilah dia ngomong kemana-mana ujungng-ujungnya mengomel tak jelas, dan akhirnya marah padaku.
Aku tak mau lagi deperti itu, sudah cukup rasanya hati ini di pasang surutkan seperti air, sebentar aku dibuat bahagia dengan perlakuan manis dan mengantarku setelahnya k***r dari mulutnya yang membuat bathin ini sakit.
"Sudah diantar masih saja kayak gitu, bela-belain mengantar aku loe juga kerja" katanya
"Kan mas yang mau nganterin" kataku
"Alah kamu ini aku juga kerja" katanya setengah berteriak
"Mana pernah aku makai uang kamu, di pakai sendiri tanpa kasih ke suami, ini loe bensin di beli pake uang"
Degh.
Astagfirullahaladzim
__ADS_1
Gak usah marah juga bisa kan kok sampe seperti itu padaku. Astagfirullahaladzim...
"Kan aku ga mau tadi di antrin Mas" ucapku
"Alah! alasan saja!suaminya mikiri bagaimana mau berangkat , malah jawab aja bisanya"
Aku diam dan menangis, aku inginturun saja di sni dan pergi.
Ya memang dia seperti itu padaku, benci sekali hati ini padanya, Ya Allah..
Setelah sampai bergegas aku turun, tak kucium tangannya,kurapikan jilbab dan mengambil tisu di dalam tas untuk mengusap air mata ini, ku tutup pintu mobil dan segera berbalik badan.
Sakit sekali hati ini.
Pak satpam yang menyapa hanya ku lambaikan tangan.
Setengah berlari aku menuju kantor,
Sesampainya di kantor aku segera duduk di kursi ku.
Suara Pak Riki membuatku kaget.
"Emm.., gak apa2" sahutku.
"Ada apa bu"ucapnya lagi.
Dia menghampiriku .
Aku diam, tes..tes air mata menitik kembali.
"Loe..!Ibu kenapa?kok nangis?" ucapnya penuh tanya.
Aku tetap diam, buru-buru ku usap mata ini.
__ADS_1
"Ada ap bu? "Bertanya lagi Pak Rikii membuat ku merasa tak nyaman.
"Gak kenapa-kenapa". Sahutku cepat, dan harus menguasai diri ini di kantor dan aku tak boleh cengeng.
"Tapi .." dia berkata dan terburu ku potibg
"Iya gak kenapak-enapa"kemudian aku tersenyum.
Kalau aku masih saja seperti itu, Pa Riki selalu bertanya, tersenyum lah aku agar dia tak bertanya lagi dan aku mengisyaratkan dengan tersenyum, aku baik-baik saja.
Dia tersrnyum kemudian berlalu
Pa Riki berjalan keluar dari kantor, ada beberapa guru yang datang, kemudian sudah riuh lah suasana kantor dan kelas karena sudah berdatangan.
bel berbunyi pertanda masuk kelas.
Semua melakukan aktifitas masing- masing seperti biasa.aku pun masuk kelas dan mengajar.
Drrt..
Drrt..
Ponselku bergetar, aku buka ternyata dari suamiku.
"Faira mas jemput:
"Ya"
"Nanti adek mas jemput juga ya".
"Gakk usah mas aku nanti sama teman adza"
Lupa kah iya, tadi pagi mengomel dan memarahi ku, terbuat dari apa hati nya itu.aku seperti tak berperasaan saja dibuatnya, mengomel dan memarahi sesuka hatinya, tanpa berpikir bagaimana perasaanku.
__ADS_1
Iya dia memang aneh dan langka.