
Halo semuanya....
Yang masih setia sama Dilema, makasih banyak ya ❤️
Mohon maaf jika masih banyak typo, aunty akan terus berusaha memperbaiki dan merealisasikan saran-saran dari kalian semua.
Semoga sehat selalu semuanya....
Love u all 😘😘😘
...💗💗💗...
Manda baru saja kembali setelah menyelesaikan syuting nya. Dia memasuki ruang tengah dan memberi salam pada Malika, Soraya juga Aries.
"Malam Bu, Tante, Om!" seru Manda lalu duduk di sebelah Soraya.
Manda merangkul lengan Soraya dan menyandarkan kepalanya di lengan Soraya.
Malika tersenyum melihat tingkah manja putri sulungnya itu pada Soraya.
Soraya mengusap lembut kepala Manda,
"Kenapa sayang?" tanya Soraya.
"Tante, apa Moetia masih lama pulangnya. Kenapa dia baru menelpon ku sekali, aku rindu sekali padanya!' seru Manda sedih.
Aries melipat surat kabar yang tadi dia baca dan meletakkan nya diatas meja.
"Kamu rindu Moetia, atau Bagas?" tanya Aries menggoda Manda.
Manda langsung berdiri tegak dan berlari ke kamarnya.
"Tuh, lihat putri mu Malika. Dia menjadikan Moetia sebagai alasan, padahal sebenarnya dia sedang merindukan tunangan nya!" tambah Aries.
Soraya dan Malika saling pandang dan tersenyum.
"Aku jadi ingat saat Moetia dan Soraya menginap di Jakarta waktu Moetia SMP, kamu menelpon sepuluh kali sehari menanyakan kabar Moetia, tapi anehnya kamu menelpon saat Moetia sedang pergi bersama Manda!" sindir Malika.
Soraya hanya tersenyum, Aries berdehem.
"Ehem, sudah malam. aku akan istirahat!" seru Aries berjalan ke kamarnya.
Soraya memukul pelan lengan Malika,
"Kamu ini, lihat papanya Moetia jadi salah tingkah begitu!" ucap nya lembut.
"Itu memang benar kan?" tanya Malika menggoda Soraya.
Di tempat lain, Bagas dan Reno sedang duduk bersandar pada mobil mereka.
Reno terlihat memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya sendiri.
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Bagas, sepertinya tadi kita lupa untuk makan siang dan makan malam, kepala ku sedikit pusing!" jawab Reno.
'Aku saja merasa pusing, bagaimana dengan Moetia, apa dia sudah makan!' batin Reno cemas.
Bagas menghubungi Benjamin dan memintanya membelikan makanan untuknya dan Reno.
"Apa mereka masih lama? ini sudah sangat larut. Kira-kira apa yang sedang Moetia lakukan sekarang?" tanya Reno lemah.
__ADS_1
Bagas terlihat melihat ke arah langit yang berbintang.
"Menurut mu apa yang sedang dia lakukan?" tanya Bagas.
Reno membuka matanya dan memandang lurus kearah kegelapan di depannya.
"Aku harap dia sekarang sedang tidur nyenyak di tempat yang nyaman, dan dalam keadaan baik-baik saja!" sahut Reno.
Bagas menoleh ke arah Reno,
"Apa kamu sudah mulai menyayanginya?" tanya Bagas pelan.
Reno segera menoleh,
"Bukan seperti yang kamu pikirkan, aku menganggapnya sebagai adikku!" jawab Reno sedikit panik takut jika Bagas salah paham padanya.
Bagas malah tersenyum kecil mendengarkan Reno bicara dengan gugup.
"Aku tahu, dia sudah menceritakan nya padaku. Dia sangat menyukaimu, dia tidak punya kakak, dan dia ingin sekali menjadikanmu kakak nya!" jelas Bagas.
"Kapan dia mengatakan itu?" tanya Reno.
"Saat di Gardent by the bay, dia bahkan meminta ku memanggilmu kakak ipar. Dia sudah terobsesi padamu!" jelas Bagas.
Mata Reno menjadi berkaca-kaca mendengar apa yang telah Moetia katakan pada Bagas.
Bagas menepuk bahu Reno,
"Dia pasti kembali pada kita, Moetia kita pasti baik-baik saja!" ucapnya menghibur Reno yang terlihat sangat sedih.
"Semua ini gara-gara aku!" ucap Reno menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa yang kamu katakan?" sela Bagas.
Bagas terlihat kesal dan mendorong Reno,
"Berhenti mengatakan tentang kesialan lagi, aku bersama mu lebih dari lima tahun. Apa aku mengalami kesialan, Roni, ayah, ibu apa mereka mengalami kesialan? berhenti berfikir kuno seperti itu Reno!" teriak Bagas menjauh dari Reno.
Reno hanya terdiam di tempatnya, dia kembali menundukkan kepalanya.
Sementara itu di dalam Gua. Moetia masih tertidur, meski tempatnya sangat tidak nyaman. Tapi karena Moetia sangat lelah, dia pun tertidur sangat lelap.
Marvin berusaha untuk terus terjaga, dia sendiri bingung memikirkan sikapnya.
Kenapa dia mau terjaga dan menunggui api yang sedang menyala itu.
Marvin memandang ke arah Moetia, sebenarnya kakinya sudah bisa di gerakkan, bahkan sudah mampu berdiri. Tapi dia berpura-pura agar Moetia mau membantunya dan tidak kabur darinya.
Moetia melenguh ketika angin kencang masuk ke dalam gua. Dia meringkuk seperti bayi karena merasa kedinginan. Ditambah lengan kemeja sebelah kanannya yang di sobek Marvin membuat nya semakin merasa dingin.
Marvin dengan perlahan mendekati Moetia lalu berada di depannya hingga dia terhalangi dari angin yang masuk ke dalam gua.
Marvin menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Moetia,
"Aku bahkan tidak tahu siapa namamu? tapi aku rasa aku..."
Marvin menarik tangan nya ketika Moetia membuka matanya karena merasa terganggu dengan sentuhan Marvin.
Marvin segera memegang lututnya dan merintih kesakitan.
"Aduh!" pekiknya pura-pura.
__ADS_1
Moetia segera bangun dan mengucek matanya yang masih terasa mengantuk.
"Ada apa?" tanya Moetia pelan.
"Lutut ku sangat sakit!" jawab Marvin.
Moetia melihat ke arah Marvin lalu ke arah awal Marvin duduk sebelum Moetia tidur.
Moetia membulatkan matanya,
"Hei, bagaimana kamu bisa kemari?" tanya Moetia.
Marvin menjadi sedikit panik,
"Aku merasa lutut ku sangat sakit, aku ingin meminta bantuan mu. Karena itu aku menyeret kakiku saat kemari!" alasan Marvin.
Moetia berdecak kesal,
"Kenapa kamu bodoh sekali!" seru Moetia polos.
Marvin membulat kan matanya, tak percaya ada wanita yang berani memakinya bodoh bahkan dengan sangat santai saat mengatakan nya.
Moetia kemudian membuka ikatan jaket di lutut Marvin,
"Kamu seharusnya memanggilku, teriak saja. Aku pasti terbangun. Tidak perlu menyakiti dirimu sendiri seperti ini!" seru Moetia lagi.
Moetia melihat luka Marvin sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
"Luka mu sedikit parah, apakah anak buah mu itu tidak akan mencari kita?" tanya Moetia.
"Pak Syarif pasti mencari kita, dia adalah orang ku yang paling setia!" jawab Marvin yakin.
"Begitu ya, lalu orang-orang yang menculik ku waktu itu? mereka juga anak buah mu kan?" tanya Moetia.
"Iya!" jawab Marvin cepat.
"Jika uang mu sebanyak itu, untuk apa kamu menculik ku?" tanya Moetia lagi.
"Aku sudah pernah bilang padamu kan! aku tidak pernah di kalahkan!" seru Marvin sombong.
Moetia berdecak kesal dan menjauh dari Marvin.
Moetia kembali duduk bersandar ke dinding gua.
"Apa kamu tahu? Bagas juga sudah berjuang dengan keras untuk mendapatkan tender itu, dia dan Reno pantas mendapatkannya. Sebagai seorang pebisnis harus nya kamu terima keunggulan lawan mu! itu akan jadi pengalaman baru, kamu akan tahu apa saja yang harus diperbaiki selanjutnya...."
"Siapa namamu?" tanya Marvin menyela ceramah yang diberikan Moetia.
Moetia menoleh, dan tatapan nya terkunci pada tatapan mata Marvin.
"Aku rasa aku sudah..."
Sebelum Marvin menyelesaikan ucapannya, terdengar seseorang memanggil namanya.
"Tuan Marvin!" panggil Syarif yang mengarahkan cahaya senter besarnya pada Marvin.
Moetia harus menghela nafas nya beberapa kali.
'Mereka sudah datang, aku rasa aku akan jadi tahanan lagi!' keluh Moetia dalam hati.
...💗💗💗...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Think u ❤️...