
Edo meninggalkan Marvin karena sangat kesal pada putranya itu.
Edo sama sekali tidak ingin Marvin kecewa karena mencintai seseorang yang sudah lebih dulu mencintai orang lain.
Edo pergi begitu saja, tanpa menunggu Marvin sedang berganti pakaian dan mengambil barang-barang nya.
Edo sudah membebaskan Marvin dengan jaminan.
Kemudian meminta Syarif untuk menunggu Marvin dan memerintahkan nya membawa Marvin kembali ke apartemen nya.
Beberapa menit kemudian, Marvin bersama seorang sipir keluar dari gerbang besi penjara.
Syarif membungkukkan badannya sedikit ketika Marvin melihatnya dan tersenyum padanya.
Marvin menghirup udara dalam-dalam ketika keluar dari penjara.
Dia meregangkan otot-otot nya lalu tersenyum pada Syarif.
"Bagaimana kabarmu pak Syarif?" tanya Marvin.
"Aku baik tuan!" jawab Syarif.
"Apa semua informasi yang aku minta padamu sudah kamu dapat?" tanya Marvin lagi.
"Tuan, tapi tuan besar meminta kita kembali ke apartemen!" sahut Syarif.
Marvin malah tersenyum sinis.
"Orang tua itu, tidak usah dengarkan dia. Aku sudah memutuskan untuk mengejar wanita itu pak Syarif. Dimana pun dia, aku pasti akan menemukannya!" seru Marvin penuh keyakinan.
Syarif hanya bisa menghela nafas nya panjang, dan mengusap keringat di keningnya.
"Siapkan semuanya pak Syarif, kita akan mengunjungi Kampung halaman Kakek ku!" seru Marvin sebelum memasuki mobilnya.
Sepanjang jalan Syarif masih cemas bagaimana memberitahukan kepada Eduardo tentang keputusan Marvin untuk pergi ke Indonesia.
Sedangkan Marvin menatap jendela, dia membayangkan wajah Moetia sekilas.
"Tunggu aku Moetia!" ucapnya pelan.
Sementara itu di penginapan dari tadi Moetia sudah bersin-bersin.
"Hatchiu..." Moetia bersin.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bagas yang sedang memijat kaki Moetia.
"Hatchiu..." Moetia bersin lagi.
"Tidak tahu, hidung ku gatal!" jawab Moetia.
"Bagaimana? apa kamu sudah tidak pegal lagi?" tanya Bagas.
Sebenarnya tadi setelah makan siang, Bagas meminta jatah lagi pada Moetia. Dengan cepat Moetia memijit tangan dan kakinya dan bilang pada Bagas bahwa seluruh tubuhnya terasa sangat lelah dan pegal.
Bagas pun segera menawarkan diri untuk memijat istrinya itu.
Awalnya Moetia menolak, tapi Bagas tidak menyerah bahkan tanpa aba-aba, Bagas sudah memijit punggung dan pundak Moetia. Setelah itu Bagas memijit lengan sampai ke kaki Moetia.
"Sayang, sekarang bagaimana apa kamu sudah tidak pegal lagi?" tanya Bagas bersemangat.
Moetia pun menyerah, Moetia tersenyum pada Bagas. Dan tentu saja Bagas juga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
__ADS_1
Bagas segera menggendong Moetia dari sofa balkon menuju ke kamar mereka.
Bagas merebahkan Moetia di atas kasur, dan adegan selanjutnya, tentu saja seperti malam sebelumnya.
Bagas tidak membiarkan istrinya itu Bahakan sekedar untuk minum, sebelum dia kelelahan.
Sementara itu, Chairul, Belinda Aries dan Soraya sudah tiba di Indonesia.
Mereka berpisah di bandara, Belinda dan Chairul memasuki mobil mereka.
"Ayah, keluarga Aries dan Soraya itu sangat baik ya. Mereka orang-orang yang ramah dan menyenangkan! pokoknya kita harus jadi ya, menjodohkan Moetia dan Reno!" seru Belinda sangat antusias.
Chairul mengusap wajahnya lalu berdecak kesal pada Belinda.
"Hentikan, bakat Mak comblang mu itu Bu. Biarkan anak-anak menentukan pilihan mereka sendiri. Mereka berhak bahagia!" sahut Chairul.
Belinda terlihat tidak suka dengan jawaban Chairul. Dia memalingkan wajahnya dari Chairul dan melihat ke arah jendela.
Chairul hanya bisa menghela nafas nya panjang lagi melihat tingkah Belinda itu.
Sementara itu di waktu yang sama di rumah sakit Singapura.
Theo dari tadi hanya mondar-mandir di depan Reno, membuat Reno semakin pusing saja.
"Bos, berhentilah mondar-mandir seperti itu. Kamu membuatku pusing!" seru Reno.
"Diam lah Ren, aku sedang gelisah ini. Aku sudah menghubungi Bagas berkali-kali. Dia tidak menjawab telepon dariku!" kesal Theo.
"Mereka sedang berbulan madu, jangan ganggu mereka!" sahut Reno.
"Lalu siapa yang akan mengurus mu? mengurus administrasi kepindahan mu ke Bandung?" tanya Theo mengada-ada.
Reno menggeleng,
Theo berdecak kesal.
"Ck, aku masih punya banyak pekerjaan, apa mereka butuh waktu selama ini untuk bulan madu. Menyebalkan!" keluh Theo.
"Sebenarnya apa masalahmu bos Theo? apa Audrey tidak mengangkat telepon mu juga?" tanya Reno menebak.
Theo menoleh ke Reno, dia mendekati Reno dan duduk di sebelah nya.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Theo.
"Astaga, kamu sebenarnya hanya iri pada adikku dan Bagas kan? bos, berhentilah seperti ini. Audrey adalah seorang wanita karir, dan saat ini karirnya sangat cemerlang. Kamu sebagai orang yang mencintai nya harusnya mendukungnya! kamu harus mengerti saat dia tidak bisa dihubungi itu artinya dia memang sedang sibuk dan tidak ingin di hubungi. Setelah urusannya selesai dia pasti akan menghubungimu!" jelas Reno.
Theo menggelengkan kepalanya,
"Aku bersyukur bukan kepalamu yang tertembak!" kekeh Theo.
Dua jam kemudian Bagas kembali merebahkan dirinya di sebelah Moetia. Nafasnya masih tersengal-sengal.
"Bagas! aku ingin ke rumah sakit!" ucap Moetia sambil memakai selimut lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Ada apa? apa kamu merasa tidak enak badan? apa aku sudah menyakiti mu?" tanya Bagas mendekati istrinya.
Moetia menggeleng kan kepalanya berkali-kali,
"Aku ingin menjenguk kak Reno, aku ingin tahu kondisinya!" jawab Moetia.
Bagas menghela nafasnya lega,
__ADS_1
"Syukurlah, aku kira aku sudah membuatmu sakit?" tanya Bagas.
"Aku mandi dulu, setelah itu kita ke rumah sakit ya!" pinta Moetia.
Melihat Moetia tersenyum begitu manis, timbul ide jahil di kepala Bagas.
"Mandi bersama ya?" pinta Bagas.
Moetia dengan cepat masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya.
Bagas berdecak kesal menuju lemari dan menyiapkan pakaian nya.
Sekitar pukul lima sore waktu Singapura, Bagas dan Moetia tiba di ruangan rawat Reno.
Setelah masuk ke ruangan Reno, Moetia segera mendekati Reno.
Reno yang melihat Moetia datang juga langsung tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
Moetia memeluk Reno dengan sangat senang.
"Bagaimana keadaanmu kak?" tanya Moetia.
Theo yang melihat Moetia memeluk Reno sedikit terkejut.
"Hei wanita, biarpun dia kakakmu jangan seperti itu di depan orang lain, mereka akan salah paham!" ucap Theo mengingatkan Moetia.
Bagas yang berdiri di belakang Moetia juga menepuk pundak Moetia.
"Benar sayang, jangan lakukan itu lagi okey!" seru Bagas.
Moetia mengangguk paham.
"Bagaimana kondisimu kak?" tanya Moetia lagi.
"Sangat baik adikku sayang, selamat atas pernikahan mu. Maaf karena aku tidak bisa mendampingi mu!" ucap Reno.
Theo menyahut dari jauh.
"Aku yang mendampinginya Reno, tapi aku belum mendengar ada yang mengucapkan terimakasih padaku!" protes Theo.
Moetia duduk di sebelah Reno.
"Terimakasih!" jawabnya melirik Theo.
Reno tersenyum melihat Theo semakin keki.
"Apa kamu bahagia?" tanya Reno spontan.
Bagas segera mendekati Reno dan memukul lengannya pelan.
"Apa maksud pertanyaan mu itu? dia menikah dengan ku, orang yang dia cintai, tentu saja dia bahagia!" kesal Bagas.
Reno menggosok tangan nya yang dipukul bagas.
"Bagas, jangan pukul kakak ku!" seru Moetia.
Theo yang dari tadi melihat mereka bertiga akhirnya tak tahan lagi, Theo tertawa terbahak bahak.
"Ha ha ha... Astaga, Bagas mulai sekarang kamu tidak bisa semena-mena lagi pada Reno! Adiknya adalah nyonya rumah mu! jika kamu macam-macam pada Reno maka Moetia akan mengusir mu!" ejek Theo.
Bagas hanya berdecak kesal mendengar apa yang Theo ucapkan.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia kak, Bagas sangat baik. Aku sangat beruntung bisa menikah dengannya! Bagas adalah Suami terbaik di seluruh dunia." jawab Moetia tulus dengan senyuman merekah di bibirnya.