Dilema

Dilema
Marvin Lolos Lagi


__ADS_3

Moetia menceritakan semua yang terjadi ketika Marvin datang, semua yang dia katakan dan apa yang dia inginkan.


"Sial, ternyata kamu lah yang dia targetkan, pantas saja dia sampai mengikuti mu ke negara ini!" kesal Bagas.


"Pindah saja kemari, aku akan menjagamu!" seru Bagas lagi.


"Tidak perlu, aku sudah pindah kamar ke sebelah mama ku, dan di depan kamar itu anak buah mu juga banyak yang berjaga kan!" sahut Moetia.


Bagas masih tidak setuju dengan keinginan Moetia, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya itu.


"Baiklah, karena kamu sudah makan dan berganti pakaian, aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik!" seru Moetia membereskan peralatan makan yang tadi di pakai Bagas.


"Moetia, bisakah kamu tinggal lebih lama!" pinta Bagas dengan suara lembut.


Moetia menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua pun duduk di ruang televisi, sambil menonton televisi.


Bagas meraih pinggang Moetia yang duduk disebelahnya dan membawa Moetia ke pangkuannya.


"Aku bisa duduk sendiri!" protes Moetia.


"Jangan menolaknya, sebentar saja!" lirih Bagas.


Moetia akhirnya berhenti memberontak, dia diam di pangkuan Bagas. Tangan Bagas mulai lincah meraba pinggang hingga ke perut Moetia.


"Bagas, tangan mu terluka!" sela Moetia.


"Tidak Moetia, aku hanya ingin memeluk mu!" sahut Bagas.


Bagas pun menyandarkan Moetia di pelukannya, sesekali dia mengecup mesra kening Moetia.


Beberapa jam kemudian, Moetia pun kembali ke rumahnya.


Di depan rumah sudah tidak ramai penjaga lagi seperti sebelumnya.


Moetia juga tidak tahu apa yang terjadi, dia masuk ke dalam rumahnya dan istirahat.


Sementara itu di tempat lain, Benjamin dan anak buahnya sudah berhasil menangkap Marvin.


Benjamin menelpon Chairul dan Bagas agar datang ke rumah Benjamin.


"Lepaskan aku! kalian akan menyesal sudah memperlakukan aku seperti ini!" teriak Marvin.


Benjamin mendekatinya dan memasang lakban di mulutnya.


"Tuan, tapi dia adalah putra kesayangan tuan Eduardo Payage, apa tidak apa-apa kita mengikat dan menutup mulutnya seperti itu!" bisik Hendri bawahan Benjamin.


"Kamu harus singkirkan ketakutan mu pada orang lain, saat kamu memutuskan mengabdi pada seseorang maka hanya takut dan patuh lah padanya!" nasehat Benjamin pada Hendri.


"Baik tuan!" sahut Hendri dengan cepat.


Bagas dan Chairul datang pada waktu yang bersamaan, mereka masuk ke dalam dan memastikan bahwa orang yang selama ini mengintai dan masuk diam-diam ke rumah Moetia adalah Marvin.

__ADS_1


Begitu melihat Marvin, Bagas tersulut emosi dan maju ingin memukulnya.


Tapi Chairul dengan cepat menghentikan Bagas.


"Bagas, diam di tempat mu!" seru Chairul.


Bagas menuruti perintah ayahnya, dan diam mengepalkan tangannya melihat Marvin.


Chairul mendekati Marvin dan membuka lakban yang menutupi mulutnya.


Srak!


"Kamu sungguh beruntung, ayah mu adalah orang yang sangat baik. Aku tidak menyangka dia punya putra seperti mu!" seru Chairul datar.


Marvin malah terkekeh.


"Lihat, siapa yang sedang bicara. Kau sendiri bahkan punya putra yang tidak tahu malu seperti dia!" teriak Marvin melihat pada Bagas.


Bagas kembali tersulut amarah dia mendekati Marvin dan ingin memukulnya.


"Tidak, Bagas! kita tidak akan melukainya. Ayah sudah menghubungi Eduardo, dia akan datang menjemput dan membawa anak kesayangan nya ini pulang. Dan memastikan bahwa dia tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini!" tegas Chairul dengan wajah datarnya.


"Aku akan meninggalkan negara ini setelah membawa Moetia bersamaku!" teriak Marvin.


Chairul dan Bagas yang tadinya sudah akan pergi meninggalkannya menghentikan langkah mereka dan berbalik.


Chairul kembali mendekati Marvin.


"Jika aku tidak mengingat hubungan baikku dengan ayahmu, maka aku tidak akan menghalangi putra ku menghajar mu sampai mati. Jaga lidahmu!" gertak Chairul.


"Ben, pastikan dia masih hidup sampai ayahnya datang!" seru Chairul.


"Baik tuan!" sahut Benjamin sopan.


Beberapa jam Marvin di tahan di rumah Benjamin, saat Benjamin pergi dia meminta agar anak buahnya mengawasi Marvin.


Tapi tidak di sangka, Beberapa pengawal Marvin berhasil mendobrak masuk dan mengalahkan Hendri serta teman-teman nya.


Marvin yang sudah terlepas dari ikatannya pun memukul Hendri hingga jatuh tersungkur di lantai.


"Kalian ingin melawanku, bermimpi saja kalian!" teriak Marvin kesal.


Sebelum dia keluar dari rumah Benjamin dia bahkan memerintahkan agar para pengawalnya mengacak-acak rumah Benjamin.


Marvin juga menendang kaki Hendri dengan kuat sebelum dia meninggalkan rumah Benjamin.


Syarif datang membawakan mantel untuk tuan mudanya itu.


"Tuan, maafkan kami karena terlambat menolong tuan muda!" sesal Syarif.


"Sudah lah pak Syarif, mereka bahkan tidak berani memukul ku!" seru Marvin.


"Bagaimana? apa pekerjaan yang aku minta sudah kamu kerjakan!" tanya Marvin memasuki mobilnya.

__ADS_1


"Sudah tuan muda, wanita itu sudah kami kurung di tempat yang aman!" jawab Syarif.


"Mereka akan menyesalinya, Bagas Chairul Wiguna. Aku akan segera menghancurkan mu!" seru Marvin mengepalkan tangannya dengan emosi.


Marvin dan para pengawalnya pun meninggalkan area rumah Benjamin. Beberapa menit kemudian Benjamin kembali dengan anak buahnya yang lain. Dia sangat terkejut melihat kondisi pintunya yang rusak.


Benjamin berlari menuju ruangan tempat Marvin di sekap.


"Sial!" serunya.


Benjamin menghampiri Hendri dan anak buahnya yang sedang merintih kesakitan.


"Dimana Marvin, siapa yang melakukan ini pada kalian?" tanya Benjamin dengan cepat.


"Pe.. ngawal nya ba..nyak sekali!" ucap Hendri terbata-bata.


Benjamin membuang nafasnya berat, dia berkacak pinggang dan sambil menghubungi Chairul.


"Tuan besar, Marvin lolos!" seru Benjamin.


"Apa maksudmu? bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menjaganya dengan baik!" teriak Chairul di ujung telepon.


Mendengarkan amarah Chairul, Benjamin sangat cemas.


"Tuan besar, kami akan segera mencarinya!" sahut Benjamin hati-hati.


"Cepat cari dan temukan dia, jangan berhenti jika belum menangkapnya lagi. Mengerti!" tegas Chairul.


"Mengerti tuan besar!" sahut Benjamin.


Benjamin menyimpan ponselnya dan segera meminta beberapa anak buahnya menelpon ambulance. Beberapa lagi dia ajak mencari keberadaan Marvin.


Bagas yang berada tidak jauh dari Chairul menghampiri Chairul.


"Bagaimana bisa Marvin lolos?" tanya Bagas kesal.


"Sudah ku katakan, dia itu putra kesayangan Eduardo Payage, Lolos dari penjara saja dia bisa, tidak akan sulit baginya lolos dari penjagaan Benjamin." jelas Chairul.


"Ck, jika targetnya adalah Moetia. Maka keluarganya pun tidak aman!" ucap Chairul yang mulai gusar.


Beberapa menit kemudian Marvin sampai disebuah rumah kecil di daerah pergudangan.


Marvin membuka pintu rumah itu dan melihat seorang wanita yang memakai dress panjang dan riasannya.


Mata wanita itu di tutup dengan kain.


"Muthia Amanda! benar kan?" tanya Marvin.


"Siapa kamu?" tanya Manda ketakutan karena matanya masih tertutup sedangkan kedua tangannya terikat.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Vote nya juga boleh ❤️❤️❤️...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2