Dilema

Dilema
Terungkap


__ADS_3

Haiden berdiri di lantai dua gudang dengan memegang sebuah bom di tangannya.


Benjamin segera berlari ke arah tangga untuk menghentikan Haiden.


"Berhenti, atau aku akan menekan tombol picu ledak nya!" teriak Haiden.


Benjamin pun berhenti di anak tangga terakhir,


"Tuan Bagas, cepat keluar dari tempat ini!" teriak Benjamin.


"Ha ha ha," Seruni kembali tertawa dengan puas.


Reno dengan cepat mendekati seruni dan menekuk tangannya di belakang punggung, dia menekan tangan seruni dan meletakkan tangannya di leher seruni.


"Serahkan bom itu pada Benjamin, atau ku patahkan leher teman mu ini!" teriak Reno.


Seruni makin terkekeh,


"Apa kalian bodoh, kami bahkan tidak takut mati. Hanya leher patah, kalian pikir kami akan takut?" ucap Seruni.


Theo terlihat berjalan pelan dan keluar dari gudang, dia mencari cara untuk naik ke lantai dua dari jalan lain. Dia mengajak anak buah Benjamin yang memang adalah para ahli.


Mereka pun naik ke lantai dua dengan tali dan diam-diam mendekati Haiden.


Seruni melihat sesosok bayangan mendekati Haiden.


"Haiden, awas di belakang mu!" teriak Seruni.


Tapi belum sempat Haiden berbalik, Benjamin sudah melumpuhkannya dan mengambil paksa bom yang ada di tangan Haiden.


Benjamin menyerahkan bom itu pada anak buahnya untuk di non-aktifkan.


"Lepaskan aku!" teriak Haiden.


"Dasar penjahat, bermimpi saja bisa lolos dariku. Karena setelah ini kamu akan menyesal pernah terlahir di dunia ini!" gertak Benjamin meringkus Haiden dan mengikatnya.


Sementara Reno menghempaskan Seruni ke lantai dengan kuat.


Brukk!


Seruni terjatuh dengan keras dan lututnya terluka.


Bagas kembali mendekatinya dan menarik lengannya dengan kasar.


"Dimana Moetia?" teriak Bagas di depan wajah Seruni.


"Tidak akan pernah ku katakan!" jawab Seruni dengan berani.


Bagas makin emosi, dia hampir mengayunkan tangannya pada Seruni. Tapi Reno lebih dulu menangkap tangan Bagas.


"Jangan kotori tangan mu! aku yang akan mengurusnya!" seru Theo.


Bagas memandang Seruni dengan tatapan kesal, mereka membawa Haiden dan seruni ke kantor polisi.


Setelah melaporkan kejahatan Haiden dan Seruni. Bagas dan yang lain kembali ke hotel, sampai Bagas pergi tadi Seruni dan Haiden belum mengakui siapa majikan mereka.


Reno masih tinggal di kantor polisi untuk penyelidikan.


Sementara itu di bawah jurang, Moetia terbangun perlahan dari pingsannya. Dia membuka matanya, badannya terasa remuk.


"Auh, sakit sekali!" pekik Moetia karena lengannya berdarah dan tergores sangat panjang.

__ADS_1


Moetia berusaha berdiri dan berteduh ke bawah pohon rindang di dekatnya, guyuran deras hujan makin membuat seluruh tubuhnya remuk.


Tapi saat Moetia melangkah, kakinya terselandung sesuatu.


"Ah!" pekik Moetia kembali terjatuh.


Moetia terkejut saat melihat bahwa yang menghalangi jalannya tadi adalah kaki Marvin.


Marvin pingsan, dan sekujur tubuhnya terluka.


Moetia menutup mulutnya sendiri melihat kaki Marvin mengeluarkan banyak darah.


Moetia segera menarik jaket yang Marvin pakai, lalu mengikat kaki Marvin dengan kuat.


Hal itu Moetia lakukan untuk menghentikan pendarahan dari lutut kaki Marvin.


Moetia melihat ke atas,


"Apa yang terjadi?" tanya nya takut.


Moetia menarik tubuh Marvin ke bawah pohon, agar terhindar dari guyuran derasnya hujan.


Moetia makin ketakutan karena langit semakin gelap.


"Bagaimana ini?" tanya Moetia pada dirinya sendiri.


Moetia melihat ke sekitar nya, ada sebuah gua di dekat mereka berteduh.


Moetia berjalan perlahan kesana, tempat itu sangat sempit. Tapi sepertinya cukup aman untuk nya berteduh.


Moetia masuk ke dalam gua lalu duduk bersandar di dinding, dia memeluk kedua lututnya.


Moetia mendengar petir menggelegar, dia benar-benar ketakutan.


Tapi ketika pandangannya menatap ke arah luar , dia teringat pada Marvin yang dia tinggalkan di bawah pohon.


"Apakah dia akan tersambar petir?" tanya Moetia pada dirinya sendiri.


"Ah, biarkan saja dia itu orang jahat. Dia pantas tersambar petir!" gerutu Moetia.


Tapi semakin dia berpikir, dia akhirnya berdiri,


"Aku kadang sangat benci pada diriku sendiri, kenapa aku tidak tega membiarkannya tersambar petir!" keluh Moetia.


Moetia lalu keluar dari gua, dan menghampiri Marvin. Dia menarik ke dua tangan Marvin dengan susah payah dan menyeretnya masuk ke dalam gua.


Setelah meletakkan Marvin, Moetia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan dan kembali duduk bersandar di dinding gua.


"Hah, untung aku tidak bawa ponsel. Jika tidak aku akan memotret mu dalam kondisimu yang menyedihkan seperti saat ini!" seru Moetia kesal.


Moetia melihat keluar,


"Bagaimana ini, semakin gelap saja!" keluhnya.


Moetia melihat ke arah Marvin,


"Oh iya, dia pasti bawa ponsel." seru Moetia.


Moetia lalu memeriksa kantung celana Marvin, dan benar saja dia menemukan ponsel Marvin yang sedikit retak dan dalam kondisi mati.


Moetia berusaha mengelap ponsel itu lalu berusaha menghidupkannya. Tapi tidak berhasil. Ponsel Marvin tidak bisa hidup.

__ADS_1


Moetia meletakkan ponsel itu di sebelahnya, dia lalu menundukkan kepalanya.


"Bagas! seharusnya aku mendengarkan mu dan tidak keluar dari kamar! Jika aku mendengarkan mu saat ini aku pasti sedang berada di atas kasur yang empuk di hotel dan menonton drama Korea favorit ku sambil minum secangkir kopi dan cemilan kentang ku!" sesal Moetia.


Sementara itu di rumah Moetia, Soraya sejak tadi merasa perasaan nya tidak tenang. Berkali-kali dia menghubungi Moetia tapi tidak di angkat.


Sementara itu di hotel, Bagas yang sejak tadi memegang ponsel Moetia yang terus berdering hanya diam dan menatap ponsel itu dengan sedih.


Reno meraih ponsel itu dari Bagas.


"Kita harus mengatakan yang sebenarnya pada Tante Soraya!" ucap Reno.


"Tidak Ren, Moetia pasti baik-baik saja!" ucap Bagas lemah.


"Benar Ren, hubungan Bagas sedang tidak baik dengan kedua orang tua Moetia, jika mereka tahu Bagas tidak menjaga..."


Sebelum Theo menerus kan ucapannya Reno meletakkan tangannya di bibirnya, memberi Theo isyarat agar Theo diam.


Theo mengangkat alisnya,


"Sorry!" serunya kemudian.


Bagas menundukkan kepalanya dan meletakkan tangannya di dahinya,


"Moetia, aku tahu kamu pasti baik-baik saja. Kamu harus baik-baik saja. Aku akan segera menemukan mu. Tunggu aku Moetia!" gumam Bagas.


Reno pergi menghampiri Benjamin dan yang lain.


"Bagaimana?" tanya Reno.


"Kami sedang menyelidiki tempat awal di temukan posisi Moetia, itu adalah sebuah villa milik keluarga Payage!" jelas Benjamin.


Bagas segera berbalik dan berdiri mendekati Benjamin.


"Payage katamu?" tanya Bagas.


Benjamin mengangguk yakin.


"Benar, villa itu atas nama Eduardo Vargas Payage." tambah Benjamin.


Bagas mengepalkan tangannya,


"Marvin!" seru Bagas.


Reno menghela nafasnya berat,


"Marvin Payage adalah pesaing terberat kita saat memenangkan tender ini Bagas! kita sudah membuat Moetia terlibat di dalamnya!" sesal Reno.


Bagas terdiam sambil meredakan emosinya,


"Cari tahu semua tempat yang dimiliki keluarga Payage, rumah, villa, dan semua properti mereka. Marvin pasti membawa Moetia ke salah satu tempat itu!" ucap Bagas yakin.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Nantikan kelanjutan nya ya 😘😘😘...


...Terimakasih 💕💕💕...


...Like dan Komentar nya ya 😘😘😘...


...Think u ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2