Dilema

Dilema
Part 43 Pergi


__ADS_3

Malam menjelang kusiapkan makan seperti biasa dan menganggap tak terjadi apapun, padahal setiap melihat wajahnya hati ini berdenyut nyeri, aku yang selalu sabar dan menerima segalanya, di hianati seperti ini.


"Nadia, kenapa diam saja" ucap suamiku


"Tidak apa-apa, aku hanya lelah seharian menjaga anak-anak" dalih ku agar tak ketahuan, sebenarnya hati ini sakit.


"Beneran Nadia kamu tak mendengar percakapan Mas dan Ibu" tanyanya


"Percakapan apa Mas" bertanya ku seolah tak tau.


"Oh..ya sudah, gak apa-apa" katanya lagi


Aku pun beranjak dari kamar dan menuju dapur, aku harus istirahat dan otakku sudah lelah memikirkan cara bagaimana memberi pelajaran pada penghianat Andre ini.


Ku sholat isya kemudian aku meminta jalan terbaik padaNYa,agar aku dituntun kedalam kebenaran, rasa sakit di dada ini benar- benar sakit.


Ku rebahkan diri ini dan aku membelakanginya dan pura-pura tidur agar dia tak bertanya lagi.


Besok selepas dia bekerja aku akan pergi, akan ku kemasi barang dengan cepat, tak sabar menunggu hari esok tiba,aku akan membawa yang penting saja nanti.


*


Pagi tiba aku pun menyiapkan sarapan dan mengantar anakku ke sekolah.


Kemudian ku ambil hp dan mengatakan aku izin di sekolah, ya aku harus pergi dari rumah , hari ini juga, aku sudah tak tahan dengan semua ini, aku tak tau juga aku harus kemana, yang pasti aku akan pergi dulu dari rumah ini.


Tiba saatnya suamiku pergi bekerja dan aku mengantar ankku ke sekolah.


Aku pulang dan segera berkemas, ku kemas barang dagangan online ku, beberapa barangku dan nanti akan ku titipkan ke tempat temannku.


Selanjutnya aku akan memgemasi bajuku dan baju Faira ke dalam koper, satu koper untuk ku dan sebuah tas besar untuk baju-baju Faira.


Tekadku sudah bulat, aku tak akan bertahan dengan situasi ini, aku bukan seorag isteri yang cukup tangguh atas penghianatan yang dilakukan oleh suamiku ini.


Ku ambil berkas di lemari, akupun menitikkan air mata, ada rasa sakit yang menghujam saat aku meraih berkas yang diperlukan untukku nantinya.


Selesai aku berkemas segera ku bawa barang barangku menuju rumah teman dan kutitipkan disana, kemudian aku kembali ke rumah dan mengambil barangku kembali


aku harus pergi sekarang, ku taruh koper dan tas di di motor matic di tengah dan sebuah tas ransel, selanjutnya aku menjemput anakku ke sekolahnya.


*


Setelah menjemput anakku aku putuskan ke taman terlebih dahulu, aku akan mencoba berbicara pada anakku dan memberi pengertian agar dia bisa menerima aku tak akan pulang kerumah itu lagi.


Ku pesan beberapa camilan dan minuman.


"Sayang nanti kita gak usah pulang kerumah ya, kita mau pindah" ucapku pada anakku.


"Pindah kemana ma?"katanya polos.


"Iya kita pergi aja dan mencari kontrakkan ayah sedang sibuk, nanti kita cuma berdua ya" kataku lagi


"Memangnya ayah kemana bu" katanya lagi


"Ayah bekerja" ucapku.


Dia hanya mengangguk


Bulir bening menetes dari mata ini, tapi segera kutepis.

__ADS_1


Anakku masih memang belum mengerti, tapi biarlah seiring berjalannya waktu nanti dia akan memahaminya.


"Mama kenapa nangis" di usap mataku


"Gak sayang, ga kenapa-kenapa. Ayo di maem cemilannya" kataku sambil mengusap mata ini.


Ku sandarkan tubuh ini di gazebo, aku harus kemana bisakah aku secepatnya mencari kontrakkan , kalalu di dekat sini dia akan dapat menemukannku. Lama aku berpikir bagaimana caranya.


Ingin aku ke rumah Dita, tapi aku malu dan takut mengganggu,dia sibuk atau kerumah teman yang lain, aku malu aku tak ingin mereka tahu masalahku.


Pada Anita aku berniat ksana, tapi aku tak enak sudah banyak dia membantuku, masa aku menumpang disana,ku hela nafas panjang, mudahkanlah urusanku Ya Allah..


"Mama aku mau kentang goreng itu lagi"


ucap Faira mengagetkannku.


Pernyataan Faira membuyarkan pikiranku.


"Iya sayang mama akan pesankan".ku ajak anakku memesannya.


Akupun berjalan bersama anakku,menuju kantin dan memesan makanan yang di minta anakku.


"Bu Nadia!" teriak suara


Replek aku menoleh.


"Loe ibu disisni, tadi di group izin, ko cuma nongkrong disini, sama faira lagi" tanya Pa Riki


"Eh.., iya pa" sahutku


"Pesan apa?" kembali dia bertanya.


"Ini faira mau kentang goreng katanya" sahutku lagi.


Aku mengangguk saja.


Aduh gimana ini, kok tiba- tiba pak Riki ada disini.


Akupun membawa pesanann ke gazebo kami kembali, kemudian duduk.


Tak berapa lama pak Riki juga duduk di gazebo yang kami tempati.


Aku binging mau nagapain, kenapa juga sampai bertemu Pak Riki disini.


"Ibu berdua saja sama Faira?mana motornya?" tanyanya lagi


"Kok ibu bawa ransel?mau kemana"


Aduh ini orang kepo sekali.


"Itu motor ibu kan? kok bawa koper sama tas, memang ibu mau kemana? mau otw liburan atau pulkam? " Banyak sekali pertanyaannya


"Aduh pa.., pertanyaannya satu-satu donk pa"


Ucapku


Aku menelan saliva yang terasa berat.


Ku ambil tas dan membukanya, dan mengambil hp di dalamnya, seketika tanganku menyentuh amplop map yang berisi berkas gugatan perceraianku.

__ADS_1


Anita yang memberitahu apa saja yang harus ku bawa.


Aku menteskan air mata kembali .


"Ibu kok nangis? kenapa?"


Pak Riki bertanya terus membuat ku jenggah saja jadinya.


"Bu.., maaf" ucapnya pelan.


"Ada apa bu? Kali ini suara pak Riki memelas dan ingin tahu.


Aku menangis di tahan.


"Bu.., ibu kenapa?ujarnya lagi kembali memelas.


Ku lihat pak Riki yang masih mengawasi dan melihatku.


"Su..am..i saya selingkuh pak" sambil terbata aku mengucap dan air mata menetes lagi.


Apa!


"Terus ibu mau kemana" tanya nya lagi


Aku hanya menggeleng, dan berusaha berkata kembali.


"Saya mau cari kontrakkan, tapi kalu di dekat sini takut suami saya menemukan saya, jadi saya masih bingung" ucapku kemudian.


Pak Riki diam, dari raut wajahnya akan banyak pertanyaan, aku memilih memperhatikan Faira yang sibuk melihat air mancur dan melihat ikan di taman itu.


Aku mengajak anakku untuk pergi, aku malu tak seharusnya aku mengatakan pada Pak Riki masalah rumah tanggaku.


"Bu tunggu" ucap Pak Riki


"Bagaimana kalo saya membantu Ibu mencari kontarakan" tawarnya.


" Tak usah Pak, terima kasih" tolakku halus.


"Bu tolong jangan di tolak, saya hanya berniat membantu" ucapnya lagi.


"Ta..pi pa Sa.." ucapku belum selesai berkata


"Saya akan mebantu Ibu mencari kontrakkan, mencari yang agak Jauh agar Andre tak dapat menemukan Ibu" katanya lagi penuh penekanan.


"Tolong Bu , Ibu biarkan saya membantu Ibu, kasian nanti Faira kalau sampai belum malam tak menemukan rumah kontrakan nya" usulnya .


" Tidak pak, Saya bisa sendiri" sanggahku cepat.


"Bu.." ucapnya


Aku diam saja dan melanjutkan menuju parkir.


"Bu saya punya nomor teman yang memiliki kontrakan, nanti saya akan antarkan menuju kesana, Ibu berkendara sendiri dan saya di depan, Ibu mengikuti dari belakang" Pa Riki tak menyerah.


"Pak.., Sa..." aku menjawab selalu di potongnya.


"Bu.., tolong janagan menolak, saya mohon" Pak Riki menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Pak Sa. " kembali dipotongnya kata yang mau ku ucapkan.

__ADS_1


"Bu" Pak Riki kembali berkata.


Akhirnya ku anggukkan kepala ini, Apa salah nya aku menerima bantuan, lagian apa bila tak di iyakan Pak Riki seperti itu terus, aku tak mau orang tau, dan pengunjung melihat ke arahku.


__ADS_2