
Reno memperhatikan Moetia yang terlihat tidak seperti biasanya, dia lebih banyak diam dan malah melamun saat menonton acara di televisi.
Theo juga sudah pergi ke kantor nya, jadi tidak ada yang mengganggu Moetia melamun.
"Moetia!" panggil Reno.
Moetia masih tidak fokus dan masih menatap nanar ke layar televisi.
"Moetia!" panggil Reno lagi.
Moetia menoleh,
"Iya kak!" sahutnya.
Reno turun dari tempat tidur pasien nya dan duduk di sebelah Moetia.
"Memikirkan Bagas?" tanya Reno.
Moetia mengangguk perlahan,
"Tangannya terluka! kemarin saat dia menyusul ku ke rumah singgah kak Sisilia dia menjepit tangannya sendiri dengan pintu, aku tidak tahu harus bagaimana kak?" keluh Moetia.
Moetia menoleh ke arah Reno.
"Apa yang harus kulakukan? aku merasa tidak senang saat Bagas diam saja perempuan itu menggenggam tangannya. Aku merasa takut jika Bagas kembali padanya! kak, katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Moetia lagi.
Reno malah tersenyum pada Moetia.
"Kamu mencintai Bagas, karena itu kamu cemburu. Kalau saja kamu tahu seperti apa dia kemarin saat tidak bisa menemukanmu!" seru Reno.
Moetia mulai berkaca-kaca. Reno merangkulnya dan meletakkan Moetia di pelukan nya.
"Menangis lah! tidak baik memendam kesedihan sendirian!" ucap Reno lembut.
Moetia menumpahkan seluruh rasa sedihnya di pelukan Reno. Dia tidak bisa menceritakan masalahnya ini pada mama, ataupun sahabatnya. Hal ini membuat Moetia merasa sangat terbebani. Untung saja masih ada Reno yang bisa diajak berbagi kesedihan dan kekecewaan nya pada Bagas.
Beberapa saat kemudian Moetia menjadi lebih tenang. Menangis memang bisa membuat hati menjadi lebih baik.
Sementara itu di apartemen nya Bagas sedang mencoba membuka perban di tangannya sendiri. Bagas merasa sedikit kesulitan. Berulang kali dia mencoba tapi tetap saja tidak bisa. Dia pun kesal dan melempar semua obat-obatan dan perban yang ada diatas meja ke segala arah.
"Argh!" teriak Bagas.
Bagas terduduk lemah di kursi dia masih terus menyesali kekeliruan nya pada Moetia.
Setelah menemani Reno makan siang, Moetia kembali ke rumahnya.
Moetia melihat Manda dan ibunya sedang bertengkar di teras dengan sebuah taksi sedang menunggu nya disana.
__ADS_1
"Tante!" sapa Moetia menghampiri Malika yang terlihat menahan Manda untuk pergi.
"Ada apa ini?" tanya Moetia.
"Moetia, jelaskan pada Manda. Tidak ada gunanya keras kepala, dia ingin pergi menemui orang-orang yang menghinanya semalam!" seru Malika.
"Apa?" tanya Moetia terkejut.
"Kebetulan kamu datang Moetia, ikut aku. Kita harus memberi pelajaran kepada wanita-wanita sombong itu!" seru Manda.
"Apa maksudmu aku tidak mengerti?" tanya Moetia lagi.
Manda mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dia menunjukkan sebuah postingan dari Audrey dan teman-temannya di sebuah toko di mall terbesar di kota ini.
Mereka sedang memposting barang-barang branded yang baru saja mereka beli dan menuliskan caption, bahwa selera mereka memang benar-benar berkelas, tidak seperti seorang diluar sana yang mengaku-ngaku berkelas tapi tidak punya kemampuan untuk itu.
Moetia memijit pelipisnya sendiri saat melihat postingan teman-teman Audrey itu.
"Ayo Moetia, kita susul mereka. Mall itu dekat sini!" ajak Manda yang sudah menarik tangan Moetia.
Moetia melihat ke arah Malika, yang menunjukkan sikap yang mengisyaratkan agar Moetia mengikuti Manda.
Setidaknya jika ada Moetia, Manda tidak akan lepas kendali.
Moetia sebenarnya sangat tidak ingin menemani Manda, bukankah ini sama saja sedang mencari masalah. Belum tentu juga orang yang Audrey dan teman-temannya maksud itu Manda.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di mall itu. Manda terus melihat update dari postingan Ulfa, teman Audrey.
"Mereka di cafe, Moetia ayo kita kesana!" ajak Manda.
Moetia hanya diam dan mengikuti langkah Manda.
Hingga mereka sampai di cafe d'Brown tempat Audrey dan ketiga temannya sedang bercengkrama sambil makan camilan dan minuman ringan.
Manda bersemangat menghampiri mereka, Manda sudah sangat kesal. Dia langsung menghampiri meja tempat Audrey dan yang lain lalu menuangkan segelas minuman yang ada di depan Ulfa ke wajah Ulfa.
"Hei.." pekik Ulfa yang hampir menampar Manda. Untung saja Audrey masih bisa menahan tangan Ulfa.
"Jangan mengotori tangan mu Ulfa, bahkan tamparan darimu dia tidak pantas mendapatkan nya!" seru Audrey tegas.
Audrey melihat dengan tatapan kesal pada Manda.
"Rupanya selain tidak berkelas kamu juga tidak waras!" seru Audrey.
Manda makin tersulut emosi, dia melayangkan tangannya hendak memukul Audrey, namun dengan cepat Moetia menahan tangan nya.
"Manda, tidak!" seru Moetia.
__ADS_1
"Lepas Moetia, mereka keterlaluan!" bantah Manda.
Para pengunjung cafe lain sudah mulai memperhatikan pertengkaran akibat ulah Manda itu.
"Apa yang kamu lakukan? kamu yang datang dan menumpahkan minuman itu di wajah Ulfa! dasar tidak waras!" seru Angel teman Audrey dan Ulfa.
"Apa kamu bilang..."
"Manda cukup!" teriak Moetia.
"Moetia mereka menghinaku, Moetia kamu harus membelaku!" ujar Manda.
Manager cafe pun datang dan menghampiri mereka.
"Maaf, kalian sudah mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Silahkan keluar dari cafe kami atau kami akan memaksa kalian keluar!" tegas manager cafe itu.
Audrey dan ketiga temannya berdiri dan membereskan barang mereka.
"Jika aku tidak mengingat ada Moetia disini, aku sudah membuatmu tidak punya muka lagi wanita sombong tidak tahu malu!" seru Audrey menatap tajam Manda.
Dan ketika sudah maju beberapa langkah, Audrey kembali berbalik.
"Jangan terlalu dekat dengannya Moetia, kamu akan mendapatkan pengaruh yang buruk!" seru Audrey sebelum meninggalkan Manda dan Moetia.
Manda makin kesal, tapi ketika dia akan mengejar Audrey dan ketiga temannya Moetia merangkul nya untuk menahannya.
"Manda cukup!" teriak Moetia.
Manda terdiam dan melihat ke arah Moetia, baru kali ini Moetia berteriak padanya.
"Hentikan, setidaknya pikirkan reputasi mu, reputasi perusahaan yang sudah mengontrak mu! kamu publik figur Manda! tolonglah jangan mempermalukan dirimu sendiri!" jelas Moetia.
Manda terkesan tak terima, dia terduduk lemah di kursi.
Moetia memesankan minuman ringan untuk Manda.
"Minumlah! aku mohon padamu. Jangan membuat masalah lagi dengan mereka." seru Moetia.
"Aku tidak percaya kamu malah membela mereka?" keluh Manda.
"Aku tidak membela mereka, lihat situasi nya Manda, jelas-jelas kita yang datang dan kamu yang lebih dulu menumpahkan minuman itu di wajah temannya Audrey. Jika mereka menuntut mu bagaimana? Apa kamu memikirkan hal itu? jika itu terjadi bagaimana dengan karir yang selama ini kamu bangun dengan susah payah, impianmu?" tanya Moetia.
Manda terdiam, dia sudah mulai menyadari kesalahan nya. Emosi dan Ego membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih.
...❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Think u ❤️❤️❤️...