Dilema

Dilema
Moetia Membenci Dirinya Sendiri.


__ADS_3

Bagas sama sekali tidak ingin meninggalkan Moetia. Dalam kondisinya yang seperti itu, Bagas ingin menjadi orang yang selalu mendampinginya.


Sudah hampir satu jam Bagas dan Reno masih berada di kamar Moetia, Chairul pun sedang bersama dengan Aries mendiskusikan banyak hal. Sebenarnya Chairul hanya ingin Bagas berada dekat dengan Moetia di masa sulitnya itu.


Manda yang penasaran dengan keadaan Moetia pun pergi ke kamar Moetia.


Tapi perhatiannya teralihkan saat melihat Bagas yang sedang duduk di sofa sambil terus memandangi kearah Moetia.


Siapapun yang melihat itu seharusnya menyadari bahwa Bagas sangat mencemaskan Moetia.


Tapi karena cinta buta nya, Manda malah menghampiri Bagas.


"Bagas! kamu disini!" tegur Manda.


Bagas tidak menoleh dan masih memperhatikan Moetia sambil menopangkan tangannya di pelipis kanan nya.


Manda menyentuh lengan Bagas, tapi dengan cepat Bagas menepisnya.


"Bagas!" lirih Manda kecewa.


"Kamu lihat dia! bukankah seharusnya kamu mencemaskan nya, kenapa malah kemari menghampiri ku?" tanya Bagas kesal sambil menunjuk Moetia.


"Aku mencemaskan Moetia, tapi karena aku melihatmu..."


"Diam! menjauh lah dariku!" seru Bagas.


"Kita berdua sudah bertunangan Bagas, setidaknya bicaralah dengan baik padaku!" bantah Manda.


Bagas sangat kesal, dia berdiri dan meninggalkan Manda. Bagas keluar dari kamar Moetia.


Manda masih berdiri mematung di tempatnya, dia sangat kecewa pada sikap dingin Bagas padanya.


Reno hanya bisa menghela nafas panjang melihat Manda yang terduduk lemas di sofa. Reno mendekati Moetia mengusap lembut kepalanya.


"Cepatlah sadar Moetia, tenang lah sekarang kamu sudah berada di rumah." ucap Reno pelan.


Setelah itu Reno juga pergi keluar dan hanya menoleh sekilas pada Manda yang masih menangis sedih.


Manda melihat ke arah Moetia, terbesit kesal di hatinya.


'Moetia, jangan katakan kalau di belakang ku kamu dan Bagas saling berhubungan!' batin Manda.


Manda kembali mengingat perjuangan nya untuk bisa dekat dengan Bagas. Semakin di ingat semakin sakit pula hatinya.


Setelah Chairul, Bagas dan Reno pergi dari rumah Moetia. Soraya kembali ke kamar Moetia dan melihat Manda sedang menangis di sofa.


"Sayang, kenapa menangis?" tanya Soraya pada Manda.


Manda menyeka air matanya lalu berdiri.

__ADS_1


"Tidak tante, Manda kembali ke kamar Manda ya!" ucapnya sambil berjalan keluar.


Soraya kembali duduk di sisi Moetia yang masih tertidur karena pengaruh obat tidur yang diberikan dokter kepadanya.


Soraya membelai lembut rambut Moetia.


"Sayang, kamu sekarang sudah aman nak! mama dan papa tidak akan membiarkan orang jahat menyakitimu lagi. Sayang ku!" lirih Soraya yang kemudian menangis dan menyandarkan kepalanya di kening Moetia.


Sementara itu di hotel tempat Eduardo menginap, Marvin masih berusaha untuk meminta agar Daddy nya tidak membawanya pulang ke Singapura.


"Jangan konyol Marvin, aku bahkan sudah mengatakan pada tuan Chairul bahwa kamu sudah berada di dalam pesawat saat ini! jika tidak mereka tidak akan melepaskan mu!" teriak Edo.


"Apa salahku Daddy, aku hanya mencintai seseorang!" bantah Marvin.


"Tidak salah jika dia adalah wanita lajang yang juga mencintai mu, tapi wanita itu adalah menantu tuan Chairul, istri Bagas. Apa kamu benar-benar sudah tidak perduli dengan harga diri dan kehormatan Daddy mu ini?" tanya Edo kesal.


Marvin tertunduk lemah di depan Eduardo.


"Aku mencintai Moetia Daddy, aku hanya ingin dia menjadi milikku. Aku melakukan itu agar dia tidak bisa pergi dariku!" sesal Marvin.


"Kamu sudah membuatnya sangat ketakutan, entah bagaimana keadaan nya saat ini!" balas Edo.


Keesokan harinya, Eduardo dan Marvin kembali ke Singapura.


Sedangkan di tempat lain, Belinda dan Bagas saat ini sudah berada di depan rumah Moetia.


"Aku tidak menjenguk Manda, aku menjenguk Moetia!" tegas Bagas.


Belinda terdiam sebentar dan tersenyum tipis.


"Jangan bercanda, tapi ibu juga akan menemui Moetia. Dari cerita ayahmu kemarin, ibu sungguh kasihan padanya, demi menolong Manda dia sampai mengorbankan diri nya sendiri! Apakah benar laki-laki yang menculiknya itu hampir melecehkannya?" tanya Belinda.


Bagas kembali mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.


Melihat ekspresi Bagas, Belinda sangat terkejut.


"Oh, jangan sampai itu terjadi!" ucap Belinda lalu meninggalkan Bagas dan menekan bel rumah Moetia.


Ting Tong Ting Tong


Malika membukakan pintu, dia langsung tersenyum melihat kedatangan Belinda. Malika menyambut Belinda dan memeluknya.


"Apa kabar mu mbak?" tanya Malika.


"Seperti yang kamu lihat, bagaimana calon menantuku?" tanya Belinda.


Mendengar Belinda menyebut calon menantu Bagas berdecak kesal dan memilih keluar lagi.


"Bu, Bagas keluar saja. Mau cari angin!" seru Bagas.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Manda?" tanya Belinda sedikit menekankan kalimatnya.


"Ibu saja!" jawabnya lalu keluar lagi.


Belinda melihat kekecewaan di wajah Malika. Belinda menepuk bahu Malika pelan.


"Jangan di masukkan ke hati ya, Bagas memang seperti itu!" ucap Belinda.


Malika hanya tersenyum tipis lalu mengajaknya ke kamar Manda.


Sementara itu Bagas ternyata keluar dan mencari jalan masuk lain menuju ke kamar Moetia.


Moetia sudah lebih dari satu jam berada di dalam kamar mandi. Dia terus menangis sambil terus menggosok badannya dengan spon mandinya.


Bayangan saat Marvin menyentuhnya selalu menghantuinya, perasaan jijik pada dirinya sendiri tidak bisa hilang begitu saja.


Bahkan saat dia melihat tanda yang di tinggalkan Marvin di lehernya, membuat Moetia sangat kesal pada dirinya sendiri.


Moetia menggosok tanda di lehernya itu hingga menjadi sangat merah bahkan tergores.


"Kenapa tidak mau hilang!" gerutu kesal Moetia sambil terisak.


"Kenapa rasanya bau lelaki kurang ajar itu masih ada di seluruh tubuhku, Argh!..." teriak Moetia kesal.


Moetia terhuyung ke lantai kamar mandi, dia mengguyurkan air shower di kepalanya dengan sangat deras.


"Aku benci tangan ini, kenapa tidak bisa melawannya!" ucapnya kesal sambil terus menggosok kedua tangannya bergantian dengan kuat.


"Aku benci bibir ini, karena lelaki breng*** itu telah... Argh!" teriaknya kembali kesal.


"Aku benci diriku sendiri, aku benci!" teriak Moetia.


Bagas yang sedari tadi sudah masuk ke kamar Moetia dari jendela, bisa dengan samar-samar mendengarkan teriakan dan luapan kekesalan Moetia dari balik pintu kamar mandi.


Bagas sendiri terduduk lemas bersandar pada pintu kamar mandi.


"Maafkan aku Moetia, aku tidak bisa menjagamu! maafkan aku!" sesal Bagas.


Beberapa saat kemudian Moetia kuat dari kamar mandi dengan memakai bathrobe, dan Moetia terkejut Bagas ada di depan pintu.


Bagas segera berdiri dan ingin mendekati Moetia, tapi melihat Bagas membuat Moetia merasa sangat kesal dan bersalah bersamaan.


Moetia dengan cepat berusaha menutup kembali pintu kamar mandi. Tapi Bagas berhasil menahannya dengan kedua tangannya.


"Moetia! sayang jangan begini!" ucap Bagas memohon pada Moetia.


Bagas menyentuh tangan Moetia tapi Moetia menepisnya.


"Jangan menyentuh ku..." lirih Moetia

__ADS_1


__ADS_2