
Theo masih terdiam diposisi yang sama, dia tetap dalam keadaan setengah terbaring sambil menekan luka di rahang sebelah kanannya.
Theo sangat terkejut melihat kemarahan Bagas. Selama lebih dari dua puluh tahun berteman dengannya. Ini pertama kalinya Bagas memukul Theo.
Austin masuk ke kamar Theo mengajak seorang pelayan hotel dengan kotak P3K di tangannya.
Theo terkekeh saat berdiri di bantu Austin,
"Sepertinya kamu sudah tahu ini akan terjadi!" seru Theo sambil duduk di kursi di papah oleh Austin.
Austin duduk di depan Theo dan meminta pelayan itu mengobati luka Theo.
"Bukankah aku sudah memberimu peringatan, jangan usik Moetia!" seru Austin.
"Apa kamu pikir dia mencintai Moetia sama seperti Calista dulu?" tanya Theo.
Austin menggelengkan kepalanya berkali-kali,
"Lebih dari itu, aku melihat bagaimana Bagas over protective pada Moetia, dan apa kamu ingat ketika Calista harus malu karena Bagas tidak mau mencium nya. Pada Moetia sangat berbeda, bahkan kamu melihatnya kan. Bagaimana sahabat kita yang terkenal sopan dan tidak mau menyentuh wanita itu mencium Moetia di depan umum, bahkan di depan para wartawan. Sebagai teman kalian, aku hanya ingin mengingatkan sekali lagi padamu, jangan usik Moetia! atau aku juga tidak akan memaafkan mu! Dia tidak seperti yang kamu pikirkan Theo, Moetia itu gadis mandiri dan baik. Dia tidak akan memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan Bagas seperti yang dulu Calista lakukan!" terang Austin menceramahi Theo.
Theo diam dan berfikir sejenak,
'Apa aku memang salah menilai Moetia, astaga! apa yang harus aku lakukan?' sesal Theo dalam hati.
Setelah pelayan wanita itu selesai membersihkan dan mengoleskan obat pada luka Theo. Austin menyuruhnya pergi.
Austin berdiri dan menepuk bahu Theo,
"Aku pergi dulu, aku rasa aku harus mengatur ulang jadwal penandatanganan kontrak ini. Dan ingat apa yang aku katakan!" seru Austin lalu keluar dari kamar dan meninggalkan Theo.
Sementara itu di ruangan lain, Bagas menarik Moetia masuk ke dalam sebuah kamar lainnya.
Bagas menghempas Moetia ke atas sofa lalu mengunci pintu kamar itu,
Bagas melepas jasnya dan melemparkannya ke sembarangan arah.
"Sial, kenapa selalu saja seperti ini?" kesal Bagas
Bagas berjalan menuju ke pintu geser yang menghubungkan kamar dengan balkon.
Bagas keluar dan melampiaskan amarahnya dengan berteriak diatas balkon.
Moetia yang masih takut karena melihat amarah Bagas pada Theo tadi tidak berani mendekati Bagas.
Moetia hanya diam dan meremas kedua tangannya sendiri. Bahkan yang ada di pikirannya kali ini hanya Manda.
Moetia sangat merasa bersalah pada Manda.
Sementara itu, Malika berlari dengan cepat menghampiri Manda setelah Reno menceritakan yang terjadi pada Manda.
"Manda," lirih Malika setelah melihat Manda menangis terisak duduk di lantai.
Malika segera memeluk putri sulungnya itu dan mengusap air mata nya dengan tissue yang dia ambil dari dalam tasnya.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Malika.
Manda menoleh ke Malika dan memeluknya dengan erat.
"Ibu," lirih Manda.
__ADS_1
Reno menghampiri mereka,
"Maaf Tante, saya sudah siapkan mobil untuk mengantarkan kalian pulang. Penandatanganan kontrak akan di jadwalkan ulang!" jelas Reno.
Malika berdiri dan mendekati Reno,
"Reno, apa yang sudah terjadi?" tanya Malika cemas.
Reno bingung bagaimana harus menjelaskan,
"Itu, sebenarnya Bagas dan Theo sedang bertaruh..."
Mendengarkan Reno, Manda langsung berdiri dan berdiri di hadapan Reno,
"Apa katamu?" tanya Manda menyela Reno.
"Mereka bertaruh.."
Belum Reno selesai mengatakan yang sebenarnya, Manda sudah menepuk jidatnya sendiri lalu mengusap tangisnya dan terkekeh.
"Astaga, betapa bodoh nya aku. Kenapa tidak terpikir olehku!" seru Manda
Reno malah bingung dengan reaksi Manda,
"Manda, kamu kenapa malah terkekeh begitu?" tanya Reno.
Malika juga bingung,
"Ada apa sayang?" tanya Malika cemas.
Manda menghadap ke ibunya,
Malika sangat terkejut, bahkan dadanya terasa nyeri.
"Tapi itu hanya taruhan, iya kan Reno?" tanya Manda menoleh ke Reno.
Reno makin terkejut, tapi Manda malah menepuk bahunya.
"Terimakasih kamu memberitahukan hal ini padaku, jika tidak aku akan salah paham pada Moetia. Pantas saja Theo langsung membawa Moetia pergi! Bodohnya aku mengira Moetia telah mengkhianati ku!" seru Manda terus melegakan dirinya sendiri.
Malika mengusap dadanya, lalu raut wajahnya menjadi sedih.
"Apa kalian para pria kaya tidak berfikir dulu sebelum bertaruh akan sesuatu?" tanya Malika kesal pada Reno.
Reno menelan saliva nya sendiri,
"Tante, aku tidak ikut-ikutan dalam hal ini!" ucap Reno membela dirinya.
Moetia masih duduk diam di kursi, sampai Bagas menghampiri nya dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa diam saja?" tanya Bagas.
Moetia mengangkat kepalanya dan melihat mata Bagas yang masih merah karena amarah.
"Bagas, tadi itu..."
"Apa kamu sangat berharap penyanyi cafe itu mencium mu?" teriak Bagas.
Moetia kesal mendengar pertanyaan Bagas, dia bangkit berdiri,
__ADS_1
"Kenapa selalu berteriak, aku tidak tuli. Dan bukankah yang mencium ku adalah kamu! Gio tidak akan melakukan hal itu, dia tidak akan membuatku malu dihadapan semua orang!" sahut Moetia yang sudah kesal.
Bagas makin geram, dia berdiri dan mendorong Moetia ke atas tempat tidur,
"Jadi menurut mu aku yang membuatmu malu?" teriak Bagas lagi.
Moetia sangat takut, dia tahu tidak mungkin bisa melawan Bagas saat dikuasai amarah seperti ini.
"Kenapa diam? apa karena aku mencintaimu maka kamu begitu percaya diri, hah?" tanya Bagas kasar
"Kamu begitu yakin, aku akan diam saja melihat semua yang kamu lakukan?" tanya Bagas lagi mencengkeram kedua pergelangan tangan Moetia.
Moetia mencoba melawan, tapi percuma saja.
"Manda pasti sangat terluka Bagas!" lirih Moetia memalingkan wajahnya saat Bagas akan menciumnya lagi.
Bagas mengumpat kasar, dan bangkit menjauh dari Moetia.
Moetia bangun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Maafkan aku, tolong biarkan aku keluar!" pinta Moetia lembut.
Bagas kembali mendekati Moetia dan menekan lengannya dan mendorongnya ke arah dinding.
"Bagas, lepaskan aku." pinta Moetia yang sudah menangis.
"Melepaskan mu, jangan pernah berharap Moetia!" seru Bagas.
Bagas kembali meraup bibir Moetia dengan bibirnya dan menekan lengan Moetia ke dinding dengan kuat.
Moetia yang sudah lemas, akhirnya berhenti memberontak.
Dia hanya bisa menangis saat Bagas dengan kasar menghisap bahkan menggigit bibir Moetia.
Moetia bahkan sampai ter batuk-batuk ketika Bagas tidak memberinya kesempatan untuk mengambil nafas.
Melihat Moetia kesakitan, Bagas melepaskan Moetia.
Moetia terkulai lemas dan jatuh ke lantai.
"Uhuk, Kamu keterlaluan bagas!" lirih Moetia lemah.
Bagas sebenarnya sangat tidak tega melihat Moetia seperti itu, tapi ketika dia menyebutkan nama Manda dan lebih mementingkan Manda daripada dirinya, Bagas menjadi sangat kesal.
Bagas berjongkok dan meraih dagu Moetia,
"Kamu lihat sendiri kan? bukan hanya kamu yang bisa kejam padaku. Ini adalah hukuman karena telah memberi kesempatan pada orang lain menyentuhmu! kamu milikku Moetia, hanya milikku." tegas Bagas.
Bagas membantu Moetia berdiri dan mengajaknya duduk di sofa.
Bagas memberikan Moetia segelas air, tapi Moetia menolaknya.
"Menurut lah, atau kamu ingin aku melakukan nya lagi!" seru Bagas tanpa berkedip.
Moetia dengan cepat mengambil gelas yang diberikan Bagas lalu meminumnya sampai habis.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍👍👍...
__ADS_1
...Terimakasih, think u ❤️❤️❤️...