Dilema

Dilema
Manda Kembali Berbuat Nekat


__ADS_3

Bagas mengantar kan kembali Belinda ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Belinda melihat Bagas yang ekspresi wajahnya sangat berbeda ketika berangkat dari rumah tadi pagi.


Sebenarnya Belinda juga sudah mulai curiga pada hubungan Bagas dan Moetia. Belinda mulai stress memikirkan jika kecurigaan nya itu ternyata benar maka bagaimana dengan Manda.


"Bagas!" panggil Belinda.


Bagas menoleh ke Belinda.


"Apa makanan yang dibuat Soraya dan Malika sangat enak?" tanya Belinda.


Bagas mengangguk sekali,


"Lumayan! kenapa Bu?" tanya Bagas balik.


"Sepertinya suasana hatimu sudah lebih baik! apa ini karena bertemu Manda?" tanya Belinda.


Bagas masih belum merespon.


"Atau Moetia?" sambung Belinda.


Bagas menatap ibunya yang sepertinya sangat sedih. Belinda juga memperhatikan Bagas sejak tadi di rumah Moetia. Matanya hanya tertuju pada wanita yang duduk disebelah Belinda saat sarapan tadi.


Meskipun Moetia selalu menundukkan kepalanya, tapi Bagas bahkan tidak berkedip saat memandangnya.


Belinda bertambah yakin, Bagas menyukai Moetia. Tiba-tiba jantungnya terasa sangat sakit. Belinda memegang kuat dada sebelah kirinya.


"Aduh!" pekik Belinda merasa jantung nya sangat nyeri.


Bagas mendekat ke ibunya dan merangkulnya karena nyaris tumbang dari posisi duduknya di kursi mobil.


"Ibu!" seru Bagas.


"Pak, ke rumah sakit. Cepat!!!" perintah Bagas pada supirnya.


Sementara itu di rumah Moetia. Moetia turun dari tempat tidur dan mendekati Manda yang terlihat menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.


"Manda, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Moetia melangkah maju.


Manda malah mundur selangkah setiap Moetia maju selangkah. Moetia menghentikan langkahnya dan meletakkan buku novel yang dia pegang di atas meja riasnya.


Mata Manda mulai memerah.


"Aku melihatnya Moetia, Bagas memandangku bahkan tak berkedip!" seru Manda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Moetia sangat dilema, dia bingung harus bagaimana. Mungkin sudah saatnya dia memberitahukan tentang hubungan nya Bagas pada Manda.


"Manda.."


Belum sempat Moetia melanjutkan kalimatnya, Manda mengeluarkan tangan kirinya dari balik punggung dan memperlihatkan isinya pada Moetia.


Moetia terkejut, Manda menggenggam banyak butiran obat berwarna putih.

__ADS_1


"Manda jangan! Manda!" teriak Moetia mendekati Manda.


"Jangan mendekat, katakan padaku kamu tidak punya hubungan apa-apa kan dengan Bagas. Kamu tidak menyukai Bagas kan?" teriak Manda sambil mengangkat tangan kanannya menahan Moetia mendekatinya.


"Manda.. " lirih Moetia yang juga sudah menangis.


"Jangan lakukan itu Manda, aku dan Bagas.." Moetia sungguh ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu tidak akan mengkhianati aku kan? kamu tidak mencintai Bagas kan?" tanya Manda lagi sambil berteriak.


Moetia menutup mulutnya sendiri. Moetia terus menggelengkan kepalanya berkali-kali berharap Manda tidak melakukan perbuatan nekat.


"Moetia!!!" teriak Manda.


"Kenapa Moetia, kenapa harus Bagas. Kamu akan menyesalinya Moetia!" teriak Manda lalu menelan semua obat yang ada di tangannya lalu menutup mulutnya dengan tangannya.


"Manda!" jerit Moetia.


Moetia mendekati Manda tapi Manda terus mendorong nya menjauh padahal dia sudah sempoyongan.


"Tante Malika, Tante... mama..." teriak Moetia memanggil semua orang.


"Tante Malika!!!" teriak Moetia lagi sambil mencoba meraih tubuh Manda yang benar-benar sudah sempoyongan.


Beberapa detik kemudian Manda pun terjatuh, Moetia mendekatinya dan saat itu Manda sudah tidak bisa mendorong Moetia.


Moetia berusaha memukul-mukul punggung dan memasukkan jarinya ke mulut Manda.


Malika dan Soraya yang datang bersamaan sangat terkejut melihat Manda sudah ada di pangkuan Moetia dan sudah tidak sadarkan diri.


"Panggil mang Kus ma! cepat!" teriak Moetia.


Soraya berlari memanggil tukang kebunnya, Malika bersimpuh di depan Manda sambil menangis.


Flashback On.


Selesai sarapan, Manda kembali kembarnya dan mengacak-acak tempat tidurnya. Dia melemparkan bantal dan guling ya ke segala arah, dia melemparkan selimutnya ke lantai.


"Akh..." teriak Manda kesal.


Malika yang baru saja masuk ke dalam kamar Manda terkejut melihat kelakuan putri nya itu.


"Apa lagi Manda?" tanya Malika kesal.


"Ibu lihat kan tadi, ibu juga melihatnya kan! Bagas menyukai Moetia Bu, itulah alasan kenapa Bagas bersedia menjengukku saat di Jakarta, itulah alasan kenapa kemana-mana yang Bagas ajak adalah Moetia!" seru Manda dengan mata yang sudah merah dan berkaca-kaca.


Malika mendekati Manda dan mengelus lembut rambutnya.


"Ikhlaskan kalau begitu nak!" ucap Malika sangat pelan dengan air mata yang sudah mengalir dari sudut matanya.


Manda melihat dengan tatapan kesal pada ibunya.

__ADS_1


"Ibu bilang apa? aku mencintai Bagas selama tujuh tahun Bu, dan ibu bilang lupakan saja!" kesal Manda.


"Ibu tidak akan mengatakan hal ini jika itu orang lain, tapi dia adalah Moetia. Sahabat mu, anak dari orang yang selama dua puluh lima tahun sudah membantu kamu dan keluargamu! selama ini Moetia sudah banyak mengalah untuk mu, sekali saja mengalah untuk nya!" seru malika tergagap-gagap karena bicara sambil menangis.


Manda menjauh dari ibunya, dia tidak percaya ibunya berkata seperti itu.


Manda mulai yakin tidak akan ada yang akan mendukungnya, Manda berdiri dan menggigit kuku jarinya.


"Moetia tidak akan menyakiti aku Bu, Moetia akan mengalah untukku, dia tidak akan mengkhianati ku!" ucap Manda sudah tidak terkontrol.


Malika memeluk Manda dengan cepat.


"Sayang, jangan begini. Percayalah pasti ada pria lain yang akan mencintai mu nanti nak, lepaskan Bagas!" seru Malika.


Manda mendorong Malika.


"Apa ibu masih menganggap ku putrimu? kenapa tidak mau membelaku, kenapa malah memintaku melepaskan orang yang aku cintai, Moetia tidak akan mengkhianatinya ku, dia pasti akan mengalah untukku, dia sudah berjanji padaku..."


"Manda" lirih Malika.


Tiba-tiba Bi Irah mengetuk pintu dan memanggil Malika. BI Irah mengatakan bahwa Soraya mencarinya. Malika masih mencemaskan Manda.


"Pergilah dulu bi, nanti aku menyusul!" ucap Malika pada bi Irah.


BI Irah pun membungkuk sopan dan keluar dari kamar Manda.


Malika mendekati Manda dan menyentuh lengannya.


"Jangan melakukan hal yang tidak-tidak ya nak! kita sudah banyak berhutang pada keluarga ini!" nasihat Malika lembut.


Malika lalu meninggalkan Manda dan menghampiri Soraya.


Flashback Off


Moetia menyetir dengan sangat cepat menuju ke rumah sakit.


Meskipun gemetaran Moetia berusaha untuk fokus melihat ke depan.


Malika dan Soraya sangat panik karena mulut Manda mulai mengeluarkan sedikit cairan putih.


"Moetia, cepat nak!" seru Soraya.


Moetia menyeka air matanya sesekali sambil terus melihat ke depan. Dia tidak sanggup melihat kondisi Manda.


'Bertahanlah Manda, jika sesuatu terjadi padamu. Aku akan menyesalinya seumur hidup ku!' batin Moetia yang air matanya terus saja mengalir.


...❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...


...Think u ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2