Dilema

Dilema
Moetia Pergi


__ADS_3

Bagas mengejar Moetia ke area parkir berharap dia masih bisa menemukan nya. Tapi mobil Moetia masih ada disana.


Bagas menghubungi ponsel Moetia, tersambung tapi tidak dijawab.


Bagas berfikir mungkin dia sedang menenangkan diri di rooftop kantor. Bagas berlari masuk ke dalam lift menuju ke rooftop. Tapi sampai disana Bagas tidak melihat Moetia.


Bagas terus menyisir setiap sudut dan tidak menemukan Moetia.


Bagas kembali ke ruangan Moetia, dia bertambah terkejut ketika melihat tas Moetia masih ada di atas meja kerjanya.


Bahkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja.


Bagas meraih ponsel Moetia lalu terduduk lemas di atas sofa.


"Moetia, kamu dimana?" gumam Bagas sambil memijit pelipisnya sendiri.


Sementara itu Moetia masih menangisi kekecewaan nya pada Bagas. Melihat Moetia menangis supir taksi itu menjulurkan kotak tissue ke dekat Moetia.


"Nona, sepertinya anda butuh ini!" katanya sopan.


Moetia meraih kotak itu dan berterimakasih pada si supir taksi.


"Teri.. makasih!" jawabnya masih terisak.


Hampir satu jam Moetia menaiki taksi itu hingga tiba di sebuah rumah sederhana di pemukiman yang cukup sepi tapi sangat asri.


Setelah taksinya berhenti, Moetia melihat ke arah argo taksi. Disana tertera angka 175000.


"Pak supir, tunggu sebentar ya. Aku akan mengambil uang dulu di dalam!" ucap Moetia pada supir taksi itu.


Supir taksi itupun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya nona!" sahutnya.


Moetia pun turun dari taksi dan mengetuk pintu rumah Sisilia.


Tok! tok! tok!


"Kakak, ini Moetia!" teriak Moetia.


Sisilia membukakan pintu, dan Moetia segera memeluknya lalu menangis lagi.


"Ada apa?" tanya Sisilia cemas.


Moetia menyeka air matanya dan menarik dirinya menjauh sedikit.


"Kak, aku pinjam uang. Aku belum membayar taksi!" seru Moetia.


"Berapa?" tanya Sisilia.


"Dua ratus ribu!" jawab Moetia.


Sisilia segera masuk ke dalam dan mengambilkan uang untuk Moetia. Setelah Sisilia memberinya uang, Moetia segera menghampiri supir taksi lalu memberikan dua lembar uang seratus ribu itu pada si supir yang baik hati


"Terimakasih non, kembaliannya dua puluh lima ribu ya!" ucap si supir sambil memberikan kembaliannya pada Moetia.

__ADS_1


Tapi Moetia menolaknya.


"Tidak usah pak, kembaliannya untuk bapak saja!" seru Moetia.


Supir taksi itu tersenyum dan kembali mengucapkan terimakasih pada Moetia.


Moetia kembali menghampiri Sisilia.


"Kakak, boleh ya aku menginap disini! satu malam saja!" ucap Moetia sambil duduk di kursi ruang tamu Sisilia.


"Ada apa? kamu ada masalah dengan Tante dan Om?" tanya Sisilia.


"Kakak, aku hanya sangat sedih. Aku tidak mau mama dan papa melihatku seperti ini. Aku juga tidak bisa menyembunyikan air mataku yang dari tadi terus saja mengalir ini!" ucap Moetia sedih karena air matanya mengalir lagi dari sudut matanya.


"Baiklah, jika sekarang kamu belum bisa menceritakan semua masalahmu maka aku tidak akan memaksamu menceritakan nya, sekarang istirahat dan tenangkan dirimu dulu. Jika membutuhkan sesuatu, aku ada rumah singgah!" kata Sisilia lembut.


Moetia mengangguk paham. Setelah melihat Moetia sedikit tenang. Sisilia pergi ke rumah singgah tempatnya mengajar para tunawisma dan anak-anak jalanan serta anak-anak dari yayasan yatim piatu di daerah itu.


Moetia memutuskan untuk ke rumah Sisilia karena tidak ingin seorang pun saat ini mengganggunya.


Moetia benar-benar sangat kalut, biasanya dia tidak se putus asa ini. Dia menyalahkan dirinya sendiri, bagaimana tadi dia sangat berharap Bagas mengejarnya.


Moetia kembali meneteskan air mata nya mengingat saat Bagas dan Calista berpegangan tangan dan saling menatap.


"Apa yang aku harapkan! apa yang aku pikirkan. Ah.." Moetia berteriak menyalahkan dirinya sendiri.


Setelah tidak bisa menemukan keberadaan Moetia, Bagas memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.


Bagas membuka pintu ruang rawat Reno, dan melihat Vivian dan ibunya sedang berada disana.


"Bagas!" panggil Belinda ketika melihat Bagas datang.


"Selamat pagi pak Bagas!" sapa Vivian.


"Pagi!" jawab Bagas.


Melihat raut wajah Bagas yang sedikit kacau. Reno pun tahu sedang ada masalah dengannya.


Bagas memilih untuk duduk di sofa dan memainkan ponselnya tidak jelas.


Belinda duduk di depan Bagas.


"Ada apa? wajahmu kusut sekali?" tanya Belinda.


"Tidak ada, Bu." jawab Bagas datar.


"Ya sudah, kalau begitu. Ibu mau mengajak Vivian berbelanja dan memasak bersama untuk makan siang Reno nanti." kata Belinda bersemangat.


"Terserah ibu saja!" jawab Bagas cuek.


"Ist, kamu ini kenapa sih! sudahlah. Ayo Vivian kita belanja dan memasak di rumah. Bagas sudah datang, dia bisa menjaga Reno!" seru Belinda menggandeng Vivian yang hanya bisa tersenyum kikuk pada kedua atasannya itu.


Setelah Belinda dan Vivian pergi, Reno bertanya pada Bagas.


"Apa Moetia baik-baik saja?" tanya Reno.

__ADS_1


Bagas berdecak kesal pada dirinya sendiri.


"Moetia pergi!" jawab Bagas makin gusar.


"Apa maksud mu, Moetia pergi?" tanya Reno panik.


Bagas mendekati Reno dan duduk di samping Reno.


"Apa kamu tahu kira-kira jika dia sedih dia akan pergi kemana?" tanya Bagas.


"Apa maksudmu dia sedang sedih, Bagas aku tanya padamu? apa kamu menyakiti Moetia?" tanya Reno mulai kesal.


"Aku sudah mencarinya di setiap sudut kantor dan dia tidak ada, aku telepon anak buah Benjamin dan dia tidak pulang. Mobilnya masih di kantor, aku telepon Theo, dia juga tidak ada di lokasi syuting Manda. Aku membuatnya kesal dan dia pergi!" sesal Bagas.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Reno berusaha untuk tetap tenang.


"Moetia melihat ku dan Calista.."


"Calista!" teriak Reno menyela Bagas.


Bagas menghela nafas nya panjang.


"Calista dan ibunya datang, mereka meminta maaf! aku hanya kasihan melihat kondisi Calista!" terang Bagas.


Reno masih diam sambil mengepalkan tangannya.


"Saat Calista menangis aku hanya memberikannya tissue, dan saat dia memegang tanganku Moetia masuk ke dalam ruangan ku!" Bagas berhenti dan berdiri.


Bagas kembali mengacak rambutnya frustasi.


"Moetia pergi begitu saja!" lanjutnya.


"Saat aku mengejarnya Calista terjatuh dan aku harus menolongnya, hingga aku kehilangan jejak Moetia!" keluh Bagas.


Reno menatap Bagas penuh amarah.


"Apa kamu bodoh Bagas! kamu lebih mementingkan orang lain daripada istrimu sendiri!" kesal Reno.


"Reno, Calista jatuh.."


"Berhenti menyebut nama perempuan jahat itu di depan ku! Kamu pikir sendiri bagaimana perasaan Moetia saat ini, melihat suaminya masih menaruh perhatian pada mantan kekasihnya yang sudah dengan kejam mengkhianati nya! pikir lah sendiri olehmu!" ucap Reno acuh.


"Reno, aku tahu aku salah. Aku tidak akan menemuinya lagi!"


"Katakan itu pada Moetia, aku tidak peduli!" sahut Reno yang sudah sangat kesal.


Reno kesal, apa Bagas sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sudah Calista lakukan padanya satu setengah tahun lalu.


Dan lebih kesal lagi karena Bagas sudah menyakiti Moetia, bukannya mengejar Moetia, Bagas malah memperdulikan wanita yang sudah membuat hidupnya berantakan.


"Tolong aku Reno, katakan padaku kira-kira dimana dia. Kalian sudah saling bercerita tentang banyak hal, dia pasti mengatakan padamu kan, tentang orang bisa dia percaya saat sedang sedih?" seru Bagas penuh harap.


Reno menoleh sekilas.


"Cari saja di apartemen Gio!" sahut Reno cuek.

__ADS_1


"Apa!" pekik Bagas.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2